
"EVAN! I-INI PASTI PEREMPUAN ITU!" ujar Aidan menunjuk.
"Cepat, lo lacak kontaknya!" pinta Aidan mendesak.
"Tidak bisa, gue udah coba tadi tapi kontaknya udah mati dan cuma kontak Dokter ini yang masih aktif." Evan menggelengkan kepala.
"Ah sial, kalau begitu kita harus menangkap Dokter itu segera!" Kepal Aidan lalu berdiri dan menghubungi Raiqa, akan tetapi cowok itu sudah berada di dekat pintu kamar yang terbuka dengan pipi sebelahnya yang merah, bekas tamparan yang begitu mendalam dan keras. Tentu saja, di antara siswi yang dikumpulkan, beberapa dari mereka marah diberi pertanyaan mesum dari Raiqa. Bertanya tentang status keperawanan mereka itu hal yang sangat memalukan.
"Raiqa! Lo kenapa?" tanya Aidan sedikit terkejut dan lega karena Raiqa pulang setelah Qila keluar dari apartemennya.
"Lo habis berantem sama geng Alpha?" tanya Evan.
Raiqa pun menjelaskan apa yang terjadi padanya dan mengatakan jika mereka sepenuhnya bukan AM. Setelah itu, ia pun dengan cemberut dan kesal berjalan mendekati tempat tidur. Raiqa ingin istirahat sebentar tapi rasa lelah dan kekesalannya pun sirna melihat dua bayi di depannya.
"Akhhh! I-ini bayi siapa?" tanya Raiqa terkejut dan menunjuk bayi mungil yang menggemaskan.
Evan menepuk bahu Raiqa lalu melihat Aidan. Raiqa pun paham cepat maksud dari tatapan Evan.
"Ja-jadi, bayi ini sungguh hidup? Bu-bukan boneka, kan?" Raiqa menyentuh pipi Aiko yang lembut dan halus.
"Bu-busyet, ini beneran bayi!" ujar Raiqa sontak membangunkan dua bayi itu setelah mendengar suara Raiqa yang berisik.
"Oekhhhh!" tangis Aila duluan kemudian disusul Aiko yang tampak haus.
Tatapan Aidan dan Evan pun berubah menjadi kekesalan.
"Aduh, gimana nih?" tanya Raiqa mau menggendong Aila tapi ia tidak berani alias takut mematahkan leher bayi itu.
"Berikan mereka susu, Rai," ucap Evan.
"Hah, susu? Gue gak bisa nyusuin mereka! Dada gue rata cok," ucap Raiqa menepuk dadanya. Sedangkan Aidan menampol jidatnya mendengar itu.
"Kamprret, maksud gue bikin susu di botol itu, Rai!" kesal Evan melihat wajah polos dan bodoh Raiqa.
"Wow, ternyata kalian sudah menyiapkan ini ya," ucap Raiqa segera mengambil botol dan susu kotak yang sebenarnya disediakan oleh Qila.
"Sini biar gue aja yang turun ke bawah panasin air hangatnya, dan lo berdua yang ngurus bayi-bayi itu dulu," ucap Aidan merebut botolnya dari tangan Raiqa.
"Diih, kalau dia ayahnya, harusnya dia yang ngurus dua bayi ini," celetuk Raiqa kemudian terdiam melihat Evan menggendong Aiko.
"Hah? Bayi perempuan? Serius?" Raiqa pun dengan hati-hati menggendong Aila kemudian iseng-iseng ingin melihat bagian bawah bayi itu namun sebelum mata keranjangnya itu mengintip, Raiqa dihentikan oleh pukulan di kepalanya.
PLAK!
"Woy, apa yang mau lo lihat?" tanya Aidan sudah ada di belakang Raiqa sambil merem4s dua botol yang sudah diisi penuh oleh susu buatannya.
"Hehehe, gak ada kok," cengir Raiqa mengelus kepala belakangnya. Sontak ketiga cowok itu terkejut diam mendengar tawa lucu dari Aila, bersamaan Aiko juga sudah diam setelah diberi satu botol susunya.
"Astaga, imutnya kebangetan! Pasti si AM ini cantik banget sampai bisa melahirkan dua bayi kembar ini, apalagi bayi perempuannya ini layak menjadi kandidat istri idaman di masa depan," ucap Raiqa memuji dan sudah tidak peduli lagi pada tatapan Aidan dan Evan yang terlihat risih mendengar itu.
"Btw, sekarang apa yang kita lakukan?" tanya Raiqa sambil mentoel-toel pipi Aila dan tertawa lucu melihat Aila begitu rakus menghabiskan susu di dalam botolnya.
"Kita berdua mau ke tempat Dokter ini," ucap Aidan dan Evan memperlihatkan foto Bram.
"Terus, gue gimana?" tanya Raiqa duduk santai di tepi ranjang kemudian meletakkan Aila di dekat Aiko yang juga sama-sama menggemaskan. Memang terlihat mirip Aidan versi bayi dan Aila mirip Aidan versi bayi perempuan.
"Lo jagain bayi itu di sini, gimana? Lo mau gak, Rai?" tanya Aidan mengambil kunci motornya.
"Lo bisa kan, Rai?" tanya Evan juga mengambil kunci motornya.
"Oh, gampang! Kalian tenang aja, gue bisa kok jagain mereka." Raiqa tiba-tiba tersenyum manis. Tentu senang bisa lanjut bermain game sambil bersantai-santai. Baginya, menjaga bayi adalah pekerjaan yang sangat mudah.
"Oke, kita pergi duluan." Evan dan Aidan pun meninggalkan apartemennya. Sedangkan Evan bersorak riang punya waktu bebas. Tapi sebelum membuka game di dalam hapenya, Raiqa menggendong Aila keluar dari kamar dan ingin pergi minum. Setelah membasahi tenggorokannya yang kering, tiba-tiba saja ada seseorang di luar yang menekan bel pintu apartemen.
"Siapa?" gumam Raiqa mendekati pintu. Tanpa melihat ke lubang pintu, ia langsung membukanya.
DeG!
Raiqa terkejut melihat orang di depannya yang datang adalah adiknya yang juga sangat-sangat terkejut melihat di tangan Raiqa ada makhluk kecil yang imut.
"Ha-hana... ngapain ke sini?" tanya Raiqa terbata-bata dengan keringat dingin yang kini bercucuran di keningnya. Ia tidak habis pikir, adiknya datang ke apartemen daripada pulang ke rumah. Sedangkan Qila yang baru sampai di rumah, ia juga terkejut melihat di ruang tamu Ibunya sedang bicara pada Arum, Ibu kandung Aidan sekaligus nenek si kembar Ai.
'Tante Arum? Ke-kenapa datang siang-siang ini?' pikir Qila melihat wanita itu tersenyum ramah padanya.
"Qila, sini, Nak!" panggil Kinan pada putrinya. Qila mengangguk kecil lalu duduk tepat di depan Arum.