
Dua menit kemudian, Raiqa baru tiba di ruangan adiknya. Cowok itu terhenyak melihat Evan menggenggam tangan Qila dengan raut wajah yang cemas. Begitu peduli sekali satu sahabatnya itu pada adik polosnya.
"Hai, Evan!" Panggil Raiqa masuk. Evan pun cepat-cepat melepaskan genggamannya dan berdiri.
"Lu dari mana? Kok baru nyampe ke sini? Dari ambil bayinya si Aidan?" tanya Evan bertubi-tubi karena kesal pada Raiqa yang lama tiba di rumah sakit.
"Sorry, gue tadi singgah beli nasi bungkus buat Qila dan soal bayi itu, gue kasih ke Keyra," ucap Raiqa meletakkan nasi kotak ke atas meja.
"Alamak! Kenapa lu bego gini sih, Rai?"
"Lho, kenapa lu marah? Harusnya lu senang ada Keyra yang mau jagain bayi itu," ucap Raiqa heran kena marah.
"Weh, Raiqa! Aidan udah suruh kita jangan sampe Keyra lihat wajah bayi itu! Masalah ini bisa tambah ribet tau!" marah Evan lalu meringis kesal dan menepuk wajahnya.
"Ini nih, gara-gara kebanyakan main game, lu jadi gak bisa mikir dulu!" lanjutnya kemudian mengeluarkan kunci mobilnya.
"Diih, gue hari lagi sibuk mikirin Qila! Bukan hal lain, Evan!" sentak Raiqa balas memarahinya.
"Serah lu dah, sekarang gue mau ambil bayi itu," ucap Evan namun tiba-tiba Raiqa menahannya.
"Evan, lu kenapa ya peduli banget sama Aidan? Gue aja yang dari kecil temenan sama dia, tapi gue gak begitu banyak ngebantu Aidan ngurus bayinya," kata Raiqa bertanya dan ingin tahu.
Evan pun seketika terdiam. Namun kemudian ia pun menunjuk Qila. "Aku selama ini tinggal ke apartemen itu bukan menjaga bayi Aidan, tapi adek lu yang kerja sebagai babysitter bayi kembar itu. Jadi lu harus tau, gue hanya menjaga Qila, dan karena gue punya bocil di rumah, gue gak tega ngeliat bayi Aidan dibuang sama Keyra," ucapnya jujur.
Mulut Raiqa terbuka lebar.
"What's? Qila kerja jadi babysitter? Sejak kapan?"
"Sejak bayi itu muncul, Rai," ucap Evan terpaksa memberitahukan itu pada Raiqa yang memang tidak mengetahui Qila yang seringkali pergi ke apartemen Aidan.
"Nah gini kan, lu asik nge-game sampai gak tau adik sendiri kemana perginya," lanjut Evan menunjuk Raiqa yang masih diam.
'Pantas saja dari pulang sekolah dia selalu izin keluar rumah. Aku pikir perginya belajar di rumah temannya ternyata ...'
'Aihh, kenapa Qila dan Aidan tidak mengatakan ini padaku?'
Raiqa memandangi wajah Qila. Marah dan kecewa bercampur dalam hatinya. Ia merasa seperti orang yang tidak bisa dipercaya oleh adik dan sahabatnya.
"Oih, Eva-" ucap Raiqa menoleh tapi cowok di sebelahnya itu sudah tidak ada.
"Hadeh, malah cabut duluan tuh bocah, padahal masih ada yang mau gue tanyakan tentang Dokter yang mereka cari itu," desis Raiqa ditinggal sendiri. Ia pun duduk dan menunggu Qila sadar daripada membuka hapenya. Lima menit pun berlalu, gadis itu membuka matanya.
"Qila, syukurlah, kamu sudah siuman," ucap Raiqa mengelus dadanya.
"Seperti yang kamu lihat, kita berada di rumah sakit," jawab Raiqa berdiri kemudian mengambil nasi kotak di atas meja. Membukanya dan memberinya ke Qila.
"Aku sakit ya, Kak?" tanya Qila menyentuh dahinya yang panas.
"Iya, kata Dokter kamu demam. Maaf, ini gara-gara aku tidak memperhatikanmu, Qila." Raiqa meminta maaf dan mengelus kepala Qila.
"Melihatmu pucat tadi, aku hampir hilang kendali," katanya yang memang tadi nyaris masuk parit sebelum pergi membeli kotak nasi.
"Nih, kamu makan dulu." Menyodorkan satu sendok ke mulut Qila.
"Lho, ada apa? Kenapa kamu menangis?" Raiqa terkejut melihat air mata adiknya yang cantik itu mengalir turun. Padahal Qila belum memakan isi kotak di tangannya jadi tidak mungkin adiknya menangis gara-gara rasa di nasi kotak itu.
Tentu Qila menangis karena senang pada Raiqa sekarang lebih mementingkannya dari hobinya itu.
"Qila, kalau ada orang yang jahat padamu di sekolah, katakan padaku, biar kakak yang balas perbuatannya," ucap Raiqa berdiri dan menghapus buliran air mata adiknya.
"Hidupnya akan kakak buat menderita jauh lebih berat dari apa yang kamu rasakan ini, ayo katakan saja pada kakak." Lanjut memeluk Qila yang semakin menangis.
"Hikk, Qila senang punya Kakak yang baik walau payah seperti Kak Raiqa," isak Qila tidak lupa menunjukkan rasa jengkelnya juga.
"Haha, meskipun aku payah jadi kakak dan di pelajaran sekolah, aku tetaplah tampan," tawa Raiqa menyisir rambutnya dan tersenyum genit.
"Pfft, hahaha," tawa Qila bergidik geli melihat tingkah Raiqa. Wajahnya yang pucat perlahan berseri indah membuat Raiqa terpana melihat rupa cantiknya sang adik. Ditambah angin dari jendela menghembus dan menerpa rambut Qila.
'Kalau saja Hana yang sakit, aku pasti sudah dikata-katain sebagai kakak bodoh, tidak berguna dan menyusahkan. Untung saja Qila tidak mewariskan sifat seperti itu.' Raiqa ikut senang dan menarik kepala Qila yang terkejut dipeluk tiba-tiba.
"Qila, maaf ya kalau kakak kadang - kadang nyusahin kamu," ucapnya sambil membelai rambut Qila dan menatap mata adiknya. Qila pun tersenyum dan mengangguk.
"Hmm, Kak Raiqa tidak pernah nyusahin Qila kok. Dari dulu Kak Raiqa sering bantu Qila kerjain PR, antar pulang aku dari sekolah terus udah banyak bantuin Qila waktu jatuh dari wahana. Qila sangat SENANG punya Kak Raiqa," puji Qila.
"Aihh, leherku jadi naik nih denger itu," ucap Raiqa mencubit hidung mancung Qila lalu mengeluarkan hapenya.
"Bagaimana kalau main game bareng? Mau, gak?"
"Pfft, hahaha, Kak Raiqa lucu. Aku kan lagi sakit." Cubit Qila gemas kemudian ia memakan setiap suapan dari Raiqa yang tertawa dengan kebodohannya. Qila begitu asik sekali bisa mengobrol dengan saudaranya hingga mereka tidak sadar di luar ruangannya ada Bram yang daritadi memperhatikan kakak beradik itu. Sudut bibir Bram pun terangkat. Ia tersenyum lega melihat senyum Qila.
Merasa ada orang di luar, Qila menoleh tapi tidak ada siapa-siapa di situ. "Apa tadi cuma perasaanku? Tapi rasanya seperti ada Kak Aidan di sana."
.
Tinggalkan like dan lopenya, terima kasih😊