
[Like dan komen ya]
.....
"Dadyi? (Daddy?)" Kaget Aiko turun cepat dari bangku, mendekati Bram yang terluka di depannya. Bram yang berhasil terlempar dari ruang waktu, ia juga kaget melihat putra sulungnya itu masih hidup.
"Hmm, napa Dedyi bisya na duyuk sinih? (Kenapa Daddy bisa duduk di sini?)"
"Pelut na Dedyi juga napa melah? (Perutnya Daddy juga kenapa merah?)" tanya Aiko duduk di dekat Bram yang tidak memakai samaran sehingga bocah cilik itu mengenalinya.
"Dedyi juga napa pake baju ntuh?" Menunjuk dengan jari mungilnya dan terheran-heran. Bram perlahan memegang pipi gembul Aiko dan memeluk putranya. Pria itu meneteskan air mata membuat Aiko kebingungan. Tentu Bram senang bertemu Aiko dan ia sadar dirinya telah pindah ke timeline yang berbeda.
Tiba-tiba, seseorang memanggil Aiko membuat pertemuan haru itu menjadi singkat. "Aikooo, kamu di mana sayang?!"
Bram terkejut, mengenali suara itu milik Qila. Bocah cilik polos itupun melepaskan diri dari Bram dan berdiri.
"Momyi! Ayyiko na di sinih!" Berlari dengan kaki kecilnya ke sumber teriakan.
"Astaghfirullah, Aiko dari mana saja, sayang?" tanya Qila jongkok di depan putranya sambil menyapu celana Aiko yang kotor. Bram berdiri dan bersembunyi sambil diam-diam melihat Qila telah menjadi wanita cantik yang anggun. Terutama ia masih memakai kalung pemberiannya. Usinya pun sudah pasti 20 tahun sekarang.
"Momyi, Ayyiko na tadi main di situh, telus na ada Dedyi di sana!" Tunjuknya ke arah bangku.
"Dedyi na di sini tawu!" sahut Aila, gadis mungil yang berada di pundak Aidan.
"Ehhh, Dedyi na kok sama Ayyila?" Kaget Aiko terheran-heran.
"Ya udah, mungkin tadi Aiko salah lihat, sekarang kita masuk ke dalam lagi." Qila menggandeng tangan mungil Aiko, membawanya masuk dan melewati Aidan begitu saja. Aila pun cemberut melihat Ibunya lagi-lagi tidak menegur sapa ayahnya.
"Dedyi, Momyi napa begitu? Dedyi ntuh kan gantyeng, kenapa Momyi suka hindalin Dedyi?" tanya Aila heran.
Mendengar itu, Bram yang menguping, pun ia sadar jika sekarang Qila masih belum membuka hatinya untuk Aidan.
"Haha, gak usah dipikirkan, Momi kalian itu lagi jual mahal. Yuk kita sekarang masuk sebelum Tante kalian yang lagi menikah hari ini ngambek." Kata Aidan tersenyum dan mengacak-acak rambut Aila. Mencoba menahan kesedihannya di depan putri kecilnya itu.
"Sial, aku hampir lupa dengan ini!" Decak Bram segera pergi dari sana untuk mengobati lukanya sambil mencari di mana Black berada, tetapi sosok itu belum terlihat dua minggu ini.
"Tunggu, jangan-jangan Evan sudah mati?" Pikir Bram diam membisu dan mengira Black menjadi tumbal dari mesin itu. Jika itu benar, harusnya di timeline lalu, ia seharusnya membunuh Evan bukan menghentikan Black.
"Kalau begini, mungkin kah yang merencanakan pembunuhan itu adalah Evan sendiri?" Bram memijat kepalanya, sakit memikirkan siapa dalang kematian istrinya dan juga sedikit sedih sahabatnya itu mati konyol. Tiba-tiba seseorang menepuk bahunya.
"Pak, ada apa ya bapak berdiri di sini?" tanya orang itu rupanya adalah Qila. Tampak tidak mengenali Pak Dosen barunya itu yang berdiri diam di depan kelas. Bram yang sekarang, ia seperti dulu sedang memakai samaran untuk mengawasi istrinya dengan topeng wajah yang berbeda, begitupun identitas yang beda.
Seketika, seseorang lagi menarik Qila menjauhinya. "Maaf, anda siapa? Kenapa berdiri di sini sambil mengamati diam-diam istri saya?" tanya Aidan sinis. Meskipun Qila menjauhinya, dia tidak akan biarkan orang lain menyentuh istrinya kecuali itu anak-anaknya. Bram yang melihat Aidan, entah kenapa cukup kesal. Kalau mau jujur, ia juga termasuk suami Qila.
Melihat tiga orang itu berhadapan, di kejauhan sana, ada Evan yang memperhatikan mereka. "Sial, Aidan selalu saja menempel di dekat Qila. Mau itu di rumah atau kampus, dia seperti anak ayam yang mengekori induknya." Evan menggerutu karena tidak punya kesempatan mendekati Qila. Jika saja ada, rasanya ia ingin menodai iparnya itu. Sementara, Keyra, wanita itu menunduk lesu di kantin karena usai menikah, ia tidak pernah disentuh oleh Evan. Melakukan malam pertama pun tidak pernah sama sekali.
"Kalau begini, apa artinya dia menikahi ku?" Keyra kecewa dan merasa Evan sepertinya tidak sungguh mencintainya. Ia diam-diam menangis dan tidak sadar di sampingnya ada Raiqa. "Kau kenapa, Keyra?" tanya Raiqa. Laki-laki tampan yang juga selama ini diam-diam memperhatikannya, bahkan sebenarnya dia menyukai gadis itu yang lebih tua darinya.
"Ck, apa sih, ganggu aja." Keyra berdiri meninggalkan Raiqa, pindah ke kursi lain.
"Yaelah, gitu aja dia marah." Celetuk Raiqa menyantap makan siangnya sambil mengamati istri sahabatnya itu. Sementara di rumah, Aiko masih memikirkan siapa laki-laki yang dia temui di belakang rumah.
"Sepeltina ntuh memang Dedyi!" Sentaknya yakin sambil makan siang bersama adik kecilnya yang lagi memikirkan bagaimana ayah dan Ibunya baikan, karena selama ini Ibu dan ayahnya itu terlihat pura-pura bahagia. Apalagi paman barunya (Evan) suka bertingkah aneh di rumah.
.
Season 1 Tamat.
Terima kasih telah mengikutinya, untuk kelanjutannya ada di judul lain ( Precious time with you ) π€ Jika kalian suka dan penasaran sama tingkah si baby twins, silahkan ke sana ya.
Sekali lagi, terima kasih telah menemani author menulis bagian pertama ini. Sampai jumpa di season 2. Sayonara dan sehat selalu ...
Btw... Lanjut di buku ini apa di buku lain?π Jawab ya guys, soalnya ini aku bingung kasih jawaban ke pengarang aslinya...