Little Twin'S Daddy

Little Twin'S Daddy
85. Dicium Cumi-Cumi



2 hari kemudian...


"Om," panggil Qila mendekati Bram yang tampak bengong di depan kompor.


"OM!" pekik gadis itu menjinjit dan berteriak di kuping kanan Bram. Pria tampan itupun melompat kaget dan memegang daun telinganya yang sakit.


Ia


"Qila, ngapain teriak?" tanya Bram meringis.


"Habisnya Om diam sih, aku udah panggil daritadi tapi Om cuma liatin kompor. Emang lagi mikirin apaan, Om?" tanya Qila menyipitkan matanya.


"Om lagi mikir aneh-aneh ya?" Tunjuk Qila curiga.


Bram mengelus dada, ia barusan teringat awal dirinya terlempar ke masa sekarang.


"Tuh, kan! Diam lagi! Om lagi mikirin siapa? Apa itu kekasih Om yang sudah meninggal?" tanya Qila penasaran.


Bram pun mematikan kompornya kemudian menuangkan tumisan cumi-cuminya ke dalam mangkuk. Ia sudah dua hari tinggal bersama Qila di sebuah rumah yang terletak di luar kota.


"Om gak mikir siapa-siapa kok," jawab Bram menyiapkan hidangan makan malam di atas meja.


"Hmm, serius? Gak ada yang dipikirkan?" tanya Qila duduk di kursi dan tampak senang berada di samping Bram. Merasa seperti memiliki rumah baru yang begitu nyaman dari apartemen Aidan. Bahkan dua hari ini Qila hanya mengurus baby twinsnya dan Bram yang melakukan pekerjaan rumah.


"Atau jangan-jangan Om mau pergi ke rumah pasien baru?" tebak Qila masih menganggap Bram itu seorang Dokter.


Bram yang gemas, ia mencubit dagu Qila membuat bibir gadis itu maju ke depan. "Kamu ini ya makin bawel aja. Lebih bawel dari dua anak mu itu," ucap Bram lalu duduk di kursi lain.


"Bawel begini, tapi Om suka, kan?" goda Qila mencolek lengan Bram.


Bram tertawa kecil melihat tingkah genit Qila. Ia pun mengelus rambut ibunya si kembar dan menarik lembut hidungnya. "Udah, gak usah bicara lagi, kita makan dulu."


"Nggak mau ah," tolak Qila menyilang kan kedua tangannya.


"Eh, kenapa? Kamu puasa?" tanya Bram mengunyah.


"Hahaha, mana ada orang puasa malam hari, Om!" Tawa Qila nampak kondisinya sudah membaik dan tumitnya yang bengkak pun sudah sembuh, begitupun luka di kepalanya. Tapi entah bagaimana dengan hatinya.


"Ada dong," ucap Bram tersenyum smirk. Qila berhenti tertawa dan kini cemberut.


"Lah, kenapa mulutnya digituin? Mau dicium sama cumi-cumi Om ini?" Tunjuk Bram ke cumi-cumi di atas piringnya.


Qila menunduk lesu. "Bukan, Om. Qila itu lagi rindu -"


"Rindu sama Aidan?" tebak Bram.


"Bukan, Om." Qila menggelengkan kepala.


"Lah, terus? Siapa yang kamu rindukan?" tanya Bram sedikit sedih mendengar itu.


"Rindu Kak Aidan yang dulu, Om," jawab Qila murung.


"Ehh, maksudnya?" tanya Bram garuk-garuk kepala, gagal paham yang dimaksud Qila.


"Aidan yang dulu waktu kecil, bukan Aidan yang sekarang, Om."


Bram pun terdiam dan mengerti kemana arah ucapan Qila, yaitu ...


"Qila pengen banget Kak Aidan itu seperti dulu, suka tertawa, ramah, dan baik sama aku. Tapi sekarang Kak Aidan seakan tidak mengingat dirinya dulu, Om. Padahal dulu Kak Aidan itu pernah-" ucap Qila berhenti sejenak.


"Pernah apa?" tanya Bram.


"Pernah bilang ke aku kalau dia suka sama Qila waktu di rumah sakit. Tapi setelah Qila keluar dari rumah sakit, Kak Aidan malah suka sama Hana. Kak Aidan itu orangnya pembohong dari kecil!" kata Qila mengusap air matanya lalu melihat Bram yang bengong lagi.


"Tuh kan, malah senyum-senyum, Om lagi mikir apa sih? Kayak banyak pikiran aja. Jangan-jangan Om lagi mikir-"


"Udah, curhatnya nanti dulu, kamu habiskan makanan ini," ucap Bram menyuapi Qila dengan sendoknya sendiri. Membuat gadis itu menunduk tersipu.


"Ya udah deh, Qila diam nih."


Bram pun tertawa lucu melihat Qila yang mengatup mulutnya.


"Gak gitu juga kali m," ucap Bram gemes.


"Ya udah, kalau begitu, suapin Qila, Om! Aaaaa..." pinta Qila membuka mulutnya. Siap menerima suapan kedua dari Bram.


"Gak ah," tolak Bram bergeser.


"Ehhh, kenapa?" tanya Qila manyun.


Bram pun menunjuknya dengan sendok lalu menjawab, "Katanya kemarin kamu orangnya gak manja, tapi kenapa sekarang tiba-tiba manja?" ucap Bram bertanya.


"Hmm, gak apa-apa lah, Om. Qila kan manjanya cuma sama Om doang," ucap Qila tersenyum lebar.


"Apa mungkin Om gak suka ya kalau Qila manja?" tanya Qila lagi dengan wajah sedih.


Melihat keimutan gadis itu, Bram jadi teringat dengan putrinya di masa depan. Sifat dan tingkahnya itu seperti Aila. Bram pun mengelus kepala Qila lalu mengecupnya lembut.


"Mau kamu manja, atau cengeng seperti Aila, Om akan selalu suka dengan gadis bawel sepertimu," ucap Bram


"Waduh, berarti Om suka sama gadis bawel di luar sana juga dong?" Kaget Qila. Bram seketika menjentik kening Qila.


"Dasar! Yang Om maksud itu cuma kamu doang tau, yang diluar itu skip aja," ucap Bram tersenyum manis.


"Hahaha, Om Bram lucu! Hahaha-" tawa Qila terbahak-bahak dan tiba-tiba ....


'Uhuk - uhuk'


"Kamu kenapa, Qila?" Bram berdiri dan panik melihat Qila terbatuk-batuk.


"Om, to...tolong...Qila keselek cumi-cumi!" rintih Qila sesak nafas. Seketika saja bola matanya melebar saat Bram maju dan mencium bibirnya.


"Ahh, Om! Aku keselek cumi-cumi tau! Bukan minta ciuman! Om dari kemarin suka main nyosor dehhh!" Kesel Qila melihat Bram menahan tawa.


"Ehh, lho kok gak keselek lagi? Cumi-cuminya kemana ya?" Qila menggaruk kepalanya dan menyentuh lehernya.


"Puftt, makanya, jangan marah dulu," kata Bram lalu memberi air putih.


"Nih minum dulu supaya cumi-cuminya turun ke perut." Qila pun mengambilnya, meneguk setengah air di gelas itu.


"Alhamdulillah, gak jadi mati."


Kali ini Bram yang terbatuk-batuk mendengar ucapan Qila itu. "Lah, Om kenapa? Tersedak cumi-cumi juga?" tanya Qila polosnya. Bram mendengus lalu menatap serius Qila.


"Qila, lain kali jangan seperti itu!"


Qila mengangguk cepat dan sedikit cengengesan. "Hehe, baik, Om." Lalu lanjut makan di samping Bram. Gadis itu diam-diam melirik Bram yang terlihat takut pada sesuatu. Ya benar, Bram takut kehilangan dirinya.


'Kalau dilihat dari samping, Om Bram kayak mirip Aidan.' Batin Qila tiba-tiba memikirkan ayah dari anak kembarnya.


'Kira-kira, Kak Aidan lagi ngapain ya? Apa dia sedang mencari ku atau sedang bersama Hana?' pikir Qila sejujurnya ingin pulang tapi di sisi lain dia masih mau di samping Bram.


.


Gak usah mikirin Aidan dulu😂tuh suami kamu lagi sengsara di tangan bapaknya wkwk. Kalau mau tahu, tanyakan saja pada Bram🤭hihihi