Little Twin'S Daddy

Little Twin'S Daddy
57. Lembut Menggoda



"Lho, Aidan? Kok bisa ada di sini?" Tunjuk Raiqa mengira Aidan sudah ada di apartemen dan mengurus bayinya.


"Apa itu yang lu pegang?" tanya Raiqa berdiri di dekat Aidan.


"Hah? Hasil DNA? Ini DNA lu sama dua bayi itu?" Kaget Raiqa sama seperti Aidan yang juga terkejut membaca hasilnya yang cocok.


"Ti-tidak salah lagi, Rai. Dua bayi itu sungguh anak gue. Padahal gue masih ingin ngerasain masa remaja tapi gue udah jadi seorang ayah muda. Sekarang gue benar-benar gak tau harus gimana lagi jelasin ini ke Mama," keluh Aidan duduk di kursi dan memegang kepalanya. Raiqa pun ikut duduk dan tahu apa yang dirasakan Aidan. Rasa sedih atas hancurnya masa depannya itu. Tiba-tiba ucapan Qila tidak sengaja terlintas dibenaknya.


'Dari segimana pun, Aidan memang nyaris sempurna, tapi sayang sekali hidupnya sedang kesulitan. Qila, percuma kamu menyukainya, Mama dan Papa pasti akan menolak Aidan masuk ke dalam keluarga kita.' Batin Raiqa lalu menepuk bahu Aidan.


"Lu yang sabar, gue yakin kok suatu saat nanti masalah ini bisa diterima oleh orang tua lu, Aidan. Dan lu gak usah khawatir, dengan modal tampan lu ini, gue yakin banget lu bisa dapat istri yang nerima lu apa adanya," ucap Raiqa menghiburnya tapi terdengar menyebalkan di telinga Aidan.


"Ya gue tau kok. Cuman yang sulit itu, adalah orang tua gue yang terkenal pesimis. Kalau mama tahu dia punya cucu di luar nikah, gue takut jantungnya berhenti mendadak." Kata Aidan takut Ibunya meninggal kena serangan jantung. Kalau ayahnya, Aidan tidak peduli.


"Yaelah, gue yakin banget nyokap lu terima ini dengan lapang dada. Apalagi lu yang juga lahir di luar nikah, nenek dan kakek lu dulu gak masalah dengan ituh," celetuk Raiqa.


"Heh, Raiqa! Tuh mulut makin ke sini makin kurang ajar. Mau gue pukul sampai bonyok? Jaga dikit napa!" bentak Aidan gemas ingin menonjok mulut sahabatnya itu.


"Sorry, gue canda kok." Ucap Raiqa mundur.


"Ck, terus ngapain lu ada di sini? Siapa yang sakit?" tanya Aidan berdiri dan menyimpan hasil DNA ke dalam tasnya.


"Itu sih, Qila. Gara-gara kecapean jadi babysitter lu, dia demam," jawab Raiqa mulai jalan ke ruangan Qila. Tidak seperti Aidan yang terkejut.


"Lu tau dari mana Qila kerja jadi babysitter?" tanya Aidan jalan di sampingnya.


"Itu si Evan," ucap Raiqa.


"Terus, Evan mana?" tanya Aidan.


"Keknya lagi ngurus bayi lu deh di apartemen," ucap Raiqa ragu-ragu. Aidan pun menghela nafas lega mendengarnya. Kedua cowok itupun telah sampai ke ruangan Qila dan melihat gadis itu dibantu turun dari brankar oleh suster. Tentu kini Qila terkejut melihat Aidan ada di rumah sakit juga.


Sambil menunggu Raiqa bicara pada suster, Aidan pun mendekati Qila.


"Kamu udah baikan, Qila?" tanya Aidan dengan tatapan bersalah tidak mengetahui kondisi Qila.


"Udah, Kak. Ini mau pulang lanjut istirahat di rumah aja," jawab Qila menunduk dan gugup.


DeG!


Qila terdiam menerima sentuhan halus dari tangan Aidan yang mendarat di kepalanya. Membuatnya menunduk malu dan merona. Hanya itu saja, sudah membuatnya senang dan mendebarkan hatinya.


Karena tidak ada mobil, Raiqa menyuruh Aidan menemani Qila pulang memakai taksi. Sedangkan ia harus membeli beberapa air mineral di toko terdekat dulu. Akhirnya Aidan duduk di dekat Qila dan menyuruh supir taksi membawanya ke alamat rumah Qila. Di tengah perjalanan pulang, suasana di dalam mobil begitu sunyi. Tidak ada percakapan sama sekali terbuka diantara Qila dan Aidan. Supir pun bahkan heran melihat dua remaja itu.


'Aneh, padahal di apartemen kita selalu bicara, tapi sekarang rasanya kok cunggung begini? Apa karena aku yang cuma merasakannya?' batin Aidan melirik Qila. Sejenak ia termenung melihat wajah Qila dari samping.


"Hmm, ada apa, Kak?" tanya Qila membuyarkan lamunan Aidan.


"Ahh, itu, ka-kamu kayaknya ngantuk, ba-bagaimana kalau pinjam bahu ku dulu?" ucap Aidan terbata-bata.


'Aihh, kenapa malah nawar gak jelas gini sih! 'Kan aku tinggal jawab yang lain! Nih mulut dan pikiran gak bisa diajak sinkron!' gerutu Aidan dalam hati sedikit malu. Apalagi Qila menunduk dan tertawa. Tapi melihatnya begitu, Aidan merasa lega.


Supir taksi pun juga ikut tertawa kecil melihat dua remaja itu yang kelihatan aneh. Bisa dibilang mau tapi malu. Namun Qila yang mengantuk, ujung-ujungnya bersandar di bahu Aidan membuat jantung cowok itu deg-degan.


'Aneh, ini pertama kalinya aku merasa canggung! Apa karena rasa bersalah ku?' pikir Aidan melirik wajah Qila kemudian lagi-lagi pikirannya menangkap sesuatu.


"Kalau dilihat, wanita dalam gambaran ilusi itu memang seperti Qila."


"Tidak! Aku harus berhenti memikirkan ini! Itu cuma gambaran palsu yang hanya muncul untuk menghasut ku. Tapi ..." lirih Aidan melirik Qila lagi.


"Rasanya, ini aneh." Aidan berusaha menepis keinginannya, tapi tangannya dengan sendiri bergerak menyikap rambut Qila sampai ke belakang leher sehingga Aidan pun diam membeku melihat tanda lahir di bahu kiri Qila. Tanda yang persis ada pada wanita ilusinya.


'Ah sial, aku memang kurang tidur.' Aidan membuang pandangannya dan memijat kepalanya. Menatap ke luar jendela dan berusaha tidak memikirkan itu lagi. Tapi ia menoleh lagi dan menatap wajah Qila penuh. Mengenali setiap sudut mata, hidung dan tepat di bibir tipisnya yang lembut menggoda.


"Ahh. Kenapa pikir itu lagi sih!" gerutu Aidan menepuk wajahnya yang memerah. "Cukup, Aidan. Dia itu Qila, bukan Hana!" Aidan marah karena pendiriannya nyaris goyah. Sedangkan Evan, cowok itu sekarang sedang berada di tempat lain. Menenangkan hatinya yang sedang sedih di bawah langit malam yang dipenuhi gemerlap bintang-bintang. Ia berusaha menahan sesuatu di matanya, tapi tetap saja air matanya lolos juga.


'Bodoh, hanya karena satu perempuan, aku menangis bodoh seperti ini.' Yah, mau bagaimana lagi, dia yang terus memberi perhatiannya tapi tak berhasil memikat sang pujaan hati. Karena sibuk menggalau, Evan mengabaikan pesan masuk dari Keyra yang ingin memberitahukan keadaan Aiko dan Aila.


.


Nikahnya undang author juga ya, Ai🤭biar bisa hibur hatinya babang Evan yang lagi patah hati😟cupcup yang sabar ya Van.


Yang nunggu hari nikahnya, sabar ya guys, lagi proses nih😆hehe