Little Twin'S Daddy

Little Twin'S Daddy
87. Menyesal



Sedangkan di gedung rahasia Rayden, tampak di ruang bawah tanah, terlihat Aidan seorang diri sedang menekuk lutut sambil mengoceh dan sudah tiga hari dia dikurung oleh ayahnya di sana.


"Sialan, bajingan! Bajingan kamu, Qila! Gara-gara kamu lagi, aku tidak bisa menepati ucapan ku pada Hana dan Evan!" geram Aidan memukul dinding bata di sampingnya. Tiba-tiba, seseorang datang ke ruang tahanan itu.


"Aidan..."


Aidan menoleh dan tersenyum bahagia melihat saudara kembarnya mengunjunginya.


"Keyra! Tolongin gue! Tolong bilang ke Papa kalau gue gak bersalah! Gue gak pernah usir Qila! Qila sendiri yang pergi dari apartemen. Sumpah, gue gak -"


PLAK!


Aidan tercengang mendapat tamparan di pipinya. Sudah dipenjara, kedua tangannya diborgol, dan sekarang Keyra yang tidak pernah menamparnya, kini tiba-tiba melakukan itu.


"Ke-kenapa tampar gue, Key? Lu gak percaya sama ucapan gue?" tanya Aidan ingin mengelus pipinya tapi tangannya diborgol. Benar-benar seperti tahanan asli. Tapi untungnya ia tidak ditahan di kantor polisi.


"Aidan, lu sebenarnya kenapa sih? Kenapa lu benci banget sama Qila sampai lu gak peduli sama dia? Salah Qila apa sih, Ai?" tanya Keyra.


"Gu-gue gak benci dia kok, gue cuma gak mau aja dia jadi istri gue," ucap Aidan lalu duduk dan berpaling muka. Keyra pun ikut duduk lalu menghembus nafas kecewa.


"Aidan, gue heran deh sama lu," ucap Keyra tiba-tiba.


"Heran karena apa?" tanya Aidan meliriknya.


"Harusnya lu itu senang, gadis yang dulu kamu suka itu Qila!" ucap Keyra.


"Ha? Qila? Puftt, hahaha." Tawa Aidan merasa lucu.


"Keyra! Yang gue suka itu Hana, bukan Qila! Dan gue gak pernah bilang suka sama Qila." Timpal Aidan.


"Bodoh! Lu lupa ya? Gadis kecil yang di rumah sakit dulu itu, Qila! Bukan Hana!" ucap Keyra yang memang dulu ada di samping Aidan saat masuk mengunjungi Qila yang saat itu habis jatuh dari wahana. Di hari itu, Arum datang menjenguk Qila yang sudah siuman bersama twinsnya. Pada hari itupun juga, itu adalah hari pertemuan pertama Aidan serta awal ketertarikannya pada Qila. Di mata Aidan, gadis yang nyaris mati itu masih bisa tersenyum manis padanya. Aidan melihat Qila itu anak yang lebih kuat darinya.


"Kenapa lu bisa seyakin itu?" tanya Aidan yang dulu tidak tahu nama Qila karena setelah pulang dari sana, Aidan baru bertanya pada Arum. Arum yang dulu susah membedakan mana Qila dan Hana, ia malah menjawab jika gadis di rumah sakit itu bernama Hana. Sehingga nama itu melekat di hati Aidan. Hanya karena itu, Aidan salah menyukai seseorang sampai sekarang.


"Gak, gue gak percaya."


"Gadis itu bukan Qila!" teriak Aidan membentak dan marah.


Keyra berdiri lalu menatap kesal Aidan. "Okeh, gue gak peduli mau lu percaya atau gak, yang penting gue udah kasih tahu yang sebenarnya. Tinggal lu pikirkan sendiri." Keyra keluar dari sana dan menuju ke Ibunya yang datang bersama dengannya tadi.


"Gak, gue gak percaya dia orangnya!"


"Gue gak salah! Gue gak pernah salah!"


Aidan mengoceh kembali di sana dan perlahan menangis.


"Gak, gak! Qila bukan dia!" Meskipun Aidan berusaha menepis bayang-bayang di masa lalunya, tapi jika dipikirkan lebih lama, memang lebih mirip Qila. Aidan pun menunduk diam dan memukul dadanya yang tiba-tiba sakit sekali.


Sedangkan Keyra yang tiba di tempat ibunya, ia terkejut melihat Arum menangis pilu di pelukan Rayden. Tampaknya wanita itu juga syok sudah mengetahui semuanya. Keyra pun pergi membiarkan Ibunya ditenangkan oleh Rayden.


"Huftt, kemana kamu, Qila? Kenapa kamu membuat kami khawatir seperti ini?" Keyra duduk dan melihat jam di hapenya sudah pukul 2 siang. Jujur, ia rindu pada keponakan kecilnya yang sekarang ini sudah berumur 4 bulan itu. Keyra menangis karena besok hari ulang tahunnya, rasanya sedih tidak melihat dua bayi imut itu. Sama halnya pada Bram yang tiba-tiba meneteskan air mata sendiri.


"Eh, Om kenapa? Kok nangis?" tanya Qila yang sedang mengajak dua bayinya main, dan melihat Bram duduk di sofa. Tentu saja Bram mengingat dirinya saat ini sedang menyesali perbuatannya.


"Om, kenapa? Kok nangis tadi?" Qila duduk di sebelah Bram. Seketika saja, pria itu memeluknya. Qila tambah terkejut mendengar isak tangisnya.


Qila yang tidak paham apa yang terjadi, ia pun balas memeluk Bram dan tidak lupa menepuk-nepuk lembut pundaknya.


'Ternyata Om Bram punya sisi lembek juga. Hihihi ..' Batin Qila tertawa dalam hati.


.


Seandainya kamu tahu Bram itu Aidan🥺gimana perasaan kamu nanti, Qila?😰