
Flashback Bram di masa depan
"Papa...." Seorang anak kecil berumur sekitar lima tahun memasuki sebuah ruangan yang penuh dengan alat-alat canggih. Wajahnya tampan, imut dan tidak jauh beda dari rupa ayahnya. Hanya saja bentuk mukanya lebih dominan ke wajah Ibunya yang sudah meninggal lima tahun lalu akibat dibunuh oleh seseorang tidak dikenal.
Bocah cilik itu tidak datang sendirian. Ia masuk ke ruangan itu bersama kakak perempuan cantiknya dan satu wanita dewasa yang seumuran dengan ayahnya.
"Rafka!" teriak bocah perempuan itu mengejar adik kecilnya yang lari ke arah ayah mereka.
"Aila, jangan lari-lari," ucap wanita itu menyusul dua keponakannya.
"Papa! Hik, hik," isak Rafka menarik ujung jas putih ayahnya yang sibuk memperhatikan aliran data dalam mesin yang sedang ia perbaiki.
"Oh, Rafka dan Aila, kenapa datang ke sini? Bukannya kalian harus ikut menemani Oma buat pilih-pilih baju kalian untuk pernikahan-" ucap pria itu membuka kacamatanya, menunjukkan wajahnya yang dominan ke Aila, yang tidak lain dia adalah Aidan.
"PAPA!" ujar Aila cemberut bersama adiknya.
"Papa, Lafka ndak mawu Tante Hana. Lafka mawu na sama Mama, Papa...." rengek Rafka melompat-lompat.
"Benar, Ayila juga tidak setuju Papa menikah!" sahut Aila di sebelah adiknya. Memasang wajah ingin menangis agar ayahnya tidak memberi mereka Ibu baru.
Aidan mengelus kepala dua anaknya itu kemudian melihat Keyra. Saudara kembarnya yang kadang menjadi Ibu bagi Aila dan Rafka yang tumbuh tanpa Ibu kandung mereka selama lima tahun ini, alias Qila meninggal setelah Rafka lahir.
"Aidan, sejak kemarin kamu selalu ada di sini, apa jangan-jangan kamu ingin melakukan itu?" tanya Keyra tahu Aidan juga menolak pernikahan keduanya. Tetapi karena paksaan dari dua belah pihak, Aidan menerima pernikahan itu.
"Kau tahu, dulu aku sangat ingin menikah dengannya, tapi setelah aku mengetahui yang sebenarnya, keinginanku itu langsung hilang," ucap Aidan lalu berjongkok di depan Aila dan Rafka.
"Ini salah Papa, gara-gara Papa, kalian berdua kehilangan Ibu dan saudara kalian. Papa gagal melindungi kalian." Aidan memeluk dua anaknya itu yang kini sungguh menangis. Mesipun Aidan bicara seperti itu, kedua anaknya tidak pernah membencinya, mereka memilki sifat lembut seperti Ibu mereka, tidak sepertinya yang dulu pasti sudah memendam kebencian.
Setelah menenangkannya, Aidan berdiri dan melihat Keyra kembali. "Key, aku titipkan mereka padamu," ucap Aidan melihat mesinnya sudah siap dipakai.
"Papa, mau kemana?" tanya Aila dan Rafka.
"Aila, Rafka, Papa akan pergi sebentar ke tempat Ibu kalian," ucap Aidan tersenyum lembut.
Aila dan Rafka mengusap air mata mereka dan langsung memeluk Aidan. "Papa, kita boleh ikut?" tanya kedua bocah itu mendongak sambil tersenyum.
"Tidak, ini beresiko. Kalian tetap di sini sama Tante Keyra," tolak Aidan lalu mengambil sebuah kotak berisi inti penting untuk mesin waktunya.
"Keyra, jika aku tidak kembali, tolong jaga mereka baik-baik," kata Aidan pada Keyra.
"Baiklah, kau tidak perlu cemas," ucap Keyra paham. Ia dalam hati ingin mencegah Aidan melakukan itu tapi karena Aidan yang bersikeras, ia tidak bisa melarangnya.
"Akhh, Papa! Jangan tinggalkan kami!" pekik Aila berteriak kepada ayahnya yang masuk ke dalam ruang mesin itu berada. Sedangkan Rafka si kecil itu memberontak di gendongan Keyra.
"Ayo, anak-anak, kita harus pulang sebelum kakek kalian menemukan lokasi ini. Jika ada yang tahu tempat ini, tujuan ayah kalian bisa hancur." Ajak Keyra membawa keduanya keluar dari tempat rahasia itu.
"Lepaskan kami, Tante." Mohon Aila tapi percuma, Keyra membawa paksa keduanya ke tempat mobil mereka. Terlihat di dekat mobil sana sudah ada Raiqa yang menunggunya.
"Huwaa.... Tante jahat! Om Rayika jahat!" Tangis dua bocah itu di dalam mobil dan tidak lupa memberontak. Memukul jendela dan ingin keluar menyusul ayah mereka tapi karena memakai sabuk pengaman membuat mereka tidak bisa kemana-mana.
"Raiqa, ayo kita pulang." Keyra menoleh ke pria tampan yang duduk di sebelahnya. Raiqa pun mengangguk dan menuruti keinginannya. Mereka terpaksa meninggalkan tempat itu dan tidak sadar ada orang lain masuk ke sana.
Sambil menunggu mesin itu bekerja, Aidan di dalam ruangan itu melihat foto lama istrinya dan perlahan menangisi kembali kematiannya. Lima tahun tanpa Qila, membuat hidupnya terasa hampa dan dihantui rasa bersalah.
"Maafkan aku, Qila." Lirih Aidan dan seketika ia terkejut ketika pintu ruang uji coba dibuka oleh seseorang yang tidak lain adalah Evan.
"Evan, bagaimana kau bisa menemukan tempat ini?" Aidan mundur sedikit, menjaga jarak dari Evan yang memegang senjata tajam yang berbahaya.
"Tentu saja aku mengikuti mobil saudaramu," ucap Evan dengan tatapan kecewa. Aidan pun mengeluarkan dadu kecilnya lalu mengubahnya menjadi pedang karena Evan tampak siap menyerangnya. Senjata yang sama di tangan Evan karena benda itu diciptakan dari perusahaan Rayden yang sekarang ini diambil alih oleh Keyra.
"Aidan, sudah lama aku mencari mesin ini, tapi sekarang aku tahu tempatnya berkat informasi seseorang. Karena dia, aku mencoba mengikuti kemana mobil saudaramu pergi dan rupanya berhenti ke lokasi terpencil ini. Kau benar-benar munafik Aidan, katanya kau akan ke masa lalu untuk mengubah takdir mu, tapi 9 tahun lalu kau malah mengingkarinya. Aku sungguh membencimu," tutur Evan dan langsung menyerang frontall. Karena tidak punya pilihan, Aidan pun melawannya dan berusaha menghindari serangan sahabatnya itu yang merasa dikhianati.
Suara benturan dari ujung senjata mereka memecah ruang uji coba itu. Bahkan Evan terus mengoceh sepanjang pertarungan tentang keinginan Aidan dulu.
"Hentikan, Evan!" ujar Aidan menghindar dan cepat-cepat mengatur waktu di mesin itu.
"Tidak Aidan, aku tidak akan biarkan kamu pergi menyelamatkan Qila!" geram Evan menyerang kembali. Menebas segala apapun di sekitarnya kecuali kabal yang terhubung ke mesin itu. Evan tidak mau orang yang dia cintai hidup lagi bersama Aidan sehingga ia mencegahnya mengubah masa lalu.
Trang.
Trang.
Srekk.
Pertarungan sengit masih berlangsung di ruangan itu. Namun Aidan sekarang tampak sudah kelelahan dengan jasnya yang robek di mana-mana. Pada akhirnya ...
Trang ...
Ujung senjatanya pun berhasil ditebas oleh Evan dengan kekuatan penuh dan akhirnya terdesak. Evan menyeringai melihat Aidan tidak berdaya di depannya. Ia tahu setelah Qila meninggal, Aidan sibuk menghabiskan waktu berharganya menyempurnakan mesin itu daripada melatih bela dirinya.
"Okeh, aku tidak akan melakukannya. Kali ini kau menang, Evan," ucap Aidan mengangkat kedua tangannya ke atas dan diam-diam melirik waktu mesin itu tinggal beberapa detik akan mulai bekerja.
Evan tersenyum puas tetapi ia tahu apa yang dipikirkan Aidan sehingga ia cepat-cepat mengambil alih situasi itu.
"TIDAK EVAN! HENTIKAN!" teriak Aidan menangkap lengan Evan yang sedang mengacak waktu tujuannya. Seketika aliran listrik dalam ruangan itu meledak hebat, 'BOOM!' bersamaan cahaya terang keluar menyilaukan dan memenuhi semua ruangan. Perlahan silau cahaya itu meredup dan hilang bersama dua pria yang berseteru itu juga lenyap. Semua hening dan gelap. Hanya patahan pedang Aidan(Bram) yang tertinggal di sana.
.
Flashback off