
"Bang! Gak usah ngelak, bilang aja ke Hana siapa orang tua bayi ini!" cetus Hana berdiri di depan televisi. Ia memaksa Raiqa yang sedang duduk sambil makan mie gelas dan mencoba menonton berita televisi. Tapi adiknya yang selalu berkicau itu membuatnya tidak bisa menahan kekesalannya.
"Udah dibilangi, gue gak tau, Han! Lu jangan maksa abang gini dong! Abang lagi makan! Mending lu pulang ke rumah, terus belajar!" balas Raiqa marah kemudian menyeruput mie gelasnya dengan tidak karuan.
'Ck, kalau saja Aidan tidak pernah bilang dua bayi itu adalah anaknya, gue pasti udah kasih tahu ini ke lu, Han. Tapi karena itu, gue takut lu gak akan percaya tentang masalah ini. Ditambah lagi, lu habis nolak Aidan. Gue takut, hubungan kalian berdua akan tambah rumit ke depannya.' Batin Raiqa yang sudah mengisi perutnya kemudian merapikan atas meja dan mengabaikan Hana yang masih berdiri di sebelahnya.
"Mumpung dua bayi itu sedang tidur, gue mau lanjut main game. Jadi ... tolong jangan cerewet lagi dan bikin keributan di sini. Tapi, Abang lebih berharap lu pulang aja ke rumah," ucap Raiqa menunjuk pintu dan ingin masuk ke kamar Aidan, tetapi Hana dengan cepat berdiri di depan Raiqa dan menghalanginya masuk.
"Hana akan pulang ke rumah kalau Bang Raiqa kasih tahu kenapa ada bayi kembar di kamar itu!" ucap Hana bersikeras.
Raiqa mengepal tangan ingin sekali menjambak rambutnya sendiri melihat satu adiknya itu yang sulit diperintah. Ditambah wajah Hana yang datar menyebalkan itu bikin adrenalinnya mendidih.
'Sumpah, Qila lebih mudah dihadapi dibandingkan dengan Hana yang keras kepala ini.' Batin Raiqa greget.
"ABANG!" ujar Hana memaksa.
"Kalau diam saja, Hana yang akan suruh Papa menyelidikinya!" lanjutnya lagi-lagi mengancam.
"Abang pasti sudah mencuri bayi orang, kan?" tuduhnya lagi.
"Akhhh, sudah abang bilang, itu salah!" bentak Raiqa serius.
"Ya udah, kasih tahu Hana dari mana bayi itu berasal?" tanya Hana balas membentak.
'Aihh, kalau begini terus, dua bayi yang susah payah aku tidurkan itu bisa terbangun dan pasti akan mengganggu waktu mainku. Aihh, kenapa sih kamu ngotot gini, Hana?' batin Raiqa sudah lelah dan ingin menyeret Hana keluar dari apartemen, namun sebelum ia menarik tangan adiknya, dua orang yang dia tunggu-tunggu akhirnya masuk ke dalam apartemen, bersamaan drone pengintai yang datang dan kini bersembunyi untuk mendengar obrolan mereka yang tampak tidak menyadari drone itu.
"Mengapa kamu ingin tahu bayi itu, Hana?" tanya Aidan menyahut, membuat Hana terkejut dan menoleh.
"Ba-bang Ai," ucap Hana gugup.
"Hana, ini sudah jam empat sore, harusnya gadis sepertimu berada di rumah, tapi kenapa kamu datang ke sini?" tanya Evan di samping Aidan. Sedangkan Raiqa diam terheran-heran melihat sudut bibir dua sahabatnya itu lebam seperti habis berkelahi. Tentu saja Aidan dan Evan sempat beradu pukul di tanam, namun berkat Qila datang memisahkannya, dua cowok itu kembali baikan.
'Aidan dan Evan habis dari mana? Kenapa mereka pulang dengan bibir seperti itu?' pikir Raiqa garuk-garuk kepala.
"Oh ya Rai, ini ada sesuatu untuk -" ucap Evan memberi kreseknya.
"Wah, untuk gue ya? Duh, makasih Evan. Lu tau banget sih kalau gue pengen banget makan hamburger." Ucap Raiqa mengambilnya dengan senang hati kemudian segera masuk ke dalam kamar Aidan sebelum mendengar ucapan Evan yang belum selesai. Padahal isi kresek itu hanya beberapa mainan kecil. Raiqa pun sedikit cemberut dan kecewa sudah terlalu berharap.
"Ihh, Abang!" pekik Hana ditinggal sendirian berhadapan dengan Aidan dan Evan.
"Hana, apa yang membuatmu datang ke sini?" tanya Evan sambil duduk di sofa dan membuka laptopnya untuk melihat cctv yang terpasang di sekitar rumah Bram agar ia mudah mengawasi Dokter misterius itu.
"Itu, aku ma-mau bicara sesuatu pada Bang Aidan," ucap Hana melihat Aidan yang masih berdiri di sebelahnya.
"Apa yang mau kamu bicarakan? Apa ini mengenai bayi di dalam kamar ku?" tanya Aidan deg-degan.
"Aku memang ingin tahu itu juga, tapi ada hal lain yang ingin aku katakan padamu," ucap Hana juga deg-degan.
"Ya udah, katakan saja itu padaku," ucap Aidan siap mendengar.
"Kalau begitu, apa kita bisa bicara di luar saja?" Tunjuk Hana ke pintu apartemen dan langsung diberi anggukan setuju dari Aidan.
'Hmm, mau kemana mereka berdua?' gumam Evan melirik Aidan dan Hana yang meninggalkan tempatnya dan berdiri berduaan saja di dekat pintu.
'Hmm, aku ingin sekali mendengarnya, tapi ada tugas yang perlu aku selidiki. Tapi, melihat wajah Aidan yang malu-malu tadi, apa dia juga menyukai salah satu adiknya Raiqa?' pikir Evan kemudian menengok ke belakang saat merasakan ada sesuatu yang lewat.
'Apa itu tadi?' batinnya tidak menyadari drone pengintai sedang mendekati Hana dan Aidan.
'Mungkin cuma perasaanku saja, mana ada hantu di apartemen ini.' Evan berhenti mengelus lehernya dan kembali menatap data-data di layarnya. Sementara rekan Keyra tampak diam terhenyak mendengar pengakuan Hana dari dronenya.
"Bang Aidan, Hana datang ke sini ingin minta maaf," ucap Hana lirih.
"Maaf? Maaf tentang yang kemarin itu?" tebak Aidan.
"I-iya, Hana tidak bermaksud ingin melukai perasaan Bang Aidan hari itu. Ta-tapi Hana benar-benar menolak pacaran karena ingin fokus ke ujian dulu," lirih Hana menunduk dan tidak berani melihat mata Aidan. Tapi karena Aidan menepuk lembut kepalanya, membuatnya mendongak dan tertegun melihat Aidan tersenyum.
"Haha, aku yang harusnya minta maaf sudah mengajak mu secepat ini. Maaf ya Hana sudah membuatmu merasa bersalah dan mengganggu pikiranmu. Lain kali, aku akan cari waktu yang tepat untuk bicara padamu lagi," ucap Aidan membelai rambut Hana.
'Maaf, Hana. Mungkin ini terakhir kalinya aku bicara padamu. Sekarang aku sudah tidak punya alasan menyimpan perasaan ini untukmu.' Batin Aidan merasa sedih karena sudah punya anak dari perempuan lain. Mencintai Hana, hanya akan membuat gadis di depannya itu terluka. Terutama hatinya juga sedang tersiksa dengan kondisinya saat ini.
"Dan juga, kamu tidak usah pikirkan bayi di dalam. Bayi itu hanyalah titipan dari seseorang. Ia memberikan bayinya pada kami bertiga untuk dijaga," lanjut Aidan masih tidak berani jujur. Takut masalah bayi itu mengacaukan pikiran Hana dan ia juga tidak mau dijauhi Hana jika tahu bayi itu dan dirinya punya hubungan.
"Ja-jadi, kalian bertiga membuka jasa titipan anak?" tanya Hana memastikan.
"Ya gitulah, ini pekerjaan yang mulia dan juga bisa menghasilkan uang, kan?" ucap Aidan gugup dan tersenyum bodoh.
Hana menyentuh dagu kemudian sedikit paham. Ia pun menunduk dan menatap lantai di kakinya.
"Ka-kalau begitu, siapa yang akan menjaga bayi-bayi itu saat kalian bertiga di sekolah? Apa Bang Aidan sudah menyewa babysitter?" tanya Hana.
"Oh soal itu sih gampang, kamu tidak perlu memikirkannya, hah hah," tawa Aidan kekeh. 'Alamak, Qila memang bersedia jadi babysitter tapi dia akan mulai bekerja setelah pulang sekolah, bukan menjaga dari pagi! Gimana nih?' pikir Aidan lupa memikirkan siapa yang menjaga Aiko dan Aila di jam sekolahnya.
"Ka-kalau begitu, Hana pulang dulu. Mama di rumah pasti sudah menunggu Hana. Maaf tadi sempat memikirkan aneh-aneh tentang Bang Aidan dan Bang Raiqa." Hana dengan malu, ia pamit dan berjalan cepat namun kembali berbalik badan dan meraih sedikit kerah lengan Aidan.
"Hmm, kenapa, Hana?" tanya Aidan menoleh.
"Itu... kalau Bang Aidan ada waktu, Bang Aidan boleh kok ajak Hana kencan setelah ujian nanti selesai," ucap Hana tersenyum sedikit dipaksa.
"Ya udah, Hana pulang dulu!" lanjutnya berlari cepat meninggalkan Aidan yang terdiam akibat mendapat kesempatan lampu hijau.
.
Ingat Aidan, kamu udah Jadi bapak-bapak muda🌝mending lanjut cari calon istrimu eh maksudnya ibu si debay😆wkwk