Little Twin'S Daddy

Little Twin'S Daddy
47. Tolong, Jangan Aneh-Aneh



"Akhh!" Jerit Qila bergeser dan menoleh. Ia semakin terkejut di sampingnya ada Evan yang sudah berdiri.


"Kak-kak Evan, to-tolong jangan aneh-aneh," ucap Qila takut dan mundur.


"Hmm, aneh? Kamu kenapa, Qila?" tanya Evan pura-pura tidak terjadi apapun.


"Itu-itu, tadi Kak Evan main pegang-pegang!" ucap Qila sedikit marah.


"Hah? Pegang-pegang? Gak deh, aku ini baru masuk lho, Qila," kata Evan mengelak.


"Ja-jadi itu bukan Kak Evan?" tanya Qila.


"Kamu kenapa sih? Aku gak paham nih, Qila," ucap Evan garuk-garuk kepala bagian belakang dan masih berpura-pura tidak mengerti.


"Ma-maaf, sepertinya tadi aku yang salah gara-gara melamun, Kak," kata Qila kemudian kembali cuci piring.


'Huft, ini pasti karena aku mikirin ucapan Om Bram,' batin Qila resah akibat mendengar jawaban Bram atas permintaannya kemarin.


"Hmm, apa yang kamu pikirkan, Qila?" tanya Evan diam-diam mengepal tangannya dan merasa senang melihat wajah Qila yang kebingungan.


"Ini ujian besok, Kak," jawab Qila mulai risih dan tidak nyaman adanya Evan yang masih berdiri di sebelahnya. Karena tidak tahan lagi, Qila yang sudah selesai cuci piring pun ia berbalik badan ingin ke kamar Aidan, tetapi Evan menarik pergelangan tangannya tiba-tiba.


"Qila, sebentar!" Tahan Evan.


"A-ada apa, Kak?" tanya Qila mundur akibat Evan yang maju hingga memojokkan Qila ke tembok dan keduanya tidak menyadari kedatangan Aidan yang masuk ke apartemennya.


Aidan pun yang mau masuk membasahi tenggorokannya, ia berdiri terkejut melihat Evan menyudutkan Qila yang tampak ketakutan.


"Astaga, Evan benar-benar gak sabaran." Aidan mau menghentikan Evan untuk tidak menganggu Qila, tetapi karena ancaman Evan kemarin, ia pun mengurungkannya.


"Sudahlah, aku gak usah ikut campur." Aidan pun ingin ke kamarnya tetapi Qila berhasil melihatnya dan pada akhirnya berteriak.


"Kak Aidan!" panggil Qila segera mendorong Evan yang terkejut lalu ia berlari ke Aidan.


"Ck, dasar Aidan! Ngerusak suasana aja! Harusnya jangan masuk ke sini lah!" Kesal Evan melihat Qila yang senang. Tentu saja Qila sangat lega bisa terbebas dari Evan yang tiba-tiba aneh.


"Kak Aidan, dari mana aja?" tanya Qila dan melihat kresek di tangan Aidan.


"Sorry ya, aku lama di luar karena singgah beli makanan saji di warung dekat sini. Kamu udah makan atau belum?" tanya Aidan menaruhnya di atas meja depan televisi.


"Sudah tadi sama Kak Evan," jawab Qila menunjuk Evan yang tampak cemburu di sana.


"Hmm, kalau begitu, bagaimana dengan Aiko dan adiknya?" tanya Aidan.


"Makasih, Qila." Balas Aidan sedikit tersenyum.


"Kalau begitu, sini biarkan Qila siapkan piringnya, Kak Aidan duduk di sini dulu," raih Qila mengambil kresek itu. Tindakannya itupun membuat Evan semakin cemburu melihat Qila yang peduli pada Aidan.


"Lho, Evan! Lu mau kemana?" tanya Aidan pada Evan yang jalan ke pintu apartemen.


"Gue mau pulang ambil laptop di rumah," ucapnya ketus. Ketika mau membuka pintu, Evan tiba-tiba mendekati Aidan lalu menyuruhnya jangan pernah menyentuh Qila. Jika Aidan sampai berani melakukan sesuatu padanya, Evan tidak mau memata-matai Bram lagi dan akan membocorkan rahasianya ke publik. Sebuah ancaman yang sangat besar dan beresiko.


"Oke, lu tenang aja. Gue gak ada niat kok rebut Qila," ucap Aidan paham. Evan pun pergi tanpa pamit ke Qila yang baru saja keluar dari dapur.


"Ehh, tadi Kak Evan ada di sini, tapi sekarang kok gak ada? Kemana dia, Kak Aidan?" tanya Qila menaruh makanan saji yang ada di nampannya.


"Dia pulang ke rumahnya," ucap Aidan duduk.


"Makasih, kamu jadi repot-repot nyiapin ini," lanjutnya.


"Ya, Kak, sa-sama-sama," ucap Qila terbata-bata dan menunduk.


"Hmm, Kak Aidan mau ditemani gak?" tanya Qila menunjuk kursi.


"Gak usah, kamu ke kamar aja jagain Aiko, atau kamu belajar aja di dalam sana," tolak Aidan tidak mau.


"Ba-baiklah, Kak." Angguk Qila lesu. Saat mau ke kamar, tiba-tiba Aidan memanggilnya.


"Hei, Qila! Sebentar!"


"Kenapa, Kak?" tanya Qila kembali berdiri di tempatnya semula.


"Itu, bagaimana ujian kamu hari ini?" tanya Aidan ingin tahu berapa nilai yang didapatnya.


"Alhamdulillah, lancar. Ujian kali ini aku dapat 97, Kak," jawab Qila senang Aidan bertanya soal itu.


"Bagus, kamu sudah lumahan meningkat sekarang tapi jangan pernah sombong dan malas, nilai segitu masih perlu kamu tingkatkan lagi, " puji Aidan ikut senang mendengarnya tapi lumayan kaget karena nilainya lebih tinggi dari Hana.


"Ba-baik, Kak! Qila akan terus rajin belajar." Qila mengangguk kemudian segera masuk ke kamar Aidan. Dengan gembiranya, ia melompat riang di depan dua bayi kembarnya. 'Ya Allah, aku pikir Kak Aidan bakal cuek hari ini, ternyata aku salah menduga, hehe,' cengir Qila menunduk tersipu.


"Benar-benar enak si Evan, calon istrinya ini tidak bisa diremehkan lagi. Qila pasti berusaha maksimal belajar di luar negeri. Baiklah, aku tidak boleh kalah dari Evan! Aku juga harus membantu Hana mendapat nilai sempurna besok." Aidan makan dengan lahap agar setelah Evan datang, ia bisa mengurus Bram dan kalau masalahnya selesai, ia bisa bebas mengajari Hana supaya jauh lebih unggul dari Qila.


.


Duh, Aidan setia banget ya☺️padahal Hana mah gak punya rasa ke kamu🥲btw gimana yah kabar Bapak Rayden😂apakah sudah ada hilal dari calon besan?🤭hihi