Little Twin'S Daddy

Little Twin'S Daddy
34. Bisikan Dari Evan



Karena Aidan tiba-tiba ada di depannya, Arum pun memeluknya. Cowok itupun terkejut menerima pelukan dadakan Ibunya di depan orang-orang yang lewat.


"Ma-mama, jangan begini lah, kita lagi di tempat umum. Nanti orang lain mikir yang enggak-enggak," ucap Aidan mendorong pelan Ibunya agar terlepas darinya.


"Enggak-enggak? Maksudnya?" tanya Evan melihat Aidan yang berjalan ke sebelahnya kemudian berbisik tepat di telinga kirinya.


"Duh, lo lihat dulu Ibu gue itu punya wajah awet muda. Gue gak mau kejadian kemarin terulang lagi." Aidan mengingat ucapan orang lain tentang Ibunya yang kadang dikira pacarnya. Oleh karena itu, Aidan jarang menemani Ibunya keluar dan karena wajah polos Ibunya yang awet muda itu, membuat ayahnya sering melarang Arum keluar rumah dan menyuruh wanitanya itu tetap bersantai di rumah. Tuan Rayden khawatir istrinya diajak selingkuh oleh pria lain. Sedangkan Keyra, gadis remaja itu tidak memiliki peluang untuk jalan-jalan bersama Ibunya, sebab Keyra sibuk dengan kegiatan sekolahnya dan juga sekarang lebih sibuk dengan tugasnya yang bersangkutan dengan bayi di apartemen Aidan. Memang pantas Arum merasa depresi, karena keluarganya lebih mementingkan urusannya dan tidak ada yang bisa diajak bercanda tawa.


"Hmm, kamu kenapa, Ai? Kamu tidak senang lihat Mama di sini?" tanya Arum murung.


"Ehh, gak begitu! A-aidan senang bisa ketemu Mama di sini. Ta-tapi kenapa Mama dan Qila bisa ada di tempat ini?" tanya Aidan segera berdiri di sebelah Ibunya.


"Mama bosen sendirian di rumah, Papa kamu orangnya sibuk di kantor, terus Mama tidak bisa berhenti mikirin di mana kamu tidur kemarin malam. Karena kesepian juga, jadi Mama ke sini saja deh," jawab Arum mengusap pinggir matanya yang berair.


"Oh ya, kenapa kalian berdua juga bisa di sini? Dan apa itu yang ada di tangan Evan?" lanjut Arum menunjuk kresek yang dibawa Evan.


"Ini mainan, Tante," jawab Evan cepat.


"Buat siapa, Kak?" tanya Qila.


Aidan dan Evan saling menatap bingung karena belum menyiapkan jawabannya. Tapi beruntung sekali, Evan langsung memikirkan anak kakaknya sehingga punya alasan yang bagus.


"Oh ini mainan buat keponakanku, Tante," jawab Evan nyengir malu-malu di depan Arum yang menyipitkan matanya dengan curiga.


Wanita itu pun mengerti dan langsung memuji Evan adalah paman yang baik. Membuat Aidan hanya bisa cemberut.


'Cih, harusnya aku yang mendapatkan pujian itu.' Batin Aidan kesal sebab ia sendiri yang membeli mainan itu untuk si kembar.


"Mah," ucap Aidan.


"Hmm, kenapa? Kamu mau pulang bareng Mama?" tanya Arum.


"Gak, Aidan gak mau pulang. Mama saja yang lebih baik pulang sekarang sebelum Papa menyadari Mama tidak ada di rumah." Aidan menyuruh Ibunya sambil menunjuk.


"TIDAK MAU!" sentak Arum menolak.


"Mama hari ini pengen senang-senang! Jadi ... kamu temenin Mama dulu, Ai," mohon Arum sambil ingin membujuk putranya pulang ke rumah.


Arum mengangguk dan merangkul lengan kanan putranya. "Makasih, sayang. Mama senang banget hari ini!" kata Arum tambah mengeratkan tangannya.


"Duh, Mama jangan gini lah." Aidan mendesis malu. Tetapi Arum tidak peduli pada keluhannya, wanita itu dengan ceria langsung menarik Aidan ke wahana bianglala.


"Hai, Evan! Sini! Lo juga harus ikut!" teriak Aidan pada Evan yang terus menempel pada Qila.


Evan mendengkus kecil, kemudian menoleh pada Qila lalu terkejut melihat gadis itu terlihat gemetar.


"Kamu kenapa, Qi?" tanya Evan mengagetkannya.


"Ka-kak Evan, tolong bilangin ke Tante Arum kalau Qila mau duduk di sini saja," ucap Qila menunjuk sebuah bangku di bawah tenda.


"Hmm, kenapa kamu tidak mau ikut naik ke sana?" tanya Evan menunjuk Aidan dan Arum yang sudah duduk di dalam wahana itu sambil menunggu mereka berdua.


"A-aku..." ucap Qila terhenti ketika tangan kanannya digenggam Evan tiba-tiba.


"Tidak usah khawatir, tidak ada sesuatu yang akan terjadi kok. Sini kamu naik juga. Anggap saja ini adalah hiburan untukmu yang sudah baik membantu Aidan mengurus dua bayinya,"


"Apalagi, kamu tidak usah cemas tentang biaya permainan di sini, ada Tante Arum yang nanti membayar dan mentraktir kita,"


"Kamu pasti juga menginginkan ini, kan?" kata Evan membujuknya.


Qila pun melepaskan genggaman Evan yang hangat itu kemudian tersenyum dan mengangguk.


"Baiklah, tapi ... bagaimana dengan mainan itu? Apa tidak masalah jika Kak Evan tidak pulang dulu memberikan itu?" tanya Qila menunjuk kresek di tangan kanan Evan.


"Oh ini, sebenarnya mainan ini bukan untuk keponakanku, Qi," ucap Evan jujur sambil melirik ke Aidan yang tampak kesal menunggu di sana bersama orang lain yang sudah tidak sabar menunggu kapan bianglala dinyalakan.


"Eh, terus buat siapa, Kak?" tanya Qila masih belum jalan. Rasanya berat sekali kedua kakinya itu melangkah ke wahana itu.


Aidan seketika mengerutkan dahinya melihat Evan mendekatkan mulutnya ke telinga Qila.


"Hmm, mereka lagi bicara apa sih sampai serius gitu?" gumam Aidan di sebelah Arum yang keasikan mengambil gambar pemandangan di sekitarnya. Sedangkan Qila membulatkan matanya setelah menerima bisikan dari Evan.