Little Twin'S Daddy

Little Twin'S Daddy
49. Tidur Di Lantai



"Hana!"


Tok! Tok! Tok!


"Hana!" panggil Raiqa di depan kamar Hana dan mengetuk pintu berulang kali. Hana yang serius belajar di dalam pun terpaksa meninggalkan kegiataannya itu.


"Kenapa, Bang?" tanya Hana setelah membuka pintu kamarnya dan kini berdiri di depan Raiqa.


"Qila mana ya, Han? Kok di kamarnya gak ada?" balik Raiqa bertanya.


"Gak tau, Hana tadi cuma di kamar, Bang," jawab Hana.


"Emang kenapa cari Qila?" tanya Hana lagi.


"Ini lho, Mama telepon ke hapenya dan mau bicara sama dia, karena gak diangkat sama Qila, jadi Mama nelponnya ke aku suruh Qila angkat panggilannya Mama. Eh pas aku masuk ke kamar Qila, dia gak ada dan cuma ada hapenya doang yang ada. Kira-kira, Qila kemana ya? Aku udah cari di sekitar rumah, tapi tetap gak ada," ucap Raiqa panjang lebar.


'Cih, pasti Mama mau bicara tentang nilai-nilai Qila di sekolah.' Decak Hana dalam hati tambah iri. Pasalnya, kemarin Qila lagi-lagi dapat nilai ujian fisika yang sempurna dan tinggi daripada dirinya yang cuma beda 2 angka.


"Udahlah, jangan ganggu Hana! Mungkin tuh si Qila pergi belajar ke rumah temannya!" ucap Hana langsung membanting pintu kamarnya.


BRAK!


"Astaghfirullah, kenapa sih dia makin hari makin galak?" desis Raiqa mengucek telinganya yang sakit.


"Ya udah deh, bilang aja ke Mama kalau Qila ada di rumah temannya." Saat Raiqa mau mengirim pesan itu ke Ibunya, tiba-tiba gendang telinganya menangkap suara motor di depan rumah. Ia pun cepat-cepat menuju ke pintu lalu mendorong sedikit horden jendela kemudian mengintip ke luar. Mata hitamnya melebar melihat sang pemilik motor adalah Evan yang datang mengantar Qila pulang ke rumah.


"Hmm? Evan? Qila kok bareng Evan? Dari mana mereka berdua? Apa jangan-jangan Evan habis ngajak Qila kencan malam-malam begini?" gumam Raiqa mengintip lagi. Ingin sekali ia mendengar apa yang dibicarakan dua remaja itu namun udara di luar cukup dingin.


"Terima kasih sudah antar Qila pulang, Kak," ucap Qila sedikit tersenyum.


"Hmm, iya. Sekarang masuklah, kalau di luar terus, takutnya kamu bisa sakit," kata Evan dengan perhatian.


Qila mengangguk kemudian berbalik, namun sejenak ia memutar badannya lagi dan melihat Evan siap pulang ke apartemen Aidan.


"Hmm, kenapa Qila? Apa ada yang mau kamu katakan padaku? Atau ada lagi yang tertinggal?" tanya Evan memakai helm.


Qila tampak ingin mengatakan sesuatu tapi rasanya ia ragu-ragu. "Gak ada, Kak." Ucapnya pun berjalan cepat ke pintu. Melihat Qila masuk ke rumah, Evan mengerucutkan bibirnya merasa sedih tidak mendapat pesan [ hati-hati di jalan ]. Padahal di luar sana mungkin ada kelompok Alpha yang bisa saja menghadangnya.


"Huft, sepertinya Qila belum peka. Kapan ya dia menyadarinya?"


"Ish, apa ini yang dirasakan Aidan ketika menyukai Hana yang juga tidak peka dengan perasaannya?"


Evan kesal. Rasanya, menunggu Qila peka adalah sesuatu yang benar-benar berat. Cowok itupun pergi meninggalkan kawasan elit itu dan tidak menyadari seseorang memperhatikannya dari rumah Rayden yang tidak lain adalah Keyra.


"Hmm, sudah aku duga, akhir-akhir ini Evan banyak memberi perhatian pada Qila, dia pasti punya niat jahat!" sentak Keyra menutup horden jendela.


"Mungkin Evan juga menyukai adiknya Raiqa, Nona Keyra," sahut rekannya yang duduk di depan televisi. Menonton drama sambil melihat kamera pengintainya di apartemen Aidan. Gadis itu selama tiga hari ini tinggal di rumah Keyra dengan maksud menemaninya.


"Ishh, aku sangat penasaran bagaimana caranya dua adik Raiqa itu bisa membuat Aidan dan Evan menyukai mereka?!" cicit Keyra menghempaskan bokongnya di sebelah rekannya itu.


"Mungkin Aidan suka Hana karena kepintarannya dan jika dilihat lagi, Hana memang calon istri ideal dan lumayan serasi bagi Tuan Aidan," ucap rekannya itu.


"Dan Evan, bisa jadi dia menyukai Qila," lanjutnya walau tidak yakin.


"Suka Qila? Alasannya, apa coba?" tanya Keyra makan popcorn.


"Ya mungkin karena Qila punya tubuh ideal. Apalagi dadanya itu lebih ... hmm ... banyak disukai laki-laki," ucap rekannya yang dimaksud PayuDara Qila, kemudian ia melihat dada Keyra yang kurang lebih seperti triplek.


"Heh, aku gak terima!" ujar Keyra lalu menggigit bibir bawahnya.


"Hmm, apanya yang gak terima?" Gadis di sebelahnya bertanya sambil makan pizza miliknya.


"Aku gak terima kalau Aidan sampai nikah sama Hana!" jawab Keyra mendumel.


"Lah, kenapa?"


"Hei, Len! Kalau Aidan dan Hana nikah, aku gak mau anaknya nanti lebih jenius dari anak aku di masa depan," ucap Keyra melipat dua tangannya di depan dada dan memajukan mulutnya satu centi.


Gadis di sebelahnya itupun memutar bola mata jengah. Ada-ada saja jawaban putri kedua Rayden itu dan tampaknya 11±12 dengan Hana yang sama-sama tidak mau kalah dari saudaranya. Beda dengan Raiqa yang tidak peduli pada apapun, yang terpenting hidupnya bebas sesuai kemauannya sendiri. Bersyukur, Raiqa punya ayah yang tidak sama wataknya dengan Rayden.


"Hei, Qila. Kamu dari mana saja sampai diantar pulang sama Evan?" tanya Raiqa sudah berdiri di belakang adiknya itu.


"Astaghfirullah," ucap Qila melompat kaget.


"Ka-kak Raiqa! Jangan kagetin Qila begini dong! Aku hampir ajah teriak maling!" lanjutnya mengomel.


"Pfft, gara-gara mikirin Evan nih, kamu jadi gak sadar, haha," tawa Raiqa melihat ekspresi kaget Qila.


"Kalian berdua dari kencan kan? Hayo, dari jalan-jalan berdua, kan?" Lirik Raiqa dengan tatapan curiga.


Qila terdiam tidak tahu mau menjawab apa. Mau jawab dari apartemen Aidan, tapi ia takut Raiqa akan marah. Akhirnya, karena tidak punya alasan, Qila pun memencet perutnya. "Aduh, Qila ke kamar dulu, Kak! Daritadi udah kebelet mau pipis! Jawabnya nanti aja!" katanya bergegas lari ke kamarnya.


"Pftt, kamu udah makin gede ya, Qila. Pertanyaan gampang begitu harusnya kamu bisa jawab, tapi kamu malah malu menjawabnya. Tapi ya udah deh, aku berharap hubunganmu dan Evan bisa berjalan lancar. Lancar sampai ke pelaminan, hehe." Hela Raiqa kemudian pergi ke kamarnya sendiri dan lupa pada pesan Ibunya.


Saat Qila mau masuk ke kamarnya, tiba-tiba saja Hana datang. "Oih, Qila!"


"Ka-kak Hana? Ada apa?" tanya Qila tidak jadi membuka kamarnya.


"Darimana saja?" tanya Hana selidik.


"Dari luar, Kak,"


"Ke luar mana?" tanya Hana lagi.


"Itu ke rumah teman, Kak," ucap Qila gugup.


"Oh ya udah, nih buatin aku dulu," beri Hana sebungkus kopi instan.


"Maaf, Kak, aku mau istirahat dulu," tolak Qila karena lelah seharian ini dan kakinya sudah lemas.


"Hadeh, nanti aja, bikin kopi aku dulu, kalau udah selesai, kamu boleh pergi istirahat," paksa Hana menaruh kopi itu ke telapak tangan Qila kemudian pergi begitu saja ke kamarnya


Qila pun turun ke dapur memasak air hangat. Tidak memakan waktu lama, Qila datang ke kamar Hana.


"Nih, kopinya udah selesai aku buatkan, sekarang Qila mau ke kamar dulu," ucapnya menaruh segelas kopi itu ke atas meja kemudian dengan langkahnya yang letih, Qila berjalan ke pintu, namun saat kakinya mau melewati garis lantai, Hana lagi-lagi menahannya. Apa karena kopinya tidak sesuai lidahnya?


"Tunggu, Qila!"


"Kenapa, Kak?" tanya Qila menoleh. Hana pun berdiri dari kursinya lalu jalan ke lemari bajunya.


Mata Qila membulat sempurna melihat baju Hana yang berantakan.


"Qila, tadi aku mau lipat baju cucian ini, tapi karena sibuk belajar, aku tidak bisa melipatnya," ucap Hana menarik Qila.


"Tolong ya kamu beresin ini, nanti setelah aku belajar, aku janji bakal ajarin kamu," lanjutnya menggoda Qila.


Qila yang letih langsung ceria mendengar ajakan Hana yang mau mengajarinya. Senang rasanya Hana yang serba sibuk itu mau berbagi ilmu dengan ya.


"Baik, Kak." Angguk Qila mengambil baju Hana dan menaruhnya ke atas kasur yang terdapat di lantai. Melihat Qila menurut, Hana merasa senang karena bisa menghalangi Qila istirahat dan itu bagus sebab Qila pasti tidak akan fokus belajar besok di sekolah.


"Makasih ya, Qila. Aku jadi tidak usah menyewa pembantu."


DeG..


Awalnya Qila senang mendengar ucapan Hana yang berterima kasih padanya, tapi kata terakhir Hana terasa menusuk dan menyakitkan. Ia seperti pembantu sekarang dan mulai menyadari jika Hana cuma memanfaatkannya.


'Ya Allah, kapan ya Hana bisa memandangku lebih baik? Kenapa tiap hari dia selalu menganggap aku itu musuh?' batin Qila tak terasa air matanya jatuh dan mengingat masa kecilnya bersama Hana yang menyenangkan. Tapi semua itu berubah semenjak Hana mendorongnya jatuh dari wahana. Qila rindu sosok saudaranya yang dulu. Karena capek dan sudah tidak punya tenaga lagi, Qila pun tergeletak di lantai dan tertidur begitu saja di dekat semua lipatan baju Hana.


Karena mendengar suara dari belakang, Hana pun menengok. Ia pun tersenyum miring melihat Qila tidur dan kedinginan.


'Bagus, kau seharusnya seperti itu dan tidak boleh melampaui aku.' Batin Hana tidak sabar dapat nilai sempurna besok. Sementara di apartemen Aidan, Evan baru sampai. Cowok itu masuk dan melihat cukup lama Aidan yang terlelap di lantai bersama si kembar yang juga sudah tidur duluan. Aidan terlihat kurang lebih seperti ayah yang bodoh membiarkan dua bayi itu tidur di depan televisi.


"Omong-omong, Hana bakal gimana ya kalau tahu Aidan sudah punya anak? Apa dia akan menerima Aidan? Atau sebaliknya menghina Aidan?" gumam Evan duduk di kursi dan tidak enak membangunkan Aidan yang juga kecapean. Evan tahu jelas, sifat Hana itu suka menghina tapi dengan cara halus. Ia pernah melihat Hana menindas seorang murid dengan kata-kata pedasnya. Itupun gara-gara bujukan gengnya sendiri yang membuat Hana menjadi gadis yang agak keterlaluan dan sombong.


Sebelum tidur, Evan memperhatikan jendela yang selalu tertutup itu kemudian mengamati isi apartemen Aidan. Kening Evan pun sontak mengerut tatkala melihat ada benda kecil mencurigakan di sudut dinding yang jauh dari pantauan orang lain.


"Hmm, apa mungkin cctv milik Aidan?" pikir Evan mau mengecek isinya.