
"Tidak-tidak, aku tidak boleh suka sama Bang Aidan dulu." Hana menepuk dua pipinya yang merah, menolak rasa itu tumbuh di hatinya. Ia tidak mau perjuangannya selama ini sebagai kebanggaan keluarga hancur gara-gara rasa itu.
....
Andai ini mudah, Keyra pasti sudah mengatakannya pada Ibunya. Gadis itu tampak duduk di meja belajarnya dan memikirkan bagaimana cara membujuk Ibunya apabila tahu Qila yang sudah menikah dengan Aidan.
"Duhh, Papa juga sih, kenapa aku yang harus katakan ini ke Mama? Papa kan bisa langsung cerita!" Sambil menjambak rambutnya, ia menunduk lesu. Tiba-tiba seseorang mengetuk pintu kamarnya.
"Keyra!" panggil Arum.
"Eh, Mama? Ke-kenapa, Ma?" tanya Keyra dan menghampiri Ibunya.
"Mama kok sedih? Apa yang terjadi?" Tanya Keyra lagi melihat Arum yang gelisah.
"Keyra, Mama barusan dapat panggilan dari Kinan, katanya Raiqa sudah ditemukan, hanya saja-"
"Hanya saja, apa, Ma?" tanya Keyra pada Ibunya yang berhenti bicara.
"Keyra, kamu ikut Mama ke rumah sakit,"
"Lho, rumah sakit? Kenapa?" tanya Keyra terkejut dan semakin terkejut mendengar Arum yang menjelaskan tentang musibah yang terjadi pada Raiqa.
"Baik, Mama. Sini, biar Keyra temenin Mama ke sana," ucap Keyra bergegas keluar dari rumah bersama Ibunya. Pas sekali, mereka tidak sengaja bertemu Hana.
"Hana!" Arum berlari memanggilnya.
"Ehh, Tante? Ada apa panggil Hana?" tanya gadis itu tampak belum mendapat kabar dari rumah sakit. Seketika netra gadis itu membelalak.
"Se-serius, Tante? Bang Ra-raiqa koma? Kapan itu terjadi, Tante?" tanya Hana memegang dadanya yang berdegup kencang.
"Nanti juga kamu akan tahu, sekarang kamu ikut saja dengan kami," ucap Keyra menghentikan taksi.
"Sini, Hana. Kamu perginya bareng Tante." Arum menarik Hana yang syok berat. Mobil itupun melaju ke rumah sakit. Kabar buruk yang menimpa Raiqa telah tersebar luas. Bahkan itu sudah sampai ke telinga Evan. Satu cowok itu tampak jalan-jalan sendirian di tepi jalan dan langkahnya yang ingin pulang ke rumah pun, ia tidak jadi.
"Apa? Raiqa koma?" Evan menatap hapenya. Segera berbalik badan dan berlari ke rumah sakit yang lumayan dekat dari tempatnya berdiri. Karena buru-buru, ia tidak sengaja menabrak seseorang dan hampir terjungkal ke belakang. Untung Evan bisa mengimbanginya dan rupanya, orang yang dia tabrak ternyata Bram. Pria ber-mantel hitam itu memandanginya sambil menyeruput susu kotak di tangannya.
"Oh, sorry." Senyum Bram kemudian berjalan melewati Evan.
"Hai!" teriak Evan padanya.
"Hei, berengsek, aku selalu menunggu kau kembali ke rumah itu, dan malah sekarang tidak sengaja bertemu di sini," ucap Evan yang masih memantau rumah Bram, tapi sampai sekarang Bram tidak pernah kembali ke sana. Tentu Bram memiliki banyak tempat untuknya tinggal di kota besar itu. Dia bukan sembarangan pria biasa yang kerjanya keluyuran, atau Dokter Psikolog tampan, tapi dia seorang Ilmuwan kaya yang tingkahnya misterius.
"Oh, sorry, rumah itu sudah bukan rumah ku," ucap Bram menepis tangan Evan yang menarik kerah jas lehernya.
Evan mengepal tangan dan tampak sedikit kesal, ia pun bertanya langsung, "Kebetulan bertemu di sini, jadi aku ingin tahu siapa Ibu yang telah melahirkan dua anak kembar Aidan?"
"Oh, jadi kamu sudah tahu?" tanya Bram membuat Evan sedikit heran melihat pria itu tidak terkejut dan malah menikmati susu kotak di tangannya. Seperti bocah yang menjengkelkan.
"Ckh, melihat mu tenang seperti itu, aku sudah yakin, kamu sebenarnya hanya mau mempermainkan kami," ucap Evan muak.
"Oh, soal aku menyuruh Aidan mencari AM di sekolah kalian?" tanya Bram lalu membuang kotak kosongnya ke tempat sampah.
"Ya, sialan, aku muak dengan itu, gara-gara hal ini, aku tidak bebas mendapat perhatian banyak dari gadis yang aku sukai," kata Evan lalu dengan sinis menodongkan pisau kecil.
"Heh, penipu, beritahu aku, di mana AM itu berada?" tanya Evan memaksa.
Bram menurunkan tangan Evan kemudian menghembus nafas panjang. "Jika kamu ingin tahu, tanyakan langsung pada Tuan Rayden."
"Om Rayden? Maksudmu, Om Rayden sudah tahu ini?" tanya Evan sedikit syok.
"Ya. Dia adalah orang yang sangat cepat mengetahuinya, kan? Sekarang pikirkan, apa yang akan dilakukan pria itu jika mengetahui punya cucu dari sahabat mu itu? Sahabatmu itu pasti akan mendapat hukuman, kan? Coba beritahu padaku, apa yang akan kamu lakukan untuknya?"
"Tuan Evan, dari raut wajah mu itu, aku tahu jika kamu menyukai seseorang, tapi gadis itu malah menyukai sahabatmu. Aku benar-benar sedikit kasihan. Bagaimana pun kamu mengharapkannya, di masa depan, kamu tetap tidak bisa mendapatkannya," ucap Bram.
"Dan lagi, takdir mu memang bukanlah bersama Nona Qila."
"Tidak!" pekik Evan membentak dibisikan dengan kalimat yang menyebalkan itu. Ia ingin menonjok Bram, namun pria itu sudah pergi dan hilang di antara kerumunan orang. Orang-orang di sekitar tampak menjauhi cowok blonde itu yang sedang marah. Niatnya yang mau mengunjungi Raiqa pun hilang dan ia memilih pulang ke rumah. Hatinya yang galau, tambah tidak karuan gara-gara ucapan Bram. Evan tidak peduli lagi, dengan apa yang akan terjadi pada Aidan.
Sedangkan di waktu yang sama, Aidan telah sampai ke apartemennya. Cowok itu deg-degan masuk karena mobil ayahnya masih ada di tempat parkiran.
"Okeh, tenang! Dia datang pasti cuma ingin mengunjungi cucunya, bukan memberiku hukuman. Lagipula, aku tidak pernah lagi berbuat salah." Aidan membuka pintu perlahan dan seketika mematung di depannya ada Rayden yang sudah merah padam sambil menggendong Aiko dan memegang sapu ijuk.
"Pa-papa," ucap Aidan sedikit mundur karena sudah tahu ayahnya sedang marah akibat bekas di paha bayi mungil itu yang kelihatan.
.
Panik Kan Panik wkwk