Little Twin'S Daddy

Little Twin'S Daddy
98. Serangan Black



"Hei, apa yang terjadi?" panggil Aidan menahan satu gangster yang tidak sengaja lewat di depan ruangannya.


"Tuan muda, tetap berada di tempat ini, ada penyusup berhasil masuk ke sini dan telah menghabisi beberapa orang," jawab gangster itu lalu menyusul rekan mereka untuk menghadapi Black.


"Penyusup? Apa itu Black?" Aidan mundur menjauhi pintu. Bersamaan di luar sana, seseorang mendekati mobil yang tidak lain adalah Bram yang sudah sampai. Ia kaget melihat mayat kaku di sekitar mobil itu.


"Ck, dia sudah bergerak duluan ternyata. Aku harus masuk ke sana cepat." Bram berlari ke dalam mencari Black dan rupanya sebagian tempat itu sudah hancur luluh lantah dan mayat ada di mana-mana.


"Sial, Evan benar-benar sudah sangat keterlaluan. Mereka tidak ada hubungannya dengan ini, tapi ia terus menghabisi mereka!" Bram menuju cepat ke arah lain, dan tidak habis pikir Evan yang dulu ia kenal baik, sekarang menggila di tempat ayahnya. Rayden yang mengetahui ada penyusup ia menghentikan anak buahnya namun tiba-tiba Black sudah di dekat pintu dengan seringai di bibirnya. Pria berkacamata dan berjubah hitam itu merasa puas melihat mesin waktu itu di depannya.


"Hei! Beraninya kau masuk!" Tunjuk para anak buah Rayden menyerang namun ...


PHASSS....


Rayden membola kaget melihat semua anak buahnya ditumbangkan oleh satu orang itu, ditambah di tangannya ada senjata mematikan yang sama dengan milik Bram.


"Siapa kau?!" ujar Rayden bertanya dan menjaga pertahanan dirinya agar orang itu tidak mengambil celah untuk membunuhnya. Seluruh tubuh Rayden tiba-tiba terasa tidak berdaya. Apalagi tembakan yang dia berikan hanya ditangkis semudah itu oleh Black.


"Oh tidak, Papa dalam bahaya!" Aidan yang di ruangannya melihat ayahnya melalui cctv, ia bergegas menuju ke pintu untuk ke sana, tetapi Aidan berhenti saat ada yang tiba-tiba melewatinya dan mengambil senjata duplikat ayahnya.


"Hei, siapa kau? Beraninya masuk sembarangan! Taruh kembali benda yang kau ambil itu!" teriak Aidan menunjuk.


Bram menoleh dan saling menatap antara dua mata biru mereka yang sama persis. Hanya saja Bram tidak menunjukkan wajahnya dibalik maskernya itu.


Bram tidak menjawab, tetapi ia melemparkan sebuah buku. Aidan menangkapnya dan bingung pada orang itu.


"Hei, apa ini?" tanya Aidan dan seketika terkejut saat mendengar suara Bram.


"Itu buku panduan untuk merancang mesin waktu beroperasi ke masa lalu dan beberapa bagian data yang kamu gunakan untuk 60% selamat dari kematian saat melalui portal ruang waktu dimensi perpindahan," jelas Bram lalu mengambil dadu miliknya kemudian memberinya ke Aidan.


"Ambil ini juga dan cobalah melindungi ayah. Saat aku mencoba mengalihkan perhatian Black, kau pergilah dari sini membawa ayah," ucap Bram serius lalu melewati Aidan yang antara syok mendengar nama Black.


"HEI, tunggu," tahan Aidan berjalan di sebelah Bram.


"Ada apa?" tanya Bram tanpa menoleh karena jika ia tidak ke tempat Rayden secepatnya, bisa-bisa ayahnya mati dan itu bisa mengubah masa depan nanti.


"Siapa kau sebenarnya?" tanya Aidan.


"Kau ini sebenarnya bukan Dokter, kan?"


"Iya, kan?" Desak Aidan ingin tahu.


Bram berhenti dan menatap Aidan. 'Aku adalah ayah dari anak-anak mu.' Ucap Bram tapi hanya di dalam hati. Mana mungkin ia menjawab pertanyaan yang bisa mengubah jalan cerita kehidupannya.


"Tidak usah banyak tahu, pertanyaan mu itu tidak ada pentingnya dibandingkan nyawa ayah mu sekarang." Bram menjawab angkuh, membuat Aidan sedikit kesal. Begitupula Rayden kesal tidak bisa mengimbangi Black yang terus menyerang ke arahnya.


"Hahaha... tentu saja memaksamu mengirim ku ke masa depan," ucap Black karena tidak tahu di mana Qila disembunyikan oleh Aidan dewasa, jadi ia ingin melompati beberapa tahun ke depan untuk membunuh Qila. Ia akan puas jika tujuannya tercapai. Membunuh Qila di depan mata Aidan, itu adalah balas dendam terbesarnya.


"Ck, meski aku tidak tahu siapa dirimu, tapi suara mu terasa tidak familiar dan sayang sekali, aku tidak akan biarkan kau menggunakan mesin ini." Tolak Rayden menyeringai tipis.


"Berengsek, anak dan ayah sama saja! Matilah kau seperti menantu mu itu!" Geram Black maju menyerang dengan mengayunkan pedang di tangannya namun seketika.....


PRANG.....


Percikan dari benturan antara dua pedang itu menyilaukan mata Rayden. Bos Rayzard itupun kaget seseorang tiba-tiba muncul melindunginya dan menghadang pedang Black menebasnya. Sedetik saja terlembat, Rayden mungkin sudah pindah alam. Tapi apa yang dia lihat sekarang seperti di dalam mimpinya yang melihat dirinya ingin dibunuh.


"Cih, kau akhirnya muncul kembali di sini, aku pikir kau sudah menikmati kencan mu dengan Qila. Sialan, bajingan kau!"


PRANGGGGGG.....


Rayden mundur saat dua orang di depannya beradu pedang. Perkelahian mereka sangat cepat, gesit dan sulit dilihat oleh mata telanJang. Bahkan suara perkelahian mereka memantul memenuhi ruangan itu. Membuat sakit telinga.


"Pa, cepat kita keluar dari sini!" Aidan tiba-tiba menarik Rayden menghindari area pertarungan Bram dan Black.


"Aidan, tidak! Kita harus mengambil mesin itu dulu," tolak Rayden yang diseret oleh putra sulungnya itu.


"Pa, bahaya! Selagi Dokter itu melawan Black, kita sebaiknya pergi dari sini dan biarkan Dokter itu yang mengatasinya." Aidan keluar dan menutup pintu eksperimen itu. Rayden jatuh dan bersandar ke tembok sambil mengatur nafasnya yang berdegup dua kali lipat. Sedangkan Aidan tersanjung memandangi perkelahian Bram dan Black yang memukau. Saling menyerang tanpa henti dan juga sebagian bela diri yang ditunjukkan dua pria itu terasa tidak asing. Rasanya seperti ia pernah melakukan duel kekuatan bersama Evan.


"Akhhhh, sialaaaan kau, jangan menghentikan aku, Aidan!" pekik Evan yang mulai ngos-ngosan karena sudah terpojok oleh Bram\Aidan gara-gara kehilangan sebelah matanya. Kali ini Bram yang unggul dalam pertarungan.


"Aidan...." lirih Rayden memanggil putranya. Aidan berbalik dan terkejut melihat ayahnya pucat dengan darah mengalir dari hidungnya.


"Papa, bertahanlah!" Aidan memapah Rayden, membawanya keluar dari tempat itu dan butuh perawatan ke rumah sakit. Pas sekali, sekretaris datang tepat waktu. Ia begitu kaget melihat tempat itu hancur dipenuhi mayat.


"Tuan muda, apa yang sedang terjadi?"


"Nanti saja bertanya nya, sekarang kamu bawa ayah ku ke rumah sakit." Aidan mendudukkan Rayden yang pingsan. Sekretaris itupun membawa Rayden pergi. sedangkan Aidan kembali ke dalam, di mana Bram mencoba memasang data keamanan ke mesin itu. Black yang melihatnya, pria berambut blonde itu kembali memungut senjata dan diam-diam...


'Jleb'


Aidan yang tiba di depan pintu dan melalui lubang kacanya, cowok itu terbelalak dan jantungnya berdegup sangat keras melihat Black menusuk Bram, seperti merasakan kesakitan luar biasa. Bersamaan Qila yang sedang beres-beres kamar, ia terkejut melihat fotonya bersama Bram tiba-tiba jatuh ke lantai.


'Ya Allah, apa yang terjadi?'


.


2 Bab lagi tamat