
“Sudah berhari-hari kita tidak olahraga. Ayo kita olahraga!” Ajak Eibi setelah menghabiskan puddingnya. Karena kesibukannya, ia melewatkan OR hampir seminggu sudah.
“Itu kamu. Saya tetap selalu melakukannya. Meski tidak setiap hari.” Balas Zivi yang memang konsisten OR kecuali saat dirinya ada hal-hal yang sangat urgen dan harus melewatkan OR.
“Yap. You are right. Sekarang kita olahraga.” Eibi bangun dan menarik tangan Zivi menuju kamar belakang. *Entahlah, pakaian yang mereka kena sudah pakaian yang layak dipakai untuk OR. Tak repot ganti! Zivi menyadari hal itu saat melihat dirinya juga Eibi.
Setelah melakukan pemanasan, Eibi menuju salah satu sepeda statis, “Saya olahraga yang ringan saja.” Ucap Zivi tidak mengukiti Eibi. OR bersama dengan jenis OR yang berbeda.
Hingga saat Zivi melakukan sit up, Eibi menghentikan ORnya, “saya bantu tahan kakimu.” Ucapnya berjalan menuju Zivi untuk menahan kaki Zivi.
“Owh, no! kalau seperti ini sulit sekali. Saya tidak kuat!” Ucap Zivi berusaha mengangkat tubuhnya dengan tangan dibalik kepalanya. Eibi memperhatikan Zivi dengan titik air keringat diwajahnya. Tanpa polesan make up, dengan buliran keringat, memancarkan pesona tersendiri bagi Eibi.
“Ahhh! Bug” Zivi berhasil mengangkat tubuhnya, namun tak disangka, jidatnya terbentur dagu Eibi, sontak tangannya lepas menekan jidatnya yang sakit. Eibi terkesiap dan speechless, diluar dugaannya.
“Harusnya tak perlu kamu membantuku!” gerutu Zivi.
“Sorry!” sahut Eibi minta maaf, “Let me see it!” mengulurkan tangan menyingkirkan tangan Zivi untuk melihatnya dengan jelas. Merah sedikit. Ia meniupnya agar dingin. Zivi memejamkan matanya dan membiarkan Eibi meniupnya. Zivi merasakan jempol Eibi mengelus pelan jidatnya dengan sesekali tiup.
Zivi membuka matanya.
Dug!
Tatapan mata mereka bertemu. Eibi yang sedari tadi memperhatikan Zivi langsung tenggelam dalam tatapan Zivi yang baru membuka matanya. Jarinya masih terus mengelus jidat Zivi. namun hati dan pikirannya terhadap gadis itu. Zivi tidak nyaman dengan tatapan itu.
“Hmmm, it’s enough!” Ucap Zivi melepas tatapannya. Sakitnya jadi tidak terasa lagi karena perasaan tak nyaman yang ia rasakan dari tatapan Eibi.
“Sudah. Sudah tidak sakit lagi.” Ucap Zivi menjauhkan tangan Eibi dari jidatnya membuat Eibi tersadar dan tertawa sinis akan tindakannya sendiri.
Zivi beralih ke gerakan lain -mengayuh sepeda-
Eibipun ikut berbaring disampingnya mengikuti gerakannya.
Huft! Lelah. Namun tubun terasa lebih enak. Zivi membaringkan tubuhnya rileks. Ia memejamkan matanya, lalu mulai menarik nafas dan melepaskan, begitu seterusnya hingga deru nafas terengah-engahnya mereda.
Eibi memperhatikan hal itu, lalu membalik badannya telungkup dengan kepala memperhatikan Zivi.
Zivi merasakan dirinya ditatap, membuka mata. Dug! Dugaannya benar.
Lagi-lagi Eibi menatapnya seperti tadi. Eibi tak berkedip, Zivi memicingkan matanya memperhatikan dengan seksama. Eibi semakin mendekat! Sisa jarak 1cm. Zivi memalingkan mukanya saat Eibi mendekat lagi -cup- pipi Zivi kena.
“Sebaiknya kita jaga jarak jika seperti ini” Ucap Zivi menggeserkan tubuhnya.
Dag dig dug detak jantungnya berpacu, hampir saja.
“Kenapa? Apa kamu begitu ingin segera berpisah?” Tanya Eibi tak suka dengan sikap Zivi yang menjauhinya. Gadis itu bukan hanya diam-diam menghindarinya, bahkan sudah berani mengatakan untuk jaga jarak.
“Iya! Apakah kamu sudah …?” Zivi dengan berseri-seri melihat Eibi berharap jawaban Eibi sesuai dengan yang diinginkannya.
“Ini bahkan belum 1 tahun!” jawab Eibi menarik nafas kecewa. Zivi juga kecewa. Ia teringat mengatakan bahwa ia akan membantu Eibi dengan waktu yang Eibi butuhkan 2 atau 3 tahun.
“Huft! Baiklah. Moga kamu segera berhasil, apalagi ini jaman modern, segala sesuatu serba cepat! Semoga kamu juga segera meraih apa yang kamu impikan. Dan kita……” Ucap Zivi menarik nafas penuh harapan namun tidak melanjutkan ucapannya. Eibi pasti tahu bahwa itu adalah akhir mereka.
“Masalah itu, tenang saja. Bisa saya jelaskan pada mereka. Andai waktu itu kamu beritahu saya mungkin mereka tidak akan terlibat.” Sesal Zivi. Eibi aman. Keluarganya tidak ada yang tahu. Eibi tidak mengundang mereka dengan alasannya. Namun akhirnya Zivi tahu kenapa Eibi tidak memberitahu mereka.
“Mungkin kalau saya memberitahumu, kita tidak akan menikah!” Ucap Eibi pelan menghela nafas.
“Hmmmm, iya juga ya. Dan bagaimana dengan video kita itu? Apakah kamu sudah mendapatkannya?” Tanya Zivi teringat akan perkataan Eibi malam itu. Video mereka tidur bersama ada pada orang itu. “Dan siapa yang mengancammu itu?” Zivi ingin tahu. dirinya gusar. Bagaimana dengan video mereka itu.
“Saya belum berhasil mengambilnya. Siapa orangnya, saya juga tidak mengenalnya.” Jawab Eibi jujur sekaligus bohong.
Jujur videonya belum berhasil ia dapatkan. Bohong bahwa ia tidak mengenalnya. Ia tidak bisa memberitahu Zivi bahwa Anthony adalah orangnya. Jika Zivi tahu, Zivi saja marah dan memintanya langsung pada Anthony. Namun Anthony akan tahu kesepakatan Zivi dan Eibi, dan juga akan mengancam hubungannya dengan Kezia. Untuk hal itu, ia pasti akan segera meluncurkan videonya. Dan bukan hanya dirinya yang rugi, Zivi dan keluarganya pasti akan menanggung malu.
“Hmmmm, tidak mengenalnya? Jangan bohong padaku.” Ucap Zivi. mengapa Eibi berbohong padanya. Jelas-jelas malam itu ia mendengar temannya yang menjebaknya. “Siapa nama temanmu itu?” bertanya jujur langsung memalingkan wajahnya menatap Eibi.
Eibi tidak berani memandangnya. Apakah ia harus memberitahu Zivi bahwa Anthony orangnya? Tidak mungkin. Usahanya baru berangsur naik, dan belum stabil untuk bertahan jika Anthony melaksanakan ancamannya. “Jika saya beritahu, kamu juga tidak akan mengenalnya.” Jawab Eibi.
“Hahahahahaha, lucu sekali. Sangat lucu! Hidup kita harus seperti ini amat ya. Skenaratornya manusia” Zivi tertawa hingga memegangi perutnya, namun batinnya sedikit sedih. Apa salahnya hingga ia yang terlibat?
Tawa apa ini? Pilu atau …? Eibi tercengang!
“Apa yang lucu? Apakah ini lucu bagimu?” Eibi memandang langit-langit kamar, tidak sama sekali merasakan lucu seperti Zivi.
“Yeah, lucu. Menurutmu?” Tanya Zivi terhenti dari tawanya, namun masih ada sisa tawa dari wajahnya, ia juga memandangi langit-langit seperti Eibi.
“Kalau saya menangis, terlihat tertekan karena hal ini, orang itu akan merasa menang. Lagipula, bukan saya yang melakukan kesalahan, kenapa saya yang harus menangis. Jalani saja dengan senang hati. Ikuti skenarionya.” Ucap Zivi, “Mari kita berperan dengan sangat baik didepannya.” Ajak Zivi penuh semangat menoleh kearah Eibi. Pikiran logisnya kembali bekerja.
Apa yang diucapkan Zivi masuk akal. Eibi menerimanya, “Yap. Mari kita melakukannya, hingga kita bisa mengakhirinya dengan baik.” Sambut Eibi tersenyum -Kita memerankannya dengan perasaan sayang kita yang murni satu sama lain- batin Eibi berharap akan hubungan mereka.
“Namun kita harus tetap berusaha untuk mendapatkan video itu. ok! “Ucap Zivi. Ia tidak ingin video dirinya tidur bersama Eibi tersebar dan jadi tontonan. Mereka merasa bisa menghadapinya, namun juga tidak tahu perasaannya nanti saat itu benaran terjadi. Ia tidak bisa membayangkannya. -Semoga video itu hanya ancaman- batinnya berharap, ia hanya tahu, namun dirinya tidak pernah melihatnya.
“Apakah kamu pernah melihat videonya?” Tanya Zivi pada Eibi.
“Tidak. Ia hanya mengancam saya dengan beberapa foto. Namun diambil kembali olehnya.” Jawab Eibi.
“Apakah kamu yakin ia benar-benar memiliki video kita?” Tanya Zivi.
“Ya. Dia pastinya bukan hanya mengancam saja.” Jawab Eibi yakin. Ia kenal Anthony. Anthony bahkan mengirimnya video panasnya bersama Kezia. Apalagi hal semacam ini. Anthony tidak akan hanya sekedar mengancam.
Meski video panas Anthony dan Kezia saat itu dikirim dengan unknown number, Eibi sudah tahu sejak Anthony mengancamnya untuk menikahi Zivi. Tujuannya satu, Kezia akhirnya menyerah terhadap Eibi dan menerimanya.
“Hmmm, kita pikirkan cara untuk mendapatkannya. Pertama-tama, harus tahu dulu siapa orang itu.” Ucap Zivi.
“Ya.”
“Dan satu lagi, kita harus tetap jaga jarak jika hanya berdua.” Tambahnya lagi.
“Ya.”
“Deal!” Zivi memberikan jari kelingkingnya untuk dikaitkan dengan kelingking Eibi. Eibi menerima.
“Hmmm, deal!” Eibi mengiyakan dengan pasif.