Little Twin'S Daddy

Little Twin'S Daddy
88. Merebut Mesin Waktu



Setelah mendengar kenyataan yang terjadi pada putra sulungnya, mau tidak mau, Arum pun pasrah menerima pernikahan Qila dan Aidan. Kini wanita itu dibawa pergi ke tempat Aidan berada. Dituntun sendiri oleh suaminya.


Tiba di sana, Rayden pun membuka pintu di depannya dan menemani istrinya masuk. Arum pun perlahan menghampiri Aidan yang duduk dan menunduk di sudut ruangan.


"Aidan...." lirih Arum memeluk putra sulungnya dan menangis di pundaknya. Arum sedih karena tidak tega melihat Aidan yang tertekan. Walau ini sepenuhnya bukan salah Aidan, tapi Arum juga sedikit kecewa karena putra dan suaminya tega menyembunyikan rahasia itu darinya.


"Maaf, Mama."


"Maafkan aku, Ma. Aku udah ngecewain Mama," ucap Aidan lalu melirik Rayden yang berdiri di belakang Ibunya. Tampak Rayden berpaling muka, karena masih kecewa pada putranya itu yang menelantarkan cucunya.


Arum memegang wajah Aidan lalu mengangguk paham. Ia membuka borgol di tangan Aidan dan membantunya berdiri.


"Sekarang, ayo ikut Mama pulang," ajak Arum. Tapi Aidan duduk kembali dan memeluk kedua lututnya.


"Gak, Mama dan Keyra pulang aja duluan, Aidan masih mau di sini," tolaknya.


"Tapi, Aidan-" ucap Arum berhenti ketika bahunya ditepuk Rayden. "Tidak perlu memaksanya, dia akan pulang bersama ku." Karena mau bicara sesuatu pada Aidan, Rayden menyuruh istrinya pulang istirahat.


"Kamu tenang saja, aku tidak akan menambah hukumannya. Lagipula, aku akan menyuruh dia membantu kita mencari Qila dan cucu kita. Kamu pulanglah istirahat, sayang," ucap Rayden menyakinkan istrinya.


"Baiklah." Arum mengangguk kemudian keluar. Wanita itu diantar pulang bersama Keyra. Kini Rayden masih berdiri di depan Aidan yang juga masih menundukkan kepalanya.


"Sampai kapan kamu akan terus seperti itu? Sini, lihat Papa, Aidan!" pinta Rayden. Tapi Aidan semakin menundukkan wajahnya.


"AIDAN!" ujar Rayden tegas. Aidan pun sedikit mendongak lalu kembali melihat lantai. Rayden mengelus dada, sedikit kesal dan tidak tahan pada putranya itu yang tiba-tiba diam, tidak seperti kemarin memberontak terus. Tapi tiba-tiba, Aidan bicara. Ia mengaku sudah salah menjahati Qila. Sudah salah membenci Qila dan sudah salah menyakiti istrinya itu.


"Tunggu, kenapa kamu tiba-tiba bicara begitu?" tanya Rayden sedikit tidak percaya. Aidan pun menjelaskan alasan dirinya membenci Qila karena ia tidak terima anak dari Qila dan berharap hidup bersama Hana, tapi setelah mendengar cerita Keyra itu, Aidan sadar keinginannya sejak dulu telah ia capai namun ia sekarang malah menghancurkannya sendiri.


"Pa, apa Papa sudah menemukan Qila?" Aidan mendongak dan bertanya.


"Kenapa kamu menanyakannya? Kamu mau melakukan sesuatu lagi padanya?" tanya Rayden.


"Aku mau minta maaf kepadanya, benar-benar minta maaf," ucap Aidan berdiri. Rayden sedikit tersenyum mendengar itu. Ia pun mengeluarkan sesuatu dari sakunya kemudian memberikan dadu kecil.


"Apa ini?" tanya Aidan.


"Ini benda yang aneh, Papa temukan di rumah Dokter itu," ucap Rayden.


"Maksudnya, Bram?" tebak Aidan.


"Ya, Papa rasa dia mungkin salah satu karyawan perusahaan Papa yang menciptakan alat ini," ucap Rayden mengambil lalu memperlihatkan keunikan benda itu. Mata Aidan yang merah itu melebar sempurna melihat benda kecil itu berubah menjadi pedang yang patah kemudian mengubah menjadi dadu.


"Papa mau kamu menyalin data dari benda aneh ini, siapa tahu ada petunjuk yang bisa Papa dapatkan untuk menemukan Qila dan cucu Papa yang kamu buang itu," ucap Rayden sinis.


"Ck, sudah aku bilang dari kemarin, aku tidak pernah membuang is-istri dan ana-anakku," timpal Aidan grogi.


Rayden menampol kepala Aidan. Tentu ia gemas melihat tingkah Aidan yang plin-plan. Tapi ia cukup lega melihat putranya menyesali perbuatannya. Sedangkan Aidan cuma meringis dapat pukulan itu.


"Kalau begitu, kalau mau minta maaf pada istri dan anakmu, perbaiki dulu benda itu, nanti setelah Papa temukan mereka, Papa akan membawanya kepada mu," ucap Rayden menunjuk dadu itu lalu ingin keluar tapi ditahan oleh Aidan.


"Pah, tunggu!"


"Ada apa?" tanya Rayden.


"Itu, Papa udah maafin Aidan, gak?"


"Tidak, sebelum Papa melihat mu minta maaf pada Qila," ucap Rayden dingin kemudian berbalik badan, namun lagi-lagi Aidan menahannya.


"Pah, sebentar!"


"Aishhh, apa lagi?" desis Rayden.


"Hehehe, itu, apa aku boleh lihat-lihat mesin waktu Papa?" tanya Aidan sedikit memohon.


"Tidak akan pernah!" Tolak Rayden lalu pergi. Aidan cemberut, padahal sudah lama ia ingin melihat langsung alat ciptaaan ayahnya itu tapi selalu dilarang.


"Kalau saja udah sempurna, aku ingin pakai itu sekarang." Aidan greget, ingin membuktikan ucapan Keyra apakah waktu itu Qila atau Hana, tapi karena Keyra bilang mendengar itu dari Kinan, artinya memang Qila yang seharusnya Aidan suka.


"Akhhhhhhhh! Kenapa gak dari dulu sih!" Aidan mengacak rambutnya kemudian melihat dadu di tangannya. Ia segera keluar dari penjara itu kemudian mengambil hapenya yang disimpan oleh ayahnya pada seseorang. Setelah mengambilnya dari anak buah ayahnya, Aidan menelpon Evan. Berniat membatalkan keinginannya.


"Apa? Lu gak mau? Kenapa, Ai?" tanya Evan yang berjalan di jalan yang sepi dan sedang menuju ke tempat Aidan berada sambil menenteng tas berisi alat-alat miliknya.


"Sorry, Evan. Gue rasa mesin itu gak bisa beroperasi. Lu lupakan saja apa yang gue ucapkan kemarin itu," ucap Aidan tidak mau mencuri mesin ayahnya.


"Hei, AIDAN!" marah Evan setelah Aidan memutuskan panggilannya.


"Akhhh, lu kenapa sih, Ai? Kenapa tiba-tiba berubah pikiran?" Kesal Evan memukul tembok pagar di sebelahnya. Tiba-tiba saja, seseorang datang membungkam mulut Evan dari belakang.


"Uhmmm....uhmm..." Evan memberontak tapi kedua tangannya dicekal kuat dan tenaga orang itu jauh lebih kuat darinya, pada akhirnya ia jatuh pingsan setelah menghirup cairan bius di tangan orang itu. Tas yang dibawa Evan direbut oleh orang itu yang tidak lain adalah Black.


Tampak Black berdiri di depan Evan. Ia tadi ingin mengajak Evan bekerjasama tapi dirinya di masa kini pasti akan menolak mencelakai Qila sehingga Black pergi bereaksi sendiri dan membiarkan Evan pingsan di pagar itu. Sama seperti yang terjadi padanya dulu.


Black yang mendapat alat bantu, ia mulai menyusun rencana untuk mencuri mesin waktu Rayden yang tampaknya dipindahkan ke tempat lain dan dijaga oleh puluhan anak buah Rayden. Sementara Bram, ia juga menyiapkan diri untuk mengambil mesin itu sebelum jatuh ke tangan Black. Jika itu terjadi, Black bisa seenaknya mengubah masa lalu dan menghancurkan masa depan. Sangat bahaya, bukan?


.


Sangat bahaya😂bisa² jodoh author gak lahir ke dunia, wkwk canda ya guys, ini cuma fiksi jangan diseriusin hehe🙏🥺