
Sudah dua minggu berlalu, Qila belum ditemukan. Hingga akhirnya Rayden dan Wira masing - masing memerintahkan anak buah mereka menyebar ke luar kota. Raiqa pun juga sama halnya masih belum sadar dari koma.
"Om Bram! Om Bram!" Qila di depan pintu kamar, ia mengetuk dan memanggilnya. Tetapi di dalam kamar tidak ada siapa-siapa.
"Om Bram kemana ya?" Qila mondar mandir di depan kamar karena ada sesuatu yang mau ia tanyakan sekarang soal foto yang ia dapatkan dari dompet Bram. Karena sibuk akhir-akhir ini, ia lupa menanyakan siapa foto itu.
"Duh, dari pagi Om Bram gak pernah kelihatan, kemana ya dia?" gumam Qila lalu kembali ke kamarnya dan melihat Aiko dan Aila sudah lincah tengkurap. Bulan ini bayi kembarnya tidak lama lagi berusia 5 bulan. Rasanya waktu begitu cepat berlalu.
Tiba-tiba ada yang menekan bel begitu keras. Qila pun cepat-cepat pergi melihatnya. Setelah membuka pintu, ia pikir itu Bram tapi ternyata seorang wanita paruh baya.
"Permisi, Nona," sapanya ramah sambil tersenyum.
"Ya, Bik, ada apa datang ke sini?" tanya Qila balas tersenyum.
"Begini Nona, saya ke sini karena dipekerjakan oleh Pak Bram," kata wanita tua itu.
"Sebagai apa ya, Bik?" tanya Qila sedikit ragu menyuruhnya masuk. Tiba-tiba seseorang menyahut.
"Dia bekerja sebagai pengasuh untuk anak mu." Bram datang membawa kereta dorong yang baru.
"Ehhh, Om Bram, dari mana saja?" tanya Qila.
"Itu, seharian ini aku mencari seseorang yang bisa menjaga anak mu dan sekalian juga membeli ini," ucap Bram masuk.
"Mari, Bik, masuk sini," ajak Bram pada wanita itu.
"Tapi Om, aku kan bisa jaga sendiri, gak perlu repot-repot sewa pengasuh," ucap Qila. Bram berhenti di dekatnya lalu menjelaskan alasannya membawa wanita itu.
"Qila, memang kamu bisa menjaga mereka, tapi kamu juga harus ingat, kamu perlu meluangkan waktu untuk belajar, karena bulan depan, kamu mulai masuk sekolah, jadi Om sewa Bik Inah menjadi pengasuh di rumah ini sementara, dan lagipula dua hari nanti, Om mau pergi menyelesaikan tugas." Tutur Bram berniat kembali ke kota sendirian untuk mencuri atau mencegah Black, karena ia percaya kalau Black saat ini sudah siap ke tempat mesin waktu itu disembunyikan.
Apalagi dari ingatannya di masa lalu, dirinya saat ini telah mendapat izin dari Rayden dan kini berada di tempat rahasia itu untuk melihat pertama kalinya Rayden melakukan uji coba pada mesin itu. Tapi setelah berkali-kali dicoba, tetap hasilnya sangat buruk dan bahkan mengerikan karena buah apel segar yang dijadikan objeknya menjadi busuk. Bisa disimpulkan, apel itu berhasil berpindah waktu ke masa depan dengan jarak yang sudah ditentukan, tetapi apel itu berakhir membusuk. Jadi masih bahaya untuk dicoba kepada manusia yang mungkin bisa beresiko kematian atau cacat, seperti dampak kecil yang sudah terjadi pada Evan dan dirinya.
"Begitu ya, ternyata Om mau pergi," lirih Qila lesu.
Bram menepuk bahu Qila dan tersenyum. "Gak usah sedih, Om cuma sebentar di sana."
"Woahhh, serius Om?" Qila melongo kaget.
"Serius lah, Qila!" Kata Bram lalu memberi tiket festival meriah itu kepada Qila.
"Yeahh, Om Bram emang best banget! Terima kasih, Om!" Qila melompat girang dan memeluknya kemudian segera lari ke kamarnya. Sekali lagi, ia melupakan foto itu. Bik Inah dalam hati sedikit tertawa melihat tingkah gadis 16 tahun itu.
"Apa dia istri dari anak-anak anda, Pak?" tanya Bik Inah tiba-tiba. Bram yang sedang menyegarkan tenggorokannya, ia langsung tersedak air putih.
"Uhuk....Uhuk... anda gak usah tanyakan itu, Bik," ucap Bram. Sebenarnya ia mau jujur, tapi takut dikira peedofiiil.
"Maaf, Pak. Kalau begitu, saya ke Nona Qila dulu, permisi." Bik Inah pergi ke kamar Qila, membantu gadis itu yang lagi menyiapkan keperluan Aiko dan Aila karena tentu sepasang malaikat kecilnya itu diajak pergi jalan-jalan bersama.
....
"OMMMMM! CEPETAN SINI! BURUAN, MUMPUNG ADA YANG KOSONG! KITA HARUS MENANGKAN HADIAHNYA!" teriak Qila yang tiba di sana. Tempat yang begitu banyak menyediakan permainan berhadiah. Semua orang yang hadir ke sana diam menikmati hiburan mereka, cuma Qila yang heboh sendirian. Bahkan ia lebih berisik dari Aiko dan Aila yang dijaga oleh Bik Inah yang berteduh di bawah tenda.
Bram pun menepuk jidat dan sedikit malu. Walau begitu, ia senang karena teringat pada istrinya yang dulu juga begitu saat hamil anak ketiga mereka. Selalu meminta apapun dengan alasan ngidam. Saat itu adalah hari yang merepotkan tapi menyenangkan baginya menuruti semua keinginannya. Apalagi sifat Aila di masa depan 11 12 mirip dengan Ibunya itu. Sama-sama membuat kericuhan.
"OM, CEPAT SINI!" teriak Qila berhenti di permainan lempar anak panah dengan beragam hadiah yang unik.
Daripada gadis itu teriak-teriak terus, Bram segera menuju ke sana. "Om, ambil ini terus bidik tanda bulat di papan itu!"
"Om harus kena itu yaaaaa!"
"Ya iya, gak usah bawel, sini... kamu berdiri di samping Om dan diam di sini terus berhenti bergerak!" kata Bram menarik pinggang Qila karena ada beberapa anak remaja tampan yang tiba-tiba mendekatinya.
"Apa lihat-lihat? Mau nantang saya?!" Tatap Bram melotot kan matanya pada mereka. Kelompok remaja itu pergi dan kecewa sudah gagal menggoda Qila, yang tampak gadis itu menahan tawa melihat ekspresi Bram yang marah. Sepertinya, suami masa depannya itu cemburu kalau ada cowok lain yang mendekati Qila.
'Apakah Om Bram tadi cemburu?' pikir Qila tanpa sadar Bram telah menyelesaikan permainan hanya beberapa detik saja.
.
Ya pastilah, Bram itukan suami kamu, Qilađ¤hiii