Little Twin'S Daddy

Little Twin'S Daddy
55. Perbuatan Aidan



"Sa-sayang, apa ini sungguh benar yang dikatakan Rayden?" tanya Kinan pada Wira. Berapa kali pun Rayden mengatakan Qila yang pernah hamil dan melahirkan anak, itu adalah nasib buruk yang mendadak sekali dan sulit diterima Kinan. Bagaimana tidak, kenyataan ini menghacurkan hatinya dan harapan Kinan sebagai seorang Ibu yang menginginkan masa depan yang cerah untuk anaknya.


Dengan berhat hati, Wira mengangguk dan memberikan surat DNA dan rekaman berisi keluhan Qila yang dibawa Rayden dari pemberian Bram. Memperlihatkan kembali pada istrinya.


"Ya Allah ..." Kinan jatuh terduduk di sofa. Hatinya terguncang luar biasa melihat secarik foto dua bayi. Cucu pertama mereka yang lahir tanpa sepengetahuannya. Isak tangisnya pecah di ruangan itu dan membuat Rayden merasa sangat bersalah atas nasib Qila. Ini seperti karma yang diterimanya akibat perbuatannya dulu.


"Qila... kenapa bisa terjadi seperti ini? Kenapa kamu tidak ceritakan ini pada Mama, Nak?" Tangis Kinan yang juga merasa bersalah tidak begitu memperhatikan putrinya. Hatinya yang sakit ini masih tidak seberapa yang diterima putrinya itu.


Melihat istrinya mata istrinya yang sembab, Wira terus menenangkannya meskipun perasaannya juga sedang hancur sekarang. "Wira, hiks." Kinan berbalik badan dan menangis di dada suaminya. "Qila... hiks, dia selama ini," ucap Kinan tidak sanggup berkata-kata lagi. Wira pun melihat Rayden dan menyuruhnya untuk keluar sebentar.


"Rayden, Kinan sedang butuh waktu menerima ini. Jadi, tolong tinggalkan kami dulu," ucap Wira menatap ke pintu terbuka.


"Tapi, Wira. Apa kamu bisa-"


"Rayden, kamu tidak memikirkannya, orang yang baru aku temui ini adalah rekan Bisnisku bukanlah tamu yang mau membicarakan soal perjodohan anak kita," ucap Wira dengan tatapan sendu.


"Baiklah, aku akan menunggu di ruang sebelah." Rayden dengan beberapa pria berjas hitam keluar dari ruangan itu bersamaan tangis Kinan semakin pecah setelah pintu ditutup. Seandainya saja Arum berada diposisinya, mungkin kesedihan Arum lebih parah dari tangis Kinan.


Kini Rayden yang sudah menunggu setengah jam, ia sudah tidak tahan lagi duduk di ruangan itu. Tetapi pria yang berdiri di dekatnya tetap setia menyuruh Rayden untuk tidak meninggalkan ruangan itu. Tapi, karena penasaran siapa yang mau dijodohkan, Rayden pun iseng-iseng bertanya ke pria di sampingnya yang bekerja pada Wira.


"Hei, ada yang mau aku ketahui darimu," ucap Rayden sambil melihat tes DNA, rekaman, foto cucunya di tangannya yang terlihat bayi yang menggemaskan lebih dari Aidan dan Keyra dulu. Perpaduan antara Aidan dan Qila memberi keturunan yang manis. Tetapi dua bayi lebih condong mirip gen Aidan.


"Ya, Tuan Rayden? Apa yang ingin anda ketahui?" tanya pria itu.


"Apa kamu tahu siapa orang yang mau datang ke sini yang mau membicarakan perjodohan dengan putri Wira?" tanya Rayden.


"Saya juga tidak tahu begitu banyak, tapi mungkin ini cukup menjawab keingintahuan Tuan Rayden," ucap pria jas hitam itu memberikan dokumen salinan biodata seseorang.


Seketika saja wajah yang terpampang di dalam foto di depannya itu mengguncang dirinya. Dari ujung kaki hingga puncak kepala, terasa bergetar hebat.


"Tuan Rayden, ada baik-baik saja?" tanya pria itu khawatir.


"Pria ini, apa maksudnya? Kenapa harus dia orangnya?" Rayden bertanya heran pada dirinya sendiri melihat foto itu milik Dokter yang menemuinya. Bram, nama itu jelas sama tertera di biodata yang ada di tangannya.


"Kau menangenali orang itu, Rayden?"


Rayden menoleh ke Wira yang datang dan bertanya padanya. Terlihat pria itu sudah lumayan tenang tetapi ia kembali terkejut saat melihat Rayden mengenali biodata calon menantunya.


"Tentu, orang ini yang memberikan bukti-bukti ini padaku." Menjawab sambil menunjuk hasil DNA, rekaman dan juga foto cucunya pada Wira yang duduk di depannya.


"Wira, sejak kapan kamu mengenal pria ini?" tanya Rayden kini serius menatap Wira.


"Lima bulan lalu, aku menerima panggilan darinya. Dia mengatakan ingin menikahi salah satu putriku dan dia menginginkan Qila. Awalnya aku marah dan menolak dia berani terang-terangan menelponku dan meminta hal itu. Tetapi karena dia punya niat baik dan juga Kinan tidak keberatan, kami mengatur waktu untuk pertemuan pertama kami di sini," tutur Wira.


"Kalau tidak salah, harusnya jam segini dia datang kemari. Tapi ini sudah lewat lima menit, tapi belum ada panggilan masuk darinya," ucap Wira kemudian dihampiri oleh salah satu pria berjas hitam.


"Ada apa?" tanya Rayden dan Wira.


"Tuan Wira, saya mendapat pesan darinya," ucap penjaga itu memberikan sebuah ponsel seluler.


"Apa isinya?" tanya Wira mengambil hape itu.


"Oh jadi begitu, dia sudah bertemu langsung dengan Qila. Sepertinya ucapan dia yang kemarin itu memang benar," ucap Wira kemudian melihat Rayden.


Raut wajah Rayden yang cemas tadi itu pun berubah.


"Ada apa denganmu, Rayden? Kau sedang memikirkan sesuatu? Atau merasa lega karena pria itu tidak datang kemari?" tanya Wira tanpa ekspresi. Kondisi putrinya itu membuatnya sulit menunjukkan ekspresinya sendiri.


"Aku lega mendengarnya, tapi di sisi lain aku merasa bingung," ucap Rayden menyentuh dagu.


"Kamu bingung bagaimana kecelakaan ini terjadi?" tanya Wira kemudian mendecak lidah.


"Ck, jelas-jelas ini perbuatan Aidan, anakmu itu dan bukan cuma sekedar kecelakaan biasa!" Kata Wira menunjukkan emosi kecewanya.


"Kau tau, barusan aku tidak mau menerima usulan mu menikahkan Aidan dan Qila, tetapi karena Kinan yang meminta putramu harus tanggung jawab, aku terpaksa menyetujui keputusan ini," jelas Wira setengah hati.


"Ya, aku tahu juga maafku ini belum cukup untuk menebusnya, tapi kamu tenang saja, akan kupastikan Aidan bertanggung jawab sepenuhnya," ucap Rayden sepenuh hati dan bersungguh-sungguh.


"Lalu, mengapa kau masih memasang wajah menyebalkan seperti itu?" tanya Wira sedikit jengkel dengan muka dingin dan ekspresi judes calon besannya itu.


"Aku ingin tahu apa maksud ucapannya yang tadi, tentang pembicaraan terakhirmu dengan pria bernama Bram ini," ucap Rayden melihat umur Bram yang beda 10 thn dari Aidan. Pria yang masih muda dan juga tampan.


"Oh soal itu, dia mengatakan sesuatu yang aneh, setiap ucapannya seperti bukan Dokter psikologi biasa tapi seperti seorang penipu yang cerdik," kata Wira mencoba ingat perkataan Bram untuknya.


"Tapi aku cukup percaya adanya kamu di sini," lanjut Wira menunjuk.


"Apa maksud kamu, Wira?" tanya Rayden.


"Rayden, dia mengatakan kamu juga akan menemui ku hari ini dan jika itu benar, maka dia tidak akan hadir kemari. Aneh bukan, dia seperti bisa memprediksi sesuatu yang belum tentu akan terjadi," jelas Wira merasakan keanehan. Begitupula Rayden terheran-heran bagaimana bisa pria yang bekerja hanya sebagai Dokter psikologi bisa mengatakan itu.


'Mungkin kah ini bukan cuma kecelakaan biasa?' gumam Wira dan Rayden satu pikiran.


"Hei, Wira. Apa dulu kau pernah melakukan kesalahan?" tanya Rayden dengan sorotan mata tajam.


"Ck, harusnya pertanyaan itu lebih cocok untukmu, Rayden. Kamu sering mencari masalah dengan musuhmu," decak Wira balas menatap sinis.


Rayden dan Wira pun berjabat tangan. Sepakat menikah kan Aidan dan Qila. Keduanya juga menyuruh masing-masing bawahannya menangkap Bram untuk diintrogasi. Pria itu dari awal memang mencurigakan dan patut dicurigai. Ditambah, Rayden dan Wira heran kapan Bram mengambil simpel Aidan untuk dicocokkan DNAnya dengan cucu mereka.


Usai pertemuan penting itu. Rayden keluar dan pergi duluan ke tempat mobilnya. Sedangkan Wira pergi menenangkan Kinan agar istrinya itu bisa pulang bersamanya hari ini.


"Baik, Tuan Rayden. Saya sudah berada di perjalanan menjemput Nyonya," ucap bawahan Rayden pergi memulangkan Arum karena hari ini Rayden masih tidak bisa bicara pada istrinya itu.


"Untuk sementara, kamu tidak harus tahu masalah ini sebelum pernikahan anak kita selesai digelar." Rayden menancap gas dan berharap pernikahan ini berjalan lancar.


"Akhhhhh! RAYDEN!" pekik Arum marah dan kecewa ditinggal pulang. "Huhu, gini amat punya suami tidak berperasaan. Sepertinya dia sudah tidak mencintaiku lagi," lirih Arum yang duduk di dalam mobil bawahan Rayden bersama pembantu Wira yang juga ikut pulang.


"Nyonya yang sabar, mungkin ada urusan penting yang harus Tuan Rayden selesaikan," hibur pembantu itu.


"Tidak, Bik. Aku sepertinya memang sudah tidak penting lagi. Padahal dulu dia cinta banget sama aku, bahkan rela menerjang ombak demi terus bersamaku. Tapi sekarang, dia tidak mau berlama-lama di sampingku, apa karena di wajahku sudah ada keriput, dia tidak mau memandangku lagi? Huhuhu ... sedihnya." Celoteh Arum mengusap air matanya yang berlinang. Bawahan yang menyetir mobil cuma bisa geleng-geleng kepala melihat istri sang atasan. Sedangkan pembantu menepuk-nepuk lengan Arum saja dan dalam hati tertawa geli. Tingkahnya itu beda dari majikan wanitanya dan ini yang disukai Rayden. Membuat istrinya merana adalah hobinya.


.