Little Twin'S Daddy

Little Twin'S Daddy
40. Nikmat Sekali



"Oiih, Aidan."


"Hmm, apa? Lu mau balik?" tanya Aidan pada Raiqa yang masuk ke dalam kamarnya.


"Lu masih mau sama adek gue, gak?" tanya Raiqa berdiri di sudut pinggir tempat tidur dan melihat Aila yang imut.


Aidan yang selesai mengganti popok Aiko, ia pun menoleh dan menjawab tidak yakin. "Entahlah, lu lihat sendiri, gue udah punya anak. Kalau Hana tahu ini, dia pasti amit-amit nikah sama gue, terutama lu juga pasti gak mau punya ipar kayak gue," ucap Aidan memandangi Aiko.


"Ya tapi, gue masih ngerasa kalau dua bayi ini bukan anak lu, Aidan," kata Raiqa masih tidak percaya.


"Kalau begitu, siapa lagi yang bisa ngehasilin anak kayak gini kalau bukan dari bibit gue, Rai?"


"Ya, bisa jadi bayi itu anak selingkuhan bapak lu, Ai," sahut Evan berdiri di dekat pintu sambil menikmati jus manis di tangannya.


"Oih, oih, apa lu bilang, ha? Lu mau gue pukul lagi, ha!" ujar Aidan maju dengan kepalan tangannya.


"Ehhh, tenang dulu. Gue gak bermaksud cari ribut kok, gue cuma nebak asal doang kok," ucap Evan mundur dan menghindari pukulan Aidan yang nyaris mengenai wajahnya.


"Woy, gak usah berantem lah!" kata Raiqa mendorong dada keduanya agar saling menjauh dan berdiri di tengah-tengah.


"Daripada mikir kemana-mana, sekarang kita fokus aja cari perempuan itu," ucap Raiqa menunjuk laptop yang ada di tangan Evan.


"Ck, mulutnya memang perlu ditambal," decak Aidan kembali ke Aiko dan Aila.


"Ya tapi, Om Rayden kalau dipikir-pikir lagi emang mirip juga sama Aidan. Bisa jadi kan ini dua bayi hasil perseling-"


"EVAN!!" teriak Aidan membentak.


"Kalau lu selesain kalimat itu, gue bakal bongkar rahasia lu itu ke Raiqa," ucap Aidan melotot dan menodongkan botol susu ke muka Evan. Sebagai anak, Aidan tentu marah jika ayahnya dituduh sembarangan.


"Walau sifat bokap gue kayak monster, cintanya ke nyokap gue melebihi dari apapun. Kalau dia dengar ucapan lu itu, gue pastikan, lu bakal tinggal nama tahun ini." Tatap Aidan mendengkus kemudian pergi mengurus bayinya. Sedangkan Evan tertawa dalam hati bisa mengerjai satu cowok itu. Sementara Raiqa, matanya celingukan mendengar ucapan Aidan tadi.


"Rahasia? Lu punya rahasia apa, Van?" tanya Raiqa.


"Ck, dia tidak akan memberitahukan rahasianya itu dan dia tidak punya nyali seperti gue," decih Aidan meletakkan hati-hati Aiko ke samping Aila.


"Hmm, rahasia apa ya," gumam Evan menyentuh dagu dan melirik Raiqa, ia membayangkan bagaimana reaksi Raiqa tentang keinginannya itu.


"Lu habis nyolong sapi orang ya?" tebak Raiqa membuat Evan terperanjat.


"Buset dah, dituduh nyolong sapi, hahaha," tawa Aidan mengejek.


"Dih, siapa juga yang nyolong sapi?! Di rumah gue masih ada yang lebih mahal dari sapi orang," cetus Evan mulai kesal.


"Lalu, rahasia lu apa? Kasih tahu dong, Van. Siapa tahu gue bisa bantu jagain rahasia lu itu," desak Raiqa.


"Jangan-jangan lu juga punya anak?" Tunjuk Raiqa dan lagi-lagi tebakannya itu membuat Aidan terbahak-bahak melihat Evan yang juga tersedak jusnya sendiri. Untung dua bayi itu sudah tidur sehingga tidak melihat wajah jelek ayahnya yang tertawa.


"Duhh, gue keluar dulu gih, kalian jagain anak-anak gue ya, tolong ya Papa Evan, hahaha," tawa Aidan menutup jendela kemudian keluar dari kamar untuk mencari tempat titipan yang bisa menjaga Aiko dan Aila di jam sekolahnya.


"Papah Evan? Lu beneran punya anak, Van?" tanya Raiqa dengan wajah polosnya.


"Apa sih! Gue gak punya anak tau!" celetuk Evan kemudian keluar juga.


"Eitss, terus rahasia lu apaan? Kasih tahu dong, jangan pelit-pelit lah," ucap Raiqa jalan di sebelahnya.


Evan berhenti kemudian menarik nafas dalam-dalam. Setelah merasa tenang, ia pun menjelaskan rahasianya.


"Sebenarnya gue suka sama-"


"Sama gue ya?"


PLAK!


Karena ucapannya yang tiba-tiba aneh itu, Evan spontan menampar wajah Raiqa.


"Astaghfirullah, gue bercanda cuy! Jangan pukul napa, sakit tau," kesal Raiqa mengelus pipinya.


"Canda lu bikin orang jijik, gak lucu, sumpah bikin mual, hueeek, amit-amit jabang bayi," ucap Evan menepis bayangan kotor di kepala Raiqa.


"Hueek? Mual? Lu hamil, Van?" tebak Raiqa dan sontak mundur ketika Evan melayangkan satu tangannya yang siap memukul kepalanya lagi.


"Lu gimana sih, Rai! Gue ini Lanang! Mana ada Lanang bisa hamil! Lu serius dikit lah kalau nebak! Gue itu sebenarnya suka sama adek lu, si Qila! Aqila Mahira! Bukan hamil atau mual! Dengar itu!" ujar Evan kemudian melihat Raiqa yang syok.


"Ehh, lu pasti terkejut, tapi gue benar-benar suka sama adek lu, Rai. Jadi gue harap lu gak masalah soal ini, dan mau dukung gue dapatin Qila," ucap Evan mencoba menenangkan Raiqa yang dikira sedang menahan amarahnya, namun rupanya Raiqa malah terpingkal-pingkal.


"Hahahah... lu suka sama Qila? Yang benar nih?" tanya Raiqa merangkul leher Evan dan melirik Evan serius.


"Hmm, iya. Dari tahun lalu, gue udah punya rasa ke adek lu itu, cuma gue gak berani bilang ini ke dia apalagi ke lu,"


"Kenapa? Lu takut ya gue nolak jadiin ipar?" tanya Raiqa.


"Bisa dibilang ... gitu deh," ucap Evan garuk-garuk pelipis.


"Pfftt, bwahahaha...." tawa Raiqa terbahak-bahak lagi.


"Diih, ngapain sih mereka berdua?" gumam Aidan melihat dua sahabatnya itu yang aneh. Satu tertawa tidak jelas dan satunya berdiri malu-malu.


"Lu kenapa sih ketawa mulu? Lucunya di mana coba?" desis Evan.


"Pfft, lucu aja sih, si Qila itu gak ada spesialnya, jadi gue ngerasa heran aja," ucap Raiqa berhenti tertawa dan duduk kemudian membuka hape. Ia tidak lagi bermain game melainkan melihat isi grup chat sekolah yang sedang membicarakan tentang ulahnya yang tadi pagi.


"Gak ada spesial? Ha? Lu keknya udah buta deh, Rai," ucap Evan duduk di kursi lain kemudian membuka laptopnya untuk kembali mengawasi rumah Bram.


"Ya kalau begitu, menurut lu, apa spesialnya?" tanya Raiqa.


"Adek lu itu manis, imut, polos, lugu, dan pokoknya masuk kriteria gue dah. Apalagi mochi-mochi nya itu loh, aihh tambah gede sekarang," jelas Evan dengan mata berbinar-binar dalam pikiran mesumnya. Namun seketika sebuah teflon besar menampar kepalanya.


PRANG!


Terdengar begitu nikmat sekali.


"AIDAN! Gue tahu lu dendam sama gue, tapi gak gini juga kali! Lu mau ya gue jadi idiot?!" bentak Evan mengelus kepalanya yang habis dipukul. Untung saja kepalanya tidak lepas.


"Dasar Cabuel." Cibir Aidan dan Raiqa kompak dengan tatapan tidak suka mendengar itu.


"Dih, sama-sama Cabuel gak usah saling sindir. Hmp!" Evan berdiri dan berpaling muka.


"Mau kemana lu?" tanya Aidan dan Raiqa.


"Terserah gue," ucap Evan kemudian keluar dari apartemen membawa laptopnya. Ia mencari udara segar untuk memikirkan bagaimana cara memikat pujaan hatinya besok.


"Oyy, Aidan. Besok giliran lu yang cari si AM di sekolah, gue udah kapok ngumpulin sebagian ini," ucap Raiqa memberi daftar nama AM yang lain. Tidak mau terkena tamparan.


"Hmm, thank udah bantuin gue hari ini. Tapi kayaknya, gue udah gak mau cari tuh cewek," kata Aidan masih duduk di tempatnya.


"Hah? Kenapa?" tanya Raiqa tidak jadi berdiri.


"Gue bakal ngurus bayi-bayi itu sendiri."


"Lu udah putus asa?" tanya Raiqa lagi.


"Bukan putus asa, tapi mungkin saja perempuan itu udah meninggal," ucap Aidan menatap fas bunga kosong di atas meja.


"Hmm, iya juga sih. Bisa jadi perempuan itu udah meninggal dan Dokter itu menyuruh kita mencari AM agar lu tahu siapa nama perempuan itu. Tapi,"


"Tapi kenapa, Rai?" tanya Aidan penasaran ucapan Raiqa.


"Tapi, jika seandainya perempuan itu masih hidup, kira-kira lu nanti gimana ke depannya? Lu bakal nikahi dia? Atau cuma memberi -"


"Gue bakal ganti rugi, tapi berupa uang bukan pernikahan," ucap Aidan cepat.


"Jujur, gue masih suka sama Hana, tapi gue sadar, Hana gak pantas dapatin cowok kayak gue, jadi daripada gue rusakin hidup cewek lagi, mending gue jadi singel father," lanjut Aidan lalu mendesah kesal. "Hah, hidup di keluarga kaya ternyata bisa dapat masalah besar kayak gini. Siapa yah perempuan itu yang sudah melahirkan dua bayi ini?" gumam Aidan bersandar dan melihat ke atap-atap langit apartemennya, lalu menoleh ke Raiqa yang menepuk bahunya.


"Aidan, lu jangan terlalu mikirin ini. Gue masih yakin, kalau dua bayi itu bukan anak lu," ucap Raiqa.


"Ya terus, anak siapa coba?" tanya Aidan.


"Ya bisa jadi anaknya bokap lu,"


"RAIQA! Lu gak usah deh ngikutin kata Evan!!" kata Aidan tidak terima.


"Hehehe, canda kok." Raiqa tertawa kekeh.


"Cih, gak lucu." Aidan mendecak lidah kemudian masuk ke dalam kamarnya.


"Pftt, haha... aku gak nyangka dua adikku itu bisa membuat Aidan dan Evan suka pada mereka." Raiqa bergidik geli membayangkan dua sahabatnya itu berada di satu acara pernikahan sambil menggandeng tangan Qila dan Hana. Tapi hadirnya si kembar mungkin tidak bisa mewujudkan bayangan masa depan dari pikirannya itu.


.


Bisa kok asalkan Bram dan Evan gak nikung hehe💃


Gini amat gendernya ya😅maaf kalau masih acak-acakan, ini cerita bukan karangan author(Asti) tapi karangan saudaraku🙏😅cuma author yang nulis kata-katanya sesuai alur dari pengarang aslinya. Semoga terhibur dan maaf bila ada kata salah😊