
"Om, tolong jangan begini!" Qila mendorong dada Bram. Hatinya berdebar-debar aneh.
Rasanya sesak dan ingin menangis.
"Kenapa? Kamu gak suka?" tanya Bram sambil menyentuh bibir bawah Qila yang manis.
"Maaf, Om. Aku gak...."
"Okeh, maaf, Om lain kali akan melakukannya setelah mendapat izin darimu," ucap Bram menepuk kepala Qila lalu berdiri saat pesanannya datang. Ia pergi mengambilnya, sedangkan Qila terus menundukkan wajahnya. Sudah dua kali Bram menciumnya, dan itu membuat perasaan merasa bersalah terhadap Aidan.
Qila mengusap air matanya yang jatuh sebelum Bram melihatnya menangis. "Baiklah. Jika ini memang yang terbaik, aku ikhlas pisah sama dia." Meskipun rasanya berat, tapi ia tidak mau merasakan sakit hati lagi. Pernikahan yang dia harapkan bahagia dan Aidan bisa bertanggung jawab, kini ia rasa itu hanya memberinya derita.
"Okeh, lagipula Kak Aidan sudah menikahi ku, jadi aku rasa dia tidak perlu lagi bertanggung jawab. Apalagi sepertinya Kak Aidan akan menceraikan aku setelah lulus sekolah. Daripada begini terus, lebih baik aku sudahi saja." Qila menepuk dadanya, menahan perihnya atas nasib yang dia alami.
"Qila," panggil Bram datang.
"Ya, Om? Kenapa?" tanya Qila tersenyum agar Bram tidak sadar ia yang menangis tadi, tapi hanya sekilas ditatap olehnya, Bram paham kalau gadis itu baru saja meneteskan air matanya. Tapi Bram balas tersenyum dan paham-paham saja.
"Nih, Om baru saja pesan di luar, kita makan malam dengan ini dulu," ucap Bram meletakkan isi nampannya di atas meja.
"Makasih, Om." Qila ingin mengambil sepiring miliknya tetapi tiba-tiba Bram mengambilnya duluan.
"Lho, kenapa, Om?" tanya Qila.
Bram tersenyum simpul dan menyodorkan satu sendok untuknya. Berniat menyuapinya.
"Gak ada apa-apa, cuman Om mau suapi kamu," ucap Bram.
"Om Bram sangat baik, tapi gak usah, Qila bisa kok makan sendiri. Lagipula yang terluka cuma kepala Qila, bukan tangan, hehe," tolak Qila sedikit cengengesan. Tetapi pria di depannya tetap menyuapinya. Membuat Qila terpaksa menelan makanan itu.
"Gak usah ditolak, nanti Om sedih, tau," ucap Bram cemberut. Wajahnya yang tampan berubah jadi lucu.
"Kalau kamu menolak, Om akan cium kamu lagi," ucap Bram serius dengan tatapannya yang mengancam.
"Baik, Om, Qila nurut aja." Qila mengangguk paham. Kali ini Bram yang tertawa dalam hati, namun ia juga sedikit kecewa karena ia berharap Qila menjawab, "Gak apa-apa, cium saja kalau bisa." Tapi Qila yang polos, tetaplah polos.
"Nih, kamu habiskan sisanya," ucap Bram memberikan piringnya ke Qila dan berhenti menyuapi gadis itu.
"Hm, Om mau kemana?" tanya Qila.
"Sebenarnya tadi Om habis jalan-jalan, tapi kebetulan lihat kamu di lapangan itu, jadi Om samperin kamu," ucap Bram lalu mengelus kepala Qila.
"Qila, lain kali jika kamu bingung, cobalah datang ke sini, Om sangat senang dan bersedia memberimu tempat tinggal," lanjutnya tersenyum.
"Sekarang Om mau mandi, kamu disini saja dan habiskan itu." Bram tidak lupa juga mengecup kepala Qila. Sungguh laki-laki yang baik dan membuat Qila senang bisa mengenal Bram. Mungkin hanya inilah jalan bahagia untuknya.
"Ya, Om. Makasih." Qila tersenyum. Setelah Bram pergi, Qila menunduk dan memegang dadanya. Perasaannya tiba-tiba aneh. Ada yang berubah. Sepertinya ia mulai nyaman berada di samping Bram tapi ia juga tidak bisa berhenti memikirkan Aidan dan dua baby twinsnya.
"Apa aku pulang saja ya?" gumam Qila melirik pintu. Namun sejenak Qila diam menunduk. Ia merasa takut pulang. Takut dengan amarah Aidan dan yakin suaminya itu pasti sedang mencarinya.
"Gak deh, aku di sini aja dulu. Kak Aidan pasti bisa jaga Aiko dan Aila di sana!"
Tetapi yang sebenarnya terjadi di apartemen itu sangatlah beda. Karena Aidan sekarang terlihat tidak baik-baik saja. Ditambah isi apartemen itu berantakan seperti habis diacak-acak olehnya.
"ARGHHH, QILAAA!" teriak Aidan marah. Matanya menyiratkan amarah yang sedang meledak. Keputusan Qila memang cukup bagus, ia bisa menghindari amarah ayah kecil itu malam ini tapi entah bagaimana nasib dua bayinya di sana.
.
Awas lho, Bramš¤kalau Rayden tahu menantunya ada padamu, bisa dibombardir rumah barumu ituš¤£mendingan bawa jauh aja itu Qila, ya kan? Apalagi kamu diincar sama sekretarisnyaš¬nih
Untuk Aidan, makan tuh cabe merah hehe