Little Twin'S Daddy

Little Twin'S Daddy
54. Mengambil Tes DNA



Melihat keranjang yang sudah penuh, Hana pun memberinya ke kasir untuk dijumlah. Setelah membayar semua itu dengan menggunakan uang sisa yang ditinggalkan Ibunya, Hana pun keluar menenteng kresek belanjaannya. Keluar dari toko dan menghampiri Aidan yang berdiri di dekat motornya.


"Udah semua?" tanya Aidan naik dan siap mengendarai motornya untuk membawa Hana pulang.


"Udah, Bang." Mengangguk dan tersenyum pada cowok itu.


Aneh, biasanya Aidan tersipu jika melihat senyum Hana, tapi kali ini ia tidak merasakan apa pun. 'Hmm, apa yang terjadi padaku?' batinnya diam dan tidak menyadari Hana menaiki motornya.


"Bang, yuk jalan." Menepuk bahu Aidan yang bengong.


"Bang Aidan... lagi mikir apa ya?" tanya Hana dan melihat wajah Aidan dari kaca spion.


"Ehh, okeh." Angguk Aidan tersadar dan kemudian melaju pergi.


'Bang Aidan dari tadi diam terus, dia niat gak sih temani aku belanja hari ini? Atau jangan-jangan aku yang udah ganggu waktunya ya?' pikir Hana sedikit kecewa tidak ada pembicaraan di tengah perjalanan. Bahkan sampai di rumah, Aidan juga diam. Tetapi saat ia melihat Hana berdiri di depan pintu, Aidan turun dari motor dan berjalan di belakangnya.


"Kenapa tidak masuk, Hana? Kunci rumahmu terjatuh di jalan?" tanya Aidan.


"Ada kok, cuma ada yang aneh aja, Bang," ucap Hana mengeluarkan kunci rumah dan membuka pintu kemudian menaruh belanjaannya di dekat pinggir pintu.


"Aneh apanya?" tanya Aidan.


"Jam segini harusnya Bang Raiqa dan Qila udah pulang, tapi di rumah kayaknya gak ada orang," jawab Hana membuka horden jendela di dekatnya.


"Mungkin Raiqa masih di sekolah dan Qila mungkin juga pergi ke rumah temannya," ucap Aidan yang dia kira Qila berada di apartemennya, sedangkan Raiqa, ia mengira cowok itu seperti biasa pergi ke pusat permainan online dengan teman gamenya daripada ke apartemennya karena Raiqa tampak tidak mau terlalu ikut campur dengan masalah Aidan lagi.


"Hmm, bisa jadi sih," gumam Hana mangut-mangut.


"Eh, Bang Aidan tidak pulang ke rumah?" Tunjuk Hana ke rumah sebelah.


"Ya akhir-akhir ini aku bermalam di apartemen. Kamu kan tau sendiri kalau di sana ada bayi yang harus dijaga," ucap Aidan grogi.


"Ehh, Bang Aidan masih buka jasa penitipan anak?" tanya Hana belum meninggalkan tempatnya berdiri.


"Ya gitulah, belajar mandiri dan tidak terlalu bergantung pada orang tua," ucap Aidan tersenyum gugup.


"Hmm, sekarang udah jam empat, aku pergi dulu. Dah!" pamit Aidan melambai kemudian pergi tanpa berbasa-basi pada Hana karena barusan mendapat kabar tentang hasil tes DNA Aiko dan Aila yang sudah keluar. Dipastikan tujuannya menuju ke rumah sakit sekarang. Mengambil tes DNA itu.


"Aishh, Bang Aidan! Padahal aku masih mau bicara, mau ajak dia kencan besok sesuai ucapan ku dulu, tapi sepertinya Bang Aidan sibuk dan tidak memikirkannya lagi. Apa mungkin Bang Aidan udah gak suka sama aku ya?"


Hana melihat gelang yang dibeli Aidan untuknya yang terpasang di pergelangan tangan kirinya. Gara-gara memakai seragam yang berkerah panjang, gelang itu tidak pernah dilirik Aidan.


"Huft, ya udahlah. Mending aku makan dulu. Kalau nunggu Raiqa dan Qila pulang, malah aku bisa mati kelaparan di sini. Tapi ... aku mau masak apa ya?" Hana yang cerdas di sekolah tampaknya tidak tahu bagaimana meracik bumbu masakan untuk mengganjal perutnya yang sudah keroncongan itu. Ia selama seminggu ini memang cuman mengandalkan Qila.


"Ishhh, Qila kemana sih! Jam segini harusnya udah pulang! Dia pasti keluyuran sama teman cupunya! Dasar tidak tahu diri, udah dapat nilai bagus di sekolah, dia malah ngelupain tugasnya di rumah! Awas saja, tidak ada istirahat untukmu malam ini." Hana yang kesal masuk ke dapur dan membawa barang belanjaannya. Masak tidak karuan sendirian di rumah. Mau pesan online, dia juga malas.


Di waktu yang sama, di luar kota. Tampak Kinan syok di samping Wira yang kini pria itu menghabiskan lima gelas air putih setelah mendengar alasan Rayden datang menemuinya. Saking terkejutnya mengetahui tentang putrinya maka cara satu-satunya meredakan amarahnya yang sedang meluap-luap itu adalah lima gelas air putih tersebut.


Dan cara menyelesaikan masalah ini sudah dipastikan hanyalah pertanggungjawaban Aidan yaitu PERNIKAHAN. Tapi, apakah Aidan bisa menerima kenyataan itu nantinya?


.


😰Yang sabar ya Wira, hidupmu selalu aja kena masalah🙏maafin author🤗moga jantung mu tetap aman😅hhe