
"Lah, emang nama Qila yang asli apaan? Aila juga?" tanya Aidan
"Bukan! Nama aslinya, Aqila Mahira. Cuma nama Qila doang yang sering dipanggil. Dia kadang gak suka kalau dipanggil Aqil," jawab Raiqa.
"Dih, iya lah! Nama 'Aqil' itu cuma untuk cowok! Ya kali adek cewek lu yang polos gitu dipanggil nama Aqil. Gak cocok banget," kata Aidan siap berangkat sambil menggendong Aila dengan hati-hati. 'Duh, kalau saja ada mobilnya Evan, gue lebih baik pakai mobil ke sekolah dari pada motor. Semoga saja nih bayi gak nangis di tengah jalan.' Batin Aidan sedikit cemas. Namun seketika diam terpaku mendapat sesuatu di dalam benaknya, kemudian ia pun melihat Raiqa yang mulai berangkat duluan.
"Ehh, tadi namanya Aqila Mahira kan? Apa ini cuma perasaan gue doang?" gumam Aidan merasa ada yang aneh dari nama itu yang kalau dipikir-pikir lagi sepertinya masuk ke dalam daftar inisial AM.
"Oh gak-gak! Qila gak termaksud itu! Orangnya gak mungkin dia!" Aidan menepis jauh-jauh firasatnya itu dan segera menyusul Raiqa.
"Pagi Kak Keyra," sapa Qila pada Keyra yang berpapasan dengannya di depan rumah. Tampak baru ingin bersiap berangkat sekolah memakai motornya.
"Hmm, pagi. Kamu Qila, ya?" tanya Keyra yang sempat tidak mengenalinya karena Qila saat ini tidak memakai kacamata dan sulit membedakan mana Qila dan Hana.
"Iya, Kak. Itu kemarin Qila pergi ke pusat permainan sama Tante Arum, tapi karena kemarin ada urusan sedikit, Qila jadi ninggalin Tante Arum sendirian. Maaf, tolong sampaikan permintaan maaf Qila, Kak," tutur Qila membungkuk setengah badan.
"Oh itu, oke ... nanti maafnya disampaikan. Sekarang kamu mau ke sekolah yang sama denganku, kan?" tanya Keyra naik ke motornya.
"Iya, Kak. Hari ini udah bisa masuk sekolah," ucap Qila.
"Tapi kenapa kamu cuma sendirian saja? Kemana Hana? Kenapa kalian tidak barengan?" tanya Keyra pasang helm.
"Itu, Hana udah pergi duluan bareng temannya tadi," jawab Qila nunjuk arah jalan.
"Lho, kamu gak diajak?" tanya Keyra.
"Iya, aku ditinggal di sini, tapi gak apa-apa kok. Qila bisa naik taksi, Kak," ucap Qila gugup lalu terkejut disodorkan satu helm dari Keyra.
"Nih, kamu ambil terus naik. Kita pergi barengan. Kalau nunggu taksi, kamu bisa terlambat masuk kelas," kata Keyra nunjuk ke belakang.
Qila tertegun lalu mengangguk cepat. 'Ya Allah, ternyata Kak Keyra itu tidak seseram seperti kemarin yang teriak-teriak di depan pintu kamar Kak Aidan.' Batin Qila merasa terselamatkan.
"Terima kasih, Kak." Senyum Qila dengan wajah lugunya itu lalu duduk di belakang Keyra.
"Haha, sama-sama." Balas Keyra tersenyum kaku.
'Astaga, pribadinya beda jauh sama Hana.' Batin Keyra pun meninggalkan rumahnya dan melirik Qila yang murung dari kaca spion.
"Hei, jangan melamun! Nanti kamu jatuh, kita bisa kecelakaan lho!" tegur Keyra.
"Oh, maaf kak." Angguk Qila paham kemudian menatap lurus ke depan. Sampai di depan gerbang sekolah, Qila turun duluan dan menunggu Keyra memarkirkan motornya. Setelah Keyra datang, tiba-tiba gadis itu membuatnya terkejut diberi bisikan.
"Oh ya, Qila. Aku mau tanya, tapi kamu jangan kaget dan marah," bisik Keyra.
"Apa, Kak?" tanya Qila deg-degan.
"Hei, Keyra! Lu apain adek gue? Kenapa muka Qila merah gitu? Lu habis nangisin dia ya?" tanya Raiqa menunjuk Keyra.
"Dihh! Siapa juga yang nangisin anak orang? Lu jangan fitnah gue ya! Yuk, Qila, kita masuk aja daripada lihat dua kadal jalanan di sini." Keyra menarik Qila masuk meninggalkan Aidan yang nampak mau bicara pada adiknya itu.
"Hadeh, padahal gue mau tanya kenapa Mama dan Papa ke luar kota," decit Aidan melihat pesan Keyra yang belum jelas dimengerti. Tidak jauh dari mereka, tampak Hana dan gengnya berkumpul dan terheran-heran.
"Woah, sejak kapan Qila bisa gaul sama Keyra dan Aidan, Hana?" tanya mereka.
"Cih, jangan tanya padaku." Hana pergi begitu saja ke kelasnya yang sama dengan Qila.
Sebelum jam pertama dimulai, Qila yang duduk pisah dengan Hana, ia menoleh ke kaca jendela di sampingnya yang diketuk-ketuk oleh seseorang yang menyuruh Qila keluar dari kelas. Karena risih ditatap oleh murid lain, terpaksa Qila meninggalkan bangkunya. Terlihat teman kelasnya saling berbisik-bisikan melihat Evan datang ingin bertemu Qila. Mereka penasaran apa yang mau dilakukan cowok itu. Terutama Hana yang melihat saudaranya itu dekat juga pada Evan.
"Ehh, ini buat Qila?" tanya Qila menerima beberapa buku pelajaran.
"Iya, katanya di kelas mu ada ujian hari ini, jadi aku berikan buku pelajaran lama ku ini padamu," ucap Evan tambah perhatian.
"Duh, padahal Kak Evan tidak usah repot-repot begini," kekeh Qila sedikit ragu menerimanya.
"Yah gimana ya, buku ini sudah tidak dipakai lagi, jadi daripada dibuang, mendingan aku kasih ke kamu. Di rumah masih ada yang lain juga sih, tapi besok aku kasih semua itu padamu," ucap Evan tersenyum simpul.
"Kalau begitu, terima kasih, Kak. Qila senang bisa dapat materi pelajaran di buku ini." Qila mengulas senyum manisnya. Saking manis pujaan hatinya itu, membuat Evan ingin mimisan dan melayang ke angkasa.
"Hahaha, baguslah ... aku ke kelas dulu, kamu yang semangat belajarnya!"
"Siap, itu pasti, Kak." Mengangguk cepat dan sontak mundur ketika di belakang Evan ada Aidan yang ternyata datang bersamanya, tapi tatapannya lurus melihat Hana saja di dalam kelas.
'Apa Kak Aidan masih suka sama Hana?' pikir Qila dan melihat Evan mengajak Aidan pergi. Ia pun masuk dengan lesu dan duduk di kursinya lagi. Membuka satu demi satu lembar buku Evan. Sibuk membaca materi, tiba-tiba Hana datang merebut buku itu.
"Apa ini, Qila?" tanya Hana dan membaca nama Evan di sampul buku. Saat ingin menjawabnya, wali kelas datang dan ingin memperkenalkan Qila pada teman kelasnya. Akhirnya Hana duduk kembali ke kursinya dan mendengarkan wali kelas menyuruh Qila maju ke depan.
"Anak-anak, sebelum ujian kalian hari ini dimulai, Ibu mau memperkenalkan murid baru. Kalian pasti sudah tahu siapa yang ada di samping Ibu ini, kan?"
"Ya, Bu. Kami sudah tahu."
"Nah, kalau begitu, Ibu harap kalian bisa berteman dan mau membantu Qila jika dia dalam kesulitan di sekolah ini. Kalian paham?"
"Ya, Bu," jawab mereka dengan nada malas dan sebagian dari mereka ada yang mengangguk senang melihat Qila kembali bersekolah bersama mereka. Terutama Qila hari ini memiliki banyak perubahan pada penampilannya. Tidak seperti awal ia masuk ke sekolah terlihat kucel dan cupu.
"Hmm, sepertinya dia banyak belajar di luar negeri. Dia sekarang pasti lebih jago daripada Hana. Penampilan Qila juga terlihat lebih dewasa," ucap mereka membuat Hana yang mendengar itu kesal dan tidak suka dibanding-bandingkan hingga tidak sadar pulpen di tangannya itu terbelah menjadi dua. Melihat raut wajah Hana yang menakutkan, Qila buru-buru kembali ke kursinya dan membaca ulang isi materi di dalam buku Evan sebelum guru pelajaran pertama masuk memberi lembar ujian.
.
Dibanding-bandingkan memang kadang bikin kesal☺️terutama dibandingkan sama anak tetangga, apalagi kalau itu sahabat sendiri wkwk