Little Twin'S Daddy

Little Twin'S Daddy
76. Diam-Diam Menangis



"Om..." Qila sekali lagi memanggil Bram.


'Cklek'


"Oh, Qila? Ada apa? Kamu tidak bisa tidur?" tanya Bram yang membuka pintu sambil menebar senyum manisnya.


"Atau kepala mu sakit? Atau... Jangan-jangan kamu mau tidur bareng Om, nih?" tebak Bram sedikit menyipitkan matanya.


"Ihh, bukan, aku cuman tidak bisa tidur, Om," ucap Qila mengeluh.


"Oh, terus?" tanya pria tinggi berpakai piyama abu-abu itu.


"Ihh, aku kan gak bisa tidur, ya harusnya Om kasih tips gitu gimana aku bisa tidur," ucap Qila cemberut.


"Ya udah tinggal baca doa terus pejamkan mata," kata Bram memejamkan matanya dan seketika meringis kesakitan mendapat cubitan dadakan.


"Ihh, Om! Ngucapnya emang gampang! Yang susah itu mata aku yang gak bisa tertutup. Om dari tadi becanda mulu deh, serius dikit napa!" cerocos Qila sedikit sebal.


"Lah... Om daritadi juga udah jawab yang bener kok, kenapa kamu tiba-tiba cerewet begini?" Cubit Bram gemas ke hidung mancung gadis cantik di depannya itu.


"Om... aku mau pulang," lirih Qila dan menunduk.


"Aku gak bisa tenang kalau tidurnya gak satu kamar bareng Aiko dan Aila. Aku cemas di apartemen itu Aidan gak peduli sama mereka, Om," lanjutnya berkaca-kaca. Memang wajar bagi Qila yang sebagai Ibu mengkhawatirkan buah hatinya.


Bram menepuk bahu Qila kemudian keluar dari kamarnya. Mengunci kamarnya baik-baik dan kemudian berjalan ke sebuah kursi di dekat pilar rumah.


"Sini, kamu duduk di sini dulu." Bram menepuk kursi di sebelahnya. Qila pun duduk dan menunggu Bram memberinya tips supaya mudah tidur. Tetapi pria itu malah mengeluarkan PlayStation (PS).


"Hah? Ini buat apa, Om?" Qila tercengang melihat konsol video game itu.


"Nih, kamu ambil satu terus kita main game dulu," ucap Bram memberi satu buah stik PS ke tangan Qila.


"Om, aku minta tips tidur, bukan minta diajarkan begadang main game!" celetuk Qila dan melirik jam dinding sudah pukul 10 malam.


"Ihhh, kamu ini kalau udah di samping Om, bawelnya makin parah," ucap Bram mencubit hidung Qila lagi.


"Belum juga Om jelaskan, udah ngambekan aja," lanjut Bram ingin tertawa melihat Qila manyun.


"Ya udah, Dokter Bram yang baik hati, ini buat apa ya? Kenapa yang mulia memberikan ini pada saya?" tanya Qila dengan gelagak candanya.


"Astaga, tentu saja main game bareng, tapi ini bukan cuma game biasa," ucap Bram sangat ingin mencium lagi bibir Qila yang gemesin itu.


"Ya terus, ini game apa dong?" tanya Qila dengan wajah polosnya. Bram berdiri kemudian menggandeng tangan Qila. Membawanya turun ke bawah dan kemudian duduk di depan televisi.


"Ahh, Om!" Jerit Qila kaget ditarik duduk ke atas paha Bram.


"Sekarang kita main game ini, game edukasi untukmu," ucap Bram memulai awal permainan yang menunjukkan pertandingan basket.


Qila yang memberontak dipangkuan Bram, ia seketika langsung terdiam kagum dengan isi game itu yang sepertinya seru.


"Pfft, kenapa diam?" tanya Bram sedikit menahan tawa.


Qila menoleh, menatap wajah Bram yang sangat dekat.


"Lho...lho, kenapa? Kenapa mau menangis? Kamu tidak suka?" Bram panik melihat mata Qila berkaca-kaca.


"Aku gak nangis, ini aku cuma senang bisa main game ini,"


" Ini membuatku teringat sama Kak Raiqa, Om. Kalau saja Kak Raiqa bisa kenal sama Om, pasti Om dan Kak Raiqa bisa main game tiap hari, tapi sekarang Kak Raiqa koma gara-gara aku, Om," lirih Qila menunduk sedih.


Bram menghembus nafas lega, dia pikir apa tapi ternyata Qila memikirkan Raiqa. Bram pun mengelus kepala Qila dan tersenyum mantap.


"Gak usah sedih begitu, Kakakmu pasti akan siuman bulan depan, dan ini bukan salahmu," ucap Bram begitu yakin.


"Lho, kenapa tiba-tiba memuji? Ada apa ini?" tanya Bram bingung.


Qila tersenyum lebar kemudian menunjuk-nunjuk dada Bram lalu menjawab, "Aku memuji Om karena Om itu orang yang hebat dan seperti superhero yang selalu muncul tiba-tiba di depan Qila. Om seperti sudah tahu apa yang akan terjadi padaku dan juga Om begitu yakin pada kesembuhan Kak Raiqa. Apa jangan-jangan Om itu cenayang? Dapat informasi rahasia masa depan dari makhluk gaib?"


Bram terkejut mendengar kata-kata lucu itu. Ia pun mengacak gemas rambut Qila dan menjentik keningnya.


"Om itu lebih tepatnya cocok jadi Superman, gagah pemberani dan tampan, kan?" ucap Bram sok kegantengan di depan Qila.


"Hahahaha, Om pede sekali! Di mata Qila sekarang, yang tampan itu cuman Papa Qila sama Aiko! Kalau Om, cuman dikit doang," kata Qila tertawa dan mengejek. Membuat Bram yang cemberut tidak karuan. Tetapi ia balas dengan serangan gelitikannya.


"Hahahaha, cie... Om marah ya? Hahaha, stop, berhenti Om! Geli tau!" Tawa Qila mau berdiri tapi Bram mencekal tubuhnya dari belakang. Memeluknya dengan erat.


"Kamu ini emang ngeselin juga ya, tampan-tampan begini Om pernah dicintai sama cewek polos sepertimu," ucap Bram tidak berhenti menggelitik pinggang Qila, namun ia pun diam saat Qila tidak tertawa.


"Hmm, kenapa? Kamu sudah tidak kuat digelitik?" tanya Bram melihat Qila menatapnya aneh.


"Om, apa maksud yang tadi itu? Sejak kapan Qila bilang cinta sama Om?" tanya Qila seketika membuat mulut Bram terkatup rapat.


"Om! Siapa yang Om maksud itu?" tanya Qila memutar posisi duduknya menghadap Bram.


"Ya dulu kan Om pernah cerita kalau Om punya kekasih polos yang seperti sifatnya mirip denganmu, Qila," jawab Bram terbata-bata.


"Serius nih?" Tatap Qila tidak yakin. Bram mengangguk cepat.


"Hm, kalau begitu, namanya siapa?" tanya Qila menyipitkan kedua bola matanya.


Bram menelan ludah kemudian menjawab sambil tertawa kekeh. "Haha, na-namanya itu...."


"Namanya siapa, Om?" tanya Qila semakin dekat ke wajah Bram yang seperti dibanjiri keringat dingin.


"Na-namanya itu, Khanzania!" Jawab Bram dan melihat Qila tiba-tiba bengong.


"Hm, kenapa kamu diam?" tanya Bram sedikit cemas.


"Aneh deh, namanya mirip sama nama tengah Qila," ucap Qila menatap mata Bram dan membuatnya sadar bola mata pria itu memakai softlens.


"Hahaha, cuman kebetulan itu." Tawa Bram memalingkan pandangannya, sedikit canggung ditatap Qila yang masih sibuk memperhatikannya.


"Ahhh, kamu jangan liat terus Om begitu! Sana lihat layar di depan dan kita main gamenya!" Kata Bram memutar posisi duduk Qila.


"Okeh, deh." Qila mengangguk paham dan mulai bersenang-senang. Duduk dipangkuan Bram dan juga berteriak heboh melawan tim Bram. Dari situ, Qila mengerti teknik dan strategi menerobos lawan pemain.


"Yeahhhhh! Dapat one-hand shot, wleek!" Seru Qila mengejek Bram yang kalah. Padahal sebenarnya, Bram sengaja agar ia bisa melihat gadis di pangkuannya itu bahagia kegirangan.


"Om, sekali lagi! Ayo main!" pinta Qila sudah setengah jam dia memainkan itu. Bram yang senang melihatnya ceria, tentu tidak menolak. Keduanya saling adu kemampuan lewat game itu dan lagi-lagi Bram sengaja kalah demi Qila tertawa. Namun kali ini gadis itu malah perlahan mengantuk dan tidak sengaja tertidur di dadanya. Bram bergeming melihat wajah polos Qila yang lelah. Ia pun dengan lembut mengusap pipinya kemudian dengan kehangatan memeluk kepala Qila. Beberapa saat kemudian, Bram diam-diam menangis.


"Qila, maafkan aku, maafkan aku." Air mata Bram tumpah mengenai rambut Qila. Suaranya bergetar dan terdengar merasa sangat bersalah padanya, seperti ia telah melakukan dosa besar pada gadis polos itu.


Tiba-tiba Bram terkejut tatkala Qila mendongak padanya.


"Om...kenapa? Kenapa matanya merah begitu? Om habis menangis?" Lirih Qila yang mengantuk berat dan tampak tidak mendengar jelas tangisan Bram. Gadis itupun kembali menyandarkan kepalanya ke dada Bram dan menutup matanya sambil mengucapkan sesuatu.


"Om... jangan sedih, Qila yakin, kekasih Om sudah bahagia di sana." Qila mungkin berkata seperti itu supaya Bram terhibur, tapi kalimat Qila semakin membuat Bram meneteskan air matanya. Karena kekasih yang dimaksudnya itu adalah Qila itu sendiri.


"Maafkan aku, maafkan aku, aku benar-benar salah padamu. Izinkan aku menebus kesalahanku di masa lalu. Ku harap dengan cara ini aku bisa menyelamatkan mu dan anak-anak kita dari kematian di masa depan."


.


Hiya... Udah jelas ya Bram itu siapa? Hayo siapa itu?🧐 Apakah yang sebenarnya terjadi di akhir cerita?😥apakah endingnya nanti semua akan baik-baik saja atau sebaliknya?🤧semoga si pengarang berikan akhir kisah yang happy ya. Kalau sad ending duh... gak kebayang sih deritanya gimana:)


Episode berikutnya, author harap bisa update lima bab, jadi jangan lupa beri like dan vote juga ya biar author semangat ngetik cerita ini🤩terima kasih.