Little Twin'S Daddy

Little Twin'S Daddy
70. Suami Budeg!



"Akhhh, lepaskan!" pekik Aidan kedua tangannya dicekal oleh anak buah dari belakang yang keluar dari pintu gudang kecil yang terletak di dekat pintu.


'Sial, Qila bodoh, harusnya dia ganti celana Aiko dengan celana panjang!' gerutu Aidan dalam hati.


DUAK!


"Ahh, ampun Papa!" Saking kecewanya Rayden, sapu yang tidak berdosa itu langsung patah setelah memukul anaknya. Membuat Qila yang pulas tidur di sofa, ia terbangun dan tercengang melihat Rayden ada di apartemennya, dan terus memukul Aidan. Anak dan Ayah sama saja, tidak melihat ada bayi di antara mereka yang bisa menangis kapan pun itu.


"Dasar anak kurang ajar! Hanya bisa berani pada bayi kecil seperti ini! Apakah ini yang Papa ajarkan padamu, ha?


"Beraninya melukai cucu Papa! Mau kau bunuh mereka, ha?"


"Ini akibatnya kalau kau terlalu pintar, terlalu sombong sampai bodoh dan tidak tahu cara menghargai istrimu juga!"


Rayden memberikan Aiko pada anak buahnya lalu mengamuk dan lanjut memukul Aidan yang mencoba menghindar tapi tetap terkena.


"Ampun, Papa! Aku tidak sengaja! Tadi itu-"


"Banyak sekali alasanmu!" geram Rayden tidak kenal ampun.


"Akhhhh! Berhenti!" pekik Aidan tidak tahan dan cepat mengambil potongan sapu itu kemudian menodongkan ujungnya yang runcing itu ke Rayden.


"Papa! Gak usah berlebihan deh! Aku cuma cubit sedikit kok,"


"Dan juga, aku tidak pernah berniat mau membunuhnya. Papa gak usah kekanak-kanakan, deh! Ini urusan keluargaku dan lagipula dia anakku, suka-suka aku dong," ucap Aidan geram karena seluruh tubuhnya sakit semua. Sedangkan Qila masih diam di tempatnya sambil menenangkan Aila yang mau menangis mendengar keributan itu. Tapi ia sedikit senang melihat Aidan memohon. Memang agak kasihan, tapi rasanya ia puas karena sakit hatinya terbalaskan.


"Akhhhhh, sakit!" Aidan menjerit. Kali ini telinganya ditarik sampai merah. Anak buahnya cuma bisa diam karena ini sudah biasa. Ia pun sedikit terkejut tatkala melihat bayi di tangannya tiba-tiba tertawa. Membuat Rayden berhenti memukul Aidan dan melihat cucunya bangun. Sedangkan Aidan meringis kesakitan lalu melirik Qila dengan kesal. Tapi Qila cepat-cepat berpaling dan pura-pura tidak melihat.


"Pah, lebih baik Papa pulang, Mama pasti sudah mencari Papa di rumah. Jadi berikan anak itu!" pinta Aidan menunjuk Aiko.


PLATAK!


"Puftt," tawa Qila sedikit mendengar kepala suaminya dijitak.


"Berani sekali kau main perintah-perintah Papa," ucap Rayden geram lalu mendekati Qila. Memberi Aiko kepadanya.


"Pa, untuk apa sih datang ke sini?" tanya Aidan tidak suka dikunjungi tanpa sepengetahuannya. Rayden tidak peduli dan malah bicara pada Qila.


"Pah!" panggil Aidan lantang.


"Tujuan kalian ke sini untuk apa?" tanya Aidan yang kehabisan kesabaran sebab dicuekin begitu saja. Rayden pun melihatnya kemudian mendekati putranya itu.


"What? Ajarin Qila main basket? Nanti malam?" Kaget Aidan yang disuruh melatih Qila bermain basket.


"Ya, Papa mau kamu mengajarinya. Hanya catatan saja belum cukup memberinya poin banyak untuknya," ucap Rayden dan melihat menantunya yang tertegun dapat bantuan darinya.


Aidan mendecih sebal lalu melirik Qila. "Oh, begitu, setelah kalian memukul ku, sekarang mau menyuruhku? Enak sekali, memangnya aku ini pembantu?" ucap Aidan tampak ogah. Tapi melihat tatapan ayahnya yang menakutkan, terpaksa Aidan setuju.


"Ishh, baiklah. Tapi siapa yang akan menjaga Aiko dan Aila?" tanya Aidan.


"Tuan muda tenang saja, saya bisa menjaganya di sini," sahut sekretarisnya tiba-tiba datang.


"Ck, okeh. Aku mau mandi dulu dan Papa lebih baik pulang!" kata Aidan lalu pergi ke kamarnya dan terkejut disusul oleh Qila.


"Ngapain kamu ikut masuk? Sana, jaga Aiko dan Aila!" Mendorong Qila jauh-jauh darinya.


"Aku tidak butuh kamu!" tolak Aidan lebih dulu sebelum Qila bicara tujuannya masuk.


"Maaf, aku masuk bukan karena itu kok," ucap Qila.


"Hah, lalu mengapa kamu ikut masuk ke kamar kalau bukan melihat badanku yang bagus ini?" Tunjuk Aidan memamerkan sixpacknya dan mengira Qila akan teriak-teriak tapi istrinya itu malah jalan ke meja rias.


"Maaf, aku cuma mau ambil botol ini, kamu jangan terlalu percaya diri. Itu tidak ada apa-apanya di mataku. Hanya seperti tiang listrik." Qila keluar dengan angkuh dan berdiri di depan pintu. Ia ingat apa yang dikatakan Bram untuk abaikan tingkah Aidan.


"Ck, dasar istri bodoh." Aidan mengerucutkan bibirnya, lalu masuk dan tak lupa balas mengumpat. "Awas saja, nanti aku bakal kerjain kamu di lapangan."


Sedangkan Rayden, ia pergi lagi ke rumah sakit bersama anak buahnya akibat Arum ada di sana. Sementara sekretarisnya duduk di sofa dan berhadapan dengan Qila yang menjaga dua cucu atasannya.


"Nona Qila," ucap sekretaris ingin bicara.


"Ya, ada apa?" tanya Qila menoleh.


"Apa Nona tahu keberadaan Dokter itu?" tanya sekretaris ingin tahu Bram dari mulut gadis itu sendiri.


"Oh, Om Bram, aku tidak tahu, akhir-akhir ini dia jarang menelpon ku dan bahkan aku tidak tahu di mana dia tinggal," ucap Qila jujur.


"Memangnya, kenapa anda mencari Om Bram?" tanya Qila.


"Apa anda ingin berkonsultasi padanya?" tanya gadis itu membuat sekretaris sedikit tertawa melihat kepolosannya.


"Tidak, lupakan saja." Sekretaris tersenyum dan merasa yang dikatakan Rayden tampak benar jika Qila hanya gadis lugu yang tidak tahu apa-apa.


"Hei, bodoh!" panggil Aidan sudah siap mengajari Qila. Berdiri di dekat pintu sambil menenteng bola basket di tangannya. Tampilannya keren dengan memakai jaket tapi tatapannya sangat sombong sekali.


"Om, tolong jaga Aila dan Aiko, kalau ada sesuatu terjadi, jangan lupa hubungi Qila," ucap Qila berdiri.


"Nona, tenang saja, serahkan ini pada saya." Sekretaris itu mengangguk paham dan melihat gadis itu menyusul Aidan. Pria itu pun mendongak dan melihat ke atas, tempat cctv berada. Ia pun berdiri untuk mengecek isi rekaman itu sesuai perintah dari Rayden.


"Hei, buruan naik!" seru Aidan sinis.


"Heh! Heh! Sudah aku bilang, jangan pegang-pegang!" bentak Aidan mengendarai motornya dan merasakan ada yang menyentuh pinggangnya.


"Bukan aku, aku tidak pegang-pegang kok," timpal Qila lirih sambil memegang bola basket yang menjadi pembatasan.


"Hah? Apa kamu bilang?!!" teriak Aidan karena kendaraan yang lewat di sebelahnya terlalu berisik.


"Bukan aku yang pegang!" teriak Qila lalu mencubit bahu Aidan.


"Akhhh, bodoh! Kenapa kamu mencubit ku?! Kamu balas dendam ya?!" teriak Aidan meringis.


"Soalnya kamu nyebelin!!" balas Qila teriak lebih keras.


"Apa?! Kamu suka black pink?!" teriak Aidan lagi.


"Ihhhhh, aku tidak bilang begitu!" bentak Qila sedikit cemberut kemudian menahan tawa mendengar balasan Aidan.


"Tidak! Aku tidak akan mewujudkannya! Kalau kamu mau nonton black pink, pergi saja sendirian ke Korea! Gak usah ajak aku!"


"Pftt, hahahaha..." Tawa Qila bergidik geli. 'Kak Aidan, setelah dijewer sama Om Rayden, kayaknya jadi budeg, hahaha. Kalau saja aku bawa hape dan rekam ini, pasti Om Bram akan menertawainya,' batin Qila masih tertawa.


"Heh, bodoh! Diamlah! Kamu seperti kuntilanak jika tertawa!!"


Qila pun terdiam tapi diam-diam menjulurkan lidahnya. Meledek suami budegnya itu. 'Aku bodoh, kamu budeg!'


.


Cari visual anak kembar susah juga yašŸ˜…gara² ini jadi lupa update kemarin, dan cuma ketemu visual Baby Ayilah bawel doang🤧maaf yašŸ™šŸ˜…



Ini Visual Baby Ayilah jugašŸ¤—yang dilihat Aidan dalam bayangannya. Matanya biru sih, tapi karena cuma ketemu ini, jadi gpp matanya coklat seperti Qila😘



Visual yang lain, di bab berikutnya, terima kasih dan maaf kalau visualnya kurang cocokšŸ¤—