Little Twin'S Daddy

Little Twin'S Daddy
56. Rindu Sama Om



"Qila, bagaimana perasaanmu? Apa sudah membaik? Atau masih pusing?" tanya Raiqa yang selesai menunaikan shalat Maghrib dan mendoakan kesembuhan sang adik. Melipat sajadah pinjaman milik salah satu suster di rumah sakit itu kemudian Raiqa meletakkannya di atas tas.


"Alhamdulillah, udah membaik, cuma kepala kadang oleng sedikit, tapi Qila udah bisa pulang malam ini, kak," ucap Qila yang selesai menghabiskan makanannya yang dibawa suster tadi dan tidak mau lama-lama di rumah sakit juga.


"Ya udah, kalau begitu aku keluar dulu ngurus administrasinya, kamu tetap di sini," kata Raiqa mengambil tasnya dan sekalian mau mengembalikan sajadahnya.


"Tunggu, Kak!"


"Hmm, kenapa? Kamu takut ditinggal sendirian?" tanya Raiqa.


Sebagai Ibu, Qila tentu memikirkan dua buah hatinya yang seharian ini tidak ada kabar dari Evan maupun dari Keyra.


"Itu, Kak, apa ada pesan dari Kak Evan? A-aku daritadi kepikiran terus sama Aiko dan Aila, apalagi mungkin mereka pasti me-merindukan aku," lirih Qila deg-degan melihat Raiqa mendekatinya dan sekarang mengelus kepalanya dengan lembut.


"Qila, aku paham kamu suka anak kecil. Tapi demi kesehatanmu, mulai sekarang jangan lagi mengurus bayi itu," pinta Raiqa membuat Qila terkejut. Larangan itu tidak akan bisa Qila tolak.


"Sekarang istirahatlah dan jangan ke sana lagi." Raiqa berbalik badan namun sebelum melangkah pergi, tangan kanannya digenggam Qila. Raiqa pun menoleh dan terkejut melihat air mata adiknya berderai turun.


"Maaf, aku tidak bisa, kak Raiqa tidak bisa melarang ku,"


"Apa karena di sana ada Aidan jadi kamu tidak mau berhenti, Qila?" tanya Raiqa dan merasakan tangan adiknya bergetar.


"Qila, jangan-jangan kamu menerima jadi babysitter karena menyukai Aidan? Apa itu, benar?" tanya Raiqa lagi. Qila menunduk dan mengangguk.


"Yah, Qila suka Kak Aidan dan juga Qila sayang sama dua bayi kembar itu," jawab Qila lirih. Sebenarnya ia ingin jujur tapi mulutnya terasa berat mengatakannya.


Raiqa menghela nafas kemudian tersenyum tipis. Ia mengusap dua pipi lembut adiknya yang basah itu.


"Kamu ini adikku yang lemah, baru mengatakan ini padaku kamu sudah menangis begini, bagaimana jika kamu katakan ini pada Aidan? Aku jadi tidak bisa bayangkan itu,“ ucap Raiqa gemas mendengar ungkapan adiknya.


"Tapi Qila, kamu harus tahu," kata Raiqa menjedah ucapannya.


"Harus tahu apa, Kak?" Tanya Qila menatapnya.


"Aidan itu sudah punya anak dari perempuan lain, bahkan anaknya adalah bayi yang kamu jaga itu," ucap Raiqa berat mengatakan itu.


"Qi-qila udah tahu, Kak!" ujar Qila mengejutkannya.


"Wah, sepertinya Evan yang pasti menceritakannya padamu, kan?" tebak Raiqa dan diberi anggukan kecil.


"Kak, aku tidak peduli sama itu," lirih Qila merem4s ujung seragamnya.


"Sungguh? Meskipun Aidan sudah punya anak, kamu tetap suka padanya?" tanya Raiqa memastikan.


"Iyah, Kak." Raiqa pun menepuk bahu Qila kemudian serius menatap adiknya.


"Qila, aku itu berharap kamu sukanya sama cowok lain, misalnya suka sama Evan, itu lebih baik daripada menyukai cowok seperti Aidan. Kakak merasa tidak setuju kamu menyukainya," ucap Raiqa. Qila semakin menunduk sedih.


"Kenapa? Kenapa tidak setuju? Apa karena Qila tidak berhak untuknya? Apakah yang berhak itu adalah Hana? Begitu? Itu kan yang sebenarnya Kakak inginkan?" ucap Qila sesenggukan.


"Bukan begitu, bukan kamu yang tidak berhak, tapi Aidan yang tidak pantas untukmu. Qila, kamu ini dari kecil gadis yang baik-baik, dan lebih cocok bersama Evan. Bukan Aidan yang sudah memiliki anak. Lagipula, jujur ... walau ini menyakitkan, tapi kamu harus tau Aidan itu menyukai Hana bukan kamu dan yang menyukai kamu itu Evan," ucap Raiqa terus terang saja.


"IYAH! QILA TAHU KOK, KAK!" pekik Qila tahu itu kenyataan yang pahit.


'Jadi begitu, ternyata dia memang sudah menyimpan hatinya untuk orang lain.' Batin Evan yang berada di dekat pintu dan merem4s dadanya yang sakit. Langkah cowok blonde itu pergi menjauh dari ruangan Qila.


Raiqa yang mendengar ungkapan adiknya pun diam terbungkam. Tidak bisa berkata apa-apa lagi untuk melarang keinginan adiknya. Semakin dia menolak kemauan itu, hanya akan membuat adiknya sakit. Ia pun cuman pergi meninggalkan Qila tanpa sepatah kata dan membiarkan Qila sendirian tersedu-sedu di sana.


"Hiks, kenapa sih sesusah ini aku mengatakan yang sebenarnya." Isak Qila menyalahkan diri sendiri.


"Berhenti mengacak rambutmu, itu hanya membuat kepalamu tambah sakit," sahut seseorang masuk menghampiri Qila yang rambutnya sudah kusut berantakan.


"Om ..." Lirih Qila dan melihat Bram duduk di kursi yang ada di dekatnya. "Menangis hanya membuat cantik mu berkurang, Qila." Tidak lupa memujinya.


"Om senang, kamu sudah cukup berani mengatakan setengahnya pada Raiqa. Tinggal mengumpulkan setengah keberanian itu untuk jujur pada keluargamu yang lain." Senyum Bram membelai rambut Qila agar kelihatan lebih rapih.


"Om ... dari mana saja selama ini? Kenapa akhir-akhir ini Om tidak mendatangi Qila? Aku ... aku kadang-"


"Rindu sama Om?" Bram menebak dengan canda tawanya.


Qila tertegun kemudian tertawa lucu. "Wah-wah, udah bisa tertawa, apakah udah membaik hatinya?" tanya Bram. Qila mengangguk lega dan senang bisa mengobrol dengan pria berpakaian mantel hitam itu.


"Aku pikir Om sudah pulang dan tidak mau menemui ku,"


"Mana mungkin Om setega itu. Apalagi Om sudah janji akan membantu kamu menyelesaikan ini. Tapi maaf ya, kemarin-kemarin itu Om sibuk banget, hehehe," cengir Bram menggaruk kepalanya.


"Sibuk ngapain, Om? Sibuk bantu pasien baru atau mengintai calon istri nih?" selidik Qila dengan tatapan curiga. Bram tertawa kekeh ditunjuk dan ditatap begitu.


"Pfft, untuk sementara ini Om tidak ada niat menikah, tapi jika gadis manis di depan Om mau, mungkin bisa dipertimbangkan," ucap Bram melihat Qila yang terpaku. Lagi-lagi, seperti diajak hidup bersama selamanya.


"Ihh, gak deh. Qila tidak mau sama om-om. Mending sama -" ucap Qila menunduk malu.


"Sama Aidan?" tebak Bram dengan cemberut. Qila mengangguk cepat dan tersenyum lebar. Namun gadis itu menunduk lesu lagi.


"Hmm, kamu kenapa?" tanya Bram.


"Om, hari ini aku tidak bisa berhenti deg-degan. Aku merasa gelisah. Gelisah memikirkan si kembar dan juga orang tuaku. Kira-kira, apakah suatu saat nanti impian Qila akan terwujud, Om?" tanya Qila menatap Bram.


Bram tersenyum dan mengangguk. "Mulai malam ini, itu akan perlahan diwujudkan. Kamu tinggal sabar menunggunya," ucap Bram yakin.


"Tapi, Om. Bagaimana jika Mama dan Papa marah? Terus Qila dibuang? Terus Om Rayden dan Tante Arum menolak Aiko dan Aila? Qila takut jika itu terjadi," lirih Qila menekuk dan memeluk lututnya.


"Tapi dari penglihatan Om, mereka tidak akan sekejam itu pada cucu mereka. Yah walau belum pasti, tapi Om yakin Aiko dan Aila diterima dengan suka cinta." Bram lagi-lagi menghibur Qila dengan gerakan tangan yang lucu berbentuk love.


"Tapi, bagaimana kalau kita bertiga dibuang, Om?" tanya Qila memeluk tubuhnya sendiri dan membayangkan dirinya hidup terlantar di jalan.


Bram pun tertawa dan menepuk lembut puncak kepala Qila. "Jika itu terjadi, Om bersedia menampung tiga anak." Katanya membuat Qila terbahak-bahak meskipun itu terdengar menyedihkan. "Terima kasih, Om."


"Hmm, ya udah, Om harus pergi lagi, sekarang istirahatlah."


"Baik, Om." Angguk Qila paham dan melihat Bram keluar dari ruangannya. Rasanya damai sekali sudah bicara pada laki-laki itu yang mengerti isi hatinya. Qila pun membaringkan tubuhnya sambil menunggu Raiqa kembali. Cowok yang sudah mengurus administrasi dan tidak sengaja bertemu Aidan.


.