
"Eh, Qila hari ini tidak pergi ke sekolah?" tanya Arum melihat gadis di depannya tidak memakai seragam dan hanya berpakaian biasa-biasa saja.
"Ti-tidak, Tante," jawab Qila gugup.
"Kenapa?" tanya Arum heran sebab yang dia tahu, Qila adalah anak yang rajin ke sekolah.
"Katanya, ada temannya yang sakit jadi Qila hari ini tidak sekolah dan menemani temannya itu," ucap Kinan yang menjawabnya.
"Wah, sudah setahun tidak melihat mu, ternyata kamu tetap baik hati, Qila." Puji Arum membuat Qila menunduk malu.
"Dan lagi, hari ini Tante merasa kamu terlihat lebih cantik dan manis tanpa kacamata, apakah kamu sekarang pakai lensa mata, Qila?" tanya Arum sedikit berbasa-basi.
"Ya, Tante. Kemarin Qila pergi bareng Mama dan Hana," ucap Qila tersenyum simpul.
"Kalau begitu, kemana Hana?" tanya Arum pun mencari Hana.
"Ke-kenapa Tante cari Hana?" tanya Qila.
"Qila..." ucap Kinan memegang lengan Qila kemudian menjawab, "Tante Arum mau ngajak Hana jalan-jalan hari ini, tapi Hana masih belum pulang ke rumah, mungkin kakakmu itu masih ada pelajaran tambahan di sekolah. Jadi ...."
"Jadi apa, Mah?" tanya Qila memotong ucapan Ibunya.
"Jadi, apa kamu bisa menemaninya?" Tatap Kinan pada Arum yang datang untuk mengajak Kinan keluar bersamanya, tapi Kinan tidak bisa karena hari ini ada pertemuan bisnis yang harus dihadiri bersama suaminya.
Qila tertegun diam kemudian melihat Arum yang tersenyum penuh harap. 'Pantas saja pakaian Tante Arum begitu rapih hari ini, ternyata ingin keluar. Apa sesuatu telah terjadi?' pikir Qila merasa Arum terlihat punya beban pikiran juga. Siapa lagi kalau bukan putranya yang dipikirkan wanita cantik itu.
"Duh, sepertinya tidak usah deh, Kinan." Qila sontak terkejut mendengar Arum menolak dirinya, membuat Qila lagi-lagi merasa sedih. 'Bahkan Tante Arum lebih menginginkan Kak Hana dari pada aku. Memangnya seburuk apa sih aku ini?' batin Qila.
Melihat ekspresi murung putrinya, Kinan pun bertanya pada Arum. "Kenapa, Rum?" Dengan ragu-ragu, Arum pun menjawab, "Qila pasti hari ini capek, Kinan. Aku tidak enak jika merepotkannya nanti," ucap Arum ternyata kasihan dan tidak mau melihat Qila kecapekan. Sudut pandang Qila langsung berubah. Senyumnya pun merekah karena merasa Arum sedang mencemaskan dirinya.
Gadis itupun pindah duduk di samping Arum membuat Kinan sedikit terkejut melihat putrinya yang ceria.
"Ta-tante tidak perlu cemas, Qila bisa kok hari ini menemani Tante. Lagipula, Qi-qila juga sebenarnya ingin sekali jalan bareng sama Tante." Qila menjawab sambil memainkan dua ujung jari telunjuknya seperti anak kecil yang manis. Lebih tepatnya, Qila mengingatkan Arum pada dirinya yang dulu lugu dan polos.
'Ku harap Tante mau mengajakku...' batin Qila menatap Arum yang masih diam dan berpikir. Dalam hatinya, ia sedikit iri pada Hana sebab tiap kali Arum ingin pergi keluar refreshing, hanya Hana yang selalu diajak, sedangkan Qila sama sekali jarang dilirik oleh Arum.
Benar-benar dirinya seperti parasit yang dijauhi oleh orang lain. Tapi kali ini, Qila dengan inisiatif melangkah sendiri mendekati Arum, wanita anggun yang merupakan nenek dari dua bayi yang telah terlahir dengan selamat.
"Baiklah, Qila bisa ikut sama Tante." Arum mengangguk dan tersenyum. Qila balas tersenyum dan langsung meraih tangan Arum kemudian berterima kasih.
"Makasih udah mau ajak Qila, Tante. Sekarang Qila ke atas dulu ganti baju. Tante di sini tungguin Qila."
Qila bergegas meninggalkan ruang tamu dan berlari menuju ke arah kamarnya. Ia melepaskan tasnya kemudian memakai baju yang lain.
Kinan yang tadi melihat putrinya begitu senang, ia juga ikut senang karena Qila jarang sebahagia itu.
"Sepertinya hari ini ada adalah hari keberuntungannya." Kinan tersenyum lega melihat Qila kini pergi bersama Arum memakai mobil pribadi. Memang benar, Qila yang sekarang duduk di sebelah Arum sedang menahan dua rasa yang bergejolak di hatinya. Rasa senang dan juga tegang seolah bercampur jadi satu.
"Kamu baik-baik saja, Qila?" tanya Arum pada Qila yang selalu meliriknya diam-diam.
Qila menunduk lalu diam. Ia seperti ingin mengatakan sesuatu tapi nampak ragu dan membuat Arum merasa gemas.
"Qila, jika ada yang mau ditanyakan, katakan saja pada Tante," ucap Arum sedikit memaksa. Qila semakin menunduk dan merapatkan mulutnya.
"Qila, daritadi kamu diam terus, bagaimana kalau ceritakan pada Tante bagaimana kondisi temanmu itu?" tanya Arum ingin mencoba lebih akrab dengan Qila.
Ini memang kesempatan bagus untuk Qila curhat, tapi Qila juga takut membayangkan reaksi Arum nanti.
"Oh ya, bagaimana kabarmu di luar negeri? Apakah pendidikan mu baik-baik saja di sana? Apa ada seseorang yang pernah kamu sukai di sana?" tanya Arum bertubi-tubi. Membuat supir yang menyetir hanya geleng-geleng kepala melihat majikannya itu melontarkan banyak pertanyaan.
Arum tambah gemas melihat Qila cuma menggelengkan kepala. Tapi ia pun terdiam ketika diberi pertanyaan dari Qila.
"Tante, kenapa hari ini Tante mau jalan-jalan?"
"Oh itu, hahaha.... cu-cuma menghilangkan sedikit rasa stress," ucap Arum tertawa kekeh. Qila terpaku kemudian tertawa kecil, namun seketika menoleh saat Arum menghembus nafas berat.
"Kenapa, Tante?" tanya Qila.
Arum pun mengatakan apa yang menjadi beban pikirannya. Mengatakan jika Aidan diusir oleh ayahnya dan dilarang pulang. Membuat Arum cemas dan gelisah memikirkan cara bagaimana hubungan suaminya dan anaknya itu kembali akur. Tapi Arum tetap menyalahkan suaminya yang terlalu keras mendidik Aidan.
"Ishh, Papanya Aidan itu memang jahat. Padahal dia dulu lebih parah dari Aidan. Hiks," tangis Arum sambil memakai tissu. Sedangkan Qila syok mendengar itu.
'Ka-kak Aidan diusir?' batin Qila memegang dadanya lalu menunduk lesu. Keinginannya untuk curhat akhirnya pupus. Qila semakin tidak percaya diri. Membayangkan kemarahan Rayden membuat Qila gemetar hebat.
"Nyonya, kita sudah sampai," ucap supir menepikan mobilnya di depan taman bermain yang banyak dikunjungi oleh anak-anak dan juga pasangan muda.
"Qila, sini kita keluar, hari ini Tante mau puas bermain di sini." Arum keluar dari mobil dan segera disusul Qila berdiri di dekatnya.
"Hmm, kamu kenapa, Qila?" tanya Arum terkejut melihat gadis itu pucat.
"Itu, Tante beneran mau main di sini?" tanya Qila.
"Hmm, iya dong. Memang kenapa? Qila tidak suka? Atau mau ke tempat lain? Misalkan, ke karaokean?" ucap Arum membeli tiket wahana.
"Tidak, Tante. Tempat ini sudah cocok kok," ucap Qila tersenyum paksa tapi sebenarnya ia sedang melawan rasa traumanya yang dulu ia alami di taman bermain seperti itu.
Air matanya ingin keluar sekarang mengingat dirinya waktu kecil dulu pernah terjatuh dari wahana akibat tidak sengaja didorong oleh kakaknya sehingga kepalanya mendapat benturan yang cukup keras. Beruntungnya, ia masih diberi keselamatan meskipun dulu harus mendapat 15 jahitan.
"Duh, kalau saja suami Tante bukan pebisnis, Tante pasti bisa ke sini berkencan dengannya. Ahh, jadi ingin kembali muda, tapi sayangnya Tante udah punya dua kecebong besar dan sudah tua, hahaha," tawa Arum lepas kemudian melirik Qila yang diam saja di sebelahnya. Ditambah Qila mengepal kuat-kuat tangannya.
'Hm, dia seperti terlihat lebih parah dariku, apa sebenarnya yang dipikirkan anak ini sampai diam begitu?' pikir Arum sangat penasaran. Harusnya pergi jalan-jalan itu terasa menyenangkan, tapi ini malah sebaliknya.
Ketika Arum mau memegang bahu Qila, tiba-tiba seseorang duluan menepuk bahunya kemudian memanggilnya.
"Lho, Mama? Kok ada di sini?" Seketika membuat Qila tersentak kaget mendengar suara Aidan. Ia pun menoleh dan benar saja di depannya adalah Aidan dan juga Evan.
"Ehh, Qila? Kenapa kamu juga ada di sini?" tanya Evan sopan di depan Arum dan menunjuk Qila. Ia tidak terkejut tapi lumayan senang adanya Qila di taman bermain.
'Yeah, mumpung Qila ada di sini, sepertinya aku bisa mengajaknya kencan, hehe,' batin Evan yang datang setelah dari tempat tinggal Dokter Bram. Namun di tempat itu, Bram tidak ada sehingga Aidan dan Evan singgah ke taman bermain untuk membeli beberapa mainan buat si kembar.
Melihat Evan yang senyum-senyum sendiri membuat Aidan terheran-heran. Ia pun mengikuti arah mata Evan dan ternyata tertuju pada Qila. 'Kok dari tadi sikapnya seperti itu? Kalau di depan Qila, Evan lebih banyak tersenyum. Hmm, apa dia suka sama Qila?' Aidan menekuk mukanya kemudian membayangkan dua pernikahan yang digelar di depan rumah Raiqa. Tapi Aidan langsung membuang pikirannya itu karena merasa tidak cocok bersanding di sebelah Hana. Aidan pun melirik Qila, dan membayangkan gadis itu menjadi istrinya tapi Aidan cepat-cepat menangkisnya. Merasa Qila sangat-sangat tidak cocok untuknya. IQ-nya begitu jauh sekali, bagaikan bumi dan langit.
.