Little Twin'S Daddy

Little Twin'S Daddy
26. Bermulut Ember



Tibanya di sekolah, Aidan langsung meninggalkan Evan yang masih memarkirkan mobilnya. Ia terus berjalan cepat tanpa mempedulikan pandangan siswa yang berpapasan dengannya.


"Ada apa dengannya?"


"Siapa yang membuat dia semarah itu?"


"Ya ampun, orang itu pasti tidak akan selamat!"


Mereka bertanya-tanya dan sedikit takut melihat Aidan yang marah. Pandangan cowok itu benar-benar hanya lurus ke depan sambil memberikan aura yang menakutkan. Mereka bergegas pergi, namun seketika berhenti saat mendengar suara seseorang yang menghentikan Aidan.


"Woy, Aidan!" sapa Raiqa berdiri di depan Aidan dan melihat Evan di belakang sana nampak berlari ngos-ngosan mengejar langkah Aidan.


"Ck, minggir!" tepis Aidan, namun bahu kanannya berhasil ditahan Evan dari belakang.


"Hai, Aid! Kasih tahu gue, kenapa lo marah gini sih?" tanya Evan sambil mengatur nafasnya.


"Hah? Marah? Jadi Lo bikin muka jelek ini karena marah? Tumben banget," ucap Raiqa sedikit terkejut sebab dulu Aidan tidak pernah membuat raut wajah seperti itu.


"Siapa yang udah buat Lo marah?" lanjut Raiqa bertanya.


Karena dikepung dua sisi oleh kedua sahabatnya itu, Aidan pun menarik nafas lalu mengontrol emosi dan nafasnya. Tapi karena kekesalannya itu, Aidan tidak bisa menghilangkan amarahnya. Apalagi sekarang ia tambah muak saat seseorang datang ke arahnya. Yang tidak lain, ialah adik kembarnya, Keyra.


"Hai, AIDAN!" panggil Keyra melambaikan satu tangannya ke atas. Tapi tindakannya itu tidak dibalas Aidan, melainkan cowok itu menyeret Raiqa dan Evan menjauhi adik kembarnya.


"AKHHH! AIDAN!" pekik Keyra kesal ditinggal pergi oleh tiga cowok yang baginya sangat-sangat menyebalkan di dunia.


"Ck, pasti Raiqa yang menghasut Aidan supaya tidak bertemu denganku. Padahal ada yang mau aku tanyakan padanya!" kepal Keyra menghentakkan sebalah kakinya. "Aidan, aku sungguh ingin tahu bayi siapa yang sudah kau bawa, terutama siapa orang berjubah itu yang sudah meletakkan kardusnya di depan pintu." Keyra merem4s sebuah flashdisk yang berisi rekaman cctv yang terpasang di teras rumah dan sudah merekam gerak - gerik Aidan yang mencurigakan. 


"Lebih baik aku tanyakan ini padamu, daripada berikan pada Daddy. Aku takutnya, sesuatu yang lebih buruk terjadi padamu jika Daddy melihat rekaman ini. Mungkin bukan cuma mencoretmu dari keluarga, tetapi Daddy bisa saja melakukan lebih jauh dari hukumanmu yang sekarang ini."


"Sial, kalau saja aku dekat dengan Evan, mungkin bisa aku suruh dia mencari tahu hal ini." Keyra mendecak lidah kemudian pergi dari tempatnya, mencari seseorang yang memiliki kecerdasan IT di atasnya. Sambil mencari, tidak sangka Keyra berpapasan dengan Hana bersama gengnya. Namun Keyra tetap jalan ke depan dan melewati adik kelasnya itu tanpa menyapa. Itu membuat geng Hana dan terutama Hana sedikit cemberut diabaikan. 


'Dia lebih sombong dari rumor yang beredar.' Batin Hana sedikit tidak menyukai Keyra. Tapi itu tidak berlaku pada Aidan, sebab bagi Hana, Aidan sedikit baik hati daripada Keyra.


"Hai, Hana. Katanya Qila hari ini masuk sekolah, tapi dari tadi kita tidak melihatnya. Apa dia sungguh sekolah di sini atau bersekolah di tempat lain?" tanya teman-temannya mencari Qila. Akan tetapi, Hana cuman diam dan berjalan terus ke depan. Tentu saja, Hana malas menjawab jika bersangkutan dengan Qila. "Ck, mau dia tidak ada di sini pun, aku tidak peduli."


"Hai, Hana! Tunggu kita dong!" Teriak mereka segera mengejar Hana yang berjalan ke ruang guru untuk memberi surat izin yang dia tulis sendiri dari Qila. Sedangkan Aidan, Evan dan Raiqa berada di markas mereka yang terletak di gedung yang bersebelahan dengan gedung olahraga.


"Hai, Aidan! Daritadi gue tanya, siapa yang udah bikin Lo kayak gini?" tanya Raiqa yang duduk di sofa sambil memainkan game sebelum upacara dimulai. Tapi Aidan lebih sibuk mengotak-atik keyboard dan mengetik begitu cepat sesuatu yang dia cari. Mencari inisial AM.


"Hai, kenapa sih dia, Van?" tanya Raiqa jadi tidak bisa fokus gara-gara suara tak-tak-tak yang dikeluarkan dari tangan Aidan.


"Entahlah, aku juga tidak tahu pasti. Tapi sepertinya dia mencari seorang perempuan," jawab Evan duduk di sebelah Raiqa dan membiarkan saja Aidan memakai komputernya.


"Perempuan? Kenapa dia mencari itu?" tanya Raiqa pun terpaksa berhenti bermain game dan mulai tertarik ingin tahu.


Evan sejenak diam lalu menatap Raiqa yang menunggu jawabannya.


"Hai, Evan! Kasih tahu gue dong, siapa tahu gue bisa bantu," ucap Raiqa sedikit berbisik agar tidak mengganggu konsentrasi Aidan yang begitu serius di depan monitor sambil memilah beberapa siswi yang berinisial AM dan ternyata Aidan berhasil mengumpulkan puluhan siswi berinisial AM. Tinggal mencari salah satu gadis AM yang asli.


Karena didesak, Evan pun menjelaskan sedikit demi sedikit yang dia tahu. 


"Apa?!"


"Lo serius? Ada dua bayi titipan di apartemen Aidan?"


Raiqa begitu syok sampai berdiri dari tempat duduknya. Ia segera menutup mulutnya ketika Aidan menoleh ke arahnya lalu menghela lega melihat Aidan kembali fokus menatap daftar nama yang dia buat sendiri.


"Sebentar, dari dulu Aidan itu gak pernah membuka lowongan kerja seperti ini, tapi kenapa dia tiba-tiba menerima titipan dua bayi segala? Dan kemana orang tua bayi itu, Van?" tanya Raiqa menyimpan hapenya di saku celananya.


"Gue juga gak tahu siapa yang menitipkannya, tapi sepertinya apa yang dicari Aidan saat ini mungkin adalah si penitip bayi, lebih tepatnya, Ibu si bayi kembar Aiko dan Aila."


"Wah, loh kok lu bisa tahu nama mereka?" tanya Raiqa.


"Heh, tentu saja gue tahu dari adi-" putus Evan terhenti karena tiba-tiba ragu mengatakan jika di apartemen Aidan ada Qila yang menjaga dua bayi itu.


"Adi siapa?" tanya Raiqa makin penasaran.


Astaga! Aku hampir keceplosan,' batin Evan mengatup mulutnya rapat-rapat.


"Hai, Evan! Lo jangan buat gue penasaran gini dong!" ujar Raiqa sedikit kesal. Namun emosinya segera teralih pada Aidan yang berjalan menghampirinya sambil memegang selembar kertas lalu menyodorkannya di depannya dan Evan.


"Apa ini, Ai?" tanya Raiqa dan Evan.


"Bantuin gue bicara sama mereka," ucap Aidan meletakkan kertas itu di atas meja. Raiqa dan Evan pun mengambil kertas itu dan membaca satu persatu nama yang tersusun rapih di dalam label.


"Wah, buset! Kenapa lo ngumpulin semua cewek berinisial AM, Ai?" tanya Raiqa mendongak ke Aidan.


"Ada yang mau gu-gue tanyakan," ucap Aidan sedikit gugup ditatap curiga oleh Raiqa dan Evan.


"Apa yang mau lo tanyakan?" tanya Raiqa berdiri di sisi kiri Aidan.


"Apa ini sungguh ada hubungannya sama bayi di apartemen lo?" lanjutnya menebak. Membuat Aidan sedikit terperanjat.


"Ba-bayi di apartemen gue? Da-dari mana lo tahu, Rai?" tanya Aidan.


"Nih, si Evan yang barusan kasih tahu gue," kata Raiqa menunjuk Evan. Seketika Aidan cemberut, merasa kesal terhadap Evan yang ternyata bermulut ember.


"Ck, benar," decih Aidan terpaksa jujur.


"Lah, sebentar, gue agak mudeng di sini," ucap Raiqa bingung.


"Kenapa lo?" tanya Evan.


"Gini, kata Evan kan kalau bayi itu adalah titipan, tapi melihat Aidan sepertinya tidak mengenal Ibu si bayi buat gue bingung, siapa yang menitipkan bayi itu?" tanya Raiqa melihat Aidan yang mematung terkejut.


"Oh benar, gue baru kepikiran siapa yang udah memberikan bayi itu?" gumam Evan juga melirik Aidan yang nampak berkeringat dingin.


"Hai, Aidan. Ini sedikit janggal bagi kami." Raiqa dan Evan maju mendekati perlahan Aidan yang mundur sedikit demi sedikit dari mereka. Karena terpojok, akhirnya Aidan bersuara.


"Cukup! Berhenti tatap gue seperti itu! Sekarang gue bakal jujur, tapi kalian berdua harus janji jangan bocorkan ini pada siapa pun," ujar Aidan tidak punya alasan lagi untuk berbohong. Mau berbohong jika ayah si bayi yang datang memberikannya, tapi Raiqa dan Evan pasti akan bertanya lagi siapa nama ayah si bayi itu, sampai digali lagi ke akar-akarnya dan pasti berkahir pada dirinya sendiri.


"Wah wah, tampaknya dugaan kami benar, ada rahasia besar yang Lo sembunyikan dari kami," ucap Raiqa dan Evan tidak sabar mengetahui apa yang mau disampaikan oleh sahabatnya yang bertingkah aneh itu.


Aidan mendesis, merasa enggan mengatakannya, tapi ini terlalu berat baginya menanggung masalahnya sendirian. Apalagi tidak mau membebani Qila terus menerus untuk menyembunyikan bayi itu dari orang lain.


'Ya Allah, ku harap mereka bisa jaga mulut dan tidak langsung melaporkan ini pada Daddy.' Aidan membatin, ia sangat takut membayangkan kemarahan ayahnya yang lebih dahsyat darinya dan itu seakan-akan menghancurkan seluruh tulangnya, membuatnya benar-benar tidak berdaya. Oleh karena itulah, ia memilih pergi daripada melihat ayahnya mengamuk.


"Sebenarnya, gue udah -"


….


Udah gak perjaka ya Ai😭🤣