
"Sayang..." panggil Kinan pada suaminya yang ditunggu-tunggunya itu kini telah pulang dari urusan bisnisnya. Tampak Wira menyuruh sekretarisnya itu mengurus sisa dan kemudian ia memberikan jas kantornya ke pembantu yang ikut dengan mereka. Sekretaris itu pun pergi meninggalkan rumah penginapan atasannya yang berada di kawasan elit di kota Palembang.
"Hmm, kenapa? Tumben kamu bahagia begini, apa kamu menang arisan keluarga?" tanya Wira yang ditarik istrinya itu duduk bersamanya di sofa empuk.
"Bukan, ini... coba kamu lihat ini! Aku dapat informasi dari wali kelas Hana kalau Qila hari ini tiba-tiba dapat nilai tinggi dalam ujiannya. Terlebih lagi, nilainya lebih tinggi dari Hana, sayang," jawab Kinan senang.
"Bagus dong, gak sia-sia kita kirim dia ke luar negeri." Elus Wira ke wajah istrinya dan ikut senang mengetahuinya.
"Nanti setelah urusan kita di sini selesai, gimana kalau kita bikin pesta? Sekalian pesta ini untuk Qila atas kepulangannya dari sana, gimana? Setuju gak, sayang?" Kinan merengek penuh.
"Pfft, kamu langsung ceria kalau sudah mendengar nilai ujian anak-anakmu. Tapi aku setuju keinginanmu, kita perlu memberikan pesta besar untuknya." Sentil Wira ke hidung istrinya kemudian bersandar ke sofa dan menekuk wajah murung.
"Hmm, kamu kenapa, sayang? Kerjasama proyek hari ini kurang lancar?" tanya Kinan.
"Begini, aku dari kemarin merasa bersalah pada anak kita yang satu itu, seharusnya kita tetap di rumah dulu mendengar cerita dia di luar negeri, tapi kita malah meninggalkannya lagi," ucap Wira memikirkan Qila.
"Kamu gak usah murung gitu, Qila anaknya bisa paham keadaan kita, sayang," ucap Kinan tahu sifat putrinya.
"Ya udah, kalau gitu aku ke dapur dulu bantu Bibi siapkan malam, kamu mandi sekarang gih, bau kettekmu gak enak dicium," ledek Kinan memencet hidungnya sendiri. Wira dengan gemas mengacak-acak rambut istrinya kemudian pergi ke kamarnya. Pasangan suami istri yang dipenuhi cinta dan kasih sayang, satu sama lain.
Sedangkan pasangan yang satunya, tampak baru sampai ke Palembang dan sedang menuju ke kawasan perumahan elit.
"Sayang," ucap Arum memanggil suaminya yang mengemudi mobil.
"Kenapa? Kamu mau singgah lagi ke pusat hiburan di kota ini?" tanya Rayden yang tiga hari ini terus memenuhi keinginan istrinya yang meminta liburan ke tempat-tempat menyenangkan.
"Gak, ini aku mau tanya aja,"
"Hmm, apa?" tanya Rayden melihat sebentar istrinya kemudian fokus menyetir di malam hari.
"Gini deh, sebenarnya apa yang mau kamu lakukan di kota ini?" tanya Arum melihat suaminya dari kemarin cuma diam.
Rayden pun menjawab, "Sayang, kemarin lalu kan aku sudah kasih tau kalau ada sesuatu yang mau aku bicarakan pada Wira," ucapnya.
"Ya terus, itu apa? Apa yang mau kalian bicarakan?" tanya Arum penasaran. Rayden mendesis dalam hati ingin mengatakan tentang masalah Aidan, namun karena mereka berada di jalan, Rayden tidak bisa mengatakan itu. Ia pun membelai kepala Arum kemudian bicara. "Maaf sayang, aku tidak bisa katakan ini padamu sekarang, tapi nanti setelah kita sampai ke penginapan yang dekat dengan Wira, aku akan memberitahumu di sana nanti,"
"Hmm, baiklah." Angguk Arum paham-paham saja.
'Apa mungkin mau bikin proyek kerjasama baru? Tapi kalau urusan proyek, Rayden gak akan nyusul Wira ke sini. Apa mungkin Rayden mau menjodohkan Keyra dengan Raiqa?'
'Hmm, tidak! Raiqa dan Keyra itu tidak punya peluang dijodohkan. Anak-anak itu selalu bertengkar kalau bertemu. Bisa terjadi perang keluarga kalau dua anak ini dinikahkan,' batin Arum terus memikirkan alasan suaminya ingin bertemu Wira.
Di kota lain, terlihat langit Jakarta tampak indah malam ini. Tapi keindahan itu malah diabaikan Aidan dan Evan yang nampak sedang sibuk mencari Bram. Dua cowok yang lagi berada di apartemen sambil menjaga Aiko dan Aila.
"Weh, Evan! Lu niat gak sih bantuin gue? Dari kemarin gue nunggu laporan lu tapi sekarang masih gitu-gitu aja," gerutu Aidan yang menyiapkan makanan malam sendiri di atas meja dan melihat Evan menatap laptopnya di depan Aiko dan Aila yang dibaringkan di lantai beralaskan kasur tebal dan empuk.
"Sabarlah, Ai! Gue juga masih ngawasin tuh si Dokter, tapi tiga hari ini Dokter itu gak pernah balik lagi ke rumahnya," ucap Evan kesal mendengar Aidan mengoceh seperti Ibu-ibu yang mengomelinya tiap hari dan kadang menyuruhnya keluar membeli popok Aiko dan Aila.
"Emang kapan terakhir kali dia pulang?" tanya Aidan mendekati Evan dan ikut melihat layar laptopnya yang memantau rumah Bram yang sepi dan gelap.
"Tiga hari lalu sih, tapi di jam lima pagi, tuh orang pergi lagi dari rumahnya dan sekarang belum pulang juga," ucap Evan.
"Emang lu gak tahu kemana dia pergi? Atau dapatin jejaknya dia kek?" tanya Aidan pada Evan yang lebih unggul di bidang melacak jejak seseorang.
"Gampang sih kalau mau cari jejak, cuman lu tau sendiri kalau gue gak pakai drone ngawasinnya, terus nomornya baru-baru ini udah gak aktif lagi jadi susah ngelacak keberadaannya. Tapi sebenarnya, gue masih bisa sih cari lokasinya, cuma gue udah kapok dan gak mau pakai cara instan itu. Takutnya besok ada polisi datang ke rumah gue," ucap Evan mau melakukan peretasan instannya tapi takut karena itu semacam tindak kejahatan.
Aidan dan Evan pun membuang nafas berat. Mencari Bram seperti mencari buronan negara ditambah Bram berasal dari luar negeri maka mungkin saja pria itu tidak ada di kota ini.
Di tengah kesibukannya memikirkan cara menemukan Bram, tiba-tiba ada aroma tidak sedap tercium di antara mereka.
"Weh, Evan! Lu kentut ya? Bau banget, hueek," mual Aidan menoleh ke samping kanan.
"Kurang asem! Mana mungkin bau kentut gue kayak gitu! Lu kali yang kentut!" mual Evan membuang muka ke samping kiri.
Lagi, aroma tidak sedap itu muncul kembali.
"Hueekk, bau banget!" ucap mereka segera berdiri ke jendela yang terbuka dan berusaha menghirup sebanyak mungkin udara segar.
"Kyaa!" tawa Aila melihat dua-duanya mau pingsan.
"WOI, AIDAN! CEPAT SANA GANTI POPOK ANAK LO!" pekik Evan menunjuk Aiko dan Aila yang kompak mencret malam ini.
"Wehh, bantuin gue! Si Aiko dan Aila berak nih! Gue gak bisa bersihin pantat mereka sendirian!" teriak Aidan panggil Evan yang mau keluar dari apartemennya.
'Duh, kalian berdua ini memang gak tau ya waktu kapan mau berak. Harusnya kalian seperti ini kalau ada Qila!' gerutu Aidan dalam hati memarahi dua bayinya itu. Wajahnya yang jelek itupun membuat Aila menangis.
"Oeehhhkk!" tangisnya sambil menendang wajah Aidan.
"Ehh...ehhh jangan gerak, Ila! Taeknya bisa kecipratan ke muka Papa! Ntar gantengnya Papa bisa luntur!" ucap Aidan menangkap dua kaki putri kecilnya itu yang sangat aktif. Tapi Aila memberontak dan terus menendang wajah papanya yang tidak ada imut-imutnya itu.
Karena melihat Aidan kerepotan sendiri, akhirnya Evan dengan terpaksa datang membantu dan tidak jadi keluar.
"Sini, gue yang urus Aiko, lu cepat bawa Aila ke kamar mandi terus siram pantatnya pakai shower atau rendam ke dalam baskom," ucap Evan memberi saran simpel cara membersihkan pantat Aila yang dipenuhi kotoran. Sedangkan Aiko hanya dibersihkan pakai tissu basah dan cuma bergidik geli ketika sosisnya dielap tissu.
Tanpa ba-bi-bu lagi, Aidan meluncur ke kamar mandi walau harus melawan kaki Aila yang gerak-gerak.
"Huft, akhirnya selesai juga," hela Evan lega sudah membersihkan Aiko dan memakaikannya baju baru.
"Sekarang kamu diam di sini dan jangan nangis!" lanjutnya mau membuang popok Aiko ke tempat sampah kemudian pergi menaruh baju kotor Aiko ke ranjang cucian.
"Untung aja gue punya bocil di rumah, jadi ini bisa gue selesain dengan mudah, sekarang apa yang dilakukan Aidan di dalam sana? Kenapa belum keluar juga tuh anak?" gumam Evan melihat ke kamar Aidan lalu melihat Aiko yang diam memandang langit-langit apartemen saja.
"Syukurlah satu bayi ini tidak susah diurus, beda yang satunya yang perlu merubah diri jadi wonder woman yang harus kebal dari tendangannya. Gue jadi kepikiran, kalau bayi perempuan itu udah besar, mungkin bisa jadi Keyra yang kedua. Cerewet dan tukang malak orang. Atau mungkin bisa jadi pemain bola go internasional. Hahaha," tawa Evan membayangkan Aila dewasa jadi gadis tomboy.
"Hmm, kira-kira Qila lagi apa ya sekarang? Apa dia sibuk belajar?" gumam Evan rindu. Padahal dua jam lalu Qila baru pulang dari apartemen itu. Namun gadis yang dia rindukan itu tiba-tiba datang ke apartemen lagi.
"Lho, Qila? Kenapa ke sini? Aku pikir kamu udah belajar di rumah." Evan mendekati Qila yang masuk.
'Wah, mungkin kah dia masih mau diajari olehku?' pikir Evan salah tingkah karena ia memang sering menemani Qila belajar jika Aidan sedang mengurus Aiko dan Aila.
"Maaf, Kak. Qila balik ke sini lagi karena mau ambil powerbank yang ketinggalan," ucap Qila menunjuk powerbanknya di atas meja dekat televisi.
'Yah, kirain rindu sama aku, hehe,' batin Evan malu sendiri namun seketika wajahnya ditekuk karena Qila bertanya di mana Aidan.
"Hmm, kenapa cuma Aiko di sana? Kak Aidan dan adiknya Aiko ada di mana, Kak?" tanya Qila mendekati Aiko yang di tangannya terdapat kerincingan karet yang kecil.
Baru mau dijawab, tiba-tiba saja Aidan menjerit begitu lantang dari kamar.
"EVAN!! SINI LO! BANTUIN GUE!!!" pekik Aidan yang kerepotan di dalam kamar mandi. Entah apa yang terjadi, yang jelas ia terdengar disiksa oleh Aila.
Qila pun berlari ke pintu kamar yang terbuka itu dan meninggalkan Evan yang menggendong Aiko yang nampak terkejut dan ingin menangis.
"Aihh, Aidan berengsek! Kenapa lagi sih lu di sana?" gerutu Evan dan tidak peduli tatapan Aiko yang mau tertawa melihat kerutan kekesalan Evan.
"Kak Aidan! Apa yang terjadi?" tanya Qila masuk ke kamar itu kemudian melongo melihat Aidan tergeletak basah kuyup di lantai dan tidak berdaya di bawah Aila yang tengkurap tanpa sehelai kain di tubuh kecilnya.
Aidan pun terkejut saat menengadah ke Qila. Namun lebih terkejut lagi ketika bayi polos di atasnya itu memanggil Qila yang sama halnya terkejut melihat bayi tiga bulan lebih itu sudah bisa mengenalinya.
"Mimih."
.
Yeh mimih nya panik dan pipihnya kaget👻