
Usai bereskan pecahan kaca itu, Qila mengambil Aiko di atas meja. Jalan ke kamar sambil melihat Aidan yang kembali mengacuhkannya. Qila pun masuk ke kamar, meletakkan bayi laki-lakinya di sebelah Aila. Ingin mengganti popok bayi itu tetapi pampers yang dibeli kemarin rupanya sudah habis.
Qila pun membawa Aiko menghampiri Aidan, ingin menyuruh cowok itu keluar membeli popok baru. Tapi langkahnya berhenti di dekat lemari saat mendengar obrolan Aidan dengan seseorang. Terdengar Aidan sengaja mengaktifkan loundspeaker.
Qila menunduk dan menatap lantai. Mendengarkan Hana dengan manja meminta bantuan kepada Aidan untuk mengajarinya beberapa olahraga tentang basket dan yang lainnya.
"Kak Aidan ..." lirih Qila berdiri di dekatnya.
Aidan pun membisu kan panggilan dan mendongak. "Apa?"
"Itu, popok habis, kamu bisa keluar beli gak, Kak?" tanya Qila.
"Itu kan popok anakmu, kamu pergi beli sendiri lah dan jangan ganggu aku," tolak Aidan lalu kembali bicara pada Hana.
"Ta-tapi, aku belum-" ucap Qila ingin mengisi perutnya yang lapar.
"Qila! Kamu gak bisa lihat atau emang lagi buta ya? Ini aku lagi sibuk! Urus saja popok anakmu itu sendiri, gak usah manja deh!" bentak Aidan marah dan untung ia sudah membisu kan panggilannya lagi.
"Sini, berikan Aiko padaku, biar aku yang jaga." Aidan mengambil paksa Aiko kemudian pergi menjauhi Qila dan lanjut mengobrol dengan Hana.
Qila pun dengan embun di matanya, ia terpaksa keluar dan menahan laparnya sejenak. Langkah gadis itu kini mendekati toko swalayan yang lumayan jauh. Qila masuk dan memilih popok dengan ukuran yang sesuai bayi kembarnya. Orang-orang di sana tampak memperhatikan. Tentu siapa yang penasaran jika melihat wajah Qila yang sendu. Tetapi Qila tetap mengabaikan tatapan kasihan mereka.
Saat ia mengambil dua set popok, orang yang berdiri di sebelahnya terkejut mendengar suara perut Qila yang besar. Tentu saja ia yang dari pagi belum mengisi perutnya.
"Ma-maaf, Bu." Qila segera pergi dan sangat merasa malu. Sontak saja, ia berhenti tatkala melihat cemilan enak di depannya. Qila ingin sekali mengambil sedikit tetapi ia teringat Aiko dan Aila. Rasa takutnya muncul karena Aidan mungkin saja tidak mengurus anaknya dengan baik di sana dan lebih asik bicara pada Hana.
Sampai di depan kasir, Qila merogoh sakunya untuk segera membayar popok, tapi isinya kosong.
"Hmm, kenapa, Dek? Apa ada yang jatuh?" tanya Mba kasir.
'Duh, mana ya uangnya? Apa ketinggalan?' pikir Qila panik.
"Dek, lagi cari apa?" tanya Mba itu lagi.
"Duh, gimana nih?" Qila sadar lupa bawa uang dan juga kartu atmnya.
"Maaf, Mba, bisa gak saya utang dulu? Nanti saya balik ke sini kok," ucap Qila tidak bisa pulang.
"Aduh, maaf ya dek, gak bisa," tolak Mba itu takut kena masalah. Qila pun merogoh sakunya yang lain, berniat menghubungi Ibunya tapi hapenya juga ketinggalan.
'Duhh, apa aku harus pulang lagi?' batin Qila bergeser dan membiarkan kasir melayani orang lain dulu. Gadis itu masih berdiri di tempatnya sambil menelan ludah melihat anak kecil makan es krim dan datang bersama kedua orang tuanya membuat Qila merasa sedih tapi juga terhibur.
"Hei, Dek, popoknya gimana? Jadi dibeli?" panggil Mba kasir yang selesai melayani semua konsumen.
Qila pun mendekat sambil menunduk. Merem4s ujung bajunya dan menjawab, "Itu Mba, apa saya boleh pinjam uangnya dulu? Saya lupa bawa uang tadi, tapi Mba gak usah cemas, saya bakal balik kok ke sini lagi," ucap Qila berharap hanya ini cara yang bisa dia gunakan.
Mba kasir itu sedikit ragu, apalagi melihat Qila yang lusuh di depannya tampak tidak menyakinkan dan ia juga tidak mengenali Qila. Terutama perut Qila terus berbunyi dan membuat kasir yang lain sedikit risih mendengarnya.
"Hei, Dek. Kalau awalnya mau ngutang, gak usah ke sini, pergi sana ke pinggir jalan." Sahut pembeli di sampingnya dengan tatapan sombong.
"Mba, biar saya yang bayar, jadi tolong bungkus popok itu," ucap Bram dan menengok Qila. Tersenyum pada gadis itu yang tersentuh mendapat pertolongan lagi darinya.
"Om..." Lirih Qila mengusap air matanya dan balas tersenyum. Bram pun mengajak Qila makan setelah membayar popoknya.
"Terima kasih, Om. Nanti habis antar ini, Qila gantiin uang Om," ucap Qila duduk di bangku milik penjual bakso.
"Gak usah, Om ikhlas kok bayar popoknya dan bakso ini," tolak Bram duduk di depan Qila sambil menerima dua mangkuk bakso sapi dan tidak lupa bercanda tawa.
"Terima kasih, Om." Senyum Qila senang.
"Ya udah, jangan cuma dilihatin, dimakan tuh bakso. Nanti Om yang antar kamu pulang," kata Bram makan duluan.
"Baik, Om." Angguk Qila dan diam-diam melirik Bram yang selalu ada dikala dirinya kesusahan dan tampak tahu ia belum makan seharian. Pria yang juga selalu tahu dimana keberadaannya.
"Lho, kenapa nangis? Sambalnya kepedasan?" tanya Bram kaget.
"Om ..." lirih Qila menunduk.
"Hmm, apa? Mau tambah kuah? Atau lombok kuahnya di sini pedas? Jadi kamu gak bisa makan?" tanya Bram perhatian.
"Aku nangis karena senang bisa lihat Om masih ada di sini. Aku sempat takut, Om benar-benar akan pergi setelah Qila menikah," jawab Qila sesenggukan.
"Duh, jangan nangis dong, ntar orang-orang kira Om udah ngapa-ngapain kamu, Qila," kata Bram panik dan memberi beberapa lembar tissu.
"Tapi, jujur saja, aku senang bisa ketemu Om hari ini,"
"Ya-iya, Om juga senang bisa makan sama kamu, jadi jangan nangis ya, kalau mau cerita sesuatu, nanti Om akan dengar nanti, sekarang dihabiskan dulu baksonya," kata Bram menenangkannya. Masih terlihat mental gadis itu belum stabil.
"Ba-baik, Om." Senyum Qila dan menghapus air matanya kemudian lanjut makan. Sedangkan Bram merasa kasihan melihat gadis itu seperti tersiksa dengan statusnya sekarang.
'Kalau saja aku bisa menikahi mu, aku pasti sudah membawamu pergi jauh, Qila.' Batin Bram tahu, sangat tahu bagaimana perasaan Qila saat ini. Gadis lugu yang ingin dicintai dan diperhatikan oleh orang-orang terdekatnya, terutama kasih sayang dari keluarganya dan Daddy dari twinsnya. Keteguhan cintanya ini menyiksa batinnya sendiri.
"Om, apa aku boleh cerai?" tanya Qila tiba-tiba mengagetkan Bram yang kini bersiap mengantarnya pulang.
"Jangan! Kalau kalian cerai, kasihan nanti sama nasib anak-anak kalian," ucap Bram menolak keinginan Qila.
"Ta-tapi, Kak Aidan ...."
"Shhhtt, tidak usah pikirkan apa yang dia lakukan, yang perlu kamu pikirkan sekarang adalah sekolah dan anak-anakmu, abaikan cowok itu dan abaikan semua omongannya, dan kalau ada sesuatu yang kamu butuhkan, katakan saja pada Om, biar Om yang penuhi keinginanmu," kata Bram tersenyum.
Qila menunduk dan menahan isak tangisnya. "Kalau begitu, apa aku boleh memeluk, Om?"
Bram terkejut gadis itu maju memeluknya di depan umum. Kedua tangannya ingin mendorong Qila tapi karena menangis, Bram biarkan saja dan hanya menepuk punggung gadis itu yang sebenarnya ingin dipeluk oleh Wira. Ayahnya yang kecewa dan juga tidak menginginkannya pulang ke rumah. Sehingga hanya Aidan tempat untuknya dan kedua bayinya pulang meskipun dirinya sekalipun tidak dianggap ada.
.
Jahat kamu Aidan🥺Istri montok cantik plus baik dan perhatian gitu disia-siakan😤gak baik tau dendam sama istri sendiri😟awas, kalau Qila udah direbut orang lain, kamu bakal nyesel gimana rasanya kehilangan itu🤧