Little Twin'S Daddy

Little Twin'S Daddy
80. Mulai Mencintaimu



Qila mendorong cepat dada Aidan. Tetapi ia ditarik kembali ke dalam pelukannya. "Lepaskan!" Qila meronta namun Aidan seakan-akan tidak mendengarnya dan malah memeluk istrinya.


"Hana... biarkan aku memeluk mu." Mohon Aidan tampak masih mabuk. Namun Qila pun mendorong lebih keras dada suaminya.


"Aku bukan Hana! Buka mata mu lebar-lebar! Ini aku, Qila!" ujar Qila marah dan kecewa. Kecewa pada Aidan. Sudah tega berbohong dan sekarang menyebut nama gadis lain di depannya. Tetapi hati Qila sudah tidak seperti dulu, ia akan mencoba mengabaikan rasa sakitnya.


Aidan termenung sejenak. Melihat seksama gadis di depannya. Cowok itupun mendekati wastafel dan membasuh mukanya di sana. Setelah itu meneguk air putih banyak-banyak untuk mengembalikan kesadarannnya walau agak sedikit pusing.


Aidan pun melihat Qila dan akhirnya dia mengenali sepenuhnya wajah istrinya itu. Seketika wajahnya yang tadi bodoh itupun berubah sinis.


"Kamu dari mana saja? Kenapa baru pulang jam segini?!" tanya Aidan tidak lupa menegaskan nada bicaranya.


Qila mengepalkan jari-jarinya. Ia gelisah dan sedih karena kesempatannya untuk pergi kini hilang. Qila pun berusaha tenang dan perlahan menjawabnya.


"Aku dari rumah teman," menjawab sambil menyelesaikan pekerjaannya membuat susu.


"Kenapa harus ke rumah teman? Memangnya kamu tidak bisa pulang ke sini sendirian?" tanya Aidan. Qila pun mengirup udara dengan sabar lalu memandang sinis suaminya itu.


"Apa kamu tidak bisa melihat? Gara-gara aku menunggu mu di lapangan itu, aku latihan sendiri sampai aku mendapat luka bengkak di tumit ku ini," jawab Qila menunjuk kakinya.


"Lalu, kenapa dengan kepala mu? Kamu jatuh di jalan? Atau kamu dipukul oleh teman mu?" tanya Aidan melihat perban di kepala istrinya itu dengan wajah yang tidak bersalah.


Qila terdiam. 'Kalau aku jujur, pasti dia akan marah dan memukul ku.' Membatin dalam hati dan bingung harus mencari alasan yang jelas.


"Qila!" bentak Aidan mengagetkan istrinya itu.


"Jangan-jangan teman mu itu yang melukai mu?" tebak Aidan kemudian menekan bahu Qila kuat-kuat.


"Qila, dengarin aku, kalau Papa ku lihat kepala mu yang terluka ini, Papa pasti akan menyangka jika aku yang memukul mu. Jadi katakan dengan jujur, siapa yang mencelakai mu?" tanya Aidan memaksa.


Qila menepis tangan Aidan kemudian menatap serius bola mata biru suaminya itu.


"Kepala ku cuma kena tiang di lapangan dan ini cuma luka kecil," ucap Qila berbalik badan ingin membawa susu buatannya itu untuk dua buah hatinya namun Aidan tiba-tiba menarik tangannya dengan paksa.


"Sebentar!"


"Ada apa lagi?" tanya Qila meringis kesakitan.


'Apa dia mau minta maaf?' pikir Qila. Tapi dugaannya salah karena Aidan mau melepaskan perban di kepalanya itu.


PLAK!


Qila secepatnya menampar tangan Aidan membuat suaminya itu terkejut.


"Apa yang mau kamu lakukan?" tanya Qila sedikit menjauh. Aidan mendesis ingin melihat seberapa besar luka yang diterima istrinya.


"Aku cuma mau lihat luka di kepala mu itu," ucap Aidan merasa tidak yakin dengan ucapan istrinya tadi. Ia curiga ada hal lain yang terjadi pada Qila di lapangan itu.


"Tidak usah, luka aku cuma kecil, dan ini juga akan sembuh besok," kata Qila kemudian keluar dari dapur dan menghampiri baby twins imutnya itu.


Aidan pun mondar-mandir, ia masih ingin bertanya siapa teman dan apa yang dipakai istrinya itu pulang. Tetapi kini ia memikirkan perjanjiannya pada Evan untuk menyuruh Qila berkencan dengan cowok itu besok agar Evan yakin mau bekerjasama dengannya demi tujuannya itu.


"Ada apa? Kenapa kamu tidak pergi tidur lagi?" tanya Qila merasa was-was. Aidan semakin mendekatinya kemudian tiba-tiba cowok itu menggapai satu tangan Qila yang dingin.


"Qila, maafkan aku."


'Deg'


Semua rasa yang bercampur dan berkecamuk dalam hatinya seketika luluh lantah mendengar kalimat sakral itu. Ditambah lagi, Aidan memeluknya dengan penuh kehangatan. Beda seperti tadi yang dirasakannya itu tidak tulus.


"Apa yang kamu katakan itu?" lirih Qila menatap dengan mata berkaca-kaca. Ingin rasanya ia menangis lagi.


"Qila..." Aidan mengusap embun bening yang berlinang dari pelupuk mata istrinya.


"A-aku akui memang sikap aku pada mu sudah keterlaluan. Harusnya aku tidak meninggalkan mu di lapangan tadi." Katanya mengelus pundak Qila dengan lembut.


"Kamu pasti sekarangan marah pada ku, kan?" Tatap Aidan sambil mengelus pipi istrinya. Qila yang terisak-isak itupun mengangguk dan memukul dada Aidan yang memeluknya erat.


"Maafkan aku, Qila." Sekali lagi mengeluarkan kalimat itu. Padahal dalam hati Aidan, ia jujur tidak tulus karena hatinya sedang bergejolak akibat memendam amarah atas apa yang telah hilang darinya.


"Hiks, kenapa kamu baru sadar?!" Isak Qila tidak tahu bagaimana mengartikan perasaannya itu. Sedangkan Aidan diam-diam tersenyum jahat, namun sesaat kemudian tiba-tiba senyumnya hilang ketika Qila mendorong Aidan menjauh darinya.


"Ada apa??" tanya Aidan bingung.


Qila mengangkat kepalanya dan menjawab lirih.


"Aku mau cerai."


Aidan terperangah mendengar penuturan istrinya itu. Tentu Qila ingat apa yang dikatakan Bram bahwa jangan pernah mempercayai ucapan dan tindakan Aidan yang mungkin saja sedang merencanakan sesuatu yang jahat.


"Apa?! Cerai? Kamu bilang apa tadi?" tanya Aidan dengan ekspresi tidak suka dengan kata sakral itu.


"Aku bilang ... AKU MAU CERAI!" Qila menjawab tegas dan sudah yakin dengan keputusannya. Ia akan berusaha melawan dan memaksa Aidan mengakhiri hubungan pernikahan mereka.


Aidan menghembus nafas panjang. Mencoba tenang dulu. Setelah mengendalikan emosinya, Aidan dengan sangat lembut dan tatapan penuh kasih sayang, ia pun bicara dan tidak lupa tersenyum manis.


"Qila, cerai itu bukan hal yang mudah, sayang."


"Kamu tahu, aku perlahan mulai mencintaimu."


'Sial, gadis ini memang menyebalkan. Setelah kamu menghacurkan semua yang aku miliki, sekarang kamu mau pisah dengan ku? Cih, rupanya kamu licik dan tidak terlalu bodoh.' Aidan mendecak dalam hati dan ingin rasanya menampar mulut istrinya itu.


Qila menggelengkan kepala. Ia yakin, sangat yakin kalau kata-kata Aidan itu hanyalah kepalsuan. Ia pun diam-diam mengeluarkan hape dan menghubungi cepat ayahnya karena takut melihat ada niat jahat di mata suaminya itu.


'Papa, tolong angkat teleponnya sekali ini saja.' Qila


memohon dalam hati.


.


Ohhh Bram... bantuin cepat kesayangan mu itu😳