Little Twin'S Daddy

Little Twin'S Daddy
41. Minta DiSusui



Sementara di luar sana, tampak Evan sedang keluar jalan-jalan di sekitar gedung apartemen. "Kira-kira, Qila udah sampai gak ya di rumahnya?" gumam Evan duduk di kursi kosong.


"Daripada kepikiran terus, mending tanya langsung ke dia," ucapnya membuka hape dan mengirim pesan singkat ke kontak Qila yang tadi sempat dia minta di pusat permainan. Seketika pesannya dibalas dengan cepat.


[Maaf, baru kasih kabar, Kak. Qila sudah sampai di rumah, Kak Evan tidak perlu cemas. Terima kasih tadi sudah mengajak Qila naik bianglala]


[Hmm, iya sama-sama. Maaf juga sudah ganggu kamu, Qila]


Evan pun menghentikannya lalu mengelus dada dan merasa senang. Setelah itu, Evan lanjut memperhatikan laptopnya, tapi karena daritadi ia tidak melihat Bram pulang ke rumahnya itu, membuatnya sedikit heran.


"Pria itu, apa dia malam ini sedang menjalankan pekerjaannya? Kenapa belum ada tanda-tanda kepulangannya?" gumam Evan.


"Aihh, besok saja aku mengeceknya, ini sudah masuk jam pulang ke rumah." Evan yang capek menunggu, ia pun melipat laptopnya. Setelah mengirim pesan pamit ke Raiqa, Evan dengan motornya itu pulang ke rumahnya. Sangat disayangkan, jika saja ia bisa menunggu lebih lama, Evan bisa melihat Bram yang sudah tiba di rumahnya.


Di sisi lain, tampak Hana tidur di sebelah Keyra. Gadis itu tidak bisa tidur karena terus memikirkan Qila sambil memandangi hapenya. Menunggu balasan pesannya dari adiknya.


"Ck, kenapa sih belum dibalas? Apa dia tidak peduli sama Mama dan Papa yang lagi keluar kota? Ihhh, menyebalkan!" Hana dengan kesal menaruh hapenya ke bawah bantal kemudian tidur cepat. Keyra yang masih terjaga, ia diam-diam menengok punggung Hana.


"Ish, apa bagusnya sih nih cewek sampai Aidan sering muja-muji dia?" pikir Keyra sudah tahu Aidan suka Hana dari rekannya.


"Dilihat dari dekat begini, bikin orang risih. Dasar Aidan bodoh, cari cewek tuh cari yang polos dikit kek. Kalau sombong kayak gini, mana bisa diajak curhat." Gerutu Keyra dalam hati lalu menutup mata dan memaksa dirinya tidur.


Sementara di ruang keluarga, terlihat Rayden seorang diri duduk memikirkan masalah Aidan sehingga tidak sadar istrinya datang mendekatinya.


"Sayang, dari tadi mukanya ditekuk, lagi mikirin apa sih? Apa lagi mikirin putra kita?" tanya Arum duduk di dekatnya.


"Bukan," ucap Rayden lesu.


"Hmm, terus apa?" tanya Arum menyandarkan kepalanya ke bahu kiri Rayden dan menonton sinema hiburan di televisi.


"Kantor? Atau ada hal lain?" tanya Arum lagi.


"Bukan, ini aku kayaknya besok mau ke luar kota, sayang," ucap Rayden membelai rambut istrinya lalu turun mengelus pipi tembemnya.


"Lagi? Keluar kota lagi?"


"Hmm, iya," angguk Rayden pada Arum yang cemberut.


"Mau ngapain ke luar kota?" tanya Arum sambil memeluk tangan suaminya.


"Mau selingkuh ya?" tebak Arum curiga.


"Astaghfirullah, bukan untuk itu," ucap Rayden mencubit gemas hidung istrinya.


"Terus apa dong?"


"Itu, ada sesuatu yang mau aku bicarakan pada Wira," ucap Rayden mau ke tempat Wira berada.


"Hah? Wira? Sesuatu yang penting kah?" tanya Arum duduk normal.


"Ya lumayan penting sih," desis Rayden ragu-ragu.


"Kalau gitu, aku ikut!" sentak Arum berdiri.


"Gak, kamu tetap di rumah jaga anak-anak," tolak Rayden.


"Akhh, gak mau! Anak-anak udah gede semua, mereka bisa jaga diri. Sekarang ini aku cuma mau di sampingmu, dan untuk kebutuhan anak-anak, kita sewa pembantu dulu," celetuk Arum cemberut dan merengek. Bertingkah layaknya istri yang mau dimanja dan dituruti.


"Maaf, sayang. Bukannya aku tidak mau, tapi –" ucap Rayden berhenti ketika melihat istrinya mau menangis.


"Hiks, jahat, pelit! Mulai malam ini jangan minta itu!" pekik Arum membelakanginya.


Rayden geleng-geleng kepala kemudian berdiri. Memeluk dari belakang sang istri kemudian mencium gemas pipinya.


"Baiklah, kamu boleh ikut." Senyum Arum melebar kemudian melompat dan memeluk Rayden dari depan.


"Nah gini dong, hehehe," ucapnya tak lupa balas mencium tepat di bibir sang suami. Mumpung anak-anaknya tidak lagi berseliweran malam ini di rumah jadi ia bebas cium sana sini. Membuat Rayden sedikit merona melihat tingkah istrinya yang lucu dan wajahnya yang polos itu. Beda lagi di apartemen Aidan yang kembali ricuh gara-gara dua bayinya itu merengek minta disusui dan menolak botol susu yang dibuatkan Aidan di tengah malam ini.


"Raiqa! Bantuin gue dong! Nih, ambil yang satunya!" pinta Aidan meneriaki Raiqa yang mendengkur di atas sofa. Tetapi cowok itu sudah tenggelam ke dalam mimpi Basahnya.


"Aihh, dasar dua-duanya gak bisa diandalkan." Ketus Aidan terpaksa begadang menjaga si debay twinsnya walaupun ia harus berusaha setengah mati menenangkan si Aila yang lagi BAB.


"Ya Allah, ngurus bayi aja udah pusing kayak gini! Memang tidak mudah jadi orang tua! Gue jadi penasaran gimana nasib perempuan itu ketika mengandung dan melahirkan mereka. Pasti lebih parah dari yang gue alami ini."


Kini di jam tiga pagi, Aidan akhirnya berhasil menidurkan bayinya itu dan sekarang ia tumbang tidak berdaya di lantai. Rasanya, setengah nyawanya itu hampir habis terkuras mengurus Aiko dan Aila. Ia pun perlahan memejamkan mata dan tidur walau itu hanya sebentar saja.


.