Little Twin'S Daddy

Little Twin'S Daddy
77. Mesin Waktu



'Krieekk'


Bram masuk ke dalam kamar, membaringkan tubuh Qila ke atas tempat tidurnya. Sebelum ia keluar dari kamar itu, Bram mengaktifkan hape Qila. Ia pun melihat ada banyak riwayat panggilan tidak terjawab dari Aidan. Pesan singkat yang mengharapkan Wira menerimanya pulang ke rumah.


Setelah mematikan hape itu, Bram pun memandangi wajah Qila. Ia pun duduk di tepian kemudian menyisir rambut gadis itu dengan jari-jarinya. Mata Bram pun berhenti ke sebuah bekas luka jahit di sana.


"Aku bodoh tidak menyadarinya." Berkata demikian lalu ia diam-diam mencium kening Qila.


Setelah memberi kecupan lembut selamat tidur. Bram keluar dari kamar itu. Ia masuk ke kamarnya sendiri kemudian mengunci pintu lalu melepaskan semua samarannya. Menunjukkan wajah aslinya yang jauh lebih tampan. Bram terbaring dan seperti biasa memandangi langit-langit kamar di atasnya. Menutupi matanya dengan satu lengannya, memikirkan apa yang sedang terjadi di masanya sekarang. Karena capek, ia kemudian perlahan tertidur.


Di rumah Rayden, tampak rumah besar itu sepi. Tapi seketika suara ketukan pintu memecah keheningan isi rumah itu.


"Ma," panggil Keyra yang berdiri di depan kamar Ibunya yang perlahan terbuka.


"Hm, Keyra? Kenapa?" Arum bertanya sambil menepuk-nepuk kulit wajahnya yang sedang memakai masker tiap mau tidur. Dan itu merupakan cara baginya awet muda.


"Aku mau tidur bareng Mama aja sih," ucap Keyra tampak berniat menceritakan tentang Aidan dan Qila.


"Kirain kamu mau minta apa, ternyata cuma mau tidur bareng Mama. Ya udah, mumpung ayahmu gak bermalam di rumah malam ini, sini masuk aja dan temanin Mama sampai selesai maskeran." Arum mengizinkan putrinya itu masuk.


Keyra pun duduk di atas tempat tidur dan melihat Arum lanjut merawat kulit wajahnya. Tapi karena ditatap terus, membuat wanita itu menoleh ke Keyra.


"Keyra, daritadi lihatin Mama, kamu mau ikut maskeran?" tanya Arum merasa putrinya ingin bicara tapi jelas sedang menahannya.


"Eh, gak kok, Mama maskeran aja. Keyra tadi di kamar udah kok," ucap Keyra menolak lalu tidur membelakangi Ibunya karena masih ragu-ragu jujur pada Arum.


"Keyra, kalau kamu mau sesuatu, bilang aja ke Mama, nanti Mama yang telepon Papa kamu terus suruh beli apa yang kamu inginkan," ucap Arum perhatian pada anak-anaknya.


Keyra yang tidur miring, ia pun membalikkan tubuhnya dan menatap Ibunya yang selesai dan beranjak ingin tidur.


"Hmm, kenapa?" tanya Arum berbaring di sebelahnya.


"Mama, sebenarnya aku mau cerita sesuatu," ucap Keyra gugup.


"Hmm, cerita apa?" tanya Arum menatap putrinya.


"Kamu di sekolah dapat masalah? Atau ada cowok yang kamu suka?" tebak Arum tiba-tiba.


"Ehh, bukan! Bukan tentang itu, tapi ini soal Aidan, Ma," kata Keyra sedikit malu.


"Percuma, Mama gak bisa lakukan apa-apa kalau hal ini. Papa kamu itu susah diajak baikan," ucap Arum lesu.


"Apalagi, Mama kemarin minta Papa kamu jangan menjodohkan Qila dengan Aidan, tapi Papa kamu malah gak mau dengar Mama. Sekarang, Mama penasaran bagaimana hasil perjodohan yang Papa kamu inginkan aku," keluh Arum.


"Mama harap, Wira bisa menolak Aidan nikahi Qila," kata Arum lalu menoleh ke Keyra yang tiba-tiba bertanya.


"Mah, kenapa Mama bicara seperti itu? Qila dan Aidan kan juga cocok kalau mereka menikah, gak ada salahnya Aidan dan Qila hidup bersama," ucap Keyra.


"Emang cocok, tapi Mama pengen Hana, Key," terang Ibunya jelas.


"Hana lagi, Hana lagi, gadis itu gak cocok banget sama Aidan. Mama lihat dulu sifatnya deh," cetus Keyra memutar bola mata birunya dengan malas.


Arum cemberut melihat Keyra seperti Rayden yang tidak mengharapkan Hana.


"Tapi Mama sukanya Hana, dia ideal, unggul, berprestasi, dan kebanggaan di keluarganya. Mama senang tau kalau dapat menantu yang seperti itu," ucap Arum.


"Jadi kalau Qila yang menikah dengan Aidan, Mama gak senang? Begitu?" tanya Keyra.


"Aduhh, Qila emang lumayan, tapi pokoknya Mama mau Hana! Titik!" sentak Arum lalu tidur membelakangi Keyra. Keyra pun manyun melihat sikap Ibunya yang bikin orang gemas. Tapi Keyra sedikit lega karena Ibunya sepertinya punya harapan bisa menerima Qila. Tinggal menunggu waktu untuk mempertemukan Arum dengan dua cucunya.


'Apa aku bawa saja Mama ke apartemennya Aidan?' pikir Keyra menimbang idenya itu.


Sedangkan di apartemen Aidan, ayah tampan dari anak dua itu belum tidur. Terlihat di dapur, Aidan keasikan minum anggur sambil memandangi foto Hana. Tampaknya Aidan yang masih depresi itu sedang menghibur dirinya dengan sebotol minuman yang memabukkan. Begini jadinya kalau dia hidup tidak diperhatikan sang ibu. Untuk melarikan diri dari kenyataan, Aidan memilih mabuk daripada belajar.


"Arghhh! Sial," rutuk Aidan memikirkan gengnya yang hilang dan mengoceh sepanjang malam. "Qila bodoh, dasar perempuan licik! Lu pasti sengaja ngejebak gue biar bisa nikah sama gue, kan!" bentaknya memarahi cangkir di tangannya.


"Lu tuh harus tau diri, tau diri dong! Lu gak ada apa-apanya dibandingkan Hana! Lu munafik, wajah lu jelek banget! Lu berengsek! Sengaja ngehancurin hidup gue, kan?! Iya, kan!" Marah Aidan.


"Sok baik, sok polos, sok jadi korban! Padahal gue gak pernah tidur sama lu! Dan gue gak harap lu lahirin anak dari gue! Harusnya lu itu mati aja!"


"Tapi ck, ada saja cowok yang menyukai cewek bodoh seperti lu! Gue heran, kenapa Evan mau mencintai cewek gak jelas kayak lu."


Aidan terus mencerca di dapur dan tidak peduli sudah berapa jam dia lewatkan dengan kelakuannya itu.


Sementara di waktu yang sama di sebuah gedung tempat rahasia mesin waktu berada, terlihat di sana Rayden datang melihat proyek miliknya. Bos Rayzard itu memandang lurus mesin berbentuk telur di depannya yang belum selesai dengan sempurna. Masih ada beberapa alat yang kurang untuk menyempurnakan. Meski tidak banyak peluang untuk berhasil atau tidak, Rayden tetap berharap mesin itu aktif dengan baik di kemudian hari dan berharap akan selalu aman tanpa dicuri oleh musuhnya. Tetapi tidak bagi Bram, yang selama setahun ini sudah menyiapkan aksi rahasia untuk mencuri mesin itu agar ia bisa kembali ke masa depan, apabila mesin itu telah berhasil diuji coba dan ia berhasil menyelamatkan Qila dari rencana pembunuhan seseorang.