
Wira House
"Hana, kenapa hanya kau saja yang turun? Mana Qila?" tanya Kinan pada Hana yang masuk ke dapur untuk sarapan bersamanya.
"Kemarin Papa juga tidak melihat adikmu, kemana dia semalam?" tanya Wira yang duduk di sebelah istrinya.
Dengan muka memelas, Hana menjawab, "Qila sedang berada di rumah temannya dan semalam menginap di sana, Papa," ucapnya duduk tanpa melihat Wira dan Kinan yang terkejut.
"Teman?" Kedua orang tua itu tentu tak habis pikir putrinya yang cupu dan lugu itu memiliki teman yang tidak mereka ketahui.
"Hmm, sepertinya karena Mama yang membawanya ke salon, Qila bisa cepat mendapatkan teman," sahut Raiqa datang lalu duduk di samping Qila.
'Ck, ini yang tidak aku sukai,' decak Hana dalam hati.
"Ini karena Mama, haha," tawa Kinan senang mendengar ucapan Raiqa, sedangkan Wira merasa sebaliknya dan perlu menyelidiki siapa saja yang berteman dengan Qila. Ia pun menyudahi sarapannya duluan.
"Papa sudah mau berangkat sekarang?" tanya Kinan.
"Hmm, ada pertemuan bisnis yang perlu dihadiri hari ini. Papa pergi dulu." Wira mengambil jas hitamnya dan memakainya dengan gerakan elegan. Kinan tersenyum lebar melihat suami tampannya yang dingin itu tidak berubah, tapi senyum Kinan hilang setelah Wira pergi. Ia sedikit kecewa tidak diberi sun pagi.
'Aihh, apa dia malu melakukan itu di depan anak-anak?' batin Kinan cemberut, tidak seperti Raiqa yang heran melihat wajah Ibunya yang ditekuk jelek.
'Kira-kira Aidan gimana ya?' pikir Raiqa yang masih memikirkan Aidan.
"Apa aku suruh dia nginap di sini saja?" gumam Raiqa sambil menyantap sarapannya.
"Hmm, apa yang kau pikirkan, Rai?" tanya Kinan.
"Ah! Tidak ada, Mama." Raiqa tersadar dan menjawab sambil tersenyum kaku.
"Oh iya, sudah jam tujuh, Raiqa berangkat ke sekolah dulu, Mama. Assalamualaikum," ucap Raiqa pamit seraya mencium tangan Ibunya.
"Hana juga pergi, Mama." Hana tak lupa ikut pamit.
"Hati-hati di jalan!" pesan Kinan setengah teriak.
"Baik, Mama!" balas keduanya lalu berangkat bersama.
...----------------...
-Apartemen Aidan
Qila yang selesai memandikan Aiko pun menoleh ke arah pintu lalu menatap Aiko. "Baby, Daddy Aidan sepertinya ingin memakai baju seragamnya,"
"Baiklah, ayo kita keluar sebentar dulu." Qila menggendong Aiko yang lucu itu.
Seketika, seluruh tubuh Qila dari atas sampai bawah langsung seperti mati rasa. Ia yang baru saja membuka pintu, ia begitu terkejut melihat Aidan bersama seorang pria lain membawa bayi kecil juga.
'Om Dokter? Kenapa dia ada di sini?' Qila tak tahu dan tak sangka Dokternya datang tanpa memberitahu padanya terlebih dulu. Apalagi datang membawa Aila.
"Hai, Qila! Aku mau tanya sesuatu padamu," ucap Aidan menggoyangkan tangannya di depan wajah Qila sebab gadis itu terus diam saja.
"Ta-tanya apa, Kak?" Qila terbata-bata karena takut. Terutama Bram nampak begitu tenang bertemu dengannya.
"Apa kau yang memanggil Dokter ini?" tanya Aidan menunjuk Dokter Bram. Qila diam sejenak dan melihat Bram yang tersenyum padanya.
"Tuan Aidan, sudah saya katakan, kedatangan saya ke sini karena seseorang memanggil saya dari apartemen ini." Bram mulai bicara lagi.
"Hai, Dok. Bisa saja orang yang memanggilmu adalah orang lain! Lagi pula, aku yakin Qila tidak pernah sembarangan memanggil orang untuk datang ke sini. Apalagi orang mencurigakan sepertimu," kata Aidan dengan sorot mata yang sinis.
"Maaf Tuan Aidan, saya sudah mendatangi orang-orang di apartemen sebelah tapi mereka bukan orang yang telah memanggil saya," ucap Bram hanya alasan.
"Ck, tetap saja kau ini salah alamat!" kata Aidan mendecak kemudian menoleh ke Qila yang mendadak teriak.
"BERHENTI!" pekik Qila sebelum Aiko menangis mendengar perdebatan Aidan dan Bram.
"Ka-kalian tidak usah bertengkar,"
"Yang dikatakannya itu memang benar, aku yang sudah memanggilnya, kak Aidan," ucap Qila gugup luar biasa sudah terpaksa berbohong.
Dokter Bram menghembus nafas berat melihat Qila yang jelas terlihat takut mengatakan sejujurnya.
"Kenapa kau memanggilnya?" tanya Aidan kini melirik curiga Qila yang tidak mengatakan itu padanya.
"Ah itu, kemarin Aiko tidak berhenti menangis, aku khawatir Aiko demam," kata Qila, tapi sebenarnya itu salah karena kedatangan Bram bukan untuk memeriksa Aiko tetapi memberikan Aila untuk dirawat oleh mereka berdua.
"Ohh, begitu..." Aidan mangut-mangut dan melirik Bram lalu memandangi bayi di tangan pria itu.
"Jika kau datang untuk ini, lalu mengapa kau membawa bayi segala? Apa ini bayimu?" tanya Aidan pada Bram membuat Qila panik dan cemas pada Dokter itu yang mungkin saja mengatakan Aila adalah anaknya juga.
"Kau salah," ucap Bram lalu melihat Qila yang tampak berkeringat dingin.
"Ha? Salah? Apa maksudmu?" tanya Aidan sedikit terkejut dan kesal melihat wajah menjengkelkan Bram.
"Ya, kau salah. Anak ini bukan bayiku tetapi milik,"