LOVE OR NOT?

LOVE OR NOT?
Ch. 33 Tidak Suka Kamu Bertemu Dengannya



Anthony ke rumah Zivi ingin memastikan keadaan gadis itu, namun tidak ada ditempat. Sesuai pemberitahuan pak penjaga, ia menuju tempat kerja Zivi.


"Kenapa begitu tiba-tiba mengajakku keluar?" "sudah kukatakan akan mentraktirmu saat sudah gajian." Zivi berucap saat melihat Anthony didepan kantor menunggunya.


Zivi terkejut saat front office memberitahunya dicari seseorang yang bernama Anthony. Ia tidak terkejut Anthony tahu tempat kerjanya, pasti ia tahu sebagai teman Eibi.


"Ya, itu pasti. Saya akan tunggu waktu itu datang. Kalau kamu lupa, saya yang akan ingatkan" Anthony sambil tersenyum mengelus kepala Zivi saat Zivi sudah dekat jangkauan tangannya. Hatinya lega Zivi tidak menunjukkan gejala negatif dari kejadian beberapa hari lalu.


"Dan sekarang saya belum gajian tuan Anthony. "Balas Zivi sambil mengambil tangan Anthony, tidak nyaman kepalanya dielus. Tolakan secara halus ala Zivi.


"It's my treatment. Don't worry that you will spend your money." Anthony memberitahunya dengan menggodanya.


"Dalam rangka apa mentraktirku? " Zivi mengeryit, baru beberapa kali juga bertemu, kenapa tiba-tiba ajak keluar makan dan mentraktir? Ya, dia memang menyelamatkan dirinya, tapikan…


“I’ll tell you. Let’s go.” Anthony menarik tangan Zivi dan membawanya ke mobilnya.


“Wow! It’s really nice place!” seru Zivi melihat pemandangan tempat makan dangan panduan Alam. Ia belum pernah ke tempat tersebut, baru kali itu. dari ig yang ia lihat, menarik, namun tidak membayangkan akan lebih menarik aslinya.


“Yeah.” Anthony tidak banyak berkomentar, ia segera ke resepsionist dan melapor dan memesan tempat. Setelah mereka diantar waitress cantik ke salah satu gazebo yang tidak ada penghuni.


"hmmm, Tonight I have to flight back to America." Ucap Anthony disaat mereka sedang menunggu pesanan mereka datang.


"Tak perlu repot memberitahuku, apalagi bertemu denganku. Cukup beritahu lewat telpon jika memang ingin beritahu." Zivi tak percaya, mereka tak cukup dekat untuk hal itu. Hanya untuk memberitahu itu, Anthony mengajaknya makan keluar. -berlebihan bukan?- Ia menolongnya, tapi hal itu tidak cukup menjadi alasannya untuk dekat.


"Do I have your number? Btw, give me your number." Anthony santai tanpa tahu apa dalam pikiran Zivi. Baginya, memastikan Zivi dalam keadaan baik adalah penting sebelum pergi. Gadis itu mengalami hal itu juga adalah ulahnya. Karena keegoisannya, ia terjebak, bahkan Kezia ingin mencelakainya sejauh itu. dirinya iba, dan merasa bertanggung jawab atas kesalahannya itu.


"You knew where I work, how come you coudln’t find my phone number by yourself? " Zivi bertanya heran.


"hmmm, you are right. It's a piece of cake for me. But it's different when I ask it from you directly." Anthony sombong juga mengutarakan alasannya.


"I'm really touched. Thank you, I like that way." Zivi tersenyum puas. Melihat hal itu, dirinya juga mulai percaya padanya, tidak lagi berpikir macam-macam terhadapnya. Mungkin memang dia baik, dirinya saja yang over.


Tanpa mereka sadari ada mata yang sudah memandang mereka. Eibi juga berada di tempat yang sama bersama rekan bisnisnya. Mereka ada dalam ruangan, tidak seperi Zivi dan Anthony.


Selesai bertemu rekannya, ia keluar dirinya sekilas melihat Anthony, dan melihatnya dengan seksama. Betul itu Anthony. Namun tak disangka Zivi adalah gadis yang bersama Anthony.


"So, you two are here." Eibi berkata sinis saat sudah mendekati gazebo mereka.


"Eibi?" Seru Zivi setengah teriak. Ternyata Eibi ada disana. Tanpa ia sadari nada suara Eibi, spontan senyuman itu teruntai dari kedua sudut bibirnya.


"Yeah, as what you said." Anthony membalasnya santai, tank terpancing dengan sinisan Eibi. Ia tahu, Eibi tak menyukai dirinya. Sejak Eibi tahu Kezia selingkuh dengannya, ia sudah tahu itu. dirinyalah yang mengirimkan video itu dengan unknown number. Dan ia sudah siap dengan resiko itu.


"Come, join with us." Zivi ajak Zivi dengan senang hati. Anthony juga pasti tidak keberatan jika teman sendiri.


"No need, you follow me!" Eibi ucap Eibi setengah memerintah. Zivi mulai merasakan hal yang tak seperti ia kira.


"Bi, what's going on? You can speak it out here!" Anthony menjawab namun menurut juga. Saat tangannya ditarik menuju satu ruangan, ia tak mengelak. Lebih baik untuk menghindari tatapan banyak orang.


Zivi tak bisa berkata apa-apa. Ia tahu dari raut wajah Eibi, apapun yang ia katakan Eibi akan mengabaikannya seperti tidak mendengar apa-apa. Dirinya tidak pandai bicara yang tepat untuk membuat orang teralihkan.


"What are you going to do by inviting her here? " Eibi bertanya dengan nada menggeram.


"No. I just care about her." Anthony menjawab santai.


"Care? Bulshit! I remind you, don't you try to close with her. Just go back, and follow that your damn woman." Eibi menyeringai mengejek.


"Calm down, bro. Don't need to tense up. Are you jealous?" Anthony malah bertanya seakan tidak tahu jika Eibi marah.


"Yes. I don’t like seeing her be with you. " Eibi menjawab. Pertanyaan itu membuatnya terkesiap. Cemburu? -Ya, dirinya mengakuinya. Perasaannya terhadap Zivi selama waktu mereka bersama sudah cukup mengatakan bahwa ia menyukai gadis itu, dan ia ingin Zivi menjadi miliknya. Jika Anthony mendekatinya, apakah nanti Zivi akan seperti Kezia? Tidak! Harus segera dicegah. Karena dirinya terlalu santai terhadap pertemanan mereka hingga Kezia bisa selingkuh dengan Anthony.


"Don't worry. I am not interested with her." Anthony menjawab tegas, namun lega mendengar jawab Eibi dan pergi keluar ruangan itu kembali ke gazebo dimana Zivi menunggu.


Makanan yang mereka pesan sudah menanti diatas meja.


"What's going on? Are you ok?" Zivi khawatir melihat Anthony.


"No. Nothing. Sorry, I think we can't have our lunch together. Next time." Anthony memberitahu Zivi agar tak menimbulkan kegaduhan bersama Eibi nanti.


"I'll take my flight tonight, so take care yourself, ok. Don't worry, those bad guys had already beaten up and thrown away by your husband. He took justice for you." Anthony tersenyum sambil mengelus pipi Zivi menatap dalam mata gadis itu untuk memastikan ia baik-baik saja.


l Ucapan Zivi soal makanan tak ia hiraukan.


"So, take care yourself too. Save flight. See you when I see you, hehehe" Zivi setengah bercanda melihat Anthony yang tersenyum namun begitu serius serasa saat matanya menatapnya.


"good joke. So, see when I see you too. Go, go, your husband has already wait you." Anthony seperti mengusirnya namun dengan nada bercanda.


Zivi memahami keadaan dan segera pergi menuju Eibi yang sedang berdiri tak sabaran menunggunya segera pergi dari sisi Anthony. Lagipula tidak mungkin ia menolak Eibi. Itu hanya akan membuatnya malu di hadapan Anthony. Eibi suaminya, apapun alasan pernikahan mereka, itu bukan alasannya untuk tidak menjaga harga diri Eibi didepan orang lain.


Anthony menikmati makanannya sendiri dan memberikan bagian Zivi pada waiter yang ada disana.


Krik krik krik


"Do you have problem with him? " Zivi memecah keheningan mereka.


"Hmmm" Eibi menjawab tanpa niat.


"Hmmm? He invited di me to lunch before he flights back to A**r**a." Zivi memberitahu Eibi.


"is it needed?" Eibi Eibi tak suka.


"I didn't think so, but he just has a good intention. Maybe he cares for me because what had happened to me." Zivi memberikan pendapatnya.


"Hmmm, but in the future remember to avoid him." Eibi memintanya untuk menghindari Anthony.


"Why?" Zivi “He is a good man, ok. I can’t feel something bad when I’m with him.” Zivi berargument.


"I don't like him." Eibi jawab singkat dan jelas dengan penuh penegasan.


"But ... Hmmm" Zivi tak melanjutkan merasakan tatapan Eibi yang sudah tak menarik lihat. Menakutkan.


"What do you want to eat? I haven't have my lunch." Eibi bicara mengalihkan pikiran Zivi yang sudah terlihat takut terhadapnya. Nada suaranya kembali normal, tatapan matanya kembali menarik seperti tak terjadi apa-apa.


"Just drive me back to work, please." Zivi menjawab pelan dan mengarahkan pandangannya kedepan.


"Pak, saya minta ijin untuk Zivi hari ini tidak bisa kembali ke kantor." Eibi mengeluarkan ponsel, menelpon. Zivi terperanjat mendengar ucapannya. Ternyata yang Eibi hubungi adalah Bosnya. "Terima kasih Pak."


"?"


"Jadi, mau makan apa?" Eibi sambil tersenyum bertanya. Zivi yang terkesiap barusan kembali sadar.


"Terserah kamu mau makan apa." Zivi jawabnya malas. Kenapa sifatnya mudah berubah-ubah? Seperti bunglon.


"Hei, jangan marah. Seharusnya hari ini kamu tidak masuk kerja dan bisa makan siang bersamaku." Eibi memberitahu Zivi, menyadari mood Zivi yang tak bersemangat karena sifatnya.


"Saya tidak tahu kalau saya di ambilkan ijin." Zivi berkomentar pasrah, juga tak senang.


"Hmmm, saya salah, saya tidak memberitahumu. Saat bangun, kamu sudah tidak ada. Saya bangun kesiangan, Maaf" Eibi berucap lembut, terasa tulus Zivi rasakan.


"Hmmm.” Jawab Zivi tak berniat. Tatapannya tetap lurus kedepan.


“Hei, hei! Apa yang kamu lakukan? Kenapa menepi?” Zivi menoleh melihat Eibi menepikan mobil. Dirinya merasakan hal yang tak enak.


“Ok. Saya minta maaf! Kamu jangan bersikap seperti ini.” Eibi mengulurkan tangannya menangkap kedua pipi Zivi dan menghadapkan Kediri nya. Ia menatap mata Zivi dengan lembut memastikan gadis itu merasakan kesungguhannya minta maaf. “Saya hanya tidak suka kamu bertemu dengannya.” Tambahnya lagi.


Zivi merasa tak enak dengan tatapannya. Tatapan teduh, juga memberikan kesungguhan sekaligus ada rasa berharap dalam ucapan Eibi. “Hmmmm, saya tahu. Apakah jadi makannya?” Tanya Zivi ingin segera lepas dari perasaan yang menyeruak dari tatapan Eibi.


Eibi melepaskan Zivi dan kembali melajukan mobil, meski ia tidak puas dengan jawab Zivi.


"Disini tempat yang enak. Saya suka. Dan banyak orang yang menilainya bagus dan enak."


"Ok. Sudah berapa kali kesini?" Tanya Zivi tak niat agar tidak terlihat mengabaikan.


"Hmmm, ini ke empat kalinya. Client suka bertemu ditempat ini. Mereke juga merekomendasikan tempat ini" Terang Eibi namun perasaanya tetap merasakan perasaan Zivi.