LOVE OR NOT?

LOVE OR NOT?
Ch.80 Lihat Nanti Jika Kamu Tidak Kembali!



“Hmmm, saya sudah meminta ijin dan dia membolehkan saya masuk dengan bukti surat nikah kita.” Jawab santai.


Sebenarnya bukan Eibi, namun Alden yang mengurus semuanya itu.


Jika sudah demikian, Zivi tak bisa buat apa-apa. Ingin rasanya ia mengusirnya dengan marah-marah. Tapi tidak mungkin. Apa kata tetangga kamar mendengarnya marah?


“Jika kamu berencana tidur disini, maka tidak akan cukup!” masih berusaha agar Eibi pulang.


“Ini akan cukup.” Balas Eibi sambil menoleh melihat single bed yang mereka duduki. Single bed, namun tubuh Zivi yang kecil tidak akan makan banyak tempat. Panjangnya yang kurang, namun tak mengapa bagi Eibi.


Hisss! Dengan kesal Zivi bangun dan mengambil pakaian gantinya, lalu masuk kamar mandi.


Selesai mandi, tanpa mengabaikan Eibi, ia keluar kamar menuju dapur umum kost untuk masak makan malamnya.


“Mau kemana?” pertanyaan Eibi tidak ia hiraukan.


Eibi pasrah, tidak menuntut. Ia tahu Zivi sedang marah.


Memanfaatkan waktu, Eibi menghubungi Alden untuk membawakan pakaian ganti untuknya sebelum masuk kamar mandi.


Zivi tidak membutuh waktu lama untuk masak. Semuanya sudah ia siapkan dikulkas. Ayam yang sudah diungkep, sayur yang sudah dipotong-potong. Ia tinggal mengambil seperlunya. Lalu menyiapkan bumbu ala kadarnya. Diolah.


Selang 20 menit, masakan sederhana sudah tersedia. Ia membawa lauk ayam goreng penyet serta sawi daging tumis kedalam kamar, dan meletakkannya di meja kecil di samping pintu yang menjadi tempat makan.


Kricik kricik kricik


Zivi mendengar kicir air dari dalam kamar mandi.


“…” speechless dan menghentikan gerakannya yang menata makan diatas meja.


Siapa lagi jika bukan Eibi yang ada didalam sana?


Eibi mandi didalam? Bagaimana dengan pakaian kotornya yang masih tergantung di dalam? Pakaian dalamnya?


Hufttt! Hanya menarik nafas. Malu? Jangan ditanya. Tembok jadi saksi betapa malu dirinya membayangkan Eibi melihat pakaian dalamnya. Meskipun itu hal umum, semua orang juga tahu, tapi tetap saja…


Glek!


Pintu kamar mandi terbuka. Zivi mendongak dan melihat!


“Ahhh!” Terkejut dan segera melihat ke yang lain. Eibi hanya menggunakan handuk. Handuknya?


“Ada apa?” Eibi bertanya dengan santai sambil mengeringkan kakinya pada kain keset.


Zivi memutar bola matanya jengah tanpa menjawab pertanyaan Eibi.


Seakan tak ada orang lain, Zivi duduk untuk makan.


“Untuk saya mana?” Tak disangka Eibi berdiri di seberang meja dihadapannya dan bertanya dengan santai.


Tanpa diijinkan Zivi, Eibi sudah melangkah mengambil kursi plastik Zivi yang ada didepan meja samping tempat tidur.


Tanpa bicara, Zivi bangun dan mencuci tangannya sebelum mengambilkan Eibi sweaternya yang besar untuk dikenakan Eibi.


“Pakai ini.” Zivi memberikan dengan ketus menunjukkan kekesalannya.


“Hmmm.” Eibi menerimanya dan segera mengenakannya sementara Zivi keluar menuju dapur untuk mengambilkan piring untuknya.


Makan dalam diam.


Tok tok tok


“Pasti Alden yang mengantarkan pakaian ganti untuk saya.” Eibi memberitahu Zivi.


Tak menjawab. ‘Sudah diaturnya, pasti ia akan tidur disini sungguhan.’ Batin Zivi.


“Kak…”


“Diam” Bisik Zivi dengan tegas.


Itu bukan Alden, tetapi tetangga kamar yang kadang tidur bersamanya. Dia adalah Mia, mahasiswi yang dekat dengannya, menganggapnya kakak juga teman.


Tok tok tok “Kak… Kak Vi…” ketukan pintu kembali terdengar setelah beberapa detik. Namanya juga dipanggil.


Diam. Jawaban yang bisa Zivi berikan. Tidak ingin temannya itu melihat Eibi ditempatnya.


“Katakan pada temanmu untuk meletakkan pakaianmu didepan pintu gerbang saja.” Pinta Zivi pada Eibi, berbisik.


“Hmmm.” Segera Eibi mengambil ponselnya di ranjang dan mengirim pesan pada Alden.


Kembali makan dalam diam.


Selesai makan, Zivi mengambil minumannya. Gelasnya hanya satu. Mau tidak mau, Zivi memberinya pada Eibi dan menggunakan botol minum kerjanya untuk diri sendiri.


Meski Zivi tidak bicara, namun Eibi bisa membacanya. ‘bahkan sudah menciumnya. Masih merasa jijik?’ hanya bisa membatin.


“Alden sudah didepan.” Eibi memberitahu Zivi sambil berdiri didepan pintu.


Eibi keluar dari kamarnya? Tidak, tidak tidak!


“Isk! Apa yang kamu takutkan? Mereka sudah tahu!” Goda Eibi berbisik tepat ditelinga Zivi.


“Kamu…!” ucapan Eibi membuat Zivi terdiam dan kesal, tapi tidak tahu harus berkata apa.


“Bercanda!” Eibi berbisik dan mengecup pipi Zivi. Ia tidak tahan melihat Zivi yang kesal juga tidak tahan untuk mengecup gemas pipinya.


Mendengar ucapan Eibi, Zivi lega juga tidak senang pada saat yang sama karena Eibi mengecupnya tanpa permisi.


Zivi memasukkan ponselnya dalam kantong celana, dan keluar cepat meninggalkan Eibi.


“Kak! Dari mana? Aku tadi mengetuk pintumu.” Mia yang tadi mengetuk pintunya tadi nongol dari pintunya dan bertanya.


“Tidak dari mana-mana.” Jawab Zivi, “Maaf tadi tidak bisa membukakan pintu.” Minta maaf.


“Owh, tidak apa-apa.”” Aku hanya ingin bertanya, nanti aku tidur di tempatmu, bisa?” Bertanya.


Zivi lega. Mia tidak bertanya kenapa. mungkin karena biasanya ia tidak menjawab jika ia di kamar mandi.


“Justru aku mau tidur ditempatmu. Bagaimana?” Zivi kembali bertanya.


Ia sudah memikirkannya saat makan tadi.


“Bagus jikalau begitu.” Jawaban yang sudah Zivi tunggu. “Akhirnya mau juga tidur dikamarku.” Mia dengan senang hati.


“Hehehe, biar adil. Aku keluar dulu sebentar mengambil barang. Nanti aku akan ke kamarmu.” Jawab Zivi dan segera mengambil apa yang ingin ia ambil.


“Siap!” Jawab Mia sebelum menutup kembali pintu kamarnya.


Segera Zivi membawa pakaian masuk kamar dan menyerahkan pada Eibi. “Ganti didalam kamar mandi.” Perintahnya.


“Didalam sempit. Bagaimana jika jatuh dan basah?” Protest Eibi.


“Tunggu kalau begitu.” Zivi segera ke kamar mandi dan mengambil pakaian kotornya dan memasukkan semuanya kedalam keranjang pakaian kotor.


Dengan cepat juga ia Menyusun piring kotor dan mengangkatnya.


“Kamu bisa ganti sekarang.” Ucapnya lalu membuka pintu dan keluar.


Zivi mencuci piring dan masuk kamar. Tapi bukan kamarnya. Kamar Mia.


Setelah ganti, Eibi menunggu Zivi kembali.


15 menit berlalu.


30 menit. Belum juga ada orang yang membuka pintu dari luar.


45 menit. Masih belum.


Tut……


Terhubung. Nomor yang sudah lama tidak ia hubungi.


“Kak! Ponselmu berbunyi.” Mia memberitahu Zivi yang sedang berbaring disebelahnya.


“Owh.” Zivi terkesiap dari pikirannya yang berkelana dan melihat ponselnya di atas meja disampingnya.


Mia baru saja menggosok giginya dari kamar mandi dan melihat Zivi yang tak bergeming dengan getaran ponselnya yang cukup keras jika sedekat itu dengan Zivi. ia saja yang agak jauh bisa dengar.


“Mia punya gosok gigi baru? Aku pinjam!” ucapnya. Enggan ia kembali ke kamar untuk menggosok gigi.


“Ada. sebentar.” Mia mengambilkan sikat gigi dan menyerahkannya pada Zivi.


Zivi masuk kamar mandi dengan ponsel yang terus bergetar. Berhenti. Bergetar lagi.


Hingga selesai menggosok gigi, Zivi melihat panggilan tak terjawab 3 dari orang yang sama.


Ponsel bergetar kembali.


“Mia, punya headset? Aku pinjam. Mau jawab telpon.” Zivi


Tak banyak tanya, Mia memberikannya headset. Itulah enaknya berteman dengan Mia. Tidak banyak tanya. Tidak banyak kepo.


“Kamu dimana?” Suara dari seberang terdengar ditelinga Zivi. Baru saja terhubung dan ia belum berkata apa-apa.


“Saya tidur dikamar teman.” Tanpa basa-basi menjawab cuek dengan orang yang Zivi bisa rasakan kesalnya.


“Kembali!” Eibi.


“Tidak!” Zivi.


“Lihat saja apa yang akan saya lakukan jika kamu tidak kembali!”


“?”