
"Hei, Qila!" Seseorang memegang bahu Qila yang sedang tidur di dalam kelas. Meski tidur di jam istirahat, teman kelasnya sedikit risih melihatnya begitu.
"Hmm, ketua kelas? Maaf, ada apa?" tanya Qila masih mengantuk dan melihat di kelasnya tidak ada Hana. Seperti biasa, Hana pergi makan di kantin bersama gengnya.
"Kamu ... kalau gak enak badan, mending tidur di uks aja," ucap ketua kelasnya merasa kasihan.
"Ya tuh, mending ke uks aja," sahut yang lain.
"O-ok, maaf." Qila pun pergi ke UKS. Setelah meminta izin ke petugas yang jaga, Qila pun masuk ke dalam bilik dan berbaring sejenak di atas tempat tidur yang kecil.
Saking lelahnya, Qila lebih mengutamakan istirahat daripada mengisi perutnya yang juga kosong.
"Kalau saja aku punya sedikit tenaga, aku pasti bisa ke kantin. Tapi, aku ngantuk banget." Keluh Qila kemudian memejamkan mata. Namun beberapa menit saja, Qila membuka matanya setelah mendengar di dalam bilik sebelahnya itu ada orang yang masuk.
Hmm, siapa?
Qila turun dan menggeser tirai di depannya. Ternyata orang itu adalah Evan. Salah satu anggota osis yang tampak seperti habis melerai siswa yang berkelahi dan akhirnya terkena pukulan di sudut bibirnya serta siku kirinya yang lecet.
"Hmm, Qila? Ngapain kamu di sini?" tanya Evan berpaling dan kembali mengobati sikunya.
"Aku tidur sebentar di si-sini, Kak," ucap Qila canggung.
"Oh, kurang tidur lagi?" tanya Evan tanpa melihatnya. Nada suaranya juga dingin dan sudah tidak seperti biasanya.
"I-iya, Kak," kata Qila sedikit sedih merasa sifat Evan seperti Aidan.
"Terus, kenapa kamu berdiri di situ?" Evan menatapnya tanpa senyuman.
"Itu, aku mau berterima kasih," ucap Qila menunduk karena tatapan Evan yang sinis.
"Soal apa?" tanya Evan siap pergi dari uks.
"Soal minggu lalu, Kak Evan sudah banyak bantu Qila melalui ujian kemarin, berkat ajaran Kak Evan, aku dapat poin lumayan banyak," ucap Qila sedikit tersenyum tetapi Evan hanya menanggapinya satu kata.
"Oh." Lalu pergi begitu saja membuat Qila tambah sedih melihat cowok itu tiba-tiba menjauhinya.
'Apakah dia sudah tahu kalau aku sudah menikah dengan Kak Aidan sampai dia menjauh begini?' batin Qila duduk ke tempatnya kembali.
'Atau Kak Raiqa sudah mengatakan padanya kalau aku tidak suka dia?' pikirnya menunduk.
"Maaf, aku menolak ini karena aku tidak pantas disukai olehmu, Kak." Qila menangis kecil dan tidak sadar ada orang yang masuk.
"Hei, kenapa kamu menangis?" sahutnya bertanya dan berdiri di depan Qila yang terkejut.
'Kak Aidan?' Qila cepat-cepat mengusap air matanya. Seolah tidak percaya cowok itu datang melihatnya.
"Siapa yang buat kamu nangis?" tanya Aidan lagi.
"Ti-tidak ada," lirih Qila menggelengkan kepala.
"Cih, aku tidak suka orang pembohong, jadi jujur saja, siapa orang itu?" tanya Aidan paksa dan ingin mencengkeram rahang Qila tetapi gadis itu secepatnya menghindar.
"Oh, begitu ... kamu tidak mau mengatakannya?" ucap Aidan mulai kesal.
"Ck, tidak usah cengeng begitu, Papa mu dan Papa ku sudah mulai mencarinya," decak Aidan kemudian membuka tirai di sebelah tapi kosong. Ia mencari Evan tetapi sahabatnya itu juga selalu menghindarinya, padahal Aidan ingin membantu mencari Raiqa bersama cowok itu.
'Sepertinya tadi aku salah lihat. Di sini cuma ada Qila sendirian.' Batin Aidan ingin pergi dan merasa tidak perlu mencemaskannya karena baginya Qila hanya istri yang tidak penting. Tapi,
"Tunggu, Kak!"
"Kenapa? Kamu mau uang?" tanya Aidan sinis.
"Ti-tidak jadi." Qila tidur dan membelakangi Aidan.
"Tch." Aidan mendecak lidah kemudian keluar meninggalkan Qila yang sebenarnya ingin Aidan tinggal sebentar dan menemaninya. Tapi tatapan Aidan menakutkan.
"Huft, gak apa-apa, aku bisa melaluinya sendiri." Qila pun memejamkan matanya meski hati dan kepalanya terasa masih sakit. Tapi percuma, Qila tidak bisa tidur. Ia pun membuka hapenya dan rupanya ada pesan masuk darinya. Senyum Qila mengembang melihat foto Ibunya yang tampak senang mengurus cucunya. Tak lupa juga, pembantu yang tidak tahu apa-apa itu datang membantu Kinan. Akhirnya, pembantu itu disuruh ikut merahasiakannya dari Hana.
'Hadeh, Mama ini terlalu santai. Mudah-mudahan mulut Bibik bisa dijaga.' Gemas Qila pada pesan Ibunya itu. Qila pun iseng-iseng membuka pesan Bram. Tapi pria itu tidak pernah aktif lagi. Bahkan pesan terakhir Qila yang memberitahunya ingin menikah, tidak dibalas Bram.
'Coba deh, aku telepon nomornya.' Qila pun menghubungi kontak Bram tapi tetap tidak terhubung alias mati.
'Ihh, Om Bram kemana ya? Apa sudah tahu kalau aku sudah nikah jadi dia pulang ke asalnya? Tapi, kalau mau pulang, Om pasti pamit ke aku.' Batin Qila mendengus.
'Mungkin saja hape Om Bram lagi rusak jadi tidak bisa dihubungi dulu. Ya udah deh, aku lanjut tidur dulu aja.'
Walaupun sudah istirahat, ternyata itu belum cukup memberinya tenaga. Qila tetap mengantuk selama jam pelajaran terakhir dimulai sampai waktunya jam pulang.
"Hei, Hana. Coba lihat Qila, dari tadi wajahnya kusut dan pucat gitu, dia kenapa sih? Apa dia kurang sehat?" tanya salah satu geng yang bersiap masuk ke dalam mobil.
"Udahlah, jangan dipikirkan. Mending antar gue pulang," pinta Hana masuk ke dalam mobil daripada memanggil Qila pulang bersamanya.
"Haha, lu masih aja kek gitu sama Qila. Padahal Qila itu lumayan juga loh. Kalau diajak gabung ke sirkel kita, mungkin cowok-cowok bakal tergila-gila dengan kita dibandingkan sirkel lain di sekolah ini," ucap mereka lagi dan masuk ke dalam mobil.
"Gak usah ngarep deh, dia gak pernah ada niat buat gabung ke kalian. Dia itu lebih suka gabung dengan teman-teman sesama cupunya," ucap Hana judes.
"Wihh, tapi coba deh lu liat di sana, daritadi Qila cuma berdiri sendiri," tunjuk mereka ke Qila yang berdiri di dekat persimpangan jalan.
"Bisa saja dia lagi nunggu temannya yang beda sekolah, apalagi di dekat sini ada sekolah juga, yah... walaupun tidak seelit sekolah kita, haha," tawa salah satu dari mereka.
"Haha, mungkin juga temannya itu kismin dan terpaksa berteman dengan Qila supaya bisa dimanfaatkan. Toh, itung-itung teman culunnya bisa nebeng bareng Qila pakai taksi mahal." Mereka terbahak-bahak dengan sombong di samping Hana yang terlihat mengukir senyum tipis. Mereka pun pulang dan masa bodo dengan Qila.
Secara langsung, kepergian mereka sangat bodoh dan kurang tepat. Seandainya bisa menunggu, mereka bisa melihat Qila pulang bersama Aidan yang datang mengajak istrinya itu pulang sesuai keinginan Ibu mertuanya. Tetapi, terlepas dari Hana, dari kejauhan sana ada Evan yang tidak sengaja melihat Qila dan Aidan.
"Sial, kalau begini terus mending gue pindah sekolah." Evan menancap gas dan melaju pergi. Berusaha mengabaikan kecemburuannya itu tapi semakin dipendam rasa kecewanya, semakin dia ingin gila. Dua tahun ia habiskan menjaga hatinya untuk Qila, tapi takdir cintanya tidak memihak padanya. Untung saja Evan masih belum berpikir untuk menyebarkan aib sahabatnya itu ke publik.
Sementara Qila, gadis itu malah tidur pulas di punggung Aidan yang sedang menyetir motornya. Rasanya Aidan ingin marah besar, tetapi melihat wajah lelah istrinya di kaca spion, membuat niatnya itupun hilang. Terpaksa ia memperlambat motornya sambil meletakkan dua tangan Qila di pinggangnya dan tidak lupa memegang satu tangan istrinya itu agar tidak jatuh. Tetapi, entah kenapa Aidan merasa hatinya selalu berdebar-debar merasakan dada montok istrinya yang sedang menempel di punggungnya.
'Cih, apa dia sengaja ketiduran supaya bisa menggodaku?' batin Aidan cemberut dan masih marah. Ia tampak tidak sadar pipinya juga bersemu merah.
.
Si montok pengen disayang tau bukan dicuekin🥺🤭