
Ting! Tong!...
Seseorang menekan bel di luar. Mendengar itu, Qila yang berada di ruang tamu yang lagi mengajak main dua baby gemoinya, ia berdiri membukanya.
"Siang, Mba," sapa orang itu ternyata pengantar paket.
"Siang, ada apa ya, Pak?" tanya Qila.
"Ini, Mba, ada paket untuk anda," ucap orang itu memberikan sebuah kotak yang diberi pita.
"Loh, kayaknya saya gak pesan apa-apa, Pak. Ini dari siapa ya, Pak?" tanya Qila belum mengambilnya.
"Dari nama yang tertera di sini, ini dari Pak Bram Sanjaya,"
"Om Bram?" Qila segera merebutnya dari tangan orang itu dan benar kotak itu dikirim dari Bram.
"Makasih Pak udah bersedia kirim ke sini," ucap Qila tersenyum senang. Orang itu mengangguk lalu pergi mengantar paketnya yang lain.
Setelah menutup pintu, Qila duduk di dekat Bik Inah yang menjaga Aiko dan Aila.
"Dari siapa, Non?" tanya Bik Inah.
"Ini, Bik. Katanya dari Om Bram, hehehe," jawab Qila segera membuka semua pita di kotak itu. Tidak sabar apa yang Bram berikan untuknya.
"Padahal ulang tahun ku masih jauh, Bik. Tapi Om Bram cepat sekali memberiku kejutan ini. Om Bram emang susah ditebak, haha..." Tawa Qila deg-degan.
Bik Inah pun spontan terpana-pana melihat benda di dalam kotak itu. Begitupun pada Qila yang matanya berkilauan melihat kalung emas berliontin jam itu.
"Woah, ini emas sungguhan, Bik! Ini harganya pasti mahal!"
"Bik, tolong pasangkan ini ke leher ku," pinta Qila sangat senang dapat hadiah berharga itu.
"Non, anda terlihat lebih cantik memakai itu," puji Bik Inah.
"Duh, serius, Bik?" Qila berdiri lalu berlari mendekati lemari hiasan yang ada kaca cerminnya. Qila tersenyum sumringah dan terus memegang kalung di lehernya. Pipinya pun perlahan bersemu. "Om Bram, orangnya malu-malu ya. Sebelum pergi kerja, dia diam-diam menyiapkan ini untukku." Qila tertawa kekeh dan tiba-tiba menunduk sedih.
"Ihhh, gak boleh! Aku gak boleh mikirin Aidan! Suami kamu itu pasti udah ngelupain semuanya. Jadi gak ada gunanya dia bisa belikan ini untuk ku!" gerutu Qila mengetuk-ngetuk kepalanya.
"Nona!" panggil Bik Inah.
"Kenapa, Bik?" Qila kembali duduk di sebalah wanita itu.
"Nona, ini ada surat juga." Bik Inah memberikan selembar surat yang tadi ia lihat saat tangan mungil Aiko mengambil surat itu di dalam kotak tersebut.
"Eh, astaga, ternyata ada suratnya, isinya apa ya?"
Karena penasaran, Qila membukanya dan isi tulisannya agak lumayan panjang. Gaya tulisannya pun mirip Bram tetapi Qila sedikit heran karena gayanya juga mirip dengan seseorang, tepatnya Aidan.
'hmm, kayaknya cuma perasaan aku aja deh.' Batin Qila pun membaca satu demi satu kata-katanya.
[Qila, pertama, Om minta maaf gak kasih tahu kamu kemarin karena Om rupanya sudah didesak oleh waktu, jadi sebagai permintaan maaf, Om memberikanmu hadiah itu]
[Kedua, Om sangat senang dapat berada di samping mu selama ini. Kamu gadis yang Om sayang melebihi diri Om sendiri]
[Dan terakhir, semoga kamu suka ya kejutan Om. Serta maaf, Om tidak bisa menemanimu lagi. Om harap kamu berbaikan dengan suami mu dan masa lalu mu]
[Satu lagi, jangan buang hadiah Om ya]
"Eh, Nona kenapa? Ada apa?" tanya Bik Inah kaget melihat air mata Qila tiba-tiba berlinang.
"Bik, ini surat palsu kan, Bik? Isinya gak benar, kan, Bik?" Qila memberikan surat itu dan menggelengkan kepala tidak percaya. Bik Inah secepatnya membaca isinya dan rupanya itu surat perpisahan dari majikannya itu.
"Gak, Om Bram pasti lagi ngeprenk! Aku yakin itu, Bik!" Qila berdiri dan keluar dari rumah.
"OM BRAM! OM BRAM! KELUAR KAMU, OM! INI GAK LUCU!" panggil Qila berteriak tapi semua hening. Ia pun mengusap pipinya yang basah kemudian lari ke dalam rumah. Melewati Bik Inah menuju ke kamar Bram. Gadis itu mencoba mendobrak pintu kamar Bram dan akhirnya kamar itu terbuka.
"Arghhh, Om Bram! Ke-kenapa ninggalin Qila...." Qila jatuh terduduk ke lantai. Menangis melihat kamar itu kosong.
"Padahal Qila udah nyaman dan suka sama Om, tapi kenapa.... kenapa Om tega pergi gitu aja,," isak Qila mengusap kedua pipinya yang terus dibasahi linangan embun dari matanya.
Bik Inah datang setelah membawa dua baby twins Qila ke kamar. Wanita itu duduk di dekat Qila dan menenangkan gadis itu.
Qila menoleh ke Bik Inah kemudian ia memeluk wanita itu. "Bik, aku emang salah dan bodoh, harusnya aku jujur saja sama Om Bram kalau aku suka sama dia. Hiks,"
"Tapi, Non. Bukannya Nona udah punya suami?" Ucap Bik Inah tahu dari Bram saat direkrut jadi asisten.
"Ya, Bik. Tapi dia gak cinta sama aku, dan juga kita udah lama pisah," lirih Qila menunjukkan jarinya yang tidak ada cincin pernikahan.
"Tapi, Nona, saya merasa anda masih belum resmi berpisah dan yang tertulis di surat itu sudah benar. Nona harus kembali pada suami dan berbaikan pada keluarga Nona," jelas Bik Inah.
"Hiks, gak, mereka gak butuh aku, Bik. Gak ada yang bisa dibanggakan dan diharapkan dari aku." Qila menepuk dadanya.
"Itu gak benar!" sahut seseorang di pintu. Qila dan Bik Inah yang terkejut, mereka menoleh kepada cewek di sana.
"Qila...." Cewek itu perlahan melangkah masuk dan mendekati Qila yang cepat-cepat berdiri.
"Ka-kak Keyra? Ke-kenapa bisa ada di sini-"
'Pluk'
Qila terdiam sesaat mendapat pelukan dari saudara kembar suaminya itu. Ia pun memaksa Keyra melepaskannya tetapi Keyra memeluknya erat. Begitu erat seperti tidak mau melepaskannya. Tentu ada sedikit rasa rindu terdalam di hati Keyra dan rasa kasihan melihat Qila mengasingkan dirinya.
"Alhamdulillah, kamu baik-baik saja di sini, Qila. Kami semua sudah lama mencarimu. Hampir sebulan ini aku mencemaskan kamu tahu, sekarang bagaimana kalau kita pulang?" Tatap Keyra dengan tatapan yang sudah berkaca-kaca.
"Qila, aku tahu kamu selama ini sakit hati karena Aidan, tapi sekarang Aidan udah gak seperti itu lagi. Dia sekarang udah menyesal dan berjanji gak akan buat kamu begini. Dan lagi, coba pikirkan masa depan Aiko dan Aila, pikirkan kebahagian anak-anak mu, Qila. Mereka masih kecil dan butuh kasih sayang dari ayah kandungnya," bujuk Keyra sudah lama menyiapkan kata-kata itu.
Qila berpaling muka. "Butuh kasih sayang? Sedangkan Kak Aidan sendiri pernah bilang dia gak butuh Aiko dan Aila lahir ke dunia ini. Bahkan dia sendiri pernah mau membunuh ku." Kata Qila tidak sengaja meneteskan air mata di depan Keyra yang cukup terkejut mendengar ungkapan itu.
"Qila!" Keyra menggenggam kedua tangan Qila lalu serius menatapnya lagi. "Aidan itu emang juara nomor satu di pelajaran sekolah, tapi aku akui dia lebih bodoh memahami perasaan orang. Dia lebih idiot dari Alpha dan sangat tak berguna dibandingkan kebodohan Papa ku yang juga suka menyia-nyiakan istrinya sendiri." Kata Keyra sekalian mengeluarkan unek-unek kekesalannya terhadap Aidan dan Rayden yang kurang perhatian kepada pasangannya masing-masing.
Bik Inah yang mendengarkan di belakang, sedikit tertawa. Apalagi Qila tidak sengaja ikut tertawa, humornya cukup tipis bukan? Tetapi itu membuat Keyra senang melihat adik iparnya itu tidak bersedih.
"Qila, kamu juga harus tahu, Ibuku sudah tahu hal ini dan gak masalah soal pernikahan mu dengan Aidan. Ibuku juga malah senang punya cucu darimu. Jadi kamu gak usah khawatir ya." Hibur Keyra. Qila menunduk dan mengepal tangan. Ia bimbang harus percaya atau tidak.
Sekarang Bram tidak akan pulang, maka artinya Qila cuma bisa mengurus Aiko dan Aila sendirian. Karena bingung harus bagaimana, antara mau tidak mau, Qila terpaksa mengangguk saja. Keyra melompat girang dan memeluk Qila lagi.
"Syukurlah, kamu sudah mau kembali."
Qila hanya tersenyum kecil lalu bertanya, "Kak Keyra ke sini pakai apa?" tanya Qila sambil berjalan ke kamarnya untuk menunjukkan Aiko dan Aila pada Keyra.
"Oh itu, tentu saja pakai motor selama empat jam, haha," jawab Keyra tertawa dan menepuk bahu Qila.
"Hahaha, lama sekali ya, tapi kenapa Kak Keyra cuma sendirian ke sini? Terus dapat dari mana alamat ini?" tanya Qila ikutan tertawa saja. Keyra berhenti di depan kamar Qila. Menjelaskan kalau dia dapat dari bantuan video dan juga bantuan dari Rayden yang berhasil menelusuri di mana lokasi Qila berada sehingga saat mendapat lokasinya, Keyra duluan mengebut ke tempat itu, sedangkan Wira, Hana dan Arum masih di perjalanan ke tempat mereka.
"Qila, kamu jangan takut, Ibuku gak akan marah kok," ucap Keyra mengelus lengan Qila kemudian masuk ke dalam kamar. "Kyaaaaa.... lucunya kalian!" pekik Keyra naik ke ranjang dan melihat wajah menggemaskan dua bayi itu yang suka menendang-nendang apa saja di dekatnya.
"Udah lama gak liat kalian, tapi sekarang udah gede. Kayaknya Mami kalian ini emang pinter banget ngurus kalian, gak kayak Papi bodoh kalian yang dulu bodoh dan salah mengejar cinta. Harusnya yang dicintai itu Mami kalian," cerocos Keyra sambil mentoel-toel pipi Aiko dan Aila yang empuk. Bik Inah dan Qila saling pandang dan menahan tawa. Tiba-tiba suara tangisan Aila pecah membuat Keyra panik ketulungan.
"Owekhhh! Owekhh!"
"Maaf, Kak, sini berikan padaku, sepertinya dia mau susu dulu," ucap Qila mengambil bayi perempuan bawelnya itu.
"Baiklah, ini ambil." Keyra memberikannya dan sangat serius memperhatikan Qila menyusui bayi. Membuatnya greget sendiri melihat mulut Aila menyedot dada Qila yang lebih besar dari sebelumnya. Sedangkan Bik Inah keluar menyiapkan jamuan untuk Keyra.
"Oh ya, Qila, laki-laki yang bersamamu itu, di mana sekarang?" tanya Keyra tiba-tiba.
"Gak tau," ucap Qila menunduk.
"Loh, kenapa? Bukannya selama ini dia bersamamu?"
Qila melihat Keyra lalu memberikan surat Bram. Keyra pun membaca isi pesan itu dan paham kalau Bram tidak akan kembali padanya. 'Aneh, orang ini sepertinya sudah tahu kalau aku akan ke sini, jadi dia pergi duluan sebelum aku melihatnya.' Batin Keyra kemudian membalikkan suara itu. Seketika ia diam saat matanya menangkap sebuah nama yang memang tidak dilihat Qila. Mungkin Bram salah tulis, tapi ini sebuah keanehan yang rumit dipahami olehnya.
"From Aidan."
"Hmm, ada apa, Kak?" tanya Qila sedikit mendengar Keyra menyebut nama suaminya.
"Haha, gak apa-apa. Kamu lanjut saja menyusui Aila." Kata Keyra menyimpan surat itu ke dalam sakunya.
'Apakah mungkin memang ada orang yang bisa ke masa lalu?' pikir Keyra tiba-tiba teringat sama mesin waktu ayahnya karena dari cerita Rayden tentang Bram, pria itu seperti tahu segala hal sebelum itu terjadi. Contohnya, ia tahu ada yang mau membunuh Qila dan sama seperti Black yang tahu keberadaan Qila ada pada Bram.
'Tapi anehnya, apa hubungan mereka sama Qila?' Keyra berpikir cukup keras tapi tetap saja tidak mengerti. Apalagi soal time travel adalah cara kerja yang rumit dipahami kecuali Bram yang kini sedang menuju ke tempat Rayden berada. Sedangkan Aidan sudah tiba dari tadi di sana dan sedang menunggu ayahnya keluar dari ruang rapat karena beberapa ilmuwan sudah sepakat untuk menghentikan uji coba itu daripada menukar nyawa mereka menciptakan mesin pembunuh itu.
"Pa," panggil Aidan menghampiri Rayden yang keluar.
"Oh, kenapa kau ada di sini? Bukannya kau ikut bersama Ibumu ke tempat Qila? Jangan-jangan sebenarnya kau masih tidak menyukai istrimu?" ucap Rayden sinis.
"Tenanglah, Pa. Aku juga ingin ke sana, tapi ada yang mau aku berikan pada Papa dulu,"
"Hmm, apa itu?" tanya Rayden.
"Ini bacalah, Pa. Aku sudah menulis beberapa saran dan informasi baru di sini," ucap Aidan memberi berkasnya.
Rayden mulai membaca setiap baris. Netranya bergerak begitu cepat dan hanya beberapa detik, ia selesai membaca.
"Jadi karena ada Black ini, kau mau Papa pindah kan mesin itu?" tanya Rayden memastikannya.
"Yah, Pa. Mesin itu harus disembunyikan ke tempat lain sebelum orang itu mencurinya,"
"Hmm, baiklah, Papa akan menyuruh seseorang menyiapkan tempat yang tidak akan diketahui orang." Rayden menelpon sekretarisnya, namun kontaknya mati.
"Kenapa, Pa?" tanya Aidan.
"Sepertinya sekretaris Papa sibuk di kantor, kalau begini, Papa sendiri yang akan memindahkannya," ucap Rayden menyuruh beberapa anak buahnya menyiapkan mobil. Setelah itu Rayden menuju ke sebuah ruangan.
"Apa yang mau Papa lakukan di sini?" tanya Aidan yang ikut masuk. Rayden menunjuk ke sebuah tabung berisi senjata hasil data dadu yang Rayden duplikat dari sumber dadu milik Bram.
"Aidan, perhatikan baik-baik ini, jika datanya sudah selesai dibentuk, Papa mau kamu mencoba sebera hebatnya senjata ini digunakan. Apakah ini sama dengan benda itu atau tidak." Tunjuk Rayden ke senjata milik Bram yang sedang dalam proses perbaikan.
"Baik, Pa." Angguk Aidan mengerti. Rayden pun keluar menuju ke ruang mesin waktunya untuk bersiap memindahkannya ke tempat lain bersama bantuan anak buahnya. Sibuk mengurus mesin itu, anak buah dan satu ilmuwan yang menjaga mobil itu tiba-tiba ditumbangkan oleh seseorang tanpa mereka sadari.
Mereka ambruk usai mendapat tembakan berupa jarum di leher mereka. Seseorang pun mendekati mobil itu dan tersenyum menyeringai. Ia memungut tanda pengenal ilmuwan itu dan juga jasnya. Masuk berpura-pura sebagai ilmuwan. Dengan itu, ia mudah mengelabui penjaga dan kini menuju ke ruang mesin waktu berada sambil menyiapkan senjata dadunya di dalam saku. Siapa yang mencoba menghalangi, akan mati di tangannya. Tetapi ada saja satu orang yang mencurigainya. Tanpa ba-bi-bu, Black mengeluarkan dadu dan seketika menyerangnya dengan menusuk jantungnya.
"HEI!! PENYUSUP!!" Teriak lima gangster itu syok melihat rekan mereka ditusuk sampai tembus ke belakang dan menyemburkan darah segar dimana-mana.
Black mendorong tubuh korban pertamanya dan maju dengan gila menyerang lima gangster itu.
SREEKKK'
SREEKKK'
Hanya beberapa ayunan saja, senjata itu menebas lima gangster itu hingga ambruk bersimbah darah.
"Hahaha....hahahha...." tawa Black menggila. Membuat kelompok gangster menyadarinya dan segera mengejar Black. Tidak lupa mereka menyalakan sirena darurat sehingga Aidan dapat mendengar tanda bahaya sedang terjadi.