
Tidak lama kemudian, Aidan dan Qila tiba di sebuah lapangan kecil. Tempat yang tadi dikunjungi oleh Aidan bersama Hana. Tampaknya, Aidan dan Qila belum menerima kabar Raiqa dari rumah sakit.
"Nih, ambil, kamu ke sana dan latihan duluan," ucap Aidan. Memberi bola basketnya pada Qila.
"Ka-kamu mau kemana?" tanya Qila menahan Aidan yang mau menaiki motornya.
"Sekarang sudah jam tujuh, aku mau pergi beli cemilan. Cuma sebentar kok," jawab Aidan dan menaiki motornya.
"Gak usah pasang muka jelek begitu, aku gak akan kok ninggalin kamu di sini," sambungnya memasang helm dan tidak lupa mengejek istrinya itu.
"Ka-kalau aku jelek, berarti Hana juga jelek, kan?" ucap Qila tiba-tiba.
"Heh, Hana jelek? Mata mu ini memang rusak ya. Hana dan kamu itu jauh berbeda. Dia lebih-" ucap Aidan berhenti ketika melihat Qila berlalu pergi karena ia tahu apa yang mau diucapkan Aidan. Pasti akan dibandingkan dengan Hana.
Aidan pun pergi meninggalkan Qila. Gadis itu sekarang hanya sendirian saja di lapangan itu sambil memandang ring di depannya dan bola basket di tangannya. Arah kedua matanya pun beralih ke sekitarnya yang sepi. Tapi bukan suasana sepi itu yang dipikirkannya, melainkan bayangan Aidan dan Hana yang bertemu tadi sore.
"Huft, aku tahu, Kak Aidan pergi karena dia gak mau mengajariku. Padahal aku dan Hana satu tim besok, harusnya dia gak usah gengsi begitu."
Qila menunduk lesu kemudian melirik ke samping, melihat di sana ada bangku kosong. Ia pun melangkah ke bangku itu. Duduk dan menunggu Aidan kembali. Tetapi 10 menit berlalu, Aidan belum datang.
"Akhhh!" Qila berteriak. Berteriak keras-keras dan sepuasnya. Membuang pikiran berat di dalam kepalanya. Mencoba tenang namun hatinya gelisah. 'Apa jangan-jangan aku beneran ditinggal?' pikirnya dan celingukan. Memperhatikan sekitarnya yang sunyi mencekam sambil memeluk tubuhnya karena merasakan udara malam ini yang lumayan dingin.
"Ya udah deh, aku latihan sendiri. Menunggu Kak Aidan hanya buang-buang waktu." Qila berdiri meninggalkan bangku itu, berlatih seorang diri saja.
"Auhh, sakit!" rintihnya tiba-tiba terpeleset ketika melakukan shooting. Walau sedikit sakit, Qila kembali berdiri dan melakukannya lagi. Bahkan ia tidak peduli dengan keringat yang bercucuran di keningnya. Qila tampak fokus berkosentrasi dan berusaha semaksimal mungkin mengikuti sesuai apa yang tercantum di dalam bukunya yang telah dia hapal susah payah.
"Akhhhhh, Yeahhh! Akhirnya masuk juga!" pekik gadis itu melompat riang dan tersenyum sangat puas melihat bola yang di lemparkan dapat masuk ke gawang. Merasa ada peluang bagus untuknya unjuk diri besok di depan teman-teman kelasnya.
"Okeh, aku gak boleh senang dulu, ini belum cukup!" Qila memungut basketnya. Kembali menggiring bola basket menuju ke ring. Namun di tengah latihannya itu, tiba-tiba ia berhenti setelah merasakan sesuatu yang sangat sakit pada kakinya. Gadis itu duduk di tanah dan melihat tumit kakinya yang bengkak.
"Aduh, aku masih ingin latihan, tapi jika aku terus paksakan ada di sini, mungkin besok aku dikeluarkan dalam tim. Akhhh, sebel deh." Qila menggerutu sendirian di tengah lapangan itu.
"Kak Aidan juga, dia kemana ya? Katanya gak akan tinggalin aku, tapi kenapa sekarang belum datang juga? Apa benar, dia sengaja meninggalkan aku di sini?" Qila menekuk raut wajahnya dan mengelus tumit kakinya.
"Ya udah deh, aku pulang saja. Kasihan sekretaris Om Rayden di sana. Aiko dan Aila pasti sudah banyak merepotkannya." Qila mengambil bola basketnya dan tas mininya di atas bangku. Saat mau keluar dari lapangan itu, tiba-tiba hapenya ada pesan singkat yang masuk ke.
Wajah yang lesu tadi semakin lesu setelah membaca isi pesan Aidan yang ternyata berada di rumah sakit dan tidak bisa kembali melatih dirinya. Ibu kecil Aiko itu berjongkok, memeluk lututnya dan menyembunyikan wajahnya.
"Bukan cuman tidak berguna, aku ternyata juga pembawa sial," lirih Qila belum meninggalkan tempatnya berdiri.
Tampaknya Aidan ke rumah sakit akibat Hana yang mengabarinya. Cowok itu dengan tega meninggalkannya di lapangan sendirian dan pergi menghibur Hana di rumah sakit. Aidan tipe cowok yang tidak suka dengan pembohong, tapi sekarang dia kali ini yang membohongi Qila.
"Hiks, bodoh. Bodoh! Sudah aku duga, dia gak bakal mau membantumu, Qila!" pekik Qila melampiaskan semua rasa sakit, kecewa, dan sedih di dalam hatinya.
"Papa udah gak sudi lihat aku, Mama dan Kak Raiqa juga akan meninggalkan ku ke luar negeri, dan Kak Hana pasti sangat membenciku dan mencap aku sebagai adik sial. Dan juga, teman-teman sekolah akan semakin menghindari ku dan menganggap aku yang telah mengakibatkan Raiqa dikeroyok preman."
"Arghhh, kenapa! Kenapa aku mengalami ini semua!" Qila berteriak kesal pada dirinya sendiri. Ia menundukkan kepalanya, menatap kosong pada tanah di depannya. Merasa hatinya sekarang hampa.
Qila pun berdiri, membuang tas dan bola basketnya. Kedua kakinya berjalan ke arah sebuah tiang besi yang besar. Ia pun berdiri kemudian dengan jiwanya yang putus asa, gadis itu dengan ancang-ancang membenturkan kepalanya.
"Benar, harusnya aku gak usah ngelahirin anaknya, harusnya aku mati saja! Gadis idiot sepertiku gak ditakdirkan hidup bahagia. Harusnya aku mati saja waktu itu! Arghhh!"
Qila terus membenturkan kepalanya dan tidak peduli darah yang mengalir di keningnya. Ia terus melukai dirinya sampai batas amarahnya habis. Karena merasa itu belum cukup, Qila melihat ranting di tanah dan melihat ujungnya yang runcing.
Qila perlahan memungutnya. Pikiran pendeknya mulai merasukinya. "Daripada aku hidup sebagai aib keluarga, lebih baik aku pergi. Ternyata ini memang satu-satunya cara terlepas dari semua ini." Qila mengangkat ranting itu ke atas, berniat menusuk perutnya, tapi ia juga sedikit ragu dan takut. Apalagi ia tidak tega pada dua bayinya.
"Gak papa, kalau aku mati, Kak Aidan pasti senang dan bisa menikahi Hana. Lagipula, Tante Arum gak yakin mau menerimaku jadi menantunya. Maaf, Aiko... Aila... Mama sayang kalian, tapi sekarang Mama capek menahan ini semua." Qila siap-siap mengarahkan ke perutnya, tetapi tiba-tiba seseorang menangkap kayu di tangannya dan langsung membentaknya.
"HEH! QILA!!"
Suara itu menggetarkannya, Qila segera berbalik badan dan melihat Bram ada di depannya. Pria itu menariknya ke dalam pelukan. Memeluk cukup lama gadis itu yang sekarang terisak-isak. "Hiks, Om...." lirihnya mendongak dengan mata berkaca-kaca pada pria itu yang selalu ada untuknya.
Bram mengusap sisa air mata Qila. Jarinya dengan lembut mengelus darah di kening Qila. Tatapan Bram tampak tidak tahan dan matanya pun juga berkaca-kaca, sehingga melakukan sesuatu yang tidak terduga.
DeG!
Qila yang terisak pun terpaku diam, ia terkejut sekali menerima kecupan manis tepat di bibirnya. Sangat lembut dan terasa aneh. Dan, ia tidak marah dengan tindakan itu dan malah menerimanya.
"Qila, tinggallah Bersama Om."
Qila tertegun diajak oleh Bram lagi. Apakah kali ini dia harus menolak atau menerimanya? Tampaknya dari semua orang yang ada di sekitarnya, hanya Bram yang berhati tulus. Tapi anehnya, Bram melarangnya bercerai, namun dia ingin bersamanya. Apa yang sebenarnya Bram inginkan sampai dia begitu peduli?