
"Oeekkk! Oeehh!" Pukul lima pagi, Aidan pun terbangun setelah mendengar tangis Aiko. Spontan cowok bermata biru itu segera beranjak duduk dan melihat Qila masih terlelap di sana. Tetapi, semakin kencang tangis Aiko, membuat Qila perlahan menggeliat.
"Gawat!"
Aidan terpaksa mengabaikan Aiko dan cepat-cepat turun dari tempat tidur. Mumpung Qila tidak seperti kemarin.
"Hmm, Aiko…." lirih Qila mengucek sebelah matanya dan melihat ke samping.
"Oeekhh!" Aiko tambah menangis.
"Astaghfirullah, sudah jam segini, kenapa aku baru bangun?" Qila terkejut dan segera mengikat rambutnya ketika arah matanya menangkap waktu di jam dinding. Setelah itu, ia menggendong Aiko sambil menggoyangkan sedikit tubuhnya.
"Cup…cup… jangan nangis ya, Bunda ada di sini,"
Deg!
Aidan yang masih dibalik pintu kamar yang sedikit terbuka itu sangat terkejut mendengar perkataan Qila
"Bunda? Pfft, apakah dia sengaja mengatakan itu supaya Aiko berhenti?" Aidan sedikit menertawai Qila.
"Ck, aku ayahnya saja tidak bisa menghentikan dia menangis, apalagi kamu yang bukan siapa-siapa anak itu."
Aidan merasa Qila tidak akan bisa membujuk Aiko berhenti rewel. Tetapi, hanya dua menit saja, kamarnya sudah tidak terdengar suara Aiko. Itu sangat mengejutkannya dan langsung ia mengintip sedikit. Netra biru cowok itu membola hebat melihat Qila bisa membuat Aiko tertawa.
"Heh, sebodoh-bodohnya dia, tapi cepat juga disukai bayi itu ya,"
"Ck, aku tidak sangka saja bayi itu juga pilih-pilih." Aidan mendecak kesal.
Cklek!
"Akhhh! Ka-kak Aidan? Kenapa bisa ada di sini?" tanya Qila kaget setelah membuka pintu dan berhadapan dengan pemilik sang apartemen.
"Ah itu! Gue —" ucap Aidan bingung.
"Kak Aidan nginap di sini semalam?" tanya Qila tampak berusaha tenang sambil menggendong Aiko yang mau dibuatkan susu formula.
"Ehhh tidak kok! Gu-gue baru sampai, hahaha," kata Aidan tertawa dan cengengesan. Qila dalam hatinya pun heran melihat Aidan, cowok yang jarang sekali tertawa dan kadang tidak pernah menunjukkan dirinya seperti ini kenapa bisa tertawa semudah itu? Memang ada yang lucu?
"Kalau baru sampai, kenapa rambut Kak Aidan berantakan seperti itu?" Qila menunjuk, sedangkan Aiko juga memperhatikan Aidan sambil menghisap jempol kecilnya. Tampak seperti merasa aneh pada cowok bermata biru sama sepertinya.
"Ehh, hahaha… ini gara-gara gue ngebut di jalan, Qi." Aidan terpaksa bohong dan cari alasan lain.
"Oh kalau begitu, kenapa Kak Aidan datang pagi-pagi ini?" tanya Qila lalu jalan ke dapur.
'Aishh, Qila banyak tanya juga, apa dia merasa curiga kalau aku tidur dengannya tadi malam?' pikir Aidan melihat Qila meletakkan Aiko di atas meja dan membuatnya susu.
"Kak Aidan, kenapa diam saja?" Qila bertanya lagi dan memandangi Aidan yang bengong.
"Ohhh itu! Gu-gue rindu Aiko, hahaha," jawab Aidan tertawa bodoh sambil garuk-garuk kepala.
Qila sedikit terkejut mendengarnya lalu ia pun tersenyum lega membuat Aidan bingung melihat Qila tiba-tiba mengulas senyumnya yang lumayan manis.
"Ehh, kenapa kau senyum-senyum?" tanya Aidan mendekatinya.
"Hehe, Kak Aidan ternyata punya sisi seperti ini," ucap Qila yang sebenarnya ia senang pada Aidan yang rela datang pagi-pagi dan ngebut demi Aiko. Tapi arah mata Qila pun teralih pada Aidan yang tiba-tiba mengatakan sesuatu padanya.
"Anu Qila, gue sebenarnya bukan cuma rindu pada Aiko, tapi –"
"Tapi apa, Kak?" tanya Qila yang kini memberikan botol susunya pada Aiko dan menggendong bayi tampannya.
"Gue diusir dari rumah,"
Qila pun terdiam.
"Ehh, lo kenapa nangis, Qi?" Kaget Aidan.
"Ma-maaf, ini salahku," ucap Qila lirih dan menunduk.
"Ehhh salahmu?"
"Hiks, Iyah. Ini gara-gara aku," kata Qila terisak. 'Seharusnya aku aborsi saja, tapi —' batin Qila tambah menangis. "Huwaaa… maafkan aku, Kak Ai." Membuat Aiko pun ikut-ikutan menangis.
"Eehhhh, Qila! Lo jangan nangis dong, ini bukan salah lo! Ini salah gue yang nggak dengar kata-kata orang tua." Aidan mengambil Aiko. Menggendong bayi itu dan juga menenangkan Qila.
"Ma-maksudnya?" Isak Qila sedikit tenang.
"Hadehh, gue diusir karena kemarin berantem sama preman jalanan, bukan karena lo ada di sini. Jadi Lo berhenti nangis, okay?"
Qila pun mengangguk paham dan mengelus dada lega. 'Rupanya Kak Aidan belum tahu. Syukurlah,' batinnya.
"Karena gue diusir, jadi sementara ini mungkin gue bakal nginap di sini," ucap Aidan dan menatap bayinya.
"Dan juga, lo nggak usah lagi bermalam di sini."
"Lo udah boleh pulang hari ini, ta-tapi lo masih tetap jadi babysitter Aiko dulu sampai gue mendapatkan informasi Ibu anak ini," ucap Aidan panjang lebar membuat Qila mundur sedikit.
"Ma-maaf ya, mungkin bulan ini gue nggak bisa kasih gaji pertama lo," sambungnya sedikit gugup melihat Qila hanya diam. Tetapi seketika Qila tersenyum.
"Tidak perlu memberiku gaji, Kak."
"Loh, kenapa?" tanya Aidan terkejut. Qila pun mengelus kepala Aiko dan menjawab, "Menjaga dan merawat Aiko sudah cukup bagiku daripada uang gaji."
"Jadi, Kak Aidan jangan dipikirkan hal itu."
Aidan menghela nafas lega pada Qila yang lumayan mengerti kondisinya. 'Kira-kira, kalau aku jujur anak ini adalah darah dagingku, apa dia akan membongkarnya ke publik atau bisa memahami kesulitanku?' pikir Aidan memandangi Qila cukup lama.
'Tidak! Aku rahasiakan ini dulu sampai hasil tes DNA keluar.' Batin Aidan mengepalkan tangannya lalu melihat Aiko yang sudah tidur.
"Kak Aidan, sudah jam setengah tujuh, lebih baik Kak Aidan mandi dan berangkat sekolah." Qila mengambil Aiko kemudian masuk ke kamar untuk menidurkan bayi itu sejenak sebelum Qila mandikan.
"Lo nggak masuk sekolah, Qi?" tanya Aidan yang berdiri di dekat pintu.
"Hari ini aku sudah ambil izin, Kak."
"Kalau begitu, gue mandi duluan. Maaf, udah ngerepotin lo lagi, Qi." Aidan mengambil handuknya dan bergegas ke dapur.
Tidak makan waktu banyak, Aidan pun sudah selesai mandi. Ia yang memakai jubah mandi dan handuk di lehernya itu perlahan berjalan ke kamarnya, namun tiba-tiba ada yang menekan bell apartemennya.
"Siapa?" Aidan cepat-cepat jalan ke pintu dan melihat siapa orang itu melalui lubang kecil.
Seorang laki-laki asing yang ternyata sedang berdiri di depan pintunya sambil menggendong bayi.
"Ehh, siapa dia? Apa dia petugas kebersihan?"
"Tapi masa petugas bawa seorang bayi?"
Aidan ragu-ragu membuka pintunya, sebab ia masih memakai jubah mandi dan juga siapa tahu pria itu komplotan preman jahat. Tetapi yang sebenarnya, pria itu adalah Om Dokter psikiater bersama saudara kembar Aiko, bernama Aila.
.
Mengapa tiba-tiba datang?
Maaf baru up, Author sakit🙏