Little Twin'S Daddy

Little Twin'S Daddy
81. Ciuman



Qila menggelengkan kepala. Ia yakin, sangat yakin kalau kata-kata Aidan itu hanyalah kepalsuan. Ia pun diam-diam mengeluarkan hape dan menghubungi cepat ayahnya karena takut melihat ada niat jahat di mata suaminya itu.


'Papa, tolong angkat teleponnya sekali ini saja.' Qila


memohon dalam hati.


"Nggak, aku udah gak mau melanjutkan pernikahan ini," ucap Qila kini hanya pasrah setelah panggilannya ditolak.


"Kenapa? Kenapa tiba-tiba kamu bicara seperti itu? Bukan kah kamu itu mencintai ku? Ada apa, Qila? Apa karena aku ke rumah sakit menemani Hana daripada melatih mu tadi?" tanya Aidan memegang lengan Qila.


Qila melepaskan tangan Aidan dan bergeser sedikit. "Benar, aku mencintai mu dari dulu, tapi sekarang aku sudah tidak memiliki perasaan itu," tutur Qila dengan suara yang lirih.


Aidan memijat pelipis di antara kedua matanya lalu melirik Qila yang tampak sungguh-sungguh dengan wajah polosnya itu.


"Maaf, Kak Aidan. Aku mungkin yang salah di sini karena sudah memaksa mu menikahi ku, jadi daripada kita berdua hidup seperti ini, lebih baik kita pisah," lirih Qila memohon.


"Setelah kita cerai, aku tidak akan menuntut apapun lagi. Aku tidak akan memaksa Kak Aidan menerima aku dan anak-anak ku. Kak Aidan, bisa bebas memilih siapa yang pantas untuk mendampingi Kak Aidan," ucap Qila mengusap air matanya yang lagi-lagi jatuh.


"Aku udah pikir matang-matang, kalau aku gak akan muncul di depan Kak Aidan. Jadi perempuan yang setiap hari Kak Aidan benci ini, tidak akan mendatangi mu," sambungnya dan sedikit tersenyum tegar.


"Sekarang, aku akan membawa Aiko dan Aila pergi dari sini. Jadi Kak Aidan bisa tidur nyenyak lagi tanpa mendengar tangis mereka." Qila sesenggukan dan melihat kasihan pada twins kecilnya.


Lagi-lagi, Aidan mendekat dan memeluknya dari belakang. "Lepaskan aku, Kak. Jangan menahan ku," mohon Qila berharap Aidan menerima keputusannya baik-baik. Tetapi Aidan tetap menahannya.


"Nggak, aku gak mau cerai, Qila." Tolak Aidan karena ia merasa ini tidak adil baginya.


"Tolong... Kak, lepaskan aku." Qila berusaha mendorong tangan yang merangkulnya. Tapi Aidan lebih erat memeluknya sampai Qila perlahan merasa sesak nafas.


"Qila... kenapa kamu begitu jahat?"


"Aku barusan sungguh-sungguh telah mencintai mu, dan sekarang aku akan bersedia memberi apapun yang kamu mau, asalkan bukan perpisahan. Katakan saja, kamu mau dicintai dengan bagaimana?"


Aidan menatap bergantian bola mata hitam istrinya. Qila sempat terenyuh mendengar itu, tapi ia sadar perpisahan adalah jalan yang bagus untuknya lepas dari kebencian dan kata munafik Aidan.


"Nggak, Kak. Aku udah gak butuh apapun. Aku hanya ingin Kak Aidan melepaskan aku." Qila balas menatap Aidan dengan tajam.


Tiba-tiba, Qila seketika terdiam mendapat kecupan di bibirnya. Terasa tidak asing tapi ia segera mendorong Aidan dengan keras dan mundur sambil mengatur jantungnya yang berdetak kencang. Qila syok pada Aidan yang mendadak menciumnya.


"Sekarang apa kamu percaya?" tanya Aidan.


"Lihatlah, aku serius cinta pada mu, Qila!"


"Aku sungguh akan memberi semua rasa cinta ku pada mu."


"Percayalah padaku, Qila."


Aidan terus membujuk Qila supaya ia bisa mengendalikan istrinya itu. Tetapi Qila tetap menolak dan sudah berpegang teguh pada keputusannya.


"Maaf, Kak. Aku benar-benar udah gak sanggup berada di samping mu." Qila menggelengkan kepala. Membuat batas kesabaran Aidan pun meledak.


"Akhhh!" Jerit Qila kesakitan tatkala lengannya dicengkeram kuat-kuat dan ia ketakutan melihat sorotan mata Aidan yang menyeramkan.


"Bodoh! Dasar istri idiot!" caci Aidan marah dan kecewa. Sedangkan Qila menutup mata, sudah kuat menerima cercaan itu.


"Pikirkan dulu baik-baik sebelum kamu menolak, bodoh! Ini kesempatan bagi mu bisa mendapat perhatian dari ku. Tapi rupanya, kebodohan mu ini melebihi orang lain di luar." Kelakar Aidan lebih keras mencengkeram Qila membuat gadis itu menjerit kesakitan.


"Lepaskan!" Qila membentak.


"Cukup! Hentikan! Kak Aidan jangan paksa aku lagi." Qila memohon, bahkan dia merintih di dalam hatinya.


Aidan tersenyum jahat lalu kemudian...


'BRUK'


Qila didorong jatuh ke atas sofa. Karena emosi, Aidan melepaskan semua kancing bajunya lalu mencekal kedua tangan Qila ke atas.


"Ka-kak Aidan! Apa yang mau kamu lakukan?! Hentikan!" bentak Qila memekik karena tiba-tiba Aidan menindihnya dan tersenyum menyeringai. Hingga ia tidak bisa bergerak sama sekali.


"Qila sayang, kalau ciuman tadi belum cukup, aku akan memberi mu lebih dari itu," ucap Aidan langsung merobek pakaian atas Qila. Membuat gadis itu terguncang hebat dan mulai sesak nafas melihat Aidan ingin melakukan itu padanya.


"Qila, tenanglah, aku tidak akan membunuh mu kok, aku hanya akan membuat mu hamil kembali agar kamu tidak meminta itu lagi."


"Akhhhh, lepaskan aku, Kak!" pekik Qila memberontak dan melawan, namun Aidan membungkamnya dengan ciuman paksa. Bagi Aidan, ini waktunya ia melampiaskannya, karena menurutnya semua yang dia lakukan sekarang pada Qila akan sirna setelah ia mengubah masa lalu. Air mata Qila sudah habis, ia tidak bisa berbuat apalagi dan hanya bisa pasrah memenuhi keinginan Aidan yang kini menariknya dengan paksa masuk ke dalam kamar. Sementara Bram, ia yang tidak sengaja terbangun kini kebingungan dan terkejut melihat kamar Qila kosong.


"Celaka! Kemana dia?!" Bram segera mengambil kunci mobil. Keluar mencari Qila karena dalam ingatannya di masa lalu, hari ini adalah hari Qila menghilang. Oleh karena itu, Bram membujuk Qila tetap bersamanya.


.


Author gak tau mau bilang apa, tapi kalau kalian udah gak kuat baca, kalian bisa cari cerita lain, karena author sudah bertanya ke si pengarang kapan bab bahagianya, tapi dia cuma jawab kalau bahagianya di bab-bab terakhir bulan ini🥲author juga gak tahu endingnya gimana😭maaf ya Qila, author cuma nulis dan ikuti arahan alur ceritamu yang sad ini dari sang pengarang🤧


sabar dan kuat ya guyss, and maaf kalau ada kata salah🙏😅karena ngetik ini buat author terbawa suasana:)