
Pagi hari Zivi membuka pintu dan mengintip.
Kosong!
Mengelus dada lega. Baguslah ia sudah pergi.
Entah jam berapa Eibi pergi, ia tidak tahu. mungkin dari semalam. Pikir Zivi.
…
Sementara di rumah Eibi menunggu penjelasan Alden untuk urusan pekerjaan Zivi.
Ia kembali pagi-pagi buta saat sepi dan tidak ada yang melihatnya keluar dari kost putri Zivi.
Tujuannya hanya satu, bertanya secara langsung apa yang Alden infokan padanya semalam.
“Apa maksudmu semalam?” Eibi tanpa basa-basi.
“Tidak ada maksud apa-apa. Hanya ingin memastikan jika kau akan melepaskan Zivi!” Alden ingin tahu pastinya dari Eibi.
“!” Diam. Tidak ada jawaban.
“Apa… Zivi belum memberitahumu mengenai perpisahan? Ia memberitahuku setelah ia kembali dari rumah keluarganya. Dan akan memberitahumu setelah pulang.” Alden tak menyangka bahwa Zivi belum memberitahu Eibi setelah bertemu dan bahkan Eibi menjumpainya di kost.
‘Owh, Zivi sungguh-sungguh berencana demikian?’ Eibi tidak mempercayainya. Meski pernah berpikir akan melepaskannya, itu hanya pikirannya sesaat. Tidak dimaksudkan dengan serius. Zivi? sungguh berencana? Bahkan memberitahu Alden? Eibi tidak rela. Tidak bisa diterima rencana Zivi. membayangkannya saja tidak. Maka ia akan menggenggamnya erat. ‘Tidak akan saya lepaskan!’ batinnya.
“Sungguh Zivi memberitahumu demikian?” setelah sekian lama diam, ia bertanya.
“Hmmmm” sambil mengangguk lalu menjelaskan dengan detail. Alden berbicara pelan, sambil mengingat-ingat dan memilih kata-kata yang tidak memprovokasi.
“Hmmmm” Eibi merespon dengan bergumam pelan, sesekali menarik nafas.
“Tolong loby tempat kerja Zivi untuk bekerja keluar kota dengan kantor kita selama kurang lebih dua minggu untuk minggu depan.” Pintanya pada Alden.
“Pekerjaannya …”
“Kamu tahu Zivi bisa dibidang apa. Dan jadikan itu sebagai alasan bahwa kita membutuhkan jasanya keluar kota. Bayar sesuai yang mereka tawarkan. Bila perlu berikan double.” Menjelaskan lebih jelas pada Alden yang ingin bertanya detailnya.
Tanpa banyak tanya, Alden mengiyakan. Ia tahu ada maksud Eibi dalam hal ini, meski ia tidak tahu. Tapi dugaannya pasti, Eibi tidak akan melepaskan Zivi.
Setelah urusan itu, keduanya kembali ketempat masing-masing untuk siap-siap kerja.
“Hallo! Grandma!” Eibi menerima telpon grandma saat hendak masuk mobil.
Alden sudah menyalakan mesin mobil.
“Anak nakal! Sama sekali tidak memberi kabar setelah tiba disana!” balasan ya ia terima.
“Maaf. Pekerjaan Eibi terlalu padat setelah ditinggal beberapa bulan.” Beralasan yang membuat pengemudi memutarkan bola matanya.
‘Urus pekerjaan atau wanita?’ batinnya.
“Hmmm, mengingat Alden yang mengurus pekerjaanmu disana. Grandma ragu dengan alasanmu!” “Tapi grandma tidak lupa! Kamu berjanji akan membawa gadis yang sudah kamu dapatkan itu pada ulang tahun grandma!” Grandma memberitahu langsung tujuannya menelpon pada Eibi.
“Yap. Eibi tidak akan lupa. Grandma tunggu saja. Minggu depan saya akan membawanya kehadapan grandma.” Eibi memberi jawaban dengan pasti.
“Bagus jika demikian. Untuk kado grandma, tidak perlu membawa apa-apa. Gadis itu sudah cukup jadi kadi grandma.” Goda grandma, “jika tidak, tunggulah. Grandma yang akan memberikan kado untukmu pada ulang tahun grandma!” tantangnya.
“Tenang saja. Grandma akan menerima kado dari Eibi. Pasti!” menjawab dengan yakin menghilangkan semua keraguan dari yang mendengar.
“Baik. Grandma senang mendengarnya dan grandma tunggu.” Grandma tanpa lagi menggodanya.
…
“Siang ini harus kamu beritahukan pada saya hasilnya.“ Eibi meminta hasil pada Alden siang ini setelah mengakhiri telpon dari grandma.
“Dalam beberapa hari ini, kita akan lembur. Selesaikan semua urusan yang bisa dihandle selama ketidakberadaan kita dua minggu kedepannya. dan kamu akan ikut saya keluar kota bersama Zivi.” Sebelum masuk ke ruangannya, Eibi memberitahu Alden demikian.
Alden hanya bisa mengangguk, “Keluar kota, sebenarnya kita akan pulang kerumah.” Tambahan Eibi sebelum meninggalkannya dengan senyum.
Hehehe, kembali ke rumah Alden sudah tahu. Mendengar permintaan yang diluar dugaan serta percakapan dengan grandma di mobil sudah cukup memberinya informasih bahwa kerja luar kota itu adalah kembali. Itu hanyalah triknya untuk membuat Zivi meninggalkan pekerjaannya.
Tapi…
‘Artinya tugasnya untuk meloby tempat kerja Zivi harus berhasil jika demikian.’ Alden menyadari beban yang baru saja Eibi letakkan pada pundaknya.
…
“Kenapa kamu tidak bilang kalau suamimu sudah pulang?” Donna bertanya pada Zivi yang sibuk memeriksa isi tas disampingnya.
“Itu!” Donna menjawab dengan menggerakkan alisnya ke depan gerbang kantor.
Eibi berdiri bersandar pintu dengan tangan terlipat di dadanya.
Kacamata hitamnya menambah pesonanya. Para rekan kantor wanita yang lewat tak melewatkan kesempatan melihat atau mencuri curi pandang.
“Tak dipungkiri, cakep suamimu!” Komentar Donna pada Zivi sambil tersenyum geli melihat pada rekan kerja wanita yang lewat tak henti henti melihat Eibi.
“Hmmm, cakep bagimu. Bagiku pacarmu yang cakep.” Zivi menggoda Donna, “Ayo, tukaran! Hahaha” Zivi tertawa geli dengan ide gilanya.
“Boleh. Hahaha” Timpal Donna tak kalah.
“Memang! Rumput tetangga lebih hijau!” Komen Zivi.
“hehehe, betul. So, tidak jadi ke rumahku!” Donna menyimpulkan saat hendak membelok ke mobilnya.
“Kurasa. Bye!” Zivi mengiyakan Donna dan melihat Donna menuju mobilnya lalu ke depan gerbang menghampiri Eibi.
“Kenapa tidak memberitahu jika akan kesini?” dengan nada sedikit protes.
“Supaya kamu ada kesempatan untuk menolak!” Balas Eibi sambil membuka pintu co-pilot untuk Zivi, “Masuk!”
“Tidak perlu. Jalan sebentar juga sampai.” Tolak Zivi.
“Masuk!” dengan tegas seperti tidak mendengar Zivi.
Menurut lebih baik sebelum terjadi apa tidak bisa diduga!.
Setelah Zivi masuk, Eibi berjalan menuju pintu kemudi. Ia menyetir sendiri hari ini. Alden ia tinggal di kantor.
“Kita mau kemana?” Tanya Zivi melihat Eibi yang baru saja duduk di depan kemudi.
“Apa yang kamu lakukan? Ahh” Zivi terkesiap dan otomatis mundur dan merindih karena kepala kepentok pintu mobil. Ia tak menerima jawaban, malah gerakan Eibi yang tiba-tiba mencondongkan wajahnya.
“No!” Pinta Zivi memelas menatap Eibi. Eibi melingkarkan tangan pada pinggangnya.
Apa ini ancamannya yang semalam? Ia akan … Tidak mungkin! Zivi menolak pemikirannya. Tapi kemarin Eibi hampir saja …
“Jangan! Hiks!” Zivi hanya bisa menangis dengan mata terpejam.
“Apa yang kamu pikirkan?” Eibi menatapnya sambil tersenyum, namun tangannya tidak diam.
Ia menarik seatbelt dan memasangkannya untuk Zivi.
Mendengan suara Eibi yang diikuti suara klik seatbelt, Zivi lega dan membukan matanya melihat Eibi yang tersenyum tepat didepan matanya.
“Apakah kamu memikirkan ini? cup!” menggoda Zivi dengan pertanyaan disertai Tindakan.
“Kau!” Zivi yang baru merasa lega dan merasa malu karena pikirannya yang dirasa berlebihan terkejut. Eibi sungguh tak bisa diprediksi! Hanya bisa melotot, kehabisan kata. Kata ‘kau’ penegasan bahwa ia kesal.
“Ingin makan apa?” Tanya Eibi seakan tidak terjadi apa-apa.
“!” diam kesal.
“Pulang. Aku ingin makan masakanmu.” Memutuskan sendiri, lalu menyalakan mobil.
“Baiklah. Sekalian ada yang mau saya bicarakan denganmu!” Jawaban Zivi yang membuat jantungnya rasa berhenti sebentar.
‘Apakah ini yang dimaksudkan Alden?’ Batin Eibi sedikit gugup.
***
“Zivi?” Damon yang sudah menunggu didepan gerbang bertanya melihat Donna pulang sendirian.
“Oh! Dia sedang melepas rindu pada suaminya. Jadi tidak jadi kesini.” Jawab Donna sambil membuka gerbang dan memasukkan mobilnya, Damon juga ikut memasukkan mobilnya.
“Maksudmu? Apakah suaminya sudah pulang?” Bertanya lagi saat Donna sudah turun dari mobil.
“Ya namanya melepas rindu, tentu saja suaminya sudah pulang.” Jawab Donna sambil lalu menuju rumahnya, “karena Zivi tidak ada, Richard juga belum pulang, kurasa …” tambahnya melihat Damon dengan rasa bersalah.
“Ok. Saya tahu. Saya pulang.” Damon menjawab Donna sebelum Donna menyelesaikan ucapannya.
Setelah Damon pergi, Donna seperti merasakan sesuatu…
“?”