Little Twin'S Daddy

Little Twin'S Daddy
58. Bersabar



"Heh, Len! Gimana? Apa lu udah nemuin bayi itu?" tanya Keyra di samping rekannya yang sedang mengontrol drone untuk mengintai markas mafia Rayzard milik Rayden karena Ibu pengurus panti asuhan mengatakan jika Aiko dan Aila dibawa oleh seseorang yang tidak lain adalah sekretaris Rayden yang dimintai oleh atasannya untuk membawa cucunya ke tempat itu.


"Sabar, Key! Gue juga berusaha gimana caranya masuk ke area markas bokap lu. Coba lu liat sendiri, ada banyak gangster yang berjaga-jaga di luar sana." Menunjuk dari layar visual di depannya.


"Btw, kenapa lu gak masuk aja ambil tuh bayi?" Bertanya kepada Keyra yang memikirkan alasan mengapa bayi itu dibawa masuk ke sana.


'Apakah mungkin bayi yang dijaga Aidan itu adalah anak dari musuhnya Papa?' pikir Keyra kagum ayahnya memang selalu sigap mencari info musuh-musuhnya.


"Hei, Key! Lu mikir apaan sih?" Senggolnya dan bertanya.


"Ehh, itu, dari tadi gue nunggu pesan dari Evan, tapi sampai sekarang belum ada balasan darinya," ucap Keyra yang kebetulan tadi sore bertemu Evan di jalan sehingga ia mengatakan pada cowok itu bahwa bayi titipan mereka dibawa pergi sang sekretaris. Oleh karena itu, Keyra menyuruh Evan pergi ke rumah sakit menemui Raiqa atau Aidan untuk memberitahukan hal ini juga, sebab entah kenapa kontak dua cowok itu tidak bisa dihubungi.


"Ishh, kemana sih tuh cowok?" desis Keyra dan ingin masuk ke dalam sana tapi ia pasti akan dilarang masuk meskipun ia anak dari Bos mereka. Tiba-tiba dua gadis yang bersembunyi di semak-semak itu terkejut hebat mendengar suara helikopter sedang mendarat. Dua mata mereka pun melebar melihat seseorang keluar dari sana.


"Hei, Nona Key! Itu kan bokap, lu!" Keyra segera mendorong temannya itu bersembunyi tatkala ada satu gangster yang nyaris melihat mereka. Ketika sekitarnya sudah aman, mereka pun kembali melihat layar dronenya yang memperlihatkan Rayden tiba di markas itu lebih cepat menggunakan helikopter yang khusus datang menjemputnya di kota lain tadi dan kini dua bayi di tangan sekretaris itu membuat Rayden tercengang.


"Bos, seperti yang anda lihat, bayi ini mirip yang ada di foto dan sesuai penyelidikan yang kami lakukan, Tuan Aidan menitipkannya ke sebuah panti asuhan dengan alasan agar ada yang menjaganya di waktu sekolah berlangsung," tutur sekretaris itu.


"Saya mengambilnya sebelum Aidan datang ke sana," lanjutnya lebih jelas.


"Bagus, sekarang bawa ke dalam dan suruh seseorang datang memeriksa kesehatannya," titah Rayden sambil mengelus ubun-ubun dua cucunya yang terlelap dengan sangat menggemaskan.


Sekretaris itu tertegun sejenak melihat Bosnya tersenyum tidak seperti biasanya. Aura yang dipancarkan Rayden terlihat seperti sosok yang berjiwa lembut. Tentu dalam hati Rayden, dia senang punya cucu secepat itu apalagi langsung jadi dua.


"Baik, Bos." Angguk sekretaris itu masuk. Sedangkan Keyra mengernyit heran melihat ayahnya yang sempat tersenyum tapi kini Rayden dengan sangat sadar mendongak ke atas tempat Drone transparan milik Alena berada. Memiliki kepekaan terhadap sekitarnya memang berbahaya. Tapi itulah Rayden, dia dengan mudah dapat mengenalinya.


"Ah sial, kita sepertinya ketahuan, Key!" ujar Alena cepat-cepat menarik dronenya menjauh dari sana.


"Lho, Key! Ngapain lu ke situ?" tanya Alena sambil memasukkan dronenya ke dalam tas kemudian menghampiri Keyra yang sibuk mengetik sesuatu ke hapenya.


"Gue lagi coba hubungi Aidan, tapi nomornya gak aktif mulu! Gue juga lagi coba hubungi Evan dan Raiqa tapi kontak mereka juga gak aktif, Len," ucap Keyra merasa senyum ayahnya itu aneh dan berpikir bayi itu dalam bahaya.


"Ya udah, lu kirim pesan ke nomornya aja, terus kita pulang sekarang. Perasaan gue udah gak enak nih, Key."


"Iya, gue udah kirim pesan daritadi, sekarang kita tetap di sini tunggu Aidan," ucap Keyra duduk di dekat pohon.


"Lha? Lu serius nunggu di sini?"


"Hmm, iya. Daripada pulang, mending kita di sini dulu. Aku penasaran banget apa yang sebenarnya terjadi," ucap Keyra kemudian memberi sepotong rotinya.


"Nih, kita makan ini dulu. Setelah urusan kita di sini selesai, nanti gue traktir lu makan bakso di warung sana," lanjutnya tersenyum.


"Baiklah, gue nurut aja." Angguk Alena duduk di dekat Keyra yang menunggu balasan dari Aidan yang tampak cowok itu baru tiba di rumah Raiqa.


Melihat Aidan ragu membangunkan Qila, Pak supir pun berbicara pandanya. "Hei, Dek, daripada kamu terus menepuk seperti itu, lebih baik kamu mengangkatnya keluar. Pacarmu tampak lelah dan tidak baik jika dia bangun dengan cara seperti itu," ucap supir membuat Aidan terlonjat.


"Ehh, dia bukan pacar saya, Pak. Dia cuma adik teman saya," ucap Aidan terbata-bata dan agak malu mendengarnya. Ia pun membuka pintu kemudian mengangkat Qila. Tidak lupa menenteng dua tas sekalian di pundaknya.


"Hana," panggil Aidan. Hana yang menonton tv di ruang keluarga pun bergegas turun setelah mendengar pintu diketuk dan bel ditekan berulang kali.


"Ehh, Bang Aidan?" Kaget Hana melihat cowok itu pulang bersama Qila. Aidan tanpa bicara langsung masuk dan menuju ke kamar Qila berada. Kemudian dengan hati-hati menidurkannya dan tidak lupa menyelimuti Qila. Setelah itu, Aidan menghubungi Dokter pribadi keluarganya untuk datang memeriksa Qila kembali.


"Baik, Tuan muda. Saya secepatnya datang ke sana." Terdengar panggilan berakhir. Aidan pun seketika terkejut melihat ada banyak riwayat panggil dari Keyra dan juga pesan singkat yang isinya sama.


Dua mata birunya membulat setelah membaca isi pesan itu.


"Bang Ai ..." lirih Hana ingin bicara tapi Aidan lebih duluan berbicara padanya.


"Hana, aku harus pergi sekarang, kamu tolong jaga Qila, dia sedang sakit. Tapi kamu tidak usah cemas, Dokter keluarga ku ada datang ke sini dan Raiqa mungkin juga sedang dalam perjalanan pulang,"


"Dan lagi, sebaiknya kamu kompres Qila supaya suhu tubuhnya tidak naik." Kata Aidan kemudian pergi ke tempat markas ayahnya menggunakan taksi tadi.


"Aihhh, ditinggal lagi! Padahal aku mau bertanya tentang kencan yang aku tawarkan dulu, cih," decit Hana lalu memandangi Qila yang menggeliat dan gelisah.


"Tau ah, mending lanjut nonton." Karena bete, Hana tidak mengerjakan apa yang disuruh Aidan. Membiarkan Qila begitu saja di kamar.


Tapi lama-lama, karena bosan menonton sendirian dan menunggu Dokter, gadis itu masuk ke kamar Qila membawa setengah ember air hangat dan satu handuk tipis. Mengkompres kening Qila yang dipenuhi keringat dingin. Perlahan Qila pun membuka mata, ia terkejut melihat Hana ada di sampingnya.


"Kak Hana... apa aku udah ada di rumah?" tanya Qila lirih.


"Hmm, barusan Aidan yang bawa kamu pulang," jawab Hana ketus.


"Kenapa sih kamu bisa sakit? Kamu sengaja kan supaya aku kena marah Mama dan Papa besok?" cetus Hana merem4s handuk itu dan menaruhnya lagi ke dahi Qila.


"Oh atau kamu sengaja caper kan di depan Aidan?" Tatap Hana risih dipandang oleh saudara kembarnya.


"Ng-nggak, aku sakit karena capek," ucap Qila jujur.


"Makanya, gak usah begadang!" ujar Hana berdiri.


"Ta-tapi kalau gak begadang, aku gak punya waktu belajar," ucap Qila mengepal tangan melihat cara bicara Hana yang sombong.


"Ck, kalau begitu gak usah belajar!"


"Lihat, ujung-ujungnya kamu cuma bikin aku repot. Hasil belajarmu juga gak begitu banyak. Sekarang tidurlah dan gak usah lagi berpikir kamu bisa menang dari ku!" Kata Hana ingin keluar tapi Qila beranjak duduk dan menangkap pergelangan tangan Hana.


"Ada apa? Kamu mau marah?" tanya Hana.


"Itu, apakah di luar masih ada Kak Aidan?" tanya Qila yang sebenarnya ingin marah tapi berusaha ditahan. Lebih baik diam daripada menimbulkan pertengkaran nanti.


"Gak ada, dia udah pulang ke apartemennya." Hana lalu keluar dari kamar ketika mendengar suara mobil milik Dokter di luar. Qila pun menunduk sedih, mau dia sehat atau sakit, Hana masih memandangnya sebelah mata. Rasanya dia ingin menangis tapi karena ada Dokter, air matanya tidak bisa keluar sekarang. Yang hanya bisa dilakukan hanya lah bersabar. Sedangkan Aidan, cowok itu yang telah sampai di depan markas Rayzard.