Little Twin'S Daddy

Little Twin'S Daddy
44. Calon Istri Idaman



Jam pulang sekolah telah tiba, hari ini Qila bisa melalui ujiannya dengan baik dan kini ia berjalan sendirian di koridor sekolah sambil memandangi lembar hasil ujiannya yang mendapat nilai yang sangat memuaskan. Tak ada henti-hentinya ia mengukir senyum bahagianya. Beda dari Hana yang jalan tidak jauh di belakangnya yang tampak cemberut karena mendapat nilai yang tidak sempurna.


"Hei, Hana. Kamu sedang mikirin apa sampai nilaimu anjlok kayak gini? Biasanya dapat nilai 100+ tapi kenapa sekarang cuma 96- doang?" tanya gengnya yang berjalan di sebelahnya.


"Iya tuh, kamu juga sampai dikalahin Qila yang dapat nilai 97+. Kamu kemarin kurang belajar atau gak sengaja ketiduran?" tanya mereka lagi.


Hana yang tidak tahan pun merem4s kertasnya sampai terlipat berantakan. Kemudian melihat sinis gengnya itu.


"Kalian bisa gak sih berhenti bahas ini? Aku udah muak dengar ini dari mulut kalian! Cih, pergi sana!" Senggol Hana kemudian cepat-cepat jalan menjauh dan lagi ia menyenggol bahu adiknya juga membuat gadis itu hampir jatuh tersandung.


"Ehh, kenapa dengan Hana? Apa dia lagi marahan sama temannya? Atau karena nilaiku yang lebih tinggi darinya?" gumam Qila berhenti dan melihat geng Hana yang pergi melewati jalan lain.


"Duh, semoga dia tidak memarahiku nanti di rumah," lirih Qila gelisah dan sontak kaget saat seseorang merebut lembar ujiannya dari tangannya.


"Wihh, dapat nilai tinggi nih, hasil yang bagus, Qila," ucap Evan datang tiba-tiba dan juga tidak lupa memujinya.


"I-iya, Kak. Ini berkat bantuan Kak Evan. Materi di buku itu banyak yang masuk ke dalam soal ujian. Padahal kemarin malam Qila mati-matian menghafal tapi yang masuk cuma beberapa biji doang, hehehe," kata Qila gugup jalan berdua saja.


"Baguslah kalau ini bisa membantumu, aku senang melihat kamu yang sudah punya kemajuan. Aku yakin, jika kamu terus belajar, kelak, kamu bisa jadi calon istri idaman," ucap Evan bersama canda tawanya.


"Ehh, calon apa, Kak?" tanya Qila berhenti dan tidak jelas mendengar kalimat yang terakhir.


"Oh itu, ca-calon Ibu Negara, hehe," jawab Evan gugup dan malu-malu.


"Pft, Kak Evan ada-ada saja," tawa Qila merasa geli dan mengambil kertas hasil ujiannya dari tangan Evan.


"Oh ya, Kak Evan kok tidak pulang bareng Kak Raiqa dan Aidan?" tanya Qila.


"Oh itu, mereka pulangnya nanti saja," ucapnya jalan ke parkiran sekolah.


"Hmm, kenapa? Kak Raiqa dan Aidan ada kelas tambahan ya hari ini?" tanya Qila masih jalan di sebelah Evan.


"Gak ada kelas tambahan, cuma hari ini tuh dua cowok lagi ada kerjaan hari ini,"


"Kerjaan apa, Kak?"


"Ya gitulah, ini tugas mencari si AM, perempuan yang lahirin dua bayinya Aidan. Kata Dokter yang waktu itu, dia bilang perempuan itu ada di sekolah kita ini, cuma sampai sekarang AM itu gak berhasil menemukan jejaknya. Kira-kira, menurut kamu, apakah perempuan itu sungguh ada di sekolah ini, Qila?" tanya Evan memakai helm.


"Qi-qila gak tahu, Kak." Qila menggelengkan kepala.


"Hmm, padahal Aidan itu sudah menyerah cari AM di sekolah ini lho Qila, tapi gara-gara kakakmu yang penasaran tentang perempuan itu, dia maksa Aidan cari hari ini. Kasian sekali Aidan, udah kena masalah sama Alpha, sekarang dapat kiriman dua bayi kembar. Ditambah lagi harus cari tahu siapa perempuan itu," ucap Evan sedikit kasihan pada sahabatnya itu.


"I-iya, Kak. Semoga aja Kak Aidan dan Raiqa bisa ce-cepat ketemu perempuan itu," kata Qila gugup dan cemas.


"Oh ya, ini kamu ambil." Memberi helm pada Qila.


"Eh, kenapa dengan ini, Kak?" tanya Qila menerima helm Evan.


"Kata Aidan tadi, dia menyuruhku mengantarmu mengambil Aiko dan adiknya, kamu mau ke sana atau ku antar pulang ke rumah?" tanya Evan.


"Wah, ternyata kamu bukan cuma baik hati tapi juga suka banget sama anak kecil. Padahal ngurus bayi itu cukup susah." Puji Evan tambah sayang.


"Te-terima kasih, Kak Evan juga baik hati dan tidak pelit."


"Pfft, ahaha, kamu lucu sekali Qila," tawa Evan mau mencubit pipi Qila namun sebuah tangan menghentikannya.


"Woy, lu mau bawa ke mana Qila?" tanya Keyra datang dan menghempaskan tangan Evan.


"Emang kenapa lu harus tahu?" tanya Evan sinis pada Keyra dan rekannya yang berdiri di sebelah Keyra.


"Gue harus tahu lah, orang tuanya udah ngasih nasehat kalau gue harus jagain anak-anaknya, jadi gue gak bisa biarin lu bawa Qila," ucap Keyra menarik Qila menjauhi Evan tapi Evan meraih cepat satu tangan Qila.


"Gue mau antar dia pulang, jadi lu gak usah larang-larang gue!" Kata Evan menepis tangan Keyra dari Qila.


"Heh, tumben lu baik hari ini, habis kena sambaran petir dari mana lu?" seloroh Keyra maju dengan angkuh.


"Be-berhenti! Kak Keyra dan Kak Evan tidak usah berdebat! Ini kita masih di sekolah, kalau guru atau satpam lihat, nanti kita ditahan di kantor kepala sekolah," ucap Qila melerai keduanya lalu melihat Keyra.


"Maaf, Kak Keyra tidak perlu melarangnya. Biarkan saja Qila pulang bareng sama Kak Evan," ucap Qila gugup.


"Tidak Qila, kamu harus tahu, cowok ini orangnya tidak bisa dipercaya, aku cemas si kadal jalanan ini membawamu ke tempat aneh-aneh," kata Keyra menunjuk Evan. Sedangkan rekannya sedikit heran melihat Keyra tiba-tiba bisa akrab dengan Qila daripada Hana dan Raiqa.


"Wahhh, lu resek banget sih, Key! Gue mana mungkin punya niat kayak gitu!"


"Ya terus, lu kenapa tiba-tiba sok baik kayak gini, ha?" tanya Keyra dengan tatapan tidak suka pada Evan.


"Heh, Junaidah! Dengar ya! Gue mau antar dia karena disuruh sama Aidan! Gue mau ke panti asuhan untuk ambil anaknya-" ucap Evan hampir keceplosan.


"Ihh, apa lu bilang? Junaidah? Beraninya lu manggil gue kayak gitu! Lu udah bosen hidup, ya?" kelakar Keyra marah dan mencengkeram kerah leher Evan. 11-12 seperti Aidan waktu di taman kemarin. Membuat Qila panik di tempat.


"STOP! Tolong jangan bertengkar dulu! Ini sudah hampir jam 1, lebih baik kita cepat-cepat ambil Aiko, Kak Evan," pinta Qila memikirkan bayi kembarnya, ditambah asinya yang sudah penuh di dadanya itu nampak mau disalurkan sekarang.


"Hah? Ambil Aiko? Bayi titipan yang kemarin itu?" tanya Keyra pada Evan lalu melihat Qila. Ia sedikit syok karena Qila ternyata tahu juga tentang bayi itu.


"Hmm, benar. Kami berdua mau mengambil bayi titipan itu. Sekarang kalian berdua jangan ganggu kita!" kata Evan menarik Qila dan menyuruhnya naik ke motornya.


"Eehh, tunggu! Gue juga mau ikut!" pekik Keyra menarik cepat rekannya itu ikut dengannya menyusul Evan yang pergi dari sekolah duluan.


"Hei, Nona Keyra, kenapa gue juga harus ikut? Gue kan mau pulang ke rumah sendiri," ucap rekannya teriak gara-gara Keyra menambah kecepatan motornya. Gerak sedikit saja, nyawa bisa melayang ke atas.


"Udah, lu diam aja! Kita harus lihat gimana wajah bayi itu! Ini kesempatan kita tanpa harus menggunakan dronemu itu!" Kata Keyra mengebut kencang dan berusaha mengejar Evan yang tampak sengaja menancap gas lebih cepat dari dirinya. Tentu saja, Evan lakukan itu agar bisa dipeluk Qila dan mendengar gadis itu histeris di belakangnya. Memang cowok banyak modusnya!


.


😂Senang banget ya Van wkwk, tapi jangan nangis kalau udah tahu yang sebenarnya mwehehe...