
"Kyaaaaaa! Dasar cowok mesum!"
PLAK! Tamparan para siswi melayang tepat ke pipi Raiqa. Mereka berlari keluar dari aula sekolah dengan perasaan kesal dan malu gara-gara pertanyaan dari Aidan soal status mereka.
"Ishh, kenapa gue yang kena lagi? Padahal lu yang tanya tapi gue yang ditampar, ini gak adil tau!" sentak Raiqa mengelus pipinya yang merah itu di depan Aidan yang sedang menandai semua nama gadis di daftarnya yang sudah semua diselidiki dan hasilnya mereka dengan jujur mengaku masih Perawan dan tidak pernah melakukan 'itu'. Walau diberi pertanyaan Cabol seperti itu, gadis-gadis tetap senang karena bisa menemui Aidan secara langsung.
"Udah gak usah ngeluh, ini hari terkahir kita mencari AM dan soal pipi lu yang bengkak itu, gue bisa kasih-"
"Gak usah kasih gue uang dan lain kali gue udah gak mau ngorbanin diri lagi!" ucap Raiqa meringis sakit.
"Siapa coba yang maksa tadi?" Tatap Aidan ke Raiqa.
"Ishh, udah lah, gue mau pulang," desis Raiqa mengambil tas dan jalan ke pintu. Ingin pulang mengobati pipinya tapi saat mau melewati pintu, seketika saja Hana sudah ada di depannya.
"Lho, Hana?"
Mendengar Raiqa menyebut nama itu, Aidan pun meninggalkan tempatnya berdiri kemudian jalan ke samping Raiqa.
"Eh, Hana? Harusnya kamu udah pulang bareng yang lain, tapi kenapa ada di sini? Kamu nunggu Raiqa?" tanya Aidan.
'Apa dia nungguin aku?' pikir Aidan pedenya.
'Ahh gak mungkin, dia pasti mau pulang bareng Raiqa,' batinnya menggeleng kepala.
"Mau pulang bareng kita, Han?" tanya Raiqa.
Hana diam sejenak sambil melihat wajah kiri Raiqa yang lebam. Ia ingin bertanya kenapa bisa bengkak seperti itu tetapi Hana berpikir mungkin saja Raiqa dan Aidan habis latihan bela diri di aula sekolah. Tapi ...
'Aneh, kenapa tadi murid cewek berlarian keluar dari sini?' pikir Hana yang sempat melihat mereka berlari pergi dari ruangan di depannya.
"Hei, Hana! Malah bengong nih anak! Lagi mikirin apa sih?" Tepuk Raiqa ke bahu Hana.
"Eh, itu Bang, aku mau tanya," ucap Hana tersadar.
"Hmm, apa yang mau kamu tanyakan, Hana?" tanya Aidan.
"Itu Bang, ini aku mau minta buku-buku lama Bang Raiqa! Bang Rai masih punya gak buku pelajaran lama di rumah?" tanya Hana ke Raiqa yang terkejut karena adiknya tiba-tiba meminta itu.
"Emang mau diapakan buku-buku itu?" tanya Raiqa. Sedangkan Aidan menutup pintu Aula dan siap pulang ke apartemennya. Tapi sebelum itu, ia menunggu jawaban dari Hana.
"Itu lho, Bang! Tadi Hana ujian tuh, tapi soal kali ini agak sulit jadi Hana ngerasa ujian besok mungkin lebih susah lagi. Jadinya Hana mau lihat isi buku-buku Bang Raiqa yang dulu," jelas Hana tidak mau kalah dari Qila dan memperlihatkan nilai ujiannya.
"Aduh, gimana ya, buku-bukunya udah lama abang sumbang ke anak-anak yang membutuhkan," ucap Raiqa pada Hana yang seketika cemberut.
"Kok disumbang? Abang Raiqa kan masih punya adek yang juga memerlukannya!" celoteh Hana memukul lengan Raiqa.
"Ya habisnya, dulu Abang mau kasih ke kamu tapi kamu malah nolak, jadi yah ... daripada dimakan rayap mendingan dikasih ke orang lain," ucap Raiqa tambah sakit menerima cubitan adiknya itu.
"Yahh, padahal kan masih ada Qila yang butuh itu juga! Dasar Abang bodoh! Gara-gara main game mulu, adiknya gak dipikirin! Nyebelin banget!" cubit Hana semakin keras.
"Aduh...aduh, kamu jangan marah dong," desis Raiqa menghindar. Sedangkan Aidan merasa gemas melihat Hana yang marah. Karena tidak tahan itu, Aidan pun menawarkan bantuannya.
"Oh ya, Hana! Kamu tidak usah marah gitu, kayaknya di rumah aku masih ada buku-buku lama tahun lalu, jadi kamu bisa ambil buku-buku itu untuk ujianmu besok," ucap Aidan tersenyum.
"Aduh, makasih banget ya, Bang!" ucapnya lalu menarik lengan Raiqa.
"Yuk, Bang! Antarin Hana pulang, terus temani Hana ambil bukunya Bang Aidan,"
"Bentar dulu!" Tahan Raiqa.
"Kenapa lu?" tanya Aidan. Raiqa pun mendekat dan membisikkan sesuatu ke telinganya.
"Itu, lu pasti mau ke apartemen kan? Jadi, di rumah lu ada orang gak sekarang?" tanya Raiqa.
"Hmm, orang tua gue lagi di luar kota sih, tapi kayaknya ada Keyra kok di rumah. Lu minta aja bukunya ke Keyra nanti," ucap Aidan.
"Okeh, kalau gitu, gue pulang duluan!" Tepuk Raiqa ke bahu Aidan kemudian menarik Hana pergi.
"Hufft, semoga aja Keyra gak bikin repot mereka," hela Aidan kemudian menuju ke arah motornya terparkir lalu melaju pergi ke apartemennya karena ia merasa Evan dan Qila sudah sampai di sana duluan.
"Evan sekarang pasti senang banget bisa berduaan sama Qila. Cih, aku jadi iri melihat kisah cintanya yang berjalan mulus, gak kayak aku yang harus nyelesain masalah bayi ini. Kira-kira, kapan hasil tes DNA keluar ya?" gumam Aidan tidak sabar ingin tahu lebih jelas hubungannya itu dengan si kembar yang sekarang berada di tangan Qila.
"Woy, EVAN! Sini kasih gue satu!" pinta Keyra yang jalan di belakang Evan dan Qila.
"Hadeh, kenapa gue harus ikut ke sini lagi sih," gerutu rekannya yang datang ke apartemen itu juga.
"GAK! GUE GAK MAU!" Tolak Evan memeluk Aiko, sedangkan Qila yang menggendong Aila dan berjalan cepat mengimbangi langkah Evan.
"Ihh, gue kan cuma mau gendong juga! Apa salahnya sih, Van?" celetuk Keyra ingin sekali melihat rupa bayi itu.
"Gak! Gue gak bisa! Lu orangnya serem! Gue takut nih bayi mati di tempat kalau nyentuh tangan lu yang kasar itu!" ucap Evan yang telah sampai di depan pintu lalu ia pun melihat Qila dan dengan kodean mata ia menyuruhnya masuk duluan.
"Qila masuk dulu ya, Kak. Permisi," ucap Qila pada tiga kakak kelasnya itu lalu masuk cepat membawa Aila dan Aiko di tangannya.
"Heh, Qila! Jangan masuk!" teriak Keyra mau masuk tapi dihadang Evan.
"Eitss, lu gak dibolehin masuk, silahkan lu berdua pulang ke rumah!" usir Evan mau menutup pintu namun Keyra dengan marah padam menghentikan pintu itu tertutup membuat rekannya itu ketakutan namun tertawa kecil mendengar Keyra ngamuk.
"Heh, Junaidi!" ujar Keyra dengan nada tinggi.
"Ini apartemen sodara gue! Jadi gue punya hak masuk ke sini dan lu itu gak ada wewenang ngelarang gue!" Lanjutnya marah-marah.
"Eleh, mau lu sodaranya kek, mamaknya kek, atau neneknya Aidan kek, gue tetap gak bisa biarin lu masuk! Ini perintah dari Aidan! Dan lagi pula, bayi itu gak boleh diganggu sama kucing garong kek lu," balas Evan marah. Sedangkan rekan Keyra tidak bisa berhenti tertawa di belakang.
"Ahh, bodo amat! Gue tetap mau masuk!" desak Keyra mendorong Evan mundur tapi Evan dengan kokoh terus menghalangi Keyra dan melotot tajam. Ini juga kesempatan Evan bisa berduaan dengan Qila tanpa diganggu Keyra.
"Anu, Keyra!" ucap rekannya.
"Apa?" tanya Keyra dan Evan.
"Itu, gue pulang duluan ya, nyo-nyokap gue udah nyariin gue nih, sorry ya, Key!" Pamitnya bergegas pergi meninggalkan Evan dan Keyra daripada terkena amarah orang tuanya.
BRUAK!
Qila yang di dalam kamar terkejut mendengar sesuatu jatuh begitu keras. "Ya Allah, apa yang terjadi di luar?" gumamnya ingin keluar mengecek tapi ia sedang menyusui bayinya yang sedang kelaparan.