Little Twin'S Daddy

Little Twin'S Daddy
91. Sepenuh Hati



"Memang ada apa soal kartu itu?" Tunjuk Bram. Saat Qila mau bertanya tiba-tiba Aila bergerak, bahkan bayi perempuan itu perlahan tengkurap sendiri.


"Wah, lihat Om! Aila udah bisa tengkurap!" heboh Qila berdiri dan memperbaiki posisi Aila yang mau menendang kepala Aiko.


'Kesempatan!' Bram cepat-cepat mengambil KTP palsunya dan menukar KTP aslinya yang Qila letakkan di depannya.


"Hahahaha, kalau saja ada hape ku, sudah aku foto tadi," tawa Qila mencubit-cubit pipi bulat putrinya.


"Ah ya! Hampir lupa, Om!" Qila kembali duduk ke tempatnya semula dan mengambil KTP di depannya lalu meminta Bram menjelaskan keanehan pada kartu itu.


"Lupa apa, Qila?" tanya Bram akhirnya bisa bernafas lega.


"Ini, Om! Coba lihat sendiri KTP ini, namanya di sini tertulis sebagai Aidan Zaffanio terus fotonya juga mirip-mirip sama Om Rayden, apalagi tahun keluarnya 2034, itu kan tahunnya masih sangat jauh, Om," ucap Qila sudah memikirkan daritadi tapi tetap saja aneh.


"Hahaha...." Bram tertawa melihat ekspresi Qila yang kebingungan.


"Hmm, kenapa Om ketawa?" tanya Qila.


"Coba deh kamu baca dulu, mana mungkin KTP Om bisa salah seperti itu," ucap Bram menunjuknya.


"Tapi kayaknya tadi-" Qila mengernyitkan dahinya, tambah bingung setelah melihat kembali identitas Bram.


"Ihh, kenapa namanya Bram Sanjaya? Tadi kayaknya Aidan Zaffanio deh." Bingung Qila sambil menggaruk tengkuknya.


"Puftt, kamu sepertinya harus banyak istirahat, Qila. Dari dulu nama Om itu emang Bram Sanjaya dan buatnya baru-baru ini loh," ucap Bram terpaksa bohong demi kebaikan Qila di masa depan. Takutnya jika Qila tahu identitasnya, bisa saja menjadi pemicu kematiannya.


Qila pun melihat ulang nama, tahun, dan fotonya memang sudah berbeda. "Aneh banget, tadi kayaknya aku gak salah lihat deh," gumam Qila merasa bodoh. Tapi Qila tiba-tiba fokus memperhatikan sesuatu.


"Hmm, apa yang kamu lihat, Qila?" tanya Bram.


"Woah, tapi Om lihat ini deh, tanggal lahir Om mirip sama tanggal dan bulan kelahiran Aidan!" Jawab Qila terkejut.


"Haha, mungkin itu cuma kebetulan," tawa Bram grogi.


"Kalau begitu, hari ini Om dan Aidan ulang tahun barengan dong ya?"


"Hmm, iya." Bram mengangguk.


"Kamu kenapa? Kok mukanya ditekuk jelek begitu?" tanya Bram melihat Qila murung.


"Itu, Keyra pernah bilang kalau mau rayain ulang tahunnya bareng Qila tapi sepertinya malam ini Kak Keyra merayakannya sendirian. Aku jadi merasa bersalah, Om," keluh Qila dan melirik dua gemoy ciliknya.


Bram mengelus kepala Qila dan tersenyum. "Gak apa-apa, kalian bisa merayakan di tahun depan kok," ucap Bram.


"Gak bisa, Om," tolak Qila.


"Lah, kenapa gak bisa?" tanya Bram kurang paham.


"Aku gak mau pulang ke sana lagi,"


'Jleb'


"Sebentar! Apa maksudnya gak mau pulang?" tanya Bram sedikit syok.


"Aku udah betah tinggal di sini dan gak ada yang bikin aku pusing, Om," jawab Qila memberikan KTP itu pada Bram.


"Gak apa-apa kan kalau aku tinggal selamanya di sini?" tanya Qila menatap Bram yang memikirkan sesuatu.


"Tapi Qila, kamu harus lanjutkan sekolah mu," ucap Bram.


"Om gak usah pikirkan sekolah, Qila. Aku bisa ambil paket C nanti hehe."


Bram geleng-geleng kepala. "Ya udah serah kamu deh," ucap pria itu setuju saja tapi dalam hatinya Bram akan memulangkan Qila setelah keadaan di kota itu aman alias berhasil menangkap Black dan pulang bersamanya ke masa depan.


"Ehh, Om mau kemana?" Qila berdiri dan menahan lengan Bram.


"Om mau istirahat di kamar saja, kamu istirahatlah di sini," ucap Bram tetapi Qila menarik pria itu duduk kembali.


"Gak usah banyak gerak dulu, Om. Orang sakit itu harus banyak istirahat dan gak boleh kemana-mana dulu," kata Qila menasehati.


"Ihh, kalau dibilangin ya harus nurut tau! Lagipula ini rumah Om jadi gak apa-apa kalau Om istirahat di sini dulu," ucap Qila memaksa.


"Ya udah, terserah yang mulia saja," kata Bram tersenyum pasrah.


"Hihihi, gitu dong, Om." Tawa Qila melihat Bram kembali berbaring di sebelah dua bayi kembarnya.


"Nah karena hari ini Om lagi ulang tahun, Om mau makan kue apa? Biar Qila yang bikin!"


"Gak usah, Om gak perlu dirayakan ulang tahunnya, mending kamu ikut istirahat di samping Om," tolak Bram sambil menepuk-nepuk kasur di sebelahnya.


"Ahhh, gak mau ah! Mending bikin puding aja." Qila lari keluar sebelum pria itu menariknya tidur.


"Puftt, baiklah, anggap saja kamu merayakan ulang tahun ke 18 tahun ku dulu." Bram tertawa kemudian menengok dua bayi kembar di sebelahnya.


Tiba-tiba saja Bram kaget mendengar suara bedebug di luar. Karena cemas terjadi sesuatu pada Qila, Bram keluar dari kamar dan berjalan perlahan ke sumber suara.


"Qila ...." panggil Bram kemudian terperangah melihat dapur berantakan dan bahkan tambah kaget melihat gadis itu memanjat lemari.


"Ya ampun, apa yang kamu lakukan?" Bram memegang Qila sebelum gadis itu jatuh.


"Maaf, Om, tadi ada kucing liar masuk lewat jendela itu. Mau aku tangkap, ehhh... kucingnya lompat ke lemari terus kabur


lewat jendela itu lagi. Agak kurang ajar sih, malam-malam begini mau nyolong puding Om. Setidaknya ucap salam dulu kek biar aku kasih sepotong," crocos Qila menjelaskannya dan menunjuk puding coklatnya di atas meja.


"Tapi gak apa-apa deh, pudingnya masih terselamatkan," lanjutnya mengelus dada.


"Hadeh, cuman seekor kucing liar tapi berantemnya seperti ngajak satu RT, hahaha," tawa Bram geleng-geleng kepala.


Qila cengengesan lalu menarik Bram duduk di kursi.


"Om, sebelum tidur, cicipi dulu pudingnya," ucap Qila memohon.


"Baiklah, semoga enak ya,"


"Enak pastinya dong, apalagi ini aku buat sepenuh hati, Om!" kata Qila mengepal tinju di depan dadanya.


"Ehhh bentar dulu!" Tahan Qila saat Bram mau menyantap potongan puding di depannya itu.


"Hmm, kenapa lagi?" tanya Bram.


"Baca doa dulu dan minta permohonan juga, Om!"


"Hadeh, aku ini kan sudah bukan anak-anak, tapi ternyata di matamu, aku ini seperti anak kecil ya," gemas Bram mencubit hidung Qila.


"Ihh, jangan ditarik terus lah, nanti lama-lama Qila jadi Pinokio tau," celetuk Qila.


"Okeh deh, Om berdoa dulu, kamu jangan berisik." Bram menuruti Qila dan mulai memejamkan mata. Dalam hatinya, yang dia harapkan bisa menyelamatkan istrinya di masa depan. Setelah itu, Bram membuka matanya. Sontak ia menganga karena Qila di depannya malah mendengkur sambil menopang dagu.


"Ckckck, minta aku cicipi kuenya, dia sendiri yang tidur duluan. Ada-ada saja tingkah mu akhir-akhir ini." Bram berdiri, ia menyimpan pudingnya ke dalam kulkas. Kemudian dengan tenaga yang ada, ia mengangkat hati-hati Qila menuju ke kamar lalu membaringkannya ke samping Aiko.


Bram pun menyentuh dahinya dan merasakan suhu tubuhnya masih panas tapi sudah tidak separah tadi. Pria dewasa itu pun ikut berbaring di sebelah Qila. Dari dulu, ia sudah lama ingin tidur di sebelahnya tapi Bram malu. Namun kini, Bram harap malam ini kerinduannya selama enam tahun tanpa istrinya itu bisa terobati sedikit.


Bukan cuman tidur di sebelah Qila, Bram juga memeluknya dengan hangat. Seketika hatinya bergetar aneh saat Qila menyebut lirih namanya. "Aidan...."


Rupanya, meski Qila berniat tidak mau kembali ke sana, tapi hatinya masih terikat pada Aidan.


"Sial, kenapa aku merasa cemburu begini? Aidan dan aku kan satu orang!" gerutu Bram dalam hati.


"Walau aku dan dia itu sama, tapi saat ini, dia milikku." Bram membelai rambutnya dengan lembut. Tidak lupa sebelum tidur, ia menyelimuti baby twinsnya lalu tidur bersama layaknya keluarga. Sedangkan Aidan, ia merasa kesepian tidak mendengar suara Qila dan dua bayi kembarnya.


"Qila, kamu sebenarnya pergi kemana? Kalian bertiga masih hidup, kan? Kalian belum mati di luar sana, kan?" Aidan terus memandangi hape Qila di tangannya sambil membuka galeri gadis itu yang dipenuhi foto-foto istrinya itu saat hidup di luar negeri.


.


Nah kan, baru tahu rasanya kesepian itu gak enak 🙂 itu yang juga dirasakan Qila di luar negeri 🥲 tapi untung sih ada Bram yang sering perhatian 🤗


Sorry ya kemarin itu dobel, jaringan author jelek waktu kirimnya🙏tamatnya mungkin di bab 100 ya. Hehe...