
Terlepas dari ujian seminggu ini, perasaan Hana yang kemarin gundah pun berubah drastis setelah mendapat hasil ujian yang memuaskan. Walau ada dua mata pelajaran yang memberinya nilai rendah dari nilai Qila, Hana tidak peduli akan itu lagi karena empat dari enam ujiannya memberi nilai sempurna. Tidak seperti Qila yang cuma mendapat satu nilai sempurna. Pujian dari teman kelas dan guru-guru pun terus ia terima hari ini. Sedangkan Qila, hanya ada beberapa yang memberi selamat karena sudah menduduki posisi ke tujuh di kelas.
"Ihhh, selamat ya, Hana! Kamu dapat posisi paling atas di kelas ini. Nilaimu mendapat angka luar biasa dari semua siswa di kelas kita. Kami jadi ikut senang atas kerja kerasmu seminggu ini. Ahh, beruntungnya kita punya sahabat sepertimu." Mereka, geng girlnya memeluk Hana bergantian. Satpam yang berdiri di gerbang sekolah cuma geleng-geleng kepala melihat kelompok cewek itu yang mau pulang, terus bersorak-sorai. Tatapannya itupun dialihkan ke Qila yang jalan terhuyung di belakang dan tidak jauh dari kelompok geng Hana.
"Hmm, dek, kamu terlihat pucat, apa kamu baik-baik saja?" tanya satpam menghentikan Qila.
"Baik-baik saja kok, Pak," jawab Qila tersenyum.
"Kalau begitu, apa yang kamu pegang itu?" tanya satpam menunjuk setumpuk kertas di tangan Qila.
"Ini hasil ujian saya seminggu ini, Pak," ucap Qila lirih.
"Lalu bagaimana hasilnya? Apa semua soal-soalnya mudah? Apa nilaimu bagus?" tanya satpam ingin tahu bagaimana perkembangan Qila yang memang terkenal di sekolah semenjak dia kembali dari luar negeri.
"Alhamdulillah, saya dapat nilai rata-rata sembilan dan juga dapat nilai 100 plus. Yah... walau tidak sebanyak Kak Hana, aku sangat bersyukur, Pak," ucap Qila terharu menatap lembaran tebal di tangannya.
"Syukurlah, pasti orang tua dek Qila bangga melihat hasil perjuangan mu ini," puji Pak Satpam itu memberi jempol.
"Ya, Pak. Semoga aja," ucap Qila tersenyum senang.
"Ya udah, cepat ke sana sebelum kamu ketinggalan sama teman-teman mu itu," kata satpam ramah itu menunjuk kelompok Hana yang sudah melewati gerbang sekolah.
"Gak apa-apa kok, Pak. Saya pulangnya bareng Kak Raiqa, bukan Kak Hana. Lagipula mereka tidak kenal saya, Pak," ucap Qila menggelengkan kepalanya.
"Owalah, begitu toh. Ternyata dek Qila tidak begitu akrab sama teman-temannya yang itu, maaf ya, dek,"
"Gak apa-apa, Pak. Kalau begitu saya ke sana dulu, permisi." Angguk Qila cepat-cepat pergi. Setelah keluar dari area sekolah, Qila yang menunggu Raiqa ke parkirannya tiba-tiba ia dihampiri oleh Keyra dan teman ceweknya.
"Hei! Qila!" Merangkul bahu Qila tiba-tiba.
"Eh, ada apa, Kak Key?" tanya Qila gugup.
"Mau pulang bareng Raiqa ya?" tebak Keyra.
"Iya, Kak. Ini mau pulang tapi Kak Raiqa belum keluar juga, dia kemana ya, Kak?" tanya Qila kepada Keyra yang melepaskan rangkulannya.
"Entahlah, tadi di dalam aku lihat dia jalan bareng Evan dan Aidan. Hmm ... gimana kalau kamu pulang bareng kita?" ajak Keyra menunjuk motornya.
"Ehh, naik motor bertiga?" Tunjuk Qila ke temannya Keyra yang terlihat kaget mendengar ajakan Keyra itu.
"Hai, Nona Keyra. Kita dilarang berkendara dengan jumlah tiga orang. Nanti di jalan malah kena tilang polisi, siapa coba yang mau mengurusnya nanti?" ucap temannya sang rekan mata-mata apartemen Aidan itu.
"Benar yang dikatakannya, Kak." Angguk Qila setuju.
"Hmm, kalau begitu, kamu punya foto bayi yang ada di apartemen Aidan, gak?" tanya Keyra mengalihkan topik utamanya. Membuat Qila bergeser sedikit.
"Maaf, Kak. Aku gak punya," geleng Qila lalu menunduk dan memegang hapenya kuat-kuat.
"Aihh, padahal aku penasaran gimana muka bayi itu. Kalau saja -" putus Keyra yang dibungkam mulutnya oleh temannya itu yang hampir keceplosan mengatakan tentang kamera pengintainya.
"Ishh, Nona Keyra! Tolong jangan ucapkan itu. Kita bisa ketahuan tau!" Desisnya berbisik. Keyra pun merungut merasa kesal karena kamera pengintai tidak bisa mengezoom wajah Aiko dan Aila sehingga mereka tidak melihat jelas bagaimana wajah si kembar. Apalagi kemarin lalu tiba-tiba kameranya tidak bisa terakses lagi alias tampilannya rusak dan berwarna hitam seperti telah dinonaktifkan.
Tiba-tiba keduanya terkejut saat melihat Qila linglung ke belakang.
"Hei, kamu kenapa, Qila?" tanya Keyra cepat memapahnya.
"Astaghfirullah, wajah dan bibirmu pucat sekali, apa kamu lapar? Atau sakit?" tanya Len ikut memapah adik kelasnya itu.
"Aku gak tau, Kak. Tapi rasanya kayak pusing gitu," lirih Qila dengan mata berkaca-kaca. Pasalnya, ia kurang tidur akhir-akhir ini dan sibuk mengejar ketertinggalannya gara-gara Hana kadang menyuruhnya melakukan pekerjaan rumah sehingga tidak punya pilihan selain memaksakan dirinya.
"Gak apa-apa, Kak. Aku bisa nunggu kok, gak usah panggil -" tolak Qila berhenti dan melepaskan diri dari Keyra namun seketika tubuhnya yang lemas itu tidak bisa mempertahankan keseimbangannya hingga ia pun terhuyung ke depan.
"Ahh, Qila!" Pekik Keyra dan Len ingin menangkap Qila yang mau jatuh ke tanah namun seseorang dengan cepat menangkap Qila ke dalam pelukannya. Qila pun mendongak dan dengan pandangan yang buram ia melihat cowok itu adalah Evan bukan Aidan.
"Qila, apa yang terjadi padamu?" tanya Evan di sebelah Raiqa yang syok melihat adiknya tidak berdaya.
"Hei, Keyra! Lu apain adek gue?" ujar Raiqa. Matanya berapi-api melihat satu adiknya yang diselimuti keringat dingin. Qila yang melihatnya semarah itu pun terpaku cukup lama. Rasanya senang melihat Raiqa begitu mengkhawatirkannya hari ini namun seketika perasaannya pun bergejolak tidak karuan melihat ke depan yang jauh di sana ada Hana bersama seorang cowok yang Qila tunggu-tunggu juga. Terlihat punggung cowok di depan Hana itu milik Aidan yang tampak setia mendengar cerita Hana tentang keberhasilannya.
"Kak Aidan," lirih Qila kemudian semuanya gelap.
"QILA!" Empat remaja di sampingnya terkejut melihat Qila pingsan di dada Evan.
"Hei, cepat! Bawa dia ke rumah sakit!" pinta Keyra panik tapi tidak sepanik Evan yang langsung mengangkat Qila ke dalam mobilnya yang sudah diperbaiki.
Karena suara Keyra yang lebih keras dari yang lain, Aidan pun ingin menoleh tetapi Hana tiba-tiba menarik tangannya.
"Bang Aidan, hari ini bisa gak temani Hana ke pusat perbelanjaan?" tanya Hana yang tidak mendengar keributan di area parkir.
"Ada beberapa barang yang mau Hana beli untuk mengisi kulkas di rumah. Apalagi mungkin besok Mama dan Papa ku mau pulang, kalau mereka lihat kulkas kosong, nanti Hana bisa dimarahi," lanjutnya memohon.
"Baiklah," ucap Aidan mengiyakan cepat kemudian pergi ke tempat motornya yang terparkir di tempat lain. Alih-alih supaya kelompok Alpha tidak merusak mobil Evan lagi. Aidan benar-benar tidak sama sekali berbalik melihat Qila yang diangkut ke dalam mobil Evan untuk secepatnya membawa Qila ke rumah sakit terdekat.
"Hei, Raiqa!" Tahan Keyra memegang stir motor Raiqa yang mau pergi menyusul Evan.
"Ada apa?" tanya Raiqa masih marah walau Keyra sudah jelaskan dirinya bukan penyebab Qila pingsan.
"Itu, kalau lu ke rumah sakit, siapa yang jagain bayi titipan kalian?" tanya Keyra.
"Si Aidan yang jaga," jawab Raiqa ketus.
"Eh tapi, barusan gue lihat Aidan pergi bareng Hana ke jalan itu deh," ucap Len menunjuk jalan yang berlawan ke tempat penitipan Aiko dan Aila.
"Serius? Lu gak bohong kan?" tanya Raiqa sedikit terkejut satu adiknya dan sahabatnya itu malah pergi begitu saja ke arah lain. Gadis bernama Alena Chintya itupun mengangguk pasti.
Raiqa pun diam kebingungan memikirkan nasib si kembar mungil itu yang tidak bisa ia urus hari ini.
"Hmm, Raiqa, bagaimana kalau lu titipkan aja ke kita?" saran Keyra merasa ini kesempatannya melihat bayi itu.
Karena adiknya yang sakit dan tidak punya pilihan, Raiqa pun menerima bantuan Keyra.
"Okeh, lu pergi ambil bayi itu ke -" ucap Raiqa memberitahu alamat panti asuhannya.
"Sekarang gue mau ke rumah sakit, kalian berdua .. tolong jagain tuh bayi."
"Siap, tenang saja!" Hormat Keyra lalu tersenyum sumringah melihat Raiqa pergi.
"Len! Cepat, kita ambil bayi itu!" Tarik Keyra pergi ke motornya kemudian menancap gas meninggalkan sekolah. Tepat di waktu yang sama, sore ini Rayden tiba di tempat Wira berada.
"BRAK!" Rayden dengan cepat memasuki ruangan di depannya bersama beberapa orang berjas hitam. Ia pun menatap lurus ke Wira yang berjabat tangan dengan seorang pria. Tampaknya, pembicaraan mereka telah selesai dilakukan.
"Ehh, Rayden? Ngapain kamu ke sini?" Wira berdiri disusul Kinan yang terkejut atas kehadiran tetangganya itu yang nampak terburu-buru.
.
Hiya... apakah pernikahan Qila akan terjadi dengan Aidan ataukah orang lain? Bagaimana reaksi orang tua Qila jika mengetahui mereka sudah punya cucu di luar nikah?😰
Btw, Om Bram kemana ya😁guys