
"E-van, kau-kau..." Bram yang terluka, tidak menyangka Evan berbuat sejauh itu. Dalam ingatan masa lalunya, ia hanya melihat Black sudah tak berdaya, tapi sekarang di depan mata Aidan, cowok itu melihat langsung dirinya ditusuk. Ini sungguh tidak ada di dalam memorinya. Apa jangan-jangan Black sudah mengubah sesuatu?
"Akhhhh!" Bram didorong ke belakang, jatuh dan meringis kesakitan di depan Black. Aidan di luar yang melihat Bram butuh pertolongan, perasaannya bergejolak ingin masuk menyelamatkannya namun pintu ruangan itu terkunci.
"Akhh, sial, aku lupa mengambil kuncinya dari Papa!" Aidan memukulnya dengan pedang di tangannya tetapi percuma, benda yang belum sepenuhnya diperbaiki, tidak bisa mematahkan pintu besi di depannya.
"Aidan, kau terlalu baik, harusnya tadi kau membunuh ku, bukan malah mengotak-atik mesin ini," ucap Evan mendekati mesin pengontrol.
"Uhuk... kau salah, Evan, aku tidak berhak membunuh mu di sini, kau lebih patut di hukum di masa kita sekarang," kata Bram mencoba menahan darah dari bekas tusuknya sambil memakan diam-diam pil penyembuh buatannya yang sudah dia sediakan.
"Hahaha... itu yang aku benci darimu, kau tahu dan sadar ini semua akan terjadi atas perbuatan ku, tapi kau masih memikirkan masa depan?"
"Aidan, kau berusaha menghindari kesalahan agar masa depan tidak berubah, tetapi jika kau menyelamatkan Qila dari kematian, bukan kah itu sama saja kau menjilat ludah mu sendiri?" jelas Evan sambil mengubah hitungan waktu menuju ke tahun Qila meninggal.
"Uhuk... uhuk... un-untuk saat ini memang aku tidak ingin melakukan perubahan, tapi tidak di tahun Qila saat ia dibunuh oleh mu," kata Bram berdiri dan menggenggam senjatanya kuat-kuat. Mencoba untuk menghentikan Evan meskipun tenaganya sudah tidak sekuat sebelumnya.
"Hahaha...." Evan tertawa jahat lalu dengan sinis melirik Bram.
"Kau sekarang tidak berdaya seperti itu, tapi masih yakin dapat menghentikan ku? Hahaha.... Memangnya kau tahu dari mana aku dalang dari kecelakaan Qila, Aidan? Dari mana, bejingaan!" kesal Black menendang ke perut Bram.
Duakkk!
Namun Bram masih mampu menahannya, tetapi kembali jatuh tersungkur saat Black menendang ke bagian luka tusukannya.
"Argggkhhhhhhhhh!" Berteriak penuh kesakitan di depan Black yang menyeringai puas karena status keamanan yang sudah aman, dan proses pemindahan telah aktif, dan kini siap menuju ke waktu yang sudah ditentukan.
"He-hentikan, Evan!" ujar Bram marah dan kembali berdiri. Black berdiri santai di dalam lingkaran. Menatap prihatin Bram yang masih berusaha menghentikannya. Evan mengepal tangan, rasa bencinya yang membara itu mengingatkannya pada masa-masa sekolahnya. Ia dan Aidan saling juara di kelas dan saling memperebutkan posisi tinggi, tapi karena selalu imbang, membuatnya menyerah untuk melampaui Aidan dan mulai menganggap Aidan adalah sahabat. Tapi semenjak cinta menguasai dirinya untuk memiliki Qila, rasa itu berubah kembali menjadi kebencian setelah mengetahui pujaan hatinya menikah dengan Aidan, ditambah Aidan mengingkari ucapannya.
"Hahaha... Aidan, dari awal bertemu denganmu, aku sangat senang. Kau teman sekaligus rival yang hebat. Saling mengejar kekuatan dan juga juara di kelas, tapi sekarang aku yang akan menang di sini," ucap Black lalu tersenyum licik.
"Sebelum aku membunuh Qila, mungkin lebih enak kalau mencicipi rasa tubuh istri mu itu dulu dan mencabik-cabik wajah putramu." Seringai Black lalu melirik hitungan mesin itu sudah tepat.
"EVAAANNN!"
'BUGHHH'
Black terkejut menerima bogem mentah dari Bram yang tiba-tiba maju menyerangnya, membuat senjata mereka terlempar cukup jauh.
"SIALAN KAU, EVAN! TIDAK AKAN KU BIARKAN KAU MENYENTUH MEREKA!" seloroh Bram membenturkan sikunya ke kepala Black bersamaan mesin itu melakukan proses pemindahan.
"BAJINGAAAAN KAU, AIDAN, LEPASKAN AKU!" Black yang dicekal, ia berteriak sampai menggema ke seluruh ruangan itu.
"JIKA AKU TIDAK BISA MENGHENTIKAN MU DI SINI, AKU LEBIH BAIK MATI BERSAMAMU!" ujar Bram mengeratkan cengkeramannya.
"DASAR GILA! KAU MATI SAJA SENDIRI, JANGAN MENGAJAKKU!" pekik Black ingin melawan, namun ruangan itu tiba-tiba bergetar hebat bersamaan aliran data mesin itu bergulir dan seketika saja...
DUAARRR!
"Akhhh!" Kaget Aidan mendengar suara tekanan itu, ditambah cahaya silau yang terpantul dari dalam sana membuat cowok itu tersandung dan tidak sengaja kepalanya membentur ke pintu besi.
Sekretaris yang tengah mengemudi dan meninggalkan kawasan itu, ia kaget dan melihat di area sana ada ledakan suara yang besar dan cahaya yang memancar keluar. Malam yang gelap itu seketika terang benderang dan perlahan kembali hening mencekam.
"Tuan... Aidan?!" Sekretaris itu berhenti di tepi jalan. Ia menelpon anak buahnya yang baru menyusulnya untuk mengecek tempat itu. Setelah menelpon, sekretaris lanjut pergi membawa Rayden ke rumah sakit terdekat.
Benar saja, tempat itu sepi dan gelap. Tiga anak buah sekretaris segera menyusuri puing-puing bangunan yang runtuh. Satu jam mencari, mereka menemukan seseorang masih hidup di bawah reruntuhan.
"Astaga, Tuan Aidan!" Mereka menarik Aidan dan terkejut kepala anak atasan dari bos mereka berlumuran darah, alias terluka.
"CEPAT, KITA BAWA DIA KE RUMAH SAKIT!" Mereka membopong Aidan menuju ke mobil. Sedangkan mesin waktu yang mereka tinggalkan itu rusak parah, bersama Bram dan Black hilang. Hanya menyisakan dua dadu kecil dan satu senjata milik Aidan. Dipastikan, Bram dan Black menghilang dari timeline saat ini.
Di waktu yang sama, sebuah mobil berhenti di depan rumah Bram. "Mama!" Keyra keluar bersama Qila menggendong Aiko dan Bik Inah membawa Aila.
Arum yang melihat ada dua bayi, ia tertegun diam di sebelah Hana yang juga terkejut saudaranya sungguh telah memiliki anak duluan sebelum lulus dari sekolah.
"Mama, ini Aiko dan ini Aila, mereka adalah cucu pertama Mama," jawab Keyra tersenyum. Arum maju mendekati Qila.
"Ta-tante, maaf...." Qila menunduk, tidak berani melihat Ibu mertuanya itu, tetapi saat pipinya disentuh, Qila pun bertatap mata dengannya. Terlihat di wajah Arum antara mau marah dan kecewa, tetapi melihat mata menantunya itu yang sendu, Arum menyadari Qila juga tertekan dengan semua yang terjadi padanya.
"Apakah, Tante boleh menggendongnya?" tanya Arum sambil tersenyum. Qila sedikit ragu-ragu memberikan Aiko, karena takut akan direbut darinya, tetapi berkat Keyra menepuk bahunya, Qila memberikan Aiko pada sang nenek.
"Gak perlu cemas begitu, kita semua di sini keluarga, Qila," kata Keyra menyakinkannya.
"Ini, Tante, maaf kalau aku udah-"
"Gak perlu minta maaf, Tante yang harusnya minta maaf di sini. Gara-gara Aidan yang melakukan itu padamu, kamu selama ini pasti sudah banyak melaluinya sendirian, maafkan anak Tante ya, Qila." Arum meraih satu tangan Qila sambil menggendong Aiko.
"Ya, Tante. Qila juga minta maaf." Angguk Qila tersenyum kemudian melihat Wira dan Hana. Terlihat Hana membuang muka, sedangkan Wira mendekatinya.
"Papa..." lirih Qila sedikit mundur, karena takut. Tetapi Keyra mendorong bahu Qila agar jangan takut. Qila menggeleng tidak berani tetapi seketika Wira memegangnya lengannya dan menarik putrinya itu mendekat.
"Pa-papa, a-aku bisa jelasin kenapa aku ke sini ...." ucap Qila berhenti tatkala Wira memeluknya.
"Qila, maafkan Papa, harusnya Papa introspeksi diri, bukannya menghindari dirimu, Nak," ucap Wira minta maaf setulus lubuk hatinya. Qila mendongak dan menatap ayahnya. Wira yang melihatnya, ia mengusap air mata putri kecilnya itu yang jatuh berlinang lalu memeluk Qila yang kembali menangis. Pelukan ayahnya yang paling hangat dan dia rindukan dari siapapun di dunia ini. Sedangkan Hana sedikit cemberut di sana.
Tiba-tiba, di tengah suasana haru itu, Arum terkejut mendapat pesan dari rumah sakit. Qila dan yang lainnya pun ikut terkejut mengetahui kondisi Rayden dan Aidan.
"Mama, kita harus kembali sekarang!" ucap Keyra. Arum mengangguk cepat dan masuk membawa dua cucunya ke dalam mobil bersama Hana dan Wira. Sedangkan Qila, membujuk Bik Inah ikut, tetapi wanita itu menolak.
"Maaf, Nona, saya tidak bisa ikut."
"Baiklah, kalau begitu, saya pulang dulu, kalau ada pesan dari Om Bram, Bibik kasih tahu aku ya," ucap Qila masih memikirkan pria dewasa itu. Bik Inah tersenyum dan melambaikan tangan melihat mobil dan motor Keyra meninggalkan rumah itu.
Tiba di sana, tangis Arum pecah. Melihat suami dan anaknya yang tiba-tiba masuk rumah sakit di hari yang sama.
"Hei, Pak! Apa yang terjadi pada Papa ku dan Aidan?" tanya Keyra ke sekretaris. Pria kepercayaan Rayden itu menjelaskan dari hasil dari penyelidikan anak buahnya di TKP kalau ada orang yang memporak-porandakan markas Rayden dan datang menghancurkan mesin buatan Rayden.
Melihat Aidan terluka, Qila yang awalnya membencinya, ia sedikit kasihan. Namun tiba-tiba, suasana hati Qila yang sedih itu berubah ketika Wira mendapat kabar kondisi Raiqa sudah membaik. Kinan yang selalu di sebelah putra sulungnya, ia histeris melihat Raiqa membuka matanya.
"Raiqa, hiks.... akhirnya kau sadar juga, Nak." Memeluk Raiqa dengan bahagia. Raiqa yang masih pusing itu, membalas pelukan Ibunya sambil menanyakan seseorang.
"Mama, Aidan ada di mana?"
"Hmm, kenapa kau mencarinya?" tanya Kinan sambil melihat Dokter memeriksa kondisinya.
"Mama, jika bukan dia yang menyelamatkan aku dari preman Alpha, aku pasti sudah gak ada di sini. Aku mau bertemu dengannya dan berterima kasih," tutur Raiqa membuat Kinan diam kebingungan.
"Loh, Raiqa, bukan Aidan yang menyelamatkan mu, tetapi kata ayah mu itu adalah Bram." Ucap Kinan kali ini dia yang membuat Raiqa bingung.
"Ehh... tapi dia jelas-jelas yang datang membereskan preman Alpha, Ma," ucap Raiqa serius. Kinan memeluk Raiqa kembali dan mengelus pundaknya. "Raiqa, jangan pikirkan itu lagi, kamu baru sadar dari koma, tidak baik untukmu, Nak." Kinan merasa Raiqa salah mengenal orang.
'Tapi bener deh, yang datang selamatkan aku bukan si Dokter jadi-jadian itu, tetapi Aidan!' batin Raiqa yakin.
"Mama, Qila di mana?" tanya Raiqa mencemaskan satu adiknya itu. Kinan menunduk sedih, namun tiba-tiba ia mendapat balasan dari Wira kalau Qila sudah ditemukan.
Raiqa kaget melihat Ibunya menangis. "Eh, Mama kenapa?" tanya Raiqa. "Siapa yang buat Mama menangis? Ayo sini katakan sama Raiqa, biar Raiqa kasih pelajaran pada orang itu!" ucap cowok tampan itu masih saja sok kuat di depan Ibunya. Kinan mengusap air matanya dan tersenyum senang. Hari ini adalah hari kebahagiaan untuknya.
"Tidak ada kok, Mama cuma senang kalian baik-baik saja," ucap Kinan menghela nafas lega. Raiqa yang mendengar itupun cuma garuk-garuk kepala, merasa kurang mengerti apa yang sedang terjadi pada keluarganya. Setelah diperiksa Dokter dan semuanya stabil, seminggu ini Raiqa boleh pulang. Sedangkan sekarang, Aidan dan Rayden yang masih dirawat, anak dan ayah ini akhirnya sadar di hari ketiga. Arum segera memeluk erat suaminya. Sangat erat sampai rasa sakit Rayden sampai ke ulu hati. Tetapi Rayden senang dirinya masih hidup dan dapat meminta maaf pada istrinya. Sementara Aidan, di dalam ruangannya cuma ada Keyra dan sekretaris yang menunggu keterangan Aidan. Tetapi Aidan menggeleng tidak ingat apa pun. Karena yang dia ingat terakhir kalinya adalah saat Bram memberinya buku aneh. Sekretaris terkejut karena sesuai perkataan Dokter jika Aidan tampaknya kehilangan sebagian ingatannya.
"Keyra, di mana istri ku?" tanya Aidan sangat ingin bertemu istrinya itu yang sekarang ini enggan menemuinya. Aidan menunduk sedih karena di hari pertamanya ia sadar, orang yang sangat dia rindukan tidak menjenguknya. 'Qila... aku tahu kamu sangat membenciku. Ini memang salah ku, maafkan aku. Qila.' Hanya bisa menyesal dalam hati.
.
Makanya, kalau jatuh cinta itu yang pasti-pasti👻
Ehh sekarang Bram ada di mana ya?🤔 Jangan-jangan nyasar di demensi lain nih, wkwk canda guys...