Little Twin'S Daddy

Little Twin'S Daddy
90. Gara-Gara KTP



Sudah empat jam berlalu, Aidan di ruang kerjanya tampak lesu di mejanya. Karena capek, cowok itu pun terpaksa tidur dulu. Tiba-tiba, seseorang masuk, ia adalah Rayden yang datang ingin melihat kinerja anaknya itu. Tetapi Aidan cuma menyelesaikan sedikit saja dan masih banyak data yang belum dicocokkan.


Rayden lalu mengambil semua yang ada di atas meja Aidan. Sebelum keluar dari sana, ia mengelus kepala Aidan. Dalam hatinya, ia senang dan juga sudah memaafkannya, hanya saja Rayden belum bisa mengatakan itu karena cemas Aidan kembali mengecewakan dirinya. Takutnya setelah mendapat maaf darinya, Aidan akan bermalas-malasan lagi.


Rayden pun keluar dari sana, dan melanjutkannya sendiri. Memperbaiki agar bisa secepatnya diuji coba. Tampaknya Rayden juga berniat membuat satu salinan benda aneh itu. Rayden akui kalau benda itu lebih canggih dari hasil buatan miliknya yang lain. Ia pun mulai mengerjakannya sambil menunggu laporan dari anak buahnya yang sedang mengamankan mesin waktunya.


....


Jam delapan malam, Aidan membuka matanya yang berkabut dan merasa kepalanya begitu sakit.


"Aidan...." Seseorang memanggil namanya. Aidan menoleh dan melihat Ibunya duduk di sebelahnya.


"Mama.... kok ada di sini?" tanya Aidan heran.


"Aidan, jangan terlalu banyak gerak, Nak. Kamu lagi sakit sekarang," ucap Arum menyandarkan Aidan ke tumpukan bantal di belakangnya.


"Ehh, sakit? Kenapa tiba-tiba sakit? Terus siapa yang bawa Aidan pulang ke rumah?" tanya Aidan sadar dirinya berada di dalam kamarnya.


"Papa yang bawa kamu pulang," sahut Keyra yang berdiri di dekat jendela.


"Papa? Tunggu deh, tadi aku dipaksa selesain tugas di sana, kenapa-"


"Auhh, pusing," lirih Aidan memegang kepalanya yang berdenyut dan merasa rumah berputar-putar.


"Aidan, kamu istirahat dulu, nanti saja pikirkan itu," ucap Arum membaringkan Aidan kembali lalu memberinya obat.


"Nih, minum obat mu dulu," 


"Baik, makasih, Mah." Aidan pun menelan obatnya. Setelah minum obat, Arum menyelimutinya.


"Sekarang Mama mau bikinin kamu bubur. Kalau mau sesuatu, minta ke Keyra," ucap Arum menunjuk Keyra.


"Baik, Ma." Angguk Aidan dan melirik Keyra yang disuruh menjaganya. Kini di kamar itu hanya ada Keyra dan ayah baby twins itu. 


"Hei, gimana? Lu udah tobat gak nih?" tanya Keyra.


"Tobat? Maksudnya?" tanya Aidan. Karena greget, Keyra mengambil bantal sofa kemudian melemparnya. Tapi Aidan menepisnya.


"Dasar kamvret! Maksud gue tobat dari kesalahan lu itu!" celetuk Keyra. Aidan pun duduk lagi kemudian melihat hapenya. "Ya, gue udah tobat."


"Ck, dari dulu kek." Decak Keyra.


"Lu kenapa sih? Dari kemarin marah mulu?" tanya Aidan. Keyra mendekatinya kemudian menimpuk Aidan lagi pakai bantal. "Ahhh, nyebelin deh! Hari ini ulang tahun gue yang ke 18 tahun, dodol!"


"Lah, berarti ulang tahu gue juga dong! Tapi masalahnya di mana sampai lu marah-marah gini?" tanya Aidan lagi dan lagi kepalanya ditimpuk bantal. Saudara lagi sakit, Keyra malah tambah menyiksanya.


"Ahhh, Keyra! Stop! Lu mau gue gegar otak?" Aidan menangkap bantal itu kemudian membuangnya jauh-jauh.


"Hei, dodol! Gue dari kemarin pengen rayainnya bareng Qila! Foto-foto bareng keponakan gue juga, terus bikin album kumpulan foto ultah gue! Tapi lu malah jahatin Qila! Emang lu ini gak punya hati. Rasakan sekarang, lu kena azab jadi sakit kayak gini!" oceh Keyra nunjuk-nunjuk.


"Dih, gak usah kutuk gue kali. Ini cuma sakit biasa! Lagian gue juga bakal minta maaf sama Qila! Sana lu, keluar dari kamar gue!" Usir Aidan balas marah dan berdiri.


"Sana! Sana! Gak usah jagain gue di sini!" Aidan mendorong-dorong Keyra sampai ke pintu kamarnya.


BAM!


"Ck, gue juga ogah jagain cowok gak peka kayak lu! Dasar dodol! Di luar aja ganteng, tapi di dalam cuma pecundang!" pekik Keyra di depan pintu kemudian masuk ke dalam kamarnya.


"Huft, sabar Aidan. Jangan ngamuk dulu. Biarkan saja bebek satu itu berkicau di sana." Aidan mengelus dada. Ia berusaha tenang tapi tiba-tiba lagi ada yang mengetuk pintu.


"Ck, gak perlu balik ke sini! Gue gak butuh dijagain sama lo!" teriak Aidan namun ia pun terlonjat kaget saat mendengar suara lain di balik pintu.


"Kak Aidan.... ini Hana yang datang," panggil Hana. Aidan pun cepat-cepat merapikan ranjangnya yang berantakan agar Hana tidak pikir aneh-aneh, ia pun kemudian membuka pintu lebar-lebar.


"Hana? Haha... aku pikir tadi itu Keyra, maaf ya kalau agak berisik. Tapi kenapa kamu datang ke sini?" tanya Aidan berjalan masuk dan duduk di tempat tidurnya.


Hana pun mendekati Aidan. "kata Tante Arum, Kak Aidan sakit, jadi aku ke sini ingin menjenguk mu, tapi sepertinya sekarang Kak Aidan sudah membaik ya," ucap Hana sedikit tersenyum.


"Hmm, iya, udah lumayan tapi masih pusing sih," balas Aidan tersenyum kaku.


"Ini aku mau kembalikan gelangnya,"


"Loh, kenapa?" tanya Aidan dan tampak tidak sadar di dekat pintu ada Keyra yang diam-diam mengintip.


"Aku udah tahu yang sebenarnya kalau Kak Aidan dan Qila sudah menikah, jadi aku rasa ini perlu dikembalikan saja. Sebaiknya, Kak Aidan berikan saja pada Qila," jawab Hana menaruh gelang itu di atas meja.


"Jadi begitu ya, kamu sudah tahu semua," ucap Aidan menghela nafas ringan kemudian melihat Hana.


"Maaf, ya Hana kalau dulu aku sering membuat mu risih,"


"Gak kok, Kak Aidan santai aja,"


"Sekarang waktunya makan malam sama Papa, aku pulang dulu," 


"Sebentar, Hana!" 


'Dih, mau apa lagi dia?' pikir Keyra.


"Kenapa, Kak?" tanya Hana berbalik.


"Emh itu, ku harap kamu tidak menyebarkan pernikahan kami ini dan maaf gara-gara aku, saudara mu koma dan hilang," ucap Aidan tulus minta maaf.


"Ya Kak, aku gak akan bocorkan kok, tenang aja," ucap Hana mengerti saja karena menyadari ada Keyra yang mengintip.


"Tunggu dulu, Hana!" Tahan Aidan kembali.


"Kenapa lagi, Kak?" tanya Hana.


"Itu, apa dulu kamu pernah jatuh dari wahana?" tanya Aidan.


'Astaga, lu masih gak percaya juga, Ai?' Keyra menepuk dahinya. Tidak habis pikir pada Aidan.


"Gak, aku gak pernah." Jawab Hana ingin jujur kalau Qila pernah jatuh gara-gara dia tapi takut cowok itu akan marah dan membencinya.


"Oh begitu, ya udah makasih sudah datang, Hana." 


"Sama-sama, Kak." Hana mengangguk dan segera pergi. Melewati Keyra begitu saja. Aidan pun menunduk, semakin menunduk dan kemudian mengacak rambutnya.


"Arghhh, harusnya dari dulu aku tanyakan ini pada dia! Sial, gara-gara mengutamakan perasaan ini, aku lupa dengan itu, arghhh."


Keyra ingin masuk tapi melihat Aidan yang bersedih di sana, ia pun mengurungkannya. Tidak mau mengganggu saudaranya yang lagi galau di sana. Sementara di rumah Bram, di waktu yang sama juga, Bram perlahan membuka matanya dan melihat dirinya berada di tempat tidur lain.


Ia pun beranjak duduk dan terkejut melihat dua bayi terlelap di sebelahnya. Bram pun semakin terkejut melihat di sisi baby twins ada Qila yang tertidur sambil menyandarkan kepalanya ke tepi ranjang. 


Bram menoleh dan mengernyit heran ada baskom dan handuk kering di atas meja. "Loh, siapa yang sakit? Apa itu aku?" gumam Bram lalu menyentuh dahinya dan ternyata memang dirinya yang sakit.


"Om... cepat sembuh ya, biar bisa main lagi sama Aiko dan Aila. Terus ajarin Qila main basket."


Bram menahan tawa melihat Qila di sana mengigau. Dia yang sakit, tapi gadis itu yang mengigau. Memang aneh istri kecil masa lalunya itu. 


"Ehh, loh, mana kartu ku?" Bram yang iseng-iseng membuka dompet, ia panik tidak melihat KTP aslinya.


"Umhh, Om... udah bangun? Lagi cari apa?" 


Deg!


Bram tersentak kaget melihat Qila bangun dan menunjukkan KTP di tangannya. Sudah pucat karena sakit, sekarang ia berkeringat dingin gara-gara KTP itu.


"Om cari ini, ya?" tanya Qila berdiri dan mendekati Bram yang jantungnya berdegup naik turun. Suhu tubuhnya yang tadi panas, langsung meningkat drastis. 


"Ehhh, Om kenapa? Om baik-baik saja, kan?" Qila duduk di sebelah Bram dan cemas melihat wajah pria itu tegang.


"Hahah, Qila, tolong berikan Om kartu itu sekarang," pinta Bram mengulurkan tangan. Qila pun melihat kartu itu lalu memeluknya. "Nanti dulu, Om. Qila punya pertanyaan penting soal kartu ini."


'Gawat! Bagaimana ini? Dia pasti sudah curiga padaku!' batin Bram sangat-sangat panik sudah ceroboh.


.