Little Twin'S Daddy

Little Twin'S Daddy
25. Berbeda Dari Yang Dulu



"AIDAN! NGAPAIN LO MARAH KAYAK GINI? LO MAU NGEBUNUH DIA?!"


"Istighfar, Aid!"


Evan maju dan menarik Aidan menjauh dari Bram. Akan tetapi, karena tersulut amarah, Aidan sulit dikendalikan lagi sehingga mendorong Bram dan menyudutkannya ke tembok. Kemudian memaksa Bram mengatakan siapa perempuan yang ia maksudkan itu.


"HEI, PAK! Jika ucapanmu itu benar, katakan padaku di mana perempuan itu sekarang?" tanya Aidan lalu menarik paksa lengan Bram kemudian masuk ke dalam kamar, meninggalkan Evan yang tambah bingung apa yang sudah terjadi pada sahabatnya itu.


"Oeeekkk! Oeekhhh!" Tangis Aiko dan Aila masih berlanjut.


"Ckh, ini terlalu rumit untuk aku pahami," desis Evan menggertak rahangnya lalu melihat Qila yang segera menenangkan dua bayi itu.


"Qi-qila, sini biarkan aku yang menggendong bayi yang satu itu," pinta Evan menunjuk Aiko. 


"Terima kasih, Kak." Qila pun memberikannya pada Evan kemudian kembali menggendong Aila. Seperti biasa, Qila menggoyahkan sedikit badannya hingga pandangan Evan tertuju pada body Qila yang ramping seksi dan dadanya yang montok, terlihat empuk sekali.


'Woah, sudah lama aku tidak melihatnya, dan sekarang aku merasa dia sedikit berbeda dari yang dulu. Qila tampaknya di luar negeri bukan cuma belajar tapi juga berhasil mengubah bodynya.' Evan membatin kagum dan menunduk malu. Itu membuat Qila sedikit bergeser sebab merasa Evan selalu memandanginya diam-diam dan itu sangat kurang nyaman baginya.


Namun, perhatian Evan pun pindah pada sebuah tangan kecil yang berusaha ingin menggapai dadanya. Ya, itu tangan Aiko yang menginginkan asi. Melihat kelucuan Aiko itu, Qila sedikit tertawa kecil dan itu membuat Evan sedikit canggung.


"Dilihat-lihat lebih dekat, bayi ini mirip Aidan,"


Deg!


Qila sontak diam mendengar perkataan itu.


"Oh ya, apa kamu tahu siapa nama kedua bayi ini, Qi?" tanya Evan sambil melirik pintu kamar Aidan yang masih tertutup itu.


"Itu, namanya Aiko dan yang satu ini Aila," ucap Qila tersenyum senang melihat Aila sudah tidak menangis.


"Hmm, namanya juga hampir mirip ya," kata Evan menatap Aiko yang masih merengek.


"Menurutmu, bagaimana Qila? Apa kamu tidak merasa kalau mereka mirip Aidan?" lanjut Evan lagi. Qila pun meletakkan Aila di atas sofa, kemudian merebut Aiko lalu menjawab cepat, "Hahaha, mungkin ibunya mengidolakan Kak Aidan atau Om Rayden," ucap Qila tertawa bodoh dan menenangkan Aiko, tetapi tangan-tangan kecilnya itu ingin sekali merem4s dada Ibunya.


'Maaf, Aiko. Kamu jangan nyusu dulu ya, ada teman Papa kamu di sini,' batin Qila perlahan merasa lega melihat si sulung kecil diam.


"Haha, bisa jadi yang kamu katakan itu benar, apalagi Om Rayden memang orang yang terkenal." Evan ikut tertawa lalu memandangi Qila cukup lama.


"Oh ya, apa kamu tidak pergi ke sekolah hari ini, Qi?" tanya Evan duduk di sofa dan di dekat Aila.


"Hari ini aku izin dulu, Kak," jawab Qila duduk di sisi lain dan menaruh Aiko di samping Aila kemudian menatap dengan cemas ke arah pintu kamar Aidan yang masih belum terbuka. Sedangkan Evan sedikit bergeser ingin lebih dekat duduk di sebelah Qila dan ingin menanyakan sesuatu padanya, namun tiba-tiba …


"Hei, Qila. Apa kamu sudah—"


BRAK!!


Evan seketika terlonjat kaget mendengar pintu dibuka dengan keras. Ekspresi malu-malunya berubah kesal melihat Aidan keluar seorang diri.


"Hai, apa-apaan ini?" ucap Evan diseret ke arah pintu apartemen.


"Sekarang kita berangkat ke sekolah, Van," ucap Aidan terus menarik Evan.


"Ha? Lo kenapa sih tiba-tiba kayak aneh gini?" desis Evan.


"Gak usah banyak omong, kita ke sekolah dan cari perempuan itu!"


BRAK!!


Pintu lagi-lagi ditutup dengan keras dan membuat Qila terguncang, tetapi bukan suara pintu yang membuat Qila terkejut tetapi kalimat Aidan itu.  Qila pun menoleh ke Bram yang keluar dari kamar Aidan. Ia segera mendekati Bram dan bertanya apa yang sudah dikatakan pria itu pada Aidan.


"Om, a-apa yang kalian bicarakan di dalam sana?" tanya Qila ketakutan gara-gara Aidan yang tadi nampak masih marah dan terutama cowok itu tidak melihatnya sedikitpun. 


Sebelum menjawabnya, Bram duduk di sofa lalu menarik nafas kemudian menghembusnya dengan kasar. Setelah itu, ia pun menjelaskan, "Om baru saja mengatakan sebagian tentang Ibu si kembar jika perempuan itu juga bersekolah di gedung yang sama dengannya dan mungkin hari ini Aidan akan mengumpulkan para siswa yang berinisial AM," ucap Bram lalu melihat Qila yang dilanda kegelisahan dan rasa takutnya yang datang menyelimutinya.


"Qila, tenanglah. Om tidak mengatakan sepenuhnya tentang dirimu, jadi kau tidak perlu ketakutan seperti itu." Bram menepuk kepala Qila dengan lembut tetapi gadis itu menunduk dan kali ini ia yang menangis.


"Ke-kenapa Om harus datang ke sini membawa Aila? Dan kenapa Om tidak bilang-bilang dulu sih? Hiks, Qila sampai bingung harus melakukan apa tadi," Isak Qila mengusap air matanya.


Bram tertegun diam lalu menenangkan Qila dengan mengelus rambut gadis itu yang sangat sulit baginya menyembuhkan trauma dan mental Qila yang sudah setengah rusak. Melihatnya menangis seperti itu, mengingatkannya di awal pertemuannya dengan Qila yang menyedihkan. Seorang gadis yang hidup sendirian di luar negeri dan hampir mengakhiri hidupnya sendiri.


"Hiks, jika mereka sudah tahu ini, sesuatu yang buruk pasti akan terjadi padaku, Om. Seharusnya, Om tidak usah ke sini membawa Aila." Qila terisak-isak dan menatap sedih dua bayinya yang sedang terlelap di sampingnya.


"Om sudah lihat kan bagaimana Kak Aidan marah, hiks."


"Dia pasti akan membunuhku, Om."


Qila tidak bisa menghentikan air matanya yang berlinang. Tetapi seketika suara Isak tangisnya berhenti ketika Bram meraih tangannya. Menggenggam dengan lembut dan tersenyum tulus padanya.


"Tidak usah takut, Qila. Kalau mereka sudah tahu, saat itu juga Om akan mewakili mu dan melindungimu. Percayalah dan tenangkan dirimu." Tidak lupa mengusap sisa air mata Qila di pipinya. Tetapi air mata Qila tidak bisa berhenti tumpah. Qila merasa Bram satu-satunya orang yang paling mengerti kondisinya. Memang layak seperti, ayah kedua baginya.


"Te-terima kasih, om." 


Bram mengangguk dan tersenyum. Ia kemudian berdiri dan berkata, "Tetaplah di sini dan jaga dua anakmu itu. Om mau pergi dulu mengerjakan tugas."


"Baik, Om." Angguk Qila mengerti.


Cklek! 


Pintu apartemen pun ditutup oleh Bram. Ia pun berjalan pergi sambil menatap jam di hapenya. "Jika sampai mereka tega membuangmu, saat itupula aku akan datang padamu karena setahun mengenalmu sudah cukup bagiku mengangkat mu lebih dari hubungan anak dan ayah."


"Tapi sepertinya, cowok yang satu itu akan menjadi saingan yang lumayan berat bagiku, terutama putra Tuan Rayden yang tempramental dan cukup berbahaya."