
"Om... apakah ini cuma mimpi?" lirih Qila bertanya.
"Ini semua pasti mimpi, kan, Om?"
Bram yang memegang payung itu, ia menggelengkan kepala dan menarik tangan Qila berdiri. Memeluk gadis itu yang amat menyedihkan. Kini ia mengerti, jika dirinya sekarang di masa ini telah berbuat kesalahan besar. Qila yang merasakan pelukan itu nyata, ia pun balas memeluk Bram. Menumpahkan kesedihannya di dada pria itu. "Om, tolong ... bawa Qila jauh dari kota ini." Mohon Qila berharap. Bram mengangguk paham. Dengan itu, ia tidak akan mengubah apapun sekarang dan hanya menunggu dan menyelamatkan gadis itu di waktu kematian Qila di masa depan.
"Baiklah, sini ikut bersama Om." Bram mengambil keranjang di atas kursi kemudian menggandeng tangan Qila menuju ke mobilnya.
"Terima kasih, Om," lirih Qila yang duduk di depan bersama Bram. Sedangkan Aiko dan Aila diletakkan di kursi belakang mereka.
Bram memegang satu tangan Qila dan menggenggam tangannya dengan lembut. Qila menoleh dan melihat wajah Bram yang mengkhawatirkannya. "Maaf, Om. Gara-gara aku pergi, Om pasti panik tadi ya?" tanya Qila.
"Ya, tapi sekarang aku senang sudah menemukan mu," ucap Bram tersenyum.
"Terima kasih, Om." Balas Qila tersenyum kemudian menundukkan kepala.
"Hmm, kenapa?" tanya Bram sambil menyetir dan melirik Qila yang diam.
"Om, apakah mesin waktu itu ada?"
Bram pun terkejut dan diam.
"Om, maaf, mungkin ini terdengar gila, tapi ini juga membuat ku gelisah," ucap Qila takut dengan rencana Aidan.
"Apa yang kamu gelisah, kan?" tanya Bram meskipun ia tahu apa yang dicemaskan Qila.
"Jika seandainya mesin waktu itu ada dan kita mengubah sesuatu di masa lalu, apakah di masa depan akan ikut berubah?" tanya Qila sesuai yang dipikirkan Bram.
"Qila, itu hanya omong kosong," ucap Bram tidak bisa jujur.
"Begitu, ya..." keluh Qila.
"Memangnya, kenapa kamu bertanya soal itu?" tanya Bram ingin tahu niat Qila.
Qila meremAs jemarinya kemudian menjawab terus terang. "Aku ingin membunuh diriku di masa lalu," ucap Qila dan melihat ekspresi Bram yang sedikit syok.
"Puftt, gak usah syok begitu, Om. Aku hanya bercanda kok," lanjutnya sedikit tertawa. Bram cemberut kemudian memalingkan wajah. "Hahaha," tawa Qila bergidik geli melihat tingkah Bram yang ngambek.
"Ishh, gak ada yang lucu!" celetuk Bram.
"Ya udah deh. Karena Qila dari tadi kurang tidur, sekarang mau tidur. Om supir tampan yang kuat ya... nyetir mobilnya," ucap Qila sedikit meledek.
"Ya yang mulai putri cengeng, tanpa anda suruh pun, saya tetap akan membawa kalian keluar dari kota ini," balas Bram meledek juga.
"Iya deh, cuma kamu yang kuat dan berani di sini," ucap Bram mangut-mangut.
"Ihh, emang iya, Oooom!" timpal Qila lagi kemudian tertawa terbahak-bahak bersama Bram. Meski hanya sebentar menghilangkan kesedihannya, Qila cukup lega ada Bram di sampingnya. Kini di dalam mobil itu, suasana yang tadi rasanya tenang dan damai, mendadak canggung ketika Qila melontarkan keinginannya.
"Om, kalau boleh, aku bisa nggak jadi istri kedua Om nanti?"
Bram tercengang mendengar itu.
'Tanpa menikah lagi, kamu sudah menjadi istriku sekarang, Qila.' Batin Bram tersenyum di balik wajah palsunya. Ia kini paham kalau cincin yang dia jatuhkan sudah dilihat Qila dan sekarang berada di tangan Rayden.
Bos Rayzard itu tampak kebingungan melihat cincin di depannya dan juga barang-barang samaran yang ditemukan sekretarisnya dari rumah Bram. Oleh karena itu, Bram membawa Qila pergi karena rumahnya saat ini sedang digeledah oleh anak buah Rayden dan mungkin akan dibakar setelah tugas mereka selesai.
Dan kini Rayden heran melihat ada sebuah dadu kecil yang dapat berubah menjadi senjata. Ditambah di dadu itu memiliki logo perusahaan miliknya. Yang berarti, benda itu diciptakan oleh dirinya sendiri.
"Bos, aku merasa orang ini aneh, barang-barang yang dia punya ini berlogo dari perusahaan kita, padahal Bos belum menciptakan apapun kecuali mesin itu," ucap sekretarisnya.
"Benar, tapi mungkin saja orang ini sebenarnya mantan karyawan kita dan dia menciptakan benda aneh ini. Dan bisa jadi masalah ini memang berasal darinya untuk balas dendam atau maksud yang lain," kata Rayden dari tadi belum tidur gara-gara memikirkan banyak hal.
"Jadi, apa yang perlu saya lakukan selanjutnya?" tanya sekretarisnya.
"Tetap temukan keberadaannya, dan juga periksa kembali cctv yang ada di apartemen Aidan, sekarang firasat ku mulai tidak enak dari tadi," ucap Rayden memikirkan menantu dan cucunya.
"Baik, Bos!" Sekretaris itu segera pergi meninggalkan Rayden yang masih mengamati barang-barang milik Bram. Ia mengayunkan pedang patah itu dan kemudian mengelus ujungnya yang tumpul.
"Sepertinya, senjata ini patah setelah dipakai berkelahi, tapi siapa lawan yang dia hadapi?" gumam Rayden memikirkan Bram dan mengira ini seperti sebuah petunjuk baginya.
"Aneh sekali, aku merasa penipu ini sepertinya tidak asing, tapi siapa dia sebenarnya?" pikir Rayden kali ini sulit membongkar identitas dan tujuan orang itu.
Memang benar, orang itu tidak asing karena Bram adalah putra sulungnya. Aidan dari masa depan melakukan time travel ke masa lalu atas permohonan putra kecilnya karena tidak mau melihat ayahnya menikah dengan Hana.
Bram pun berpindah setelah berkelahi sengit dengan Evan di gedung lab rahasia miliknya. Padahal Bram ingin datang ke waktu sebelum kematian Qila tiba, tetapi karena Evan yang mengubah waktu tujuannya, membuat keduanya terlempar jauh ke 10 tahun yang lalu, tepatnya di malam pesta besar dirayakan dan awal Qila akan hamil.
Akibat kesalahan itu, Bram kehilangan suara aslinya dan Evan kehilangan sebelah penglihatannya sehingga ia menamai dirinya Black. Tujuannya untuk menggagalkan Aidan memperkaos Qila tetapi adanya Bram membuat tujuannya gagal sehingga kini niatnya berubah, ia sekarang ingin membunuh Qila atau dua bayi itu.
Sebagai ayah biologis dari baby twinsnya, Bram alias Aidan yang dari masa depan, akan menyelamatkan kehidupan keluarganya dari tangan Black.
.
Kalian ngerti gak sih sistem time travel ini?😂
Okeh berikutnya Bab tentang masa depan biar kalian paham😂wkwk author sendiri tadi susah ngetik penjelasannya.