
"Woahhh, Om sungguh dapat semua ini?" Qila melongo sambil menunjuk sepuluh buah boneka dan mainan lainnya. Bukan cuma Qila saja yang kagum, wanita-wanita muda juga terpana-pana melihat kecepatan dan kemampuan bidikan Bram yang hebat.
"Loh, emang tadi gak lihat Om nembak semua?" tanya Bram.
"Hehehe, gak," ucap Qila.
"Kamu nyebelin juga ya! Udah capek-capek dapat semua, tapi gak diperhatikan." Bram mencubit hidung Qila.
"Duh, sakit tau, Om! Jangan kebiasaan cubit hidung ku dong, Om! Kalau tambah mancung, nanti gak bisa cium Aiko dan Aila loh," celetuk Qila menunduk dan mengelus hidungnya.
"Eh, Om! Om kemana?" panggil Qila karena tiba-tiba Bram hilang dari tempatnya. Tetapi rupanya pria itu sedang dikelilingi wanita-wanita muda yang sengaja menarik Bram agar mereka dapat menggodanya sambil meminta semua mainan yang dimenangkan Bram.
"Ihhhhhhh, mereka kenapa sih tarik Om Bram! Dasar kumpulan wanita genit! Gak akan aku biarkan kalian memanfaatkan penyelamat ku." Qila berlari cepat ke tempat Bram sebelum mereka membawa kabur laki-laki tampan itu.
Sedangkan Bik Inah yang menjaga twins kecilnya, wanita tua itu cuman duduk sambil memperhatikan Ibu kecil itu menghalangi mereka membawa Bram.
"HEI! BERHENTI!" Qila mendorong mereka sambil merentangkan kedua tangannya.
"Dihh, siapa kamu? Berani sekali dorong kita! Ngaca dulu dek," bentak mereka sombong pada Qila. Tapi Qila berdiri tegak sambil berkacak pinggang di depan mereka dan melotot tajam.
"Hei," balas Qila teriak lantang lalu menunjuk mereka satu-satu.
"Kalian yang harusnya ngaca! Cantik-cantik tapi suka godain suami orang!" kata Qila mengagetkan Bram dan kelompok wanita muda itu.
"Dengar ya baik-baik, pria ini udah punya istri dan anak! Kalian pergi sana jauh-jauh! Jangan deketin dia!" Qila menarik Bram. Pria itu seolah tidak habis pikir pada Qila karena bisa berani begitu pada orang lain.
"Yaelah, mana buktinya? Mana anak-anak dan istrinya?!" tanya mereka tidak percaya. Qila pun diam. 'Waduh, gimana nih?' Qila segera berpikir keras dan akhirnya ia punya ide cemerlang.
"Hahaha, lihatlah, gadis ini tampaknya berbohong," tawa mereka menertawai tampang polos Qila. Bram mulai tidak tahan dan ingin mengusir mereka tetapi tiba-tiba ia kembali terlonjat kaget mendengar balasan Qila.
"Hei, aku gak berbohong!" sentak Qila.
"Ya udah, buktikan, mana istri dan anaknya?" Desak mereka.
Qila menarik nafas banyak-banyak lalu menunjuk ke arah Bik Inah. "Hei, lihat di sana! Di dalam kereta itu ada dua bayi kembarnya! Dan wanita itu adalah istrinya."
Bram mematung layaknya manusia batu. Jantungnya hampir berhenti berdetak mendengar ucapan istrinya itu.
"What? Kalau nenek itu adalah istrinya, terus apa hubungan mu dengannya?" Tunjuk mereka juga syok mengetahui istri Bram lebih tua dari pria itu. Seketika Qila merangkul tangan Bram dan bergelayut manja di depan mereka.
"Pria ini adalah Papa angkat ku yang tampan tiada tara." Decak Qila tersenyum manis.
"Daddy, ayo kita ke sana." Ajak Qila menarik Bram yang masih membeku diam. Kelompok wanita itu mendengkus kesal. Mereka paham bahwa Qila adalah gadis polos yang menyebalkan.
"Haha, rasakan, aku gak akan biarkan Om Bram jatuh ke tangan wanita-wanita genit itu." Tawa Qila puas dalam hati. Sedangkan Bram agak kecewa karena harusnya Qila pura-pura mengaku sebagai istrinya tapi Qila malah mengaku sebagai anak angkatnya.
"Hei, Om! Kenapa diam daritadi? Om baik-baik saja, kan? Gak sakit lagi, kan?" tanya Qila pada Bram setelah menyimpan hadiah mereka ke dalam tas di dekat Bik Inah.
Bram yang cemberut dari tadi, tampak lesu dan tidak bersemangat. "Hehehe, pasti karena yang tadi itu jadi Om diam begini. Kalau begitu, maafkan Qila ya, Om, pliss, jangan ngambek. Lain kali Qila gak asal bicara lagi, Om." Qila menunduk dan mengatupkan kedua tangannya di depan wajah. Minta maaf sungguh-sungguh, tapi Bram berpaling muka.
'Duhh, Om Bram benar-benar marah nih, aku harus bagaimana bujuknya?' batin Qila takut nanti dibuang atau ditinggalkan sama Bram. Tetapi, tiba-tiba ia memikirkan sesuatu. Mata Bram pun melebar setelah Qila menunjukkan secarik foto.
"Qila, darimana kamu dapatkan ini?" Bram merebutnya cepat. Foto yang sangat ia cari dari kemarin.
"Itu, aku dapat dari dompet Om waktu lagi sakit," ucap Qila.
"Kalau boleh tau, itu foto siapa, Om? Apa itu kekasihnya, Om? Tapi kenapa mirip sama aku, Om?" tanya Qila bertubi-tubi.
Bik Inah yang mengurus Aiko dan Aila tertarik ingin melihatnya tapi dua bayi itu sedang rewel. Sehingga Bik Inah terpaksa mengabaikan Qila dan Bram yang saling menatap satu sama lain. Sedangkan Aidan saat ini menatap mesin di depannya. Dalam hatinya muncul keinginan mau mencurinya karena berpikir alat itu mungkin dapat membantunya menemukan keberadaan Qila, tapi Aidan juga ragu karena uji coba belum ada yang berhasil sempurna. Takut kalau ginjalnya hilang atau membusuk seperti apel busuk di atas meja. Tapi Aidan saat ini, sangat-sangat merindukan istri dan anaknya. Begitupula Kinan yang tersiksa di samping Raiqa. "Ya Tuhan, lindungilah anak dan cucuku di mana pun mereka berada."
Sementara Evan, ia sudah merakit alat canggihnya lagi. Dan kini, berkat pelacak yang ditanam olehnya, ia berhasil menemukan lokasi orang yang mencuri tasnya dan sekarang ia sedang berhadapan dengan Black sore ini di dalam gedung terbengkalai.
"Hei, berengsek jelek, kembalikan tas yang kamu curi dariku! Jika tidak kamu berikan juga, aku tidak akan pernah membiarkan mu hidup tenang di kota ini." Ancam cowok blonde tampan itu dengan tangan kosong. Ia percaya dengan seni bela dirinya yang sudah meningkat, ia bisa menumbangkan pria berkacamata hitam yang sombong itu. Black yang diancam, ia tersenyum remeh melihat dirinya di masa lalu yang sangat naif dan bodoh pada hal percintaan. Ia tidak gentar sedikitpun karena tahu siapa yang akan kalah diantara mereka berdua.
.
Itu kamu loh Evan tapi dari masa depan🤫jangan berisik ya guys, kita lihat siapa yang menang di sini👀hehe...
Maunya kirim 10 bab malam ini, tapi authornya lagi sakit dan gak bisa mikir banyak-banyak🙏mohon bersabar dan mohon bantu doa ya biar cepat sembuh dan kembali mikir lanjutannya. Dan maaf aku gak bisa balas komen kalian dulu karena lagi sibuk nulis skripsi lain. Tapi aku senang kalian masih setia menemani aku menyelesaikan cerita ini. Terima kasih, sampai jumpa di bab berikutnya...